CINTA YANG BEKU

CINTA YANG BEKU
Eps. Menentang perjodohan


__ADS_3

Pagi ini, Gerald melangkah menuju perusahaan dengan menampilkan senyuman penuh kepada semua staf dan karyawan yang berpapasan dengannya.


Kewibawaannya sebagai seorang presdir tidak usah diragukan lagi. Terbukti saat memasuki ruang kantornya yang terletak di lantai teratas Gedung utama PT. Indovic Grup, selalu membuat setiap mata para karyawan dan staf kantor akan menunduk hormat apabila berpapasan dengannya.


Hari ini, sungguh Gerald mendapatkan energi yang baru dan suasana hati yang cukup baik. Hingga membuat semua yang melihatnya terpana dan heran. Biasanya Presdir mereka tidak pernah tersenyum.


Wajah dingin dan datar selalu menghiasi di setiap penampilan Gerald, sehingga membuat banyak staf dan karyawan yang segan kepadanya dan tidak ada yang berani banyak berbicara kalau Gerald tidak memintanya.


Gerald memasuki ruang kerjanya dan melihat sekretarisnya, Amera sudah menundukkan kepalanya dan memberikan salam kepadanya. "Selamat Pagi Pak!" sapanya ramah.


"Pagi, Amera!" ucap Gerald menyahut sapaannya dengan ramah dan masuk ke ruangannya.


Mendapat balasan hangat dari bosnya membuat mata Amera berbinar senang. Ia cukup terkejut dan heran, tidak biasanya bos nya membalas sapaannya. Biasanya Gerald hanya menatap dingin dan mengangguk.


"Ada apa ya dengan Pak Bos hari ini?!" batin Amera bertanya-tanya.


Saat mengambil posisi untuk kembali duduk di kursi meja kerjanya, mata Amera melihat ke arah pintu masuk, sosok tinggi tampan yang tak lain adalah Rick.


"Selamat pagi Pak Rick!" Amera kembali berdiri dan menyapa asisten Gerald itu. Rick tiba tidak lama setelah Gerald tiba. Rick balas tersenyum ke Amera dan langsung masuk ke ruangan Presdir, Gerald.


Rick mengetuk pintu ruang Presdir seperti biasanya sebelum ia dipersilahkan masuk.


"Masuklah!" jawab Gerald sambil menatap ke arah pintu dengan tetap serius menatap dokumen-dokumen dan berkas-berkas yang harus ditandatanganinya.


Rick masuk sambil melangkah menuju meja Gerald lalu duduk dengan santai di sofa yang ada disudut ruangan kerja Presdir.


"Hari ini, bisa kau bantu aku mendapatkan Wedding Organizer terbaik untuk pernikahan ku bulan depan, Rick?!" ujar Gerald tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Hmmm,,,.memang sudah mendapat persetujuan dari Nyonya Geraldine, Tuan?" sahut Rick sambil menatap Gerald dengan mimik penuh keragu-raguan dan hati-hati.


"Huh,,,apa perlunya persetujuan dari ibuku, kaupun tahu kalau ia sendiri malah mau menjodohkanku dengan Claudya, putri Tuan Budijardjo Widjaya.!" ucap Gerald ketus.


"Bagaimana kalau pernikahan Tuan dibuat secara sederhana dan diam-diam saja, dan jauh dari incaran media dan pers!" sahut Rick memasang wajah kuatir.


Karena ia yakin, pernikahan ini akan membuat Nyonya Geraldine semakin murka.


"Justru, aku memang punya rencana untuk membatalkan rencana ibu untuk bekerjasama dengan Budihardjo, melalui perjodohanku dengan Claudya, Rick!" timpal Gerald geram mengingat perjodohan yang direncanakan ibunya dan Budihardjo.


"Aku ingin pernikahan ini dibuat dengan mewah dan diliput besar-besaran oleh media dan pers. Aku tak butuh persetujuan ibuku!" ujar Gerald sambil menatap Rick dengan rona muka menahan amarah.


Rick terdiam. Ia bisa memahami kemarahan Gerald. Gerald sama sekali tidak menyukai perjodohan dirinya dengan Claudya. Ia dari awal menolak mentah-mentah keinginan dan ambisi ibunya untuk memperluas jaringan bisnisnya melalui kerjasama dengan Budihardjo Widjaya.


Budihardjo Widjaya rekan bisnis ibunya, dia salah satu konglomerat papan atas yang memiliki perusahaan besar dengan membawahi ratusan anak cabang baik didalam negeri maupun luar negeri. Claudya adalah putri tunggalnya, pewaris PT. Widjaya Mandala Group.


Gerald melepas kekalutannya, ia menarik nafas dalam-dalam untuk menyurutkan kerut kekesalan di wajahnya.


"Pastikan, lakukan semua dengan cepat namun matang dan terencana baik, Rick!" pinta Gerald sambil menampilkan wajah penuh tekad.


"Baik Tuan, oh ya hari ini kita akan meeting dengan Tuan Arga Lukman, membicarakan kerjasama proyek Real Estate di Kota X!" ujar Rick sekali lagi mengingatkan agenda kerja perusahaan hari ini. PT Indovic Grup bergerak disemua lini cabang usaha mulai dari real estate, media dan pers, perbankan, perhotelan, transpotasi hingga merambah ke semua pelayanan jasa dan pangan.


"Baik, siapkan semua dan jangan lupa buatkan draft-draft pembicaraan meeting kita nanti!" balas Gerald, semangatnya kembali bangkit mengingat pertemuan bisnis ini akan menghasilkan keuntungan yang besar bagi perusahaannya.


.


.

__ADS_1


.


__________


Di Mall


"Eve, kamu tahu gak sejak kemarin kamu dibawa paksa oleh anak buah Tuan Gerald, kita semua pada heboh, apalagi Bu Sinta keluar dari aula dengan wajah muram, dan bilang kalau kami jangan buat masalah seperti apa yang kamu lakukan, memang ada masalah apa kamu sama Tuan Gerald, Eve!" tanya Ratih beruntun dengan penasaran dan mimik penuh kekalutan.


Everly memasang wajah sedih, namun ia berusaha untuk tenang dan menjelaskan ke Ratih semuanya. Sambil matanya tetap memandang ke arah pengunjung yang sekedar melihat-lihat pakaian atau bahkan mencoba mengepas baju di bilik yang tersedia.


"What,,,?!!! Pernikahanmu dengan Tuan Gerald?" mata Ratih membelalak terkejut sampai mulutnya terbuka.


"Sstttt,,,,jgn keras-keras napa ngomongnya, Tih!" sahut Everly sambil menaruh jari telunjuknya dibibir Ratih, supaya mengecilkan suaranya.


"Wow,,, amazing Eve, kamu bakalan jadi istri konglomerat atuh!" bisik Ratih menggoda menatapnya penuh kekaguman.


"ihhh, apaan sih say, aku tak mau,,,!! ini pemaksaan dan lagipula aku dan dia baru kenal, aku juga tak sudi menikah dengan manusia sombong begitu!" jawab Everly sambil mendengus sebal dan bersedekap dada.


Melihat mereka ngobrol seru berdua, memancing ingin tahu Dhea yang sedari tadi memperhatikan Ratih dan Everly.


Diam-diam ia merekam dengan HP pembicaraan dua orang itu. Ia berencana menunjukkan video tersebut ke Pak Jeremy, untuk membuktikan ketidakbecusan dua cewek itu saat bekerja.


"Ohh,,,jadi kalian tuh selama ini cuma sibuk ngegosip ya,,, hmmm ya sampai ngomong apa tuh barusan? kamu mau nikah sama Tuan Gerald Vicario, wow...gak salah tuh?? sadar cuy, kamu tuh cuma karyawan biasa disini!" tiba-tiba Dhea menyahut dari samping mereka sambil berkata-kata sinis dan mata memandang rendah ke Everly.


"Eh, mak lampir loh., ya ampun nguping aja ya kerjaanmu selama ini?!" balas Ratih sengit sambil mengepalkan tangan dan mencibirkan bibirnya ke Dhea.


"Iya kenapa gak suka!?" kamu berdua siap-siap aja ya dipanggil Pak Jeremy dan dapat surat peringatan, syukur-syukur gak dipecat nanti!" balas Dhea sengit.

__ADS_1


"Haiyaa,,,ngajak ribut ya, siapa takut?" ya udah laporin saja sana cuy,!" balas Ratih sewot sambil senyum meledek.


__ADS_2