
Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB, Zigar dan Fira bersiap siap untuk pergi ke sebuah mall, Zigar akan mengantar Fira untuk membeli beberapa baju untuknya, saat ini Fira terpaksa menggunakan kembali gaunnya yang semalam, karena Ia pikir tidak mungkin ke mall dengan menggunakan baju Zigar dan celana boxer.
Zigar mengambil kunci motornya dan , mereka pun keluar kamar kos dengan menguncinya terlebih dulu.
Zigar mengambil motornya yang berada di parkiran kosan, sedangkan Fira menunggu di luar gerbang rumah kos itu. Mereka berdua sudah berada di atas motornya.
"Kamu pakai jaket ini ya biar kulit kamu ngga kebakar". Zigar melepaskan jaket berwarna hitam yang Ia kenakan dan memberikannya kepada Fira. Kini Ia hanya menggunakan kaos polos berwarna putih.
"Tapi kamu?".
"Sudah pakai saja, ngga usah mikirin aku. Ngga masalah kalau kulitku kebakar".
"Makasi banyak ya gar, kamu baik banget". Ucap Fira , Zigar hanya tersenyum tipis.
Setelah Fira selesai memakai jaketnya, Zigar masih belum juga melajukan motornya. Membuat Fira bertanya tanya.
"Kenapa belum berangkat gar?".
"Pegangan nanti kamu jatuh". Ucap Zigar .
"Aku pegangan di belakang aja gar". Tangan Fira memegang ujung jok motor bagian belakang.
"Kalau kamu ngga mau pegangan ya kita akan terus panas panasan disini". Jawab Zigar yang membuat Fira langsung melingkarkan tangannya di perut Zigar.
"Nah gitu dong, ini kan juga buat kebaikan kamu". Ucap Zigar tersenyum tipis.
Tak lama kemudian Zigar melajukan motornya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan ibu kota yang sangat terik.
Setelah 30 menit perjalanan akhirnya mereka telah sampai di pusat perbelanjaan yang cukup besar. Zigar segera memarkirkan motornya, kemudian mereka berjalan beriringan menuju Atm, setelah urusan mereka selesai di depan mesin atam mereka melanjutkan langkah mereka menuju toko baju dengan brand cukup terkenal yang tentu saja harganya tidaklah murah.
Fira memilih beberapa baju dan celana jeans, serta beberapa dress santai dan kaos. Setelah membayar semua belanjaannya Fira menuju ke Fitting room untuk mengganti dress yang Ia pakai dengan baju dan celana jeans yang baru saja Ia beli.
Beberapa saat kemudian mereka berdua menuju toko ponsel, Fira membeli ponsel pintar keluaran terbaru lalu mereka berhenti di sebuah restoran cepat saji untuk makan siang. Setelah pesanan mereka datang mereka makan dalam diam, mereka berdua hanyut dengan pikiran mereka masing masing, sampai akhirnya Fira memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu kepada Zigar.
"Mmmm...Egar apakah kamu tidak bekerja?, Maaf kalau aku udah ngrepotin kamu sampai kamu harus bolos kerja". Ucap Fira dengan ragu.
"Aku belum dapet pekerjaan, udah nyari kemana mana masih belum dapet". Jawab Egar yang tentu saja membuat Fira terheran heran, pasalnya Zigar adalah pria yang good looking harusnya Ia bisa dengan gampangnya mendapat pekerjaan, bahkan menjadi model pun sepertinya akan sangat mudah baginya, melihat perawakan yang tinggi, tegap, berwajah tampan, maskulin dan berkulit bersih.
Dan bisa dilihat dari cara berbicara dan sikapnya Ia seperti orang yang berpendidikan tinggi. Tiba tiba ingatan Fira berputar dimana saat Ia melihat lihat beberapa Foto foto yang terpajang di kamar Zigar.
Flashback On
Dimana malam itu ketika Fira baru saja sampai di kamar kos Zigar, saat Zigar sedang membersihakan dirinya di kamar mandi. Fira tidak sengaja melihat beberapa foto Zigar dengan seorang perempuan yang sangat cantik dan anggun yang sepertinya itu adalah kekasih Zigar , foto foto itu terpasang dengan indah di dinding kamar kos Zigar, disana Zigar terlihat memakai setelan tuxedo yang bisa dilihat harganya tidaklah murah.
Jam tangan yang Ia pakai pun harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah. Bahkan ada satu foto dimana dengan background menara eifel, tentu saja foto itu diambil di Paris, Perancis, di dalam foto itu Zigar memakai tuxedo warna navy dan menggunakan jam tangan dengan harga mencapai milyaran rupiah sedangkan kekasihnya memakai dress panjang yang membuatnya terlihat sangat anggun, dari situ tentu saja bisa dilihat kalau Zigar memiliki pekerjaan yang bagus dengan penghasilan yang tidak sedikit tentunya.
"Hemmmm... Jadi ini kekasihnya, mereka sangat serasi". Ucap Fira sambil menatap foto yang tergantung di atas dinding.
"Menara Eifel?, Sepertinya dia bukan orang sembarangan, tapi kenapa bisa dia tinggal di kosan kecil seperti ini". Gumam Fira lirih sambil menerka nerka siapa sebenarnya pria yang sudah menolongnya itu.
"Semua outfit yang Ia pakai juga tidaklah murah, bahkan di foto ini jam tangannya itu kan harganya milyaran". Pandangan Fira fokus pada sebuah foto berukuran cukup besar yang menempel di dinding berada dekat dengan kasur Zigar.
Pikiran Fira sudah berputar menebak nebak siapa pria itu sebenarnya mamun, pikirannya dibuyarkan saat pintu kamar mandi terbuka dan terlihat Zigar keluar dari sana.
Flashback Off
"Kamu belum punya pekerjaan?, Masa sih?, Dari kapan?". Fira memberondong Zigar dengan beberapa pertanyaan. Menurutnya sangat tidak mungkin jika pria yang duduk di hadapannya ini belum memiliki pekerjaan.
"Sudah 6 bulan, aku jadi pengangguran". Jawab Zigar.
"Sebelumnya kamu kerja dimana?". Tanya Fira penasaran. Zigar hanya terdiam.
"Maaf ijazah terakhir kamu apa?". Tanyanya lagi.
"Aku..aku.. sebelumnya kerja di pabrik. Ya aku dulu cuma buruh pabrik, ijazahku cuma SMA". Jawab Zigar sedikit gugup Ia mencari cari alasan yang tepat untuk menutupi jati dirinya.
"Benarkah yang dikatakannya itu, terus foto foto itu?, Apakah dia adalah seorang pengusaha muda yang bangkrut?. Atau ahh entahlah sepertinya ini sangat sulit dipercaya". Gumam Fira dalam hati.
"Kalau begitu kamu jadi bodyguard aku aja mau ngga?". Tanya Fira.
"Kamu serius?". Tanya Zigar antusias.
"Aku serius, kamu kan punya badan lumayan besar, kamu juga jago berantem aku udah lihat semalam bagaimana kamu membuat para penjahat itu babak belur tak berdaya". Ucap Fira. Zigar hanya terkekeh mendengar ucapan Fira.
__ADS_1
"Tapi apa orang tuamu setuju?". Tanya Zigar lagi.
"Tentu saja, papaku memang sudah dari dulu ingin sekali menyewa bodyguard untukku tapi aku selalu menolaknya, aku ngga mau kemana mana diikuti sama orang asing, jadi aku rasa papa akan senang mendengarnya"
"Tapi itu kan demi keselamatan kamu". Ucap Zigar menyela.
"Memang, tapi aku ngga nyaman dengan keberadaan orang asing di dekatku".
"Apa menurutmu aku bukan orang asing?".
"Kamu orang asing, tapi aku udah sedikit mengenalmu jadi aku rasa ngga masalah dengan itu, dan lagi aku yakin kamu orang yang tepat untuk menjadi bodyguardku". Jelas Fira.
"Seyakin itu". Goda Zigar sambil terkekeh.
"Hehehe, filling ku sih begitu". Ucap Fira sambil menyeruput jus alpukat miliknya.
"Lantas bagaimana dengan mamamu?".
Tanya Zigar yang membuat Fira tiba tiba tersedak.
Uhuuk..uhuukk..
"Kamu kenapa". Zigar panik dengan segera Ia menepuk nepuk pelan punggung Fira.
Setelah tenggorokannya merasa sudah membaik Fira mulai menjelaskan.
"Papa dan mamaku sudah lama bercerai sejak aku berumur 5 tahun, sejak itu juga aku ngga pernah ketemu mamaku, aku juga ngga tahu keberadaanya". Ucap Fira lirih.
"Maafkan aku, aku ngga bermaksud buat kamu bersedih". Zigar membelai lembut rambut Fira, sontak membuat Fira melirik ke tangan Zigar yang sedang membelai rambutnya.
"Maaf". Zigar segera menurukan tangannya dan tersenyum kikuk. Fira membalas senyumnya.
"Nanti aku akan hubungi papa untuk membicarakan hal ini". Ucap Fira mengalihkan dari keadaan yang sempat canggung tadi.
"Eh Egar kita nonton dulu yuk, katanya sih hari ini ada film bagus". Ajak Fira.
"Boleh, ya udah kamu tunggu sebentar ya biar aku ke kasir dulu". Egar beranjak dari duduknya berjalan menuju kasir.
"Gar biar aku aja yang bayar". Fira mengekor langkah Egar.
"Tapi kamu kan belum kerja gar". Ucap Fira lirih.
"Kamu tenang aja". Mengusap usap puncak kepala Fira sambil mengulum senyum.
Setelah menyelesaikan pembayaran mereka berdua keluar dari restoran tersebut menuju bioskop, memilih Film yang akan mereka tonton kemudian Zigar mengantri membeli tiket, sedangkan Fira mengantri membeli pop corn dan minuman soda untuk mereka.
Mereka menunggu beberapa saat sampai akhirnya film yang akan mereka tonton segera dimulai, mereka duduk dikursi paling belakang, emang itu kursi yang dipilih Zigar untuk mereka, mereka nonton film drama romantis komedi.
Setelah film selesai mereka mutuskan untuk pulang, mereka berjalan beriringan menuju parkiran motor, beberapa saat kemudian motor yang mereka tumpangi sudah keluar dari area parkir mall, 30 menit kemudian mereka telah sampai dikosan Zigar, Fira segera membersihkan dirinya sedangkan Zigar menunggu di lantai bawah di ruang tv yang ada di lantai bawah mengobrol dengan teman teman kos nya.
Ritual mandi Fira telah selesai Ia duduk di sofa depan tv yang ada di dalam kamar kos Zigar, mencoba menghubungi papanya membicarakan tentang Zigar yang akan menjadi bodyguardnya.
**Panggilan telefon berlangsung
"Hallo pa, papa lagi ngapain?"
"Papa baru selesai meeting sayang, kamu lagi ngapain?, Kamu baik baik saja kan?". Tanya tuan Bima Mahardika di seberang sana.
"Fira baik pa, sekarang Fira lagi santai ".
"Syukurlah kalau begitu".
"Pa, Fira mau temen Fira yang nolongin Fira tempo hari itu jadi bodyguard Fira, apa papa setuju?".
"Apa maksud kamu Fira?, Kamu kan belum tau dia siapa, latar belakangnya, dan masih banyak lagi. Jangan sampai kamu memperkerjakan orang yang salah". Jawab tuan Bima tegas.
"Pa, dia orang yang baik pa dia juga jago bela diri, boleh ya pa please".
"Papa ngga bisa memutuskan sekarang nak, sebaiknya besok kamu bawa dia ketemu papa, kalo memang papa setuju besok dia bisa langsung kerja".
"Beneran??, Makasi ya pa. Love u".
"Love u too sayang, ya udah papa sebentar lagi akan ada meeting lagi, besok kamu pulang ya nak papa mohon, papa sangat khawatir".
__ADS_1
"Iya pa, besok Fira pulang sekalian ngajak temen Fira itu, jadi papa bisa nilai sendiri".
"Yaudah kalau begitu papa selamat bekerja ya".
Sambungan telefon terputus**.
Tok..
Tok..
Tok..
Ceklek.. pintu kamar di buka
Zigar menghampiri Fira yang sedang duduk di sofa depan tv sambil memainkan ponsel barunya, Zigar duduk di samping Fira, menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
"Haii lagi ngapain ?". Tanya Zigar menatap Fira yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Eh ini, tadi aku habis ngasih tahu papa tentang rencana kamu yang mau jadi bodyguardku". Ucap Fira menatap manik kecoklatan pria di sampingnya. Pandangan mereka bertemu membuat mereka kikuk segera melempar pandangan ke arah lain.
"Terus apa kata papa kamu?". Tanya Egar penasaran, pandangannya kembali kearah gadis ayu yang duduk di sampingnya itu.
"Kata papa besok kamu bisa ketemu papa dan biar nanti papa yang memutuskan, maaf ya".
"Iya ngga pa pa, aku malah seneng banget , makasi ya udah mau bantuin aku cari kerja".
"Sama - sama, oiya besok aku pulang ya , makasi atas tumpangannya 2 hari ini". Fira menatap wajah pria yang sejak tadi menatapnya.
"Bukannya kamu bilang mau tinggal seminggu disini?".
"Kayanya ngga deh, kan besok kalau papa setuju kamu udah bisa langsung kerja , jadi aku udah ngga perlu takut lagi sama para penjahat itu". Fira tersenyum tipis. Zigar membalas dengan senyuman terbaiknya.
"Mmm aku boleh nanya sesuatu ngga?". Tanya Fira sedikit ragu.
"Apa?"
"Wanita itu kekasihmu?". Fira menunjuk ke arah beberapa foto yang terpasang di dinding. Sejenak tidak ada jawaban dari Zigar.
"Kalau kamu tidak mau menjawabnya tidak apa apa, ngga usah di jawab lagi". Tambah Fira.
"Dia mantan kekasihku". Jawab Zigar lirih sambil menundukkan kepalanya.
"Ouhh maaf ya, aku tidak bermaksud..". Ucapan Fira menggantung.
"Tidak apa apa". Zigar tersenyum.
"Kalau dia hanya mantan kekasihnya kenapa foto foto mereka masih dia pajang, fix dia gagal move on sama kekasihnya itu". Batin Fira.
"Tapi aku masih bingung deh, di foto foto ini penampilan dia itu berkelas banget , outfitnya itu brand ternama semua, dan lihat jam tangan ratusan juta, bahkan ada yang mencapai milyaran, tapi kenapa dia tinggal di kosan kecil seperti ini, outfitnya yang sekarang juga biasa aja bukan outfit yang berkelas seperti di foto foto itu, apa dia bangkrut?, Kenapa cowok ini hidupnya penuh misteri gitu sihh". Gumam Fira lagi dalam hati.
Keheningan diantara mereka menyeruak memenuhi kamar kos itu, mereka berdua berkecamuk dengan pikirannya masing-masing.
Fira masih dengan pikirannya menebak nebak misteri kehidupan Zigar, sedangkan Zigar pikirannya berputar kembali kepada kejadian 6 bulan yang lalu yang membuat dia berada di tempat ini, di negara kelahirannya ini, di kosan kecil ini. Kejadian yang membuat dia harus meninggalkan segala kemewahan, kehormatan, kenyamanan, pekerjaannya dan yang terberat adalah dia harus meninggalkan orang tuanya , keluarga satu satunya yang Ia miliki, bahkan Ia juga harus meninggalkan identitasnya.
Kejadian 6 bulan yang lalu, dimana orangtua nya mengusir dirinya dan mengancam hendak menghapusnya dari daftar keluarga hanya karena mereka mengetahui Zigar berhubungan dengan wanita dari kalangan orang biasa, dari keluarga sederhana sangat jauh berbeda dengan keluarga Zigar yang merupakan keluarga konglomerat yang memiliki berbagai perusahaan maju di Singapura, mempunyai bisnis dan usaha di berbagai lini kehidupan.
Status sosial yang membedakan antara Zigar dan kekasihnya itu membuat orang tuanya melakukan segala cara agar putra semata wayangnya itu mau berpisah dengan kekasihnya, namun rasa Cinta diantara sepasang kekasih ini sangat kuat ,dalam dan tulus, sungguh miris memang hanya karena status sosial yang berbeda mereka harus berpisah, dan sekarang Zigar harus kehilangan kekasih yang sangat Ia cintai itu untuk selamanya.
Suara Isak tangis itu begitu saja lolos dari mulut Zigar, sosok yang terlihat kuat, tangguh, jago bela diri dan mandiri itu kini terlihat sangat rapuh, bulir bening itu mengalir begitu saja dari manik kecoklatan pria tampan itu yang membuat Ia segera menghapusnya. Itu semua sontak membuat Fira terkejut dan terlihat sangat khawatir kepada Zigar.
"Gar, kamu kenapa?". Fira menggeser tubuhnya lebih dekat dengan Zigar, menatap lekat wajah yang udah 2 hari ini biasa ia lihat sangat tegar , kuat sekarang wajah itu berubah sendu dan pilu.
"Tidak apa-apa". Zigar menhapus cepat air mata yang masih terus saja lolos dari pelupuk matanya, Ia memcoba mengembangkan senyumnya untuk menutupi kesedihannya itu.
"Kamu pasti sangat mencintai mantan kekasihmu itu ya?". Tanya Fira sambil mengusap-usap punggung tegap Zigar.
"Sangat, aku sangat mencintainya". Jawab Zigar dengan tersenyam menahan sesak dan perih yang kini menyelimuti hatinya.
"Lantas kenapa kalian berpisah?". Tanya Fira lagi.
"Maaf Fir, aku tidak bisa menceritakan ini kepadamu, yang jelas hati ini sangat sakit saat mengingat Dinda kusuma kekasihku yang kini sudah pergi meninggalkanku untuk selamanya, aku hanya bisa mendoakannya agar Dinda bisa tenang di surga sana. Aku tidak akan pernah bisa lagi bertemu dengannya, melihat senyum indahnya yang menenangkan, rasa kangen ini sungguh sangat menyiksa diriku". Gumam Zigar dalam hati sambil memejamkan matanya.
"Eh, sepertinya ponselku tertinggal di bawah, aku akan mengambilnya". Zigar beranjak dari duduknya meninggalkan Fira keluar dari kamar kosnya menuju ruang tv yang ada di lantai bawah.
__ADS_1
"Sepertinya ada yang sengaja Ia tutupi, termasuk dengan kandasnya hubungan cintanya dengan ceweknya itu". Gumam Fira lirih.
"Sepertinya masalahnya sangat berat sampai sampai cowok sekuat itu bisa meneteskan air matanya". Gumamnya lagi.