CINTA YANG BEKU

CINTA YANG BEKU
Eps. Ayah Datang Menjemput


__ADS_3

Gerald mengamati wajah gadis cantik dihadapannya yang kini nampak meringis entah kenapa. Ops, jangan-jangan dia lapar pikir Gerald menduga-duga karena memang gadis itu tertidur akibat biusannya sehingga melewatkan jam makan malamnya.


Merasa diperhatikan seperti itu oleh Gerald, Everly melotot kesal. "Kenapa bos, gak pernah lihat cewek cakep ya??" seringai Everly sambil meledek menutupi kegugupannya. Jujur dalam hati Everly merasa salah tingkah karena tatapan Gerald itu.


Mendengar sahutan Everly, sontak wajah Gerald memerah malu. Tapi tak ingin merasa jatuh harga dirinya didepan Rick yang juga tertawa. Gerald tersenyum ke arah Everly sambil memanggil Pak Darmin yang memang berdiri tak jauh dari mereka. "Siapkan makan malam untuk nona ini, suara perut keroncongannya keras juga rupanya" perintah Gerald ke Pak Darmin. Membuat Everly tertusuk telinganya. Malu dan juga lega berbaur menjadi satu.


Pak Darmin mengangguk mengerti dan segera mempersilahkan Everly mengikutinya ke ruang makan keluarga. "Mari nona, ikut dengan saya." katanya ramah. Everly agak ragu, tapi dilihatnya Gerald mempersilahkan dia dengan tersenyum. Everly pun bergegas, tanpa babibu langsung bangkit berdiri dan berjalan mengikuti Pak Darmin.


Rick yang sedang menatap keluar gerbang akhirnya tersenyum saat mobil yang menjemput orang yang ditunggu-tunggunya tiba.


"Tuan Muda, ayah gadis itu sudah tiba!" ujar Rick kepada Gerald yang diresponi Gerald dengan senang dan puas. Gerald saat itu berada di ruang kerjanya.


Mobil itu tepat berhenti didepan teras pintu ruang tamu. Roland Soediro keluar dari mobil itu didampingi satu pria besar yang adalah suruhan Gerald.


Gerald memberikan kode kepada Rick agar mempersilahkan Roland masuk. Rick pun menghampiri Roland yang masih ragu untuk melangkah masuk.


"Selamat datang Tuan Roland,!" sapa Rick ramah. Roland mengangguk sambil menyalami tangan Rick. Roland mengikuti langkah Rick masuk ke pintu ruang tamu Mansion yang sangat besar dan mewah itu. Dia memaklumi karena tahu siapa pemilik Mansion itu.

__ADS_1


"Silahkan duduk disini Tuan Roland!" Rick mempersilahkan dengan ramah. Roland duduk dengan berdebar-debar sambil mengamati ruangan tamu yang luas itu. Rick menuju ke ruang kerja Gerald.


Mata Roland terpaku pada sebuah lukisan Kanvas yang besar di dinding ruang tamu itu. Nampak foto Almarhum Tuan Joseph Vicario, Nyonya Geraldine Vicario dan dua anak kembar mereka Gerald Vicario dan Josephine Vicario. Keluarga konglomerat yang sangat terkenal dinegara ini juga di Asia.


Sedang asyik mengamati foto tersebut tiba-tiba Gerald menyapanya. "Selamat datang Tuan Roland!" Ujar Gerald tersenyum lalu duduk di sofa sambil menyandarkan tubuhnya dengan mengangkat salah satu kakinya menyilang ke kaki yang satunya.


Roland menatap Gerald dengan sejuta pertanyaan yang ada dibenaknya sejak keberangkatannya dari rumah karena dijemput oleh seorang suruhan yang mengaku perintah dari Tuan Gerald Vicario.


"Ayah. ..!!" tiba-tiba suara Everly memekik dari arah pintu ruang keluarga yang terhubung dengan ruang tamu. Everly baru saja menyelesaikan makan malam yang sudah disediakan Pak Darmin dan para pelayan tadi.


Gerald, Rick dan Roland bersamaan menatap Everly yang berjalan mendekat ke arah mereka. Roland berdiri dan memeluk putrinya dengan erat, Everly pun membalas pelukannya ayahnya dengan lega. Pelukan ayah dan anak itu membuat hati Gerald teriris. Karena tiba-tiba ia juga merindukan pelukan ayahnya yang sudah meninggal 25 tahun yang lalu.


"Baiklah, saya dan putri saya akan memenuhi persyaratan yang anda inginkan, Tuan Gerald!" Ucap Roland membuka percakapan yang sudah dia persiapkan dari tadi malam.


Everly menatap ayahnya sambil membelalakkan matanya. "Persyaratan, apa maksudmu ayah?" tanyanya tak mengerti. Roland terdiam. Tak berani menatap wajah Everly. Everly kemudian mengalihkan tatapan tak mengerti dirinya ke arah Gerald.


Gerald berpura-pura tidak melihat kedua orang tersebut. Matanya memberikan sebuah kode ke arah Rick. Yang dibalas Rick dengan anggukan. Rick mengeluarkan sebuah kertas dari map yang sudah dipegangnya dari tadi.

__ADS_1


"Baik kalau begitu, silahkan anda tanda tangani surat perjanjian ini Tuan!" perintah Rick kepada Roland. Roland menerima surat itu dengan gemetar. Namun dengan cepat, Everly merebut surat tersebut dari tangan ayahnya.


Mata Everly membulat saat ada penyebutan Pernikahan dalam isi surat tersebut.


"Apa-apaan ini ayah!" Everly menatap ayahnya dan kelopak matanya sudah mulai berair. Roland menatap Everly dengan sendu.


"Maafkan Ayah, nak. Ayah tak mau kamu dipenjara dan jangan sampai keluarga kita hidup melarat, ayah sudah tak dapat menolong untuk memberikan kehidupan yang layak bagi keluarga kita, ayah lakukan ini karena ayah menyayangimu dan keluarga kita, kau tahu hidup ayah tak akan lama lagi, jadi biarlah ayah menikahkan kamu dengan Tuan Gerald, ayah yakin ia dapat menolong kehidupanmu nanti dan keluarga kita, bila ayah sudah tiada!" jawab Roland berusaha meyakinkan Everly dengan terbata-bata.


"A..a..apa tidak ada solusi yang lain ayah?" jawab Everly lemas dan sedih karena ayahnya pun tak dapat menolak perjanjian itu. Bahkan meyakinkan dia untuk mau menikah dengan pria sombong itu.


"Bagaimana Tuan Roland?" sela Rick dengan wajah serius. Gerald pun memandang mereka dengan dingin. Dalam hati dia berharap agar ayah gadis itu cepat-cepat menandatangani surat perjanjian itu. Gerald sudah memiliki rencana dibalik itu semua melalui pernikahan mereka nantinya.


"Baiklah ayah, silahkan tanda tangani surat itu!" ucap Every dengan tegar namun matanya menatap tajam ke arah Gerald. Ia benar-benar dibuat bingung dengan isi surat itu. Bagaimana mungkin mereka menikah, tak ada angin tak ada hujan, baru bertemu dua hari lalu dan sudah merencanakan pernikahan, pasti Gerald merencanakan sesuatu yang lain melalui pernikahan ini. Everly bergumam dalam hati sambil memperhatikan ayahnya yang kini menandatangani surat perjanjian itu diatas meterai.


"Terimakasih atas kesediaannya Tuan Roland!" ucap Rick sambil menerima surat yang sudah ditanda tangani Roland itu.


"Bulan depan, pernikahan ini akan dilaksanakan, mohon persiapkan diri anda Tuan Roland dan Nona Everly!" Sahut Rick kepada Everly dengan wajah serius, dan dibalas anggukan lemah Everly dan ayahnya.

__ADS_1


Disurat itu tertulis Pernikahan akan diadakan bulan depan, dan hanya berlaku selama 1 tahun. Ini yang membuat Everly lega, karena ternyata ini hanya berjalan singkat, setelah itu ia bisa bebas kembali.


"Kalau begitu, saya permisi dulu Tuan Gerald dan Tuan Rick!" sahut Rolan sambil bangkit berdiri dan juga diikuti Everly. Gerald mengangguk sambil tersenyum penuh kemenangan. Rick mengantarkan Roland dan Everly melangkah keluar.


__ADS_2