
Gerald memberikan kode kepada asistennya Rick, Rick segera menuju kedua orang pria besar itu dan membisikkan sesuatu dan merekapun mengangguk sambil berjalan menuju Everly. Everly merasakan bahaya yang mengancam itu, ia melirik ke arah bu Sinta atasannya. Tapi yang diliriknya hanya diam tak bergeming. Nampaknya bu Sinta pun tak dapat menolongnya.
Everly melihat kesekeliling ruangan aula itu berharap ada orang lain yang akan menolongnya, tapi sepertinya tidak ada. Kini, Gerald berjalan keluar diikuti Rick dan Ibu Sinta.
Everly melihat kedua bodyguard tadi yang kini berada disampingnya kiri dan kanannya sambil mengawasinya. "Ikut kami Nona!" perintah mereka tegas. "huh,,,mau kemana?..tidak mau,,,ini pelanggaran,,,saya tidak akan ikut dengan kalian!" Bentak Everly sambil melotot.
Tapi tiba-tiba tangannya ditarik dari kiri dan kanan, mereka memaksa Everly berjalan. Everly ingin berontak tapi apa daya tenaganya tak cukup kuat untuk melepaskan tangannya dari kedua pria besar itu. Mau tak mau ia ikut berjalan mengikuti mereka. "Mau kalian bawa kemana aku,,, hei jawab, atau aku akan teriak....pffff..!!
Everly tercekat, saat tiba-tiba mulutnya disumpal dengan kain dan entah kenapa ia mulai lemas tak bertenaga, matanya pun mulai meredup gelap disekelilingnya. Kedua pria besar itupun langsung membawa tubuh Everly sambil memanggul dibahu kiri dan kanan masing-masing menuju lift ke basement parkiran dimana mobil Tuan Muda Gerald sudah menunggu.
Saat melihat Everly sudah pingsan dipanggul oleh kedua bodyguardnya, Gerald memberi perintah kepada mereka untuk mendudukkan Everly dibelakang bersamanya. Lalu kedua bodyguard itupun pergi dan masuk ke mobil yang lain yang sudah mereka siapkan sebelumnya.
"Rick,,,beritahu pelayan dirumah untuk siapkan semuanya! sahut Gerald sambil memperhatikan Everly yang sudah duduk bersandar disampingnya karena biusan yang diberikan oleh bodyguardnya tadi.
Rick pun melajukan mobilnya dan merenungkan hal gila apalagi yang akan dilakukan oleh Tuan Muda kali ini. Mobil mewah itupun berjalan mulus tanpa hambatan karena lalu lintas saat itu sudah sepi, jam sudah menunjukkan pukul 20.00 Wib. Ya, mereka datang ke Mall tadi saat jam kerja shift pagi karyawan Mall sudah selesai. Dan tadi mereka mendatangi Everly disaat jam pulang karyawan.
Akhirnya mobil itupun tiba disebuah Mansion yang besar. Mereka segera disambut para pelayan yang sudah bersiap-siap menunggu sesuai perintah Tuan Muda tadi.
__ADS_1
"Pak Darmin, bawa nona ini masuk ke kamar tamu!" perintah Tuan Muda kepada kepala pelayan itu. Pak Darmin mengangguk dan langsung memerintahkan beberapa pelayan wanita membantunya membawa masuk Everly yang tertidur karena biusan itu.
Gerald memasuki ruangan kerjanya yang ada diruangan depan dekat ruang tamu yang luas bagai lapangan sepak bola itu. Lalu memerintahkan Rick untuk menelpon seseorang. "Telpon keluarganya, beritahu kalau putrinya baik-baik saja, tidak usah kuatir karena dia ada bersama saya, dan jangan lupa beritahu soal surat perjanjian itu!" perintah Gerald sambil tersenyum licik.
Flashback on
Hari itu saat Everly meninggalkan mereka begitu saja dijalan. Gerald memerintahkan Rick untuk mencari tahu tentang gadis itu dan siapa keluarganya dan apa yang bisa dilakukannya untuk melakukan sesuatu kepada gadis itu. Ya, Gerald mempunyai rencana besar saat itu juga. Dia terpesona dengan kecantikan Everly dan keberaniannya melawannya. Karena selama ini belum pernah ada gadis yang berani menolak bahkan menghinanya.
Hari itu juga Rick mencari data-data tentang Everly. Ternyata, Ayahnya Roland Soediro memiliki hutang yang sudah jatuh tempo disebuah Bank swasta yang ternyata milik Tuan Muda. Ini bisa dijadikan senjata untuk menekan gadis itu, pikir Gerald yang disambut antusias oleh Rick.
Rick memerintahkan pihak Bank untuk menelpon Roland Soediro dan menjelaskan perihal hutang bank yang sudah jatuh tempo itu. Roland terduduk lemas saat mendengar itu demikian juga Linda.
Setelah mendapat telpon dari Pihak Bank, tiba-tiba ada deringan kembali di HP Roland. Roland mengangkat dan melihat nomor baru yang tidak dikenalnya. Dengan kebingungan,ia menjawabnya, Linda ikut mendengarkan juga. "Selamat siang Pak Roland,,,!!" sapa suara ramah dari telpon itu.
"Ya, dengan siapa ini? tanya Roland bingung.
"Ini dengan Rick, asisten Gerald Vicario, Presdir PT. Indovic Grup. Jawab suara dari ujung sana.
__ADS_1
Roland terkejut mendengar nama itu, bukankah itu perusahaan terbesar di negara ini dan nama Vicario sudah terkenal sebagai konglomerat papan atas. Roland pernah bekerja lama menjadi karyawan biasa disalah satu anak perusahaan mereka. Dan resign setelah sakit berat yang dideritanya yang membuatnya tidak maksimal lagi bekerja di perusahaan itu.
"Ya,,,ada yang bi..bisa saya ba..bantu Pak?" jawab Roland terbata-bata.
"Apakah Everly benar putri Bapak Roland?" balas Rick.
"Be...benar sekali Pak" sahut Roland kembali terbata-bata. Ada apa lagi pikirnya kalut.
"Putri bapak telah melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan terhadap Presdir kami, dan kami akan menuntutnya di meja hijau...!" suara disana mengultimatum. Roland membelalakkan matanya terkejut.
"A..a..apa memang yang dilakukan anak saya kepada Presdir anda Pak?" tanya Roland cemas, ia kuatirkan putri kesayangannya itu.
Rick menjelaskan panjang lebar kejadian tadi pagi karena penghinaan Everly terhadap Gerald bosnya. Kejadian ini telah mempermalukannya karena disaksikan orang banyak padahal Gerald berniat baik untuk mengganti rugi dengan memberikan cek untuk Everly agar berobat bila terluka. Tapi Everly malah melempar cek itu kemukanya sehingga suara riuh tepuk tangan orang-orang saat itu telah menghancurkan harga diri Tuan Muda.
Roland tercekat disatu sisi dia marah tidak terima putrinya disalahkan, karena menurutnya kesalahan justru pada Tuan Muda Gerald. Tapi disisi lain dia takut, sebab orang kaya seperti mereka dapat melakukan apa saja terhadap orang menengah ke bawah seperti dirinya.
Roland terpaku. "Jadi apa maksud anda dengan memberitahukan hal ini kepada saya Pak?" ia bertanya dengan cemas kepada orang diujung sana.
__ADS_1
"Kami akan membatalkan tuntutan terhadap putri anda asalkan anda bersedia menandatangani Surat Perjanjian yang kami buat, dan satu hal lagi kami dapat membebaskan anda dari surat hutang anda kepada Bank XCA yang adalah juga bagian perusahaan milik Presdir kami, bagaimana?!" jawab orang itu dengan tegas. "Oya, satu hal lagi, kami tidak bisa menerima penolakan, mohon memikirkan baik-baik tawaran kami, kapan saja kami akan hubungi anda untuk datang menemui Presdir kami di Kantornya di Perusahaan utama, nanti kami akan menjemput bapak dan putri bapak!"