
Malam sudah tiba, cerahnya sang mentari kini telah berubah menjadi pekatnya malam ditemani sang rembulan yang tengah memperhatikan setiap aktivitas penduduk bumi dari atas sana.
Tuan Bima memanggil Zigar ke ruang kerjanya, kini mereka sudah duduk saling berhadapan di sofa yang berada di ruang kerja tuan Bima.
Ada dua cangkir kopi dan satu toples biskuit di atas meja yang menemani perbincangan mereka.
"Egar, Fira bilang tadi pagi kalian dikejar sekelompok penjahat ya?". Tutur tuan Bima setelah menyesap kopi miliknya dan meletakannya kembali di tempat semula.
"Betul tuan, maafkan saya tuan saya tidak bisa menjaga nona Fira dengan baik".
"Ini bukan salah kamu gar, itu semua musibah".
"Bisa kamu ceritakan kronologis kejadiannya".
Zigar pun menceritakan kronologi kejadian dengan baik.
"Kamu memang layak jadi bodyguard Fira". Tutur tuan Bima membuatnya mengurungkan menyesap kopinya yang sudah berada ditangannya dan hendak meminumnya.
"Terimakasih tuan, tuan terlalu berlebihan".
Zigar kembali melanjutkan meyesap kopi miliknya.
"Egar tolong bantu jaga Fira ya nak". Netra tuan Bima berkaca kaca.
"Tentu tuan, aku akan menjaga nona Fira sepenuh jiwa raga saya". Sahut Zigar dengan semangat.
Jawaban Zigar membuat tuan Bima tersenyum lega, ia benar benar merasa lega karena akhirnya ia bisa menemukan orang yang bisa menjaga Fira.
"Besok kamu pakai mobil yang lain saja ke kampus Fira, biar nanti mobil Fira diperbaiki dibengkel besok".
"Baik tuan".
*****
Fira berlari menuruni anak tangga dengan hebohnya, gadis itu ingin menyambut kedatangan kekasihnya Vero.
Vero menelfon Fira saat dirinya telah sampai di pelataran rumah Fira hingga membuat gadis itu turun hendak menyambut kedatangannya.
Pria itu memang tidak tahu malu, padahal jelas jelas tadi siang ketahuan selingkuh masih beraninya dia datang menemui Fira.
Vero ingin memastikan saja jika Zigar tidak menceritakan perselingkuhannya kepada Fira, karena ia yakin Zigar tidak melakukan itu, satu alasan yang membuatnya yakin Fira masih menerima telefon darinya dan masih bersikap manis kepadanya saat mereka mengobrol di telefon.
Ya sore itu Vero mencoba menghubungi Fira dan ternyata Fira masih bersikap manis kepadanya itu artinya Fira masih tidak tahu dengan perselingkuhannya.
Fira membukakan pintu untuk Vero dan mempersilahkannya duduk di ruang tamu.
__ADS_1
Vero memberikan sebuah buket bunga dan sebuah boneka teddy bear berwarna coklat yang sengaja ia bawa untuk mengambil hati Fira.
"Honey ini buat kamu". Vero menyerahkan buket bunga dan boneka teddy nya kepada Fira.
"Ini buat aku Ver?". Tanyanya merasa heran pasalnya ia tidak sedang ulang tahun tapi kenapa tiba tiba Vero memberinya hadiah, begitu pikirnya.
"Iya dong honey, lalu buat siapa lagi jika bukan buat kamu". Vero mentowel dagu Fira sambil tersenyum.
"Terimakasih Ver". Fira tersenyum bahagia, merasa sangat dicintai oleh Vero.
"Sama sama". Tutur Vero.
Mereka berdua mengobrol ngalor ngidul, termasuk membicarakan insiden buruk yang menimpa Fira tadi pagi.
Sejenak ada keheningan menyusup diantara mereka, tangan Vero memegang tengkuk Fira mata pria itu sudah di penuhi gairah, manik hitamnya menatap bibir ranum Fira yang sangat menggoda dirinya.
Pelan ia dekatkan wajah nya dengan wajah Fira dan...
"Ehem". Tiba tiba Zigar berdehem membuyarkan semuanya.
Vero dan Fira sama sama tersentak kaget, pria itu mengeram kesal akan kehadiran Zigar yang tiba tiba dan sudah mengganggu dirinya dan Fira.
"Shiit!!, Bodyguard sialan!". Umpat Vero dalam hati.
Zigar tak habis pikir dengan jalan pikiran Vero, bisa bisanya dia berani datang ke rumah Fira setelah dia ketahuan selingkuh.
"Laki laki sialan itu masih beraninya dekati Fira!". Gerutu Zigar dalam hati.
Tadi ia sengaja berdehem untuk menggagalkan aksi Vero yang hendak mencium Fira, Zigar geram melihat kelakuan Vero yang sudah berani beraninya mempermainkan hati Fira.
Zigar berjalan menghampiri mereka berdua dan ikut bergabung dengan mereka, duduk di sofa yang berhadapan dengan sofa yang di duduki Vero dan Fira.
Zigar memang sengaja duduk disana untuk mengganggu Vero agar tak berbuat macam macam dengan Fira.
"Mau apa kau disitu?". Seru Vero dengan nada kesal.
"Maaf tuan, tugas saya adalah menjaga nona Fira jadi sudah pasti saya disini untuk menjaganya". Tutur Zigar dengan sopan.
"Kau sengaja kan mau ganggu kita berdua!". Suangut Vero.
"Tidak tuan".
"Honey suruh dia pergi dari sini!". Seru Vero kepada Fira.
"Biarkan saja dia disitu, anggap saja dia tidak ada Ver". Tutur Fira sambil menggenggam tangan Vero yang sudah mengepal menahan emosi.
__ADS_1
"Bagaiaman bisa anggap dia tidak ada!, sedangkan dia saja sebesar itu duduk di depan kita!".
"Aku mau pulang saja!". Lanjutnya, Vero bangkit dari duduknya merapikan bajunya lalu pergi begitu saja dari ruang tamu.
"Vero tunggu!". Fira berusaha mengejar Vero yang sudah keluar dari rumah Fira.
Zigar pun mrngikutinya dari belakang.
Vero tak menghiraukan Fira ia terus saja berjalan menuju tempat mobilnya terparkir.
"Vero tunggu, kamu marah?". Tanya Fira.
"Sudahlah aku mau pulang". Tuturnya sambil mendaratkan tubuhnya dibalik kemudi sesaat setelah membuka pintu mobilnya.
"Ver, jangan seperti itu dia bodyguardku dia hanya ingin menjagaku tolong jangan salah paham". Fira sedikit membungkukkan tubuhnya agar bisa leluasa berbicara dengan Vero yang sudah duduk di balik kemudinya dengan pintu mobil tertutup, tapi kaca mobilnya terbuka setengah.
"Fir, ini dirumah kamu sendiri kamu pasti aman jadi kenapa dia masih harus menjagamu juga ketika dirumah?!".
"Ya maafkan aku, nanti aku akan bicara dengannya".
"Bagus, sudah aku mau pulang. Sebaiknya kamu masuk dan istrirahat". Vero keluar dari dalam mobil, menutup pintu dan mendekati Fira.
"Aku pulang dulu ya honey". Vero mencium kening Fira, gadis itu tersenyum itu artinya Vero sudah tidak marah lagi dengannya.
Sementara Zigar hanya bisa memperhatikan mereka dari jarak 10 meter.
Mobil yang ditumpangi Vero kini sudah keluar dari rumah Fira, Fira pun bergegas masuk kedalam rumah.
"Fir, maafkan aku karena aku kalian jadi bertengkar". Zigar mensejajarkan diri dengan Fira yang hendak memasuki rumah.
"Tidak apa apa Egar, tapi lain kali aku minta kalau aku ada dirumah tidak perlu kamu jaga seperti tadi ya".
Zigar mengangguk pelan "Sekali lagi maafkan aku". Fira tersenyum simpul.
"Aku maafkan, ya sudah aku ke kamar dulu ya mau istirahat". Ucap Fira.
"Iya Fir, selamat beristirahat. Selamat malam". Zigar menyunggingkan senyum hangatnya.
Fira berlari kecil menaiki tangga menuju kamarnya, setelah memastikan Fira masuk ke kamarnya kini Zigar pun ikut masuk ke dalam kamar yang ia tempati selama bekerja disini.
Sebuah kamar tamu yang luas dengan furniture mewah lengkap, sama seperti sebelumnya kamar Zigar dihiasi foto foto mantan kekasihya, pria itu memang masih belum bisa move on dari sang mantan kekasih.
Seperti sekarang ini Zigar sedang merebahkan dirinya di atas tempat tidur sambil memandangi foto dirinya dan mantan kekasihnya yang nampak begiti mesra.
Matanya berkaca kaca mengingat kejadian setengah tahun yang lalu dimana ia dipaksa meninggalkan gadis yang sangat ia cintai.
__ADS_1