Cinta Terbalik Janitra

Cinta Terbalik Janitra
Episode 34. Bicara seputar ranjang


__ADS_3

Keduanya berbaring telentang berdesakan di ranjang pasien, menautkan jemari sambil menatap langit-langit kamar, terdiam menyelami perasaan masing-masing. Entah sudah berapa lama keduanya bungkam dan menikmati gesekan manja dari tautan jemari. Kegiatan yang mungkin akan mereka teruskan dimalam-malam berikutnya sebagai pengantar tidur.


Tita menoleh dan menatap pria disebelahnya yang makin hari menurutnya makin mempesona.


“Mas Tiar masih sabar nunggu Tita?” tiba-tiba saja pertanyaan itu bergulir dari bibirnya setelah seharian ini otaknya termakan oleh pengaruh kata-kata Mieke.


Pria itu menatapnya dengan alis menukik


“Menunggu apa?”


“Menunggu Tita memberikan hak Mas Tiar sebagai suami” sahutnya tanpa ada sedikitpun semburat malu seperti yang sudah-sudah.


“Off course” senyum suaminya mengembang sempurna “Memang kapan lo siap?”


Tita hanya melirik lengannya yang terbebat dan mengedikkan bahu.


“Menunggu fisik Tita siap”jawabnya enteng.


“Fisik?” Tiar merubah posisinya menyamping “Lo mau bilang kalau saat ini lo sudah jatuh cinta sama gua Ta?”


“Enggak” Tita menggeleng cepat “Eh belum” ralatnya cepat-cepat setelah melihat perubahan air muka Tiar.


“Mas Tiar masih bisa tahan kan selama itu?” usiknya lagi.


“Iya, nggak lama lagi”


Entah kenapa Tita tak puas dengan jawaban Tiar yang seolah tak menjawab rasa penasarannya, disaat ia tertarik untuk membahas masalah itu kenapa justru Tiar bersikap sebaliknya, acuh.


“Kok Mas Tiar jawabnya nggak niat gitu” dengusan pendek keluar dari cuping hidung Tita.


“Lah gua bener kan, selain menunggu emang gua bisa apa lagi” Tiar mengetatkan tautan jemarinya.


“Kalau 27 tahun saja gua bisa sabar menunggu, apa beratnya jika harus menunggu beberapa pekan lagi”


“Memang Mas Tiar belum pernah begitu?”


Tiar mengerutkan kening, mencoba memahami maksud pertanyaan Tita, apakah ini suatu jebakan atau memang istrinya ini yang benar-benar polos tiada banding.


“Tentu saja belum”


“Sekalipun?”


“Iya”


“Jadi Mas Tiar masih perjaka?”


“Ya tidak”


“Nah tuh kan, berarti pernah”


“Melepas keperjakaan kan nggak harus dengan seorang wanita”


Penjelasan Tiar barusan hanya di balas dengan mulut Tita yang saat ini melongo lebar, pria itu tersentak dan buru-buru meralat ucapannya


“Maksudnya keperjakaan gua hilang ditangan”


Mata indah itu mengerjab diiikuti bibir mungil yang membulat.


“Lagian kalo gua dah pernah begituan, nggak mungkin tahan lihat lo separo telanjang Ta”


“Oh ya?” tuh kan reaksi Tita seperti anak PAUD yang diberi materi baru meskipun itu sangat sederhana tapi buatnya amat sangat menarik minatnya.


“Gua juga baru sadar ternyata fantasi dan kenyataan itu beda jauh. Fantasi mah boleh setinggi langit tapi waktu dihadapkan dengan aslinya bikin gugup dan keringat dingin” aku Tiar tanpa basa-basi.


Otak Tita berpikir keras mencoba mencerna kata-kata suaminya, keningnya berkerut-kerut.


“Maksud Mas Tiar meskipun selama ini terlihatnya ada keinginan tapi begitu lihat malah jadi gugup gitu?”


“Ya gitu”


“Kok bisa? Mulut sama perbuatan Mas Tiar itu kan mesum level dewa, kenapa bisa tidak sinkron begitu?”


“Ibarat kata cowok mau nembak cewek, latihannya mantap giliran di TKP groginya ampun!. Atau pas cowok suruh jalan sendirian didepan gerombolan cewek cakep, wush…. nyalinya tau-tau ciut kaya mau ketemu camer"


“Emang gitu ya?” gumam Tita.


“Cowok mah suka sesumbar doang Ta” entah Tiar terkikik geli mendengar pengakuannya sendiri.


“Kalau Tita telanjang depan Mas Tiar sekarang berarti Mas Tiar lari dong” seloroh gadis itu lugu.


“Jelas lari”


“Ih kok gitu”


“Lari nabrak lo Ta” tawa Tiar tak dapat ia tahan lagi, entah penuturan istrinya yang polos itu mengusik sifat usilnya.


“Kalau kamu telanjang sekarang itu namanya nantangin” dengus Tiar “Udah tahu kebelet masih dipancing-pancing. Nyiksa tau!” pria itu ngedumel tak jelas.

__ADS_1


“Tadi Mas Tiar cemburu?” tiba-tiba saja pertanyaan itu terlontar dari bibir Tita.


“Cemburu?” tanyanya balik dengan lirih.


“Sama Mas Bima”


“Nggak” elak pria itu cepat, level kegengsian Tiar bisa jadi melebihi level kemesumannya.


“Oh, jadi enggak ya. Kirain…” ada sedikit nada kecewa tertangkap disana.


“Emang lo suka dicemburuin?”


“Cemburu kan bagian dari cinta, ya bolehlah sesekali dicemburuin”


“Jadi gua harus bikin lo cemburu juga gitu biar lo cinta”


“Eh…eh…jangan sekali-sekali kepikiran melibatkan pelakor di rumah tangga kita ya!” tukas Tita cepat disusul gerundelan tak jelas dengan mulut berkerut-kerut.


“Iya-iya Nyonya Tiar”


Pria itu melepas tautan jemari dan memiringkan badannya.


“Gua tidur sofa ya, takut dicubit perawat, ntar lo cemburu”


Kecupan di pipi itu berhasil menyisakan rona merah disana.


“Lo kok nggak pernah bales ciuman gua Ta” jemari Tiar mengusap-usap pipi seolah-olah hendak menghapus jejak merona disana.


“Ntar dikira mancing” ledek Tita.


Senyap mendekap di bilik berukuran 6x3 meter, baik Tiar maupun Tita berusaha memejamkan mata dan menjemput pulau mimpi. Tita menggeliatkan badan gelisah, masih digelayuti pemikiran bahwa suaminya telah tersiksa jika harus berdekatan intens dengannya. Kalau boleh jujur sebenarnya tak jauh berbeda dengan dirinya ingin merasakan lebih disaat cumb*an Tiar yang begitu menggelitik sisi nakalnya.


“Mas Tiar”


Cicitan Tita berhasil mengusik tidur-tidur ayamnya, membuatnya menoleh kearah ranjang dimana istrinya saat ini terduduk dan menggerak-gerakkan tangan memintanya mendekat.


“Bantuin Tita lepas BRA” bisik Tita ditelinganya.


Ya Tuhan! Jangan siksa aku lagi please batin Tiar meronta.


“Ke…kenapa dilepas, pake aja” tolaknya dengan gugup.


“Ehm, Tita nggak biasa pake yang ada wire, nggak nyaman buat bobo”


Ekor mata Tiar mengikuti gerak tangan mungil itu mencubit sesuatu dibagian bawah dadanya.


Tiar menarik napas panjang , meragu saat tangan terulur kedepan hendak menyentuh kancing piama Tita.


“Eh Mas Tiar mau apa?” Tita buru-buru menangkis tangan suaminya.


“Lho katanya suruh lepas, buka baju dulu lah” Tiar menatapnya bingung.


“Nggak perlu, cukup lepasin kaitnya saja” telunjuk Tita mengarah ke bagian punggungnya.


Meskipun heran Tiar mengikuti saja perintah itu.


“Sekarang tolong tarik tali penyangganya keluar”


Lagi telunjuk Tita menyentuh bahunya di bagian lengannya yang sehat, Tiar meraba dan menarik tali penyangga diikuti gerakan Tita meloloskan tali itu dari lengannya. Masih kagum mengamati dengan cepatnya Tita melepas BRA dari lengannya yang sakit.


“Oh seperti itu” Tiar menggaruk-garuk kepala, diam-diam mencuri lihat besarnya ukuran penyangga dada istrinya.



Penyiksaan untuk Tiar rupanya belum berakhir bahkan semakin merajalela. Pagi ini saat membantu Tita mandi ia dihadapkan dengan pilihan BRA model kait depan dan mengharuskannya menahan hasratnya yang meledak diubun-ubun.


“Susah banget Ta” keluh Tiar saat berkali-kali usahanya lolos sasaran.


Tiar terpaksa makin membungkukkan badannya demi menjangkau dua kaitan mungil di selipan jari kedua tangannya. Level kegugupannya bertambah karena pandangannya harus terbagi dengan dua gunung yang menjulang indah didepannya


“Mas Tiar duduk di closet saja” Tita menawarkan solusi agar mengikis jenjang tinggi tubuh mereka yang memiliki selisih sangat kentara.


Mau tak mau, suka tidak suka Tita harus merelakan bagian dadanya terekspos jelas, bahkan setelah dikaitkan pun masih menyembul sebagian karena model half cup hanya mampu menopang separuh bagian dadanya.


Tak sengaja tangan Tiar menyentuh kulit dadanya, dingin dirasa kontras dengan bagian kulitnya yang baru saja dimanjakan guyuran air panas, ia beranikan diri menatap wajah Tiar yang pias dengan buliran di pelipisnya. Jadi benar ucapannya semalam, nampak jelas bahwa pria ini sedang diburu kecemasan, ehm mungkin lebih tepatnya penyiksaan hihihi.


“Su…sudah Ta” dengan terbata Tiar menautkan kancing terakhir piama bermotif keropi.


“Makasih ya Mas Tiar” gadis itu menjangkau wajah suaminya yang saat ini sejajar dengannya setelah memilih duduk di closet.


Cup Cup Cup


Tita melakukan rutinitas yang biasa Tiar lakukan untuknya, ciuman di kedua pipi dan kecupan singkat dibibir itu mengejutkan Tiar yang sesaat menatap gadis di depannya. Terdorong oleh hasrat yang begitu menggebu Tiar membenamkan bibirnya, menyesapnya tanpa memberi ampun kepada sang empu.


“Tita” bisiknya penuh nafsu.


Kembali mel*mat setelah membiarkan gadisnya mengisi paru-parunya dengan oksigen, pagutan itu seakan tak bertepi saat masing saling berlomba untuk membalas, mencari sisi kesenangan dan pucuk kenikmatan di tiap decapan.

__ADS_1


Tangan Tiar bergerak mengelus paha belakang istrinya, menuntun agar duduk berhadapan di pangkuannya dam menyangga kuat punggungnya agar tak terjatuh.


Bibir Tiar berpindah dari menuju leher, memberikan kecupan ringan disana, naik ke cuping telinga, menggigit kecil-kecil menggoda dan menjilat bagian belakangnya.


Desahan Tita membuatnya makin gemas dan menyerang area perpotongan leher dan menyesapnya bagai kumbang jantan yang kehausan dan menemukan madu.


Tubuh Tita menjengit merasakan sensasi geli-geli sakit seperti yang sudah pernah ia rasakan sebelumnya.


"Stop, nanti merah lagi" Tita menjauhkan wajah Tiar dari lehernya.


Tiar hanya mendongak dan tersenyum, memagut bibir pink itu memulai kembali cumb*an. Tangannya tak lagi menyangga punggung gadisnya, berpindah cepat meraba dada yang menjulang didepan wajahnya, melucuti tiga kancing piama teratas.


Tita tak bisa berbuat apa-apa, tangannya yang sehat merem*s kuat pundak Tiar, bisa jadi ia terjatuh jika melepaskan pegangannya. Bibir atas dan bawah digigit bergantian membuatnya bungkam.


Berasa diatas angin Tiar melanjutkan aksinya menyentak kait pelapis dada ia rasakan lebih mudah dibandingkan saat memasangnya beberapa saat lalu. Merutuk dalam hati kenapa tadi bersusah payah memasang jika pada akhirnya dibuatnya lepas kembali.


"Stop.... " gadisnya mendesis diantara celah pagutan bibir keduanya.


"Aaahh.... " cicit Tita saat telapak tangan Tiar sukses merem*s buah dada.


“Tita….” teriakan wanita menggema di balik pintu kamar mandi sontak menghentikan kegiatan asyik masyuk keduanya.


Kegaduhan terjadi setelahnya bagaikan sepasang kekasih yang terciduk hansip saat bermesraan di gardu siskamling. Tiar buru-buru memasang kait BRA dan mengancingkan dress piama Tita yang kusut amburadul karena ulahnya.


“Iya Ma….” sahut Tita “Lagi ganti baju” sambungnya panik.


Keduanya segera beranjak keluar dari kamar mandi dengan muka merah bak kepiting rebus, Tiar membasuh mukanya di wastafel lebih dahulu.


“Mama kok pagi-pagi sudah datang” ucapan Tiar datar, entah harus senang karena istrinya ada yang menemani atau harus mengumpat karena kegiatan mereka yang terganggu.


“Kok nggak suka gitu sih nanyanya” Hayu mencebik “Mama ganggu kalian ya?” lanjutnya setelah menangkap ada kejanggalan.


“Enggak kok Ma” tukas Tita cepat.


“Tiar! Tita itu lagi sakit, kamu itu bisa nahan nggak sih!” tangan Hayu lepas begitu saja melayang memukul pundak putranya.


“Enggak Ma, Tiar nggak bikin Tita sakit kok” Tiar mendekati istrinya, menyentuhnya pelan agar tak mengagetkan lalu menggendongnya hati-hati untuk duduk di tepi ranjang.


“Tiar lagi bikin Tita enak” tambahnya lagi dengan cengiran khasnya yang mesum.


“Mas Tiar bohong Ma” protes Tita sambil merengut.


Hayu hanya berdecak dan menggelengkan kepala, sudah pas benar keduanya seperti baut bertemu dengan mur. Satunya mesum satunya lagi tak tahan digoda.


Dua tangan Tiar mengunci tubuh Tita, mencondongkan badannya agar gadisnya itu tak bisa menghindar darinya.


“Kerja dulu ya”


Ekor mata Tiar melirik kearah Hayu yang sibuk menata barang bawaan ke meja samping ranjang.


Cup Cup Cup


Rutinitas itu ia lakukan namun kali ini berakhir dengan bisikan menggoda yang membuatnya mendapat bonus capitan jari di pinggang.


“Punya lo gede juga Ta”



Tita masih menggoyangkan kakinya yang menjuntai disisi ranjang sambil mengunyah makanan yang disuapkan Hayu ke mulutnya.


“Ma, bilang makasih ke Papa ya” sela Tita dikegiatan makannya


“Soal?”


“Papa jadi donatur tetap di panti asuhan Bunda”


“Oh" Hayu menghela napas panjang "Untuk menebus rasa bersalah, dulu Papa Mama sempat berniat untuk tidak melanjutkan kehamilan Niar” urai Hayu, jelas tersirat kesedihan disana.


"Papa Mama takut Niar menjadi rendah diri dan tidak siap dengan sangsi sosial, tapi kehadiran Anya justru membawa dampak positif di hidup Niar. Dia menjadi lebih dewasa, lebih bertanggung jawab merubah sifatnya yang kekanakan" terang Hayu.


"Sama seperti Tita membawa perubahan buat Tiar, Mama lihat suami kamu jadi lebih dewasa. Berkat kamu Tiar mengalahkan egonya dan berbaikan dengan Niar. Makasih ya"


“Mama….” Tita menjatuhkan kepalanya di bahu Hayu.


"Mas Tiar itu cuma gengsian kok Ma, mulutnya sama isi kepala nggak relevan jadi sering bikin salah paham"


"Ehm, iya. Mungkin itu yang bikin Tiar nggak akur sama Papa. Kamu yang sabar ya sama anak Mama itu"


"Tita bahagia?" Hayu mengelus paha menantunya.


"Bahagia dong Ma, dapat suami ganteng digoreng dadakan" Tita terkekeh teringat kata-kata Tiar waktu itu.


"Lebih-lebih sekarang merasa punya keluarga lengkap. Papa, Mama Niar dan Anya" tangan Tita memeluk pinggang Hayu dan bermanja dalam dekapan.


Visit dokter kali ini memberikan kabar baik bahwa Tita boleh pulang esok hari setelah hasil rontgen akhir keluar, diperbolehkan melepas armsling dengan memberikan batasan-batasan gerakan yang bisa jadi membuat cideranya lebih parah. Dokter menekankan untuk tidak melewatkan jadwal kontrol untuk memonitor pemulihannya.


Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!

__ADS_1


__ADS_2