
Seperti sekarang ini Zigar sedang merebahkan dirinya di atas tempat tidur sambil memandangi foto dirinya dan mantan kekasihnya yang nampak begiti mesra.
Matanya berkaca kaca mengingat kejadian setengah tahun yang lalu dimana ia dipaksa meninggalkan gadis yang sangat ia cintai.
Ingatannya tiba tiba berputar bak film yang sedang berputar, rentetan kejadian demi kejadian tergambar jelas di ingatannya.
BRAAAKK!!.
Suara gebrakan meja kerja Zigar begitu jelas terdengar saat tuan Kemal menggebraknya dengan kuat hingga beberapa tumpukan kertas yang ada disana berterbangan.
"Apa apaan ini Zigar!". Seru tuan Kemal Bachtiar yang tak lain adalah ayah kandung Zigar, tuan Kemal melemparkan beberapa foto foto Zigar bersama seorang gadis cantik dan sebuah amplop coklat yang berisi semua informasi tentang gadis itu.
"Ada apa pa?". Zigar yang sedang sibuk bekerja pun dibuat terkejut oleh sikap papanya itu.
"Kau berhubungan dengan gadis rendahan itu lalu kau masih bilang ada apa?!". Seru tuan kemal.
"Hati hati papa bicara, dia bukan gadis rendahan dia gadis baik baik". Rahang Zigar mengetat, kedua alisnya menaut tajam, sorot mata kebencian menghunus sang papa.
"Cihh, dia gadis miskin buat apa kau memacarinya?, dia tidak selevel dengan keluarga kita. Dia hanya mengincar harta kita saja jadi tinggalkan gadis itu sekarang juga!".
Ya papanya telah mengetahui hubungannya denga Dinda Kusuma seorang gadis cantik yatim piatu yang dibesarkan di panti asuhan, gadis dari kalangan menengah kebawah, seorang gadis yang hanya bekerja sebagai pencari berita di sebuah stasiun televisi swasta di Singapura.
Zigar memang telah menjalin hubungan dengan gadis itu 4 tahun lamanya, selama itu juga ia tidak pernah memberitahu tentang hubungan mereka kepada keluarganya karena keluarganya yang selalu memberi jarak dan membangun benteng yang sangat tinggi untuk membatasi mereka dengan orang orang kelas bawah.
Zigar begitu terkesiap mendengar penuturan tuan Kemal yang hanya menilai kekasihnya dari segi materi saja lalu beliau menyimpulkan kalau gadis itu adalah gadis rendahan hanya karena dia terlahir bukan dari keluarga konglomerat seperti keluarganya.
Zigar memang sudah tahu jika keluarganya itu paling anti berhubungan dengan orang orang kelas bawah, orang orang yang ekonominya rendah oleh sebab itu ia lebih memilih menyembunyikan hubungannya dengan Dinda dari keluarganya namun ia baru mengetahui ternyata selain hal itu keluarganya juga menilai kehormatan seseorang dari materi yang dimiliki. Sungguh miris sekali, pemikiran macam apa itu!.
"Aku tidak menyangka jika papa hanya menilai kehormatan seseorang hanya dari segi materi!. Asal papa tahu justru dia lebih terhormat dari papa!". Seru Zigar dengan nada penuh kekesalan.
PLAAKK..!!
Tuan Kemal menampar pipi Zigar hingga wajah pria itu berpaling.
"Tutup mulutmu!, Jika kau masih tidak mau meninggalkan gadis itu, papa akan mencoretmu dari daftar keluarga Bachtiar dan kau tidak akan menerima sepeserpun harta dan uang dari papa!".
"Aku tidak butuh itu semua, jika papa mau melakukan itu lakukan saja tapi jangan lagi memintaku untuk meninggalkan Dinda". Tutur Zigar penuh penekanan.
"Lihat saja, papa akan membuat dia yang akan meninggalkanmu!". Tuan Kemal tersenyum miring lalu pergi meninggalkan ruang kerja Zigar.
Zigar mengeram kesal, menendang udara kuat kuat untuk melampiaskan kekesalannya.
Satu Minggu kemudian setelah kejadian itu Dinda memutuskan hubungan mereka secara sepihak alasannya tak lain karena status sosial mereka berbeda, tak berselang lama dari itu Zigar mendapat kabar dari kerabat Dinda bahwa kekasihnya itu telah meninggal karena bunuh diri.
__ADS_1
Zigar sangat hancur waktu itu, setiap malam ia akan menangisi kepergian kekasihnya itu terlebih saat dirinya tahu penyebab Dinda bunuh diri hanya karena tidak mau membuat hubungan Zigar dan keluarganya memburuk.
Kondisi yang sangat menyedihkan saat itu, Zigar seperti tidak ada semangat hidup lagi, bahkan ia sempat berpikiran untuk ikut mengakhiri hidupnya.
Hidupnya sudah tidak berarti lagi, gadis yang sangat ia cintai telah tiada meninggalkannya untuk selama lamanya, seseorang yang menjadi alasannya tersenyum, seseorang yang menjadi penyemangat hidupnya benar benar telah pergi dan tak akan pernah kembali.
Satu bulan setelah kematian Dinda Zigar memutuskan untuk pergi meninggalkan keluarganya, orang orang yang menjadi penyebab kepergian kekasihnya itu, meninggalkan segala kemewahan yang ia miliki, kenyamanan, kehormatan, jabatannya sebagai Direktur utama Bachtiar Corporation bahkan identitasnya pun ia tinggalkan.
Zigar memutuskan untuk pergi ke Indonesia, tanah kelahirannya, ia pergi tak membawa apapun, hanya membawa badan serta pakaian yang menempel di tubuhnya, Zigar ingin membuktikan kepada keluarganya bahwa ia bisa hidup tanpa uang sepeserpun dari keluarganya.
Zigar menjual jam tangan mewah yang ia kenakan saat itu, jam tangan yang berharga hampir 3 milyar itu hanya terjual 500 juta saja denga uang itulah ia membeli tiket pesawat untuk terbang ke Indonesia, dan uang itu juga yang ia gunakan untuk membeli motor ninja bekas, bayar kost kostan serta memenuhi kebutuhan hidupnya saat ia menganggur.
Ah sudah lah, kalau mengingat kejadian itu sungguh membuat dadanya sesak, hatinya sakit bak tersayat sayat sembilu.
Zigar turun dari tempat tidur berjalan menuju lemari pakaian mengambil sebotol minuman beralkohol yang ia sembunyikan disana.
Entahlah saat dalam kondisi down seperti sekarang minumanlah yang mampu menjadi teman untuk melepas semua sakit hati yang menyesakkan dadanya, sejenak melupakan kesedihan yang menyisakan luka yang menganga dihatinya.
Zigar meneguk minuman beralkohol itu langsung dari botolnya, tak puas dengan satu botol ia kembali mengambil dan meneguk botol yang kedua.
Hingga ia sudah mulai meracau ia menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur.
"Sayang kenapa kamu tega meninggalkanku seperti ini". Racaunya, air matanya membanjiri pipinya, ia menangis pilu meratapi kesedihan yang sangat menyesakkan dadanya.
"Aku sangat mencintaimu Din, aku sangat merindukanmu, aku ingin bertemu denganmu Dinda". Air matanya mengalir begitu derasnya.
Setelah beberapa saat, ia merasa tenggorakannya sakit, sepertinya ia membutuhkan air putih. Dengan susah payah ia berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih.
Di lain tempat Fira pun merasakan hal yang sama, ia terbangun dari tidurnya merasakan tenggorakannya kering hingga membuat tenggorokannya gatal , Fira hendak meminum air puti, Fira meraih gelas bening di atas nakas namun sial gelas itu kosong.
Mau tidak mau Fira harus turun ke bawah mengambil air putih di dapur, Fira mengerjapkan matanya menyesuaikan dengan sinar lampu kamar yang temaram, Fira menatap jam dinding yang tepat berada lurus di depannya.
"Jam 12 malam?, Ah ternyata masih jam 12 aku pikir sudah pagi". Gumamnya sambil menyibakkan selimut tebal berwarna biru muda, menapakkan kakinya ke lantai lalu dengan langkah berat ia berjalan keluar kamar menuju dapur.
Sesaat setelah dirinya sudah sampai dapur ia terlonjak kaget saat maniknya sama samar menangkap seorang laki laki tengah duduk di mini bar dengan posisi kepala yang berada di atas meja mini bar, ada segelas air putih di sebelah laki laki itu.
Dengan takut takut Fira mencoba menghidupkan lampu dapur yang memang sengaja di matikan setiap malam oleh para pelayan sebelum mereka beristirahat ke kamar mereka masing masing.
Zigar mengangkat kepalanya yang sejak tadi menempel di meja mini bar saat lampu dapur tiba tiba menyala, ia mengerjapkan matanya yang sudah mulai kabur.
"Egar?, Ngapain kamu disini?". Fira menghampiri Zigar.
Zigar membisu, ia justru menatap Fira dengan tatapan yang tak biasa.
__ADS_1
"Kamu mabuk ya?". Fira mengibas ibaskan tangannya di depan indera penciumannya saat bau alkohol menyeruak masuk kedalamnya.
Zigar masih terdiam.
"Sayang kamu ada disini, kamu kembali?". Racau Zigar menatap Fira penuh cinta.
Fira memundurkan tubuhnya hendak berbalik badan dan berlari meninggalkan Zigar disana, sial! Fira kalah cepat oleh Zigar, pria itu sudah berdiri dan meraih tangan Fira, memeluk tubuh Fira begitu eratnya sambil berkata.
"Sayang jangan tinggalkan aku lagi, aku mohon. Aku sangat memcintaimu, aku ingin ikut bersamamu". Racau Zigar sambil memeluk erat tubuh Fira.
Tubuh Zigar bergetar karena tangisnya, ya dia menangis lagi.
"Dia menangis?". Gumam Fira dalam hati.
Fira tak berkata apapun, suaranya tercekat di tenggorokan ia benar benar terkesiap melihat Zigar sekacau ini.
Zigar melepas pelukan mereka lalu menghapus air matanya dengan cepat.
"Air sialan dari mana ini". Tuturnya sambil menghapus pipinya yang basah.
"Aku tidak menangis sayang, aku tidak bersedih aku hanya ingin kamu kembali kepadaku". Tuturnya lagi matanya yang mulai berkaca kaca lagi itu menatap lekat wajah Fira dengan sendu.
Fira tetap bungkam, tak bisa berkata apapun.
Sesaat kemudian Zigar mendorong pelan tubuh Fira hingga tubuh gadis itu terhimpit diantara meja mini bar dan tubuh tegap Zigar, pria itu memajukan wajahnya menghilangkan jarak diantara keduanya, bibir Zigar mulai menempel di bibir Fira, pria itu mulai m*lumatnya dengan lembut, lidah pria itu menelasak masuk membuka mulut Fira dan m*geksplor setaip bagian mulut Fira, hingga c*uman itu berubah menjadi c*uman p*nas penuh gairah.
Fira mendorong kuat tubuh Zigar namun tubuh tegap itu bergeming, pria itu justru mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang Fira, tangan lainnya memegang tengkuk gadis itu.
Zigar melepas tautan bibir diantara mereka, nafasnya memburu tak beraturan, ia menempelkan keningnya dengan kening Fira.
"Maafkan aku sayang, itu karena aku sangat merindukanmu". Tuturnya.
Fira kembali memberontak dan kali ini gadis itu berhasil lolos dari dekapan Zigar, Fira segera berlari menuju kamarnya.
Sementara Zigar masih berdiri mematung, samar samar ia melihat gadis itu bukanlah Dinda kekasihnya yang sudah tiada, padahal jelas jelas tadi ia melihat Dinda tapi kenapa tiba tiba ia melihat gadis yang baru saja berlari itu bukanlah Dinda.
****
Haii readers terimakasih sudah mampir, terimakasih juga buat yang sabar menunggu kelanjutan novel ini..
maaf ya karena updatenya lama, author bingung novel ini mau dilanjutkan di platform ini atau platform sebelah..
author lihat seberapa banyak yang mendukung novel ini, jika kalian suka jangan lupa like dan vote nya ya..
__ADS_1
Tinggalkan komentar kalian juga untuk penyemangat author
🙏😘😘