
"Pagi nona". Sapa Zigar saat melihat Fira turun dari tangga, gadis itu nampak sangat cantik dengan balutan mini dress berwarna hijau botol dengan wedges warna senada tak lupa tas kremes berwarna hitam yang di tentengnya.
"Pagi Egar". Fira tersemyum simpul menyambut sapaan sang bodyguard tampan.
Fira berjalan menuju meja makan untuk sarapan diikuti Zigar di belakangnya.
Zigar menarik kursi yang akan ditempati Fira, disana juga sudah ada tuan Bima yang tengah menyantap sarapannya.
"Pagi papa". Fira mencium kedua pipi papanya sebelum ia duduk di kursi dan memulai sarapan.
"Tuan, Nona, saya permisi mau memanaskan mobil dulu". Pamit Zigar kepada majikannya.
"Silahkan nak Egar". Ucap tuan Bima.
Zigar berjalan keluar untuk memanaskan mobil sambil menunggu nona mudanya.
Setelah beberapa saat Fira dan tuan Bima keluar rumah, tuan Bima segera disambut oleh asisten pribadinya dan segera masuk kedalam mobil.
Mobil yang ditumapngi tuan Bima kini sudah keluar dari kediaman Bima Mahardika diikuti dengan mobil para pengawalnya.
Zigar segera membukakan pintu untuk Fira, memastikan nona nya sudah dalam posisi duduk yang nyaman Zigar segera menginjak pedal gas kuat kuat membelah jalanan menuju kampus nona mudanya.
Seperti biasa di dalam mobil tak ada percakapan di antara keduanya, hanya ada suara deru nafas mereka yang saling bersahutan.
Zigar memperhatikan spion dengan tajam saat manik hitamnya menangkap ada dua mobil yang sejak tadi mengikuti mereka.
Zigar nampak menyembunyikan kegelisahannya dari Fira, ia tidak mau Fira khawatir atau bahkan ketakutan.
Tapi ternyata gadis itu menyadari bahwa mobilnya tengah diikuti oleh dua mobil tak di kenal.
"E..Egar sepertinya dua mobil itu mengikuti kita". Ucap Fira dengan terbata sambil menoleh ke belakang memperhartikan ke dua mobil asing di belakangnya.
"Iya nona, tapi nona tenang saja semua akan baik baik saja". Zigar mencoba menenangkan Fira.
Fira benar benar ketakutan, tubuhnya gelisah hingga tidak bisa duduk dengan nyaman di mobilnya, berkali kali dia memutar tubuhnya menoleh kebelakang mobil itu masih mengikuti mereka bahkan kini terlihat seperti mengejar.
"Egar lebih cepat lagi!!, Lihat mereka mengejar kita!". Seru Fira dengan wajah paniknya.
Zigar memacu mobilnya lebih cepat menghindari kedua mobil yang kini tengah mengejarnya, hingga terjadi aksi kejar kejaran di jalanan yang cukup lengang.
__ADS_1
Fira meremas kedua tangannya dan mengigit bibir bawahnya merasa sangat gelisah dan gugup, ketakutan di malam itu kembali menyergapnya membuat tubuhnya gemetar.
Zigar melirik ke arah spion melihat nona mudanya yang tampak tak baik baik saja.
Segera Zigar mengambil air mineral dari dashboard mobil dan memberikannya kepada Fira.
"Nona minumlah dulu, tenangkan diri nona". Zigar memberikan sebotol air mineral kepada Fira.
Dengan tangan gemetar Fira meraih air mineral dari tangan Zigar, mulai membuka tutupnya dengan gemetar perlahan meneguknya hingga habis setengah botol.
Kini Fira sedikit lebih tenang namun rasa ketakutan itu masih terasa dalam dirinya saat mobil kedua penjahat itu masih mengejar mereka bahkan sudah hampir menyalip mobilnya.
Zigar menambah kecepatan lagi, meninggalkan kedua mobil itu yang sepertinya tak mau kalah, mereka kembali mengejar dengan kecepatan tinggi.
Mobil mereka kini bersisian, salah satu orang berbadan besar yang menumpangi mobil itu membuka kaca jendelanya dan melongok keluar hingga sebagian tubuhnya berada diluar, tangan pria menggenggam sebuah kayu balok berukuran cukup besar dan saat mobil mereka bersebelahan dengan jarak cukup dekat pria itu menghantam kaca mobil Fira menggunakan balok kayu yang yang di pegangnya.
PRAAAANNGG...!!!
Suara kaca mobil pecah, membuat Fira menjerit ketakutan, serpihan kaca berterbangan membuat Fira dengan cepat menggeser tubuhnya menjauh.
"Nona?, Apa nona baik baik saja?". Seru Zigar khawatir tanpa menoleh ke arah Fira hanya meliriknya sekilas dari spion.
Berkali kali Zigar menyalip mobil hingga mendapat umpatan dan cacian dari sang kemudi mobil, dan akhirnya ia bisa mengelabui kedua mobil yang mengejarnya, mobilnya berbelok pada perempatan sebuah komplek perumahan, tanpa mengurangi kecepatan Zigar membawa mobilnya masuk ke dalam sebuah halaman rumah yang terbuka dan bersembunyi dibalik tembok besar di sampingnya.
Zigar mematikan mesin mobilnya saat dirasa kedua mobil itu tak menemukan mereka.
Zigar segara turun dari kemudi dan masuk ke dalam kursi penumpang, merasa sangat khawatir dengan keadaan nona mudanya.
Membuka pintu mobil yang kaca mobilnya sudah tak berbentuk lagi, Zigar segera melihat keadaan nona mudanya yang tampak meringkuk ketakutan, dia menangis tersedu memeluk tubuhya sendiri.
"Nona, apa nona baik baik saja?". Zigar masuk duduk di samping Fira setelah sebelumnya membersihkan serpihan serpihan kaca yang berhamburan di jok mobil.
Fira masih meringkuk dan menangis tersedu.
"Nona". Panggilnya lagi.
"Egar...hikss..hikss". Fira menghambur memeluk tubuh Zigar yang duduk di sampingnya.
Zigar tertegun sejenak sebelum ia membalas pelukan Fira dan mengusap usap punggung gadis itu.
__ADS_1
"Aku..aku takut Egar hikss". Ucap Fira sambil terisak, menangis tersedu di dalam pelukan Zigar.
"Nona tenanglah, mereka sudah pergi, semua akan baik baik saja". Zigar membelai lembut rambut Fira yang tergerai.
Cukup lama Zigar menenangkan Fira hingga akhirnya Fira kini bisa tenang dan berhenti menangis.
Zigar mencoba melepaskan pelukan Fira namun gadis itu semakin mengeratkannya, membuat Zigar merasa canggung dan salah tingkah.
Fira benar benar takut dan syok ia benar benar butuh tempat untuk bersandar menenangkan hatinya.
Cukup lama mereka terdiam larut dalam pikiran mereka masing masing, Zigar tak bisa berkata apa pun karena jantungnya kini sedang berdegup dengan cepat, entah kenapa mungkin karena aksi tegang kejar kejaran tadi ataukah karena Fira memeluknya?.
Fira melepaskan pelukannya, air mata di pipinya masih terlihat belum mengering ingin rasanya Zigar menghapusnya dengan menggunakan tangannya namun ia sadar ia tidak boleh selancang itu memperlakukan nona mudanya, itu sungguh sangat kurang ajar bisa bisa dia akan di depak tanpa hormat oleh Fira.
"Egar, apa boleh aku minta satu hal dari kamu?". Tanya Fira sambil mengusap sisa air mata di pipinya.
"Apa nona?". Tanya Zigar penasaran.
"Jangan panggil aku nona, jadilah temanku seperti dulu sebelum kamu jadi bodyguardku". Cetus Fira sambil menatap Zigar.
"Tapi nona, itu tidak mungkin nona adalah bos saya aku rasa sangat tidak sopan jika memanggil bos saya hanya dengan namanya saja". Tolak Zigar dengan berat hati.
"Egar kamu kan tahu selama ini aku menolak dikawal bodyguard karena aku ngga mau dekat dekat dengan orang asing, dan kalau kamu panggil aku nona aku jadi seperti sedang bersama orang asing". Kesal Fira.
"Jika kamu masih tetap memanggilku nona aku akan memecatmu, biarkan saja aku tidak usah dikawal bodyguard lagi". Tambahnya.
Fira memang merasa sangat tidak nyaman jika Zigar memanggilnya dengan sebutan nona, padahal sebelumnya dia sudah merasa nyaman berteman dengan Zigar hingga membuatnya mau menuruti papanya untuk dikawal bodyguard dengan syarat yang jadi bodyguardnya adalah teman barunya yaitu Zigar.
Tapi Zigar malah seperti membuat benteng dan jarak diantara mereka setelah resmi menjadi bodyguardnya membuat Fira sangat tidak nyaman.
Walaupun alasan Zigar memang untuk menghormati dan menghargai Fira sebagai bosnya tetap saja Fira tidak suka.
"Baiklah nona". Fira menatap tajam hingga Zigar meralat ucapannya "maksudku Fira". Kini Fira tersenyum tipis.
"Sekarang kita lanjut ke kampus atau bagaimana Fir?". Zigar melirik jam tangan yang melingkar di tangannya rasanya sudah terlambat untuk ke kampus karena Fira ada kelas pagi dan sepertinya sudah hampir habis jam kuliahnya.
"Antarkan aku pulang saja gar, aku masih syok dengan kejadian tadi aku mau menenangkan diri dulu".
"Baiklah". Zigar segera turun dan beralih ke kemudi mobil.
__ADS_1
Didalam perjalanan Fira dan Zigar tampak mengobrol layaknya seorang teman, membuat Fira sedikit lebih tenang