
Mentari mulai bersinar dengan cerahnya,cahaya hangatnya masuk melalui jendela kaca kamar Everly. Everly mengerjapkan matanya lalu meraih jam weker yang sudah menunjukkan pukul 06.00 Wib.
"Astagaaaa,,,gawat aku bangun kesiangan!" pekik Everly, ia panik karena telat bangun dan lupa menyalakan jam wekernya saking lelahnya tadi malam.
Everly pun buru-buru bangkit dan berlari ke kamar mandi yang terletak di samping kamarnya bersebelahan dengan kamar Valerie. Ia mandi secepat kilat lalu segera bersiap-siap untuk masuk kerja.
Biasanya ia berangkat jam 06.00 Wib. Tapi dilihatnya waktu sudah menunjukkan pukul 06.15 Wib, tanpa sarapan Everly langsung berlari menuju keluar. Namun, tiba-tiba Linda menghalangi langkahnya.
"Tunggu Everly, ini ibu buatkan bekal untuk kamu makan siang, karena ibu tahu kamu telat bangun dan enggak sempat sarapan!" ujar Linda sambil memberikan kotak nasi yang isinya masih panas, dan juga teh manis hangat dalam botol minum plastik.
Everly menerima bekal yang dibuat ibu tirinya dengan keheranan. Ia mengangguk sambil tersenyum penuh kepada Linda. "Terimakasih Ibu,!" jawabnya lirih sambil mencium tangan Linda. Linda mengangguk dengan senyum datar ke Everly.
"Aku pergi dulu ya bu,!" ucap Everly pamit sambil melangkah ke pintu gerbang. "Iya nak hati-hati dijalan!" balas Linda ramah.
Roland menatap mereka berdua dari ruang tamu dan memperhatikan kalau Linda mulai bersikap baik dan perhatian kepada putri tirinya itu. "Syukurlah, semoga ini akan berjalan seterusnya!" harap Roland sambil menarik nafas penuh kelegaan.
Di Mall
Everly melangkah terburu-buru sambil melirik jam tangannya. Everly melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 07.45 Wib, ia tiba tepat waktu dan masuk sesuai jam kerja, "Syukurlah, gak telat, aman sudah!" gumam Everly lega.
"Eh, Eve kamu masuk hari ini?" sahut Ratih tiba-tiba sambil menepuk bahu Everly.
"Ya lah, memang kenapa say!" jawab Everly heran.
"Bukannya kamu sudah dipecat?" balas Ratih sambil meringis takut Everly shock.
__ADS_1
"What??" siapa yang ngomong gitu? Tih?" Everly membelalakkan matanya terkejut. Ia tak mengira kalau masalah kemarin sampai berdampak gosip pemecatannya.
"Everly, katanya kamu ada masalah dengan Tuan Muda Gerald Vicario pemilik Mall ini.?" tanya Ratih dengan hati-hati karena berita ini menjadi trending gosip diantara karyawan Mall di semua stand.
Everly terdiam karena menurutnya, tak ada seorangpun yang tahu apa yang dia alami kemarin.
"Hmmm,,,masih punya nyali juga kerja disini?!" sahut suara mengejek dari arah belakang Everly dan Ratih.
Sontak Ratih dan Everly berpaling ke arah suara itu. Ternyata Dhea, rekan kerja mereka yang memang sama-sama di stand pakaian yang sudah lama tidak menyukai Everly.
"Saya sama sekali tidak menerima surat pemberitahuan tentang pemecatan saya, jadi jelaslah saya masih karyawan disini dan so pasti saya tetap bekerja seperti biasa donk!" balas Everly tersenyum.
Ratih menatap Everly yang nampak santai menghadapi mulut nyinyir Dhea.
Mendengar itu Dhea melengos dan melenggang pergi dengan kesal. Ratih dan Everly tertawa geli karena reaksi Dhea yang tidak berkutik membalas jawaban Everly.
Everly mengangguk tanpa bertanya-tanya lagi, karena memang stand merk pakaian mereka paling laku dibanding stand merk pakaian lain.
Hari ini mereka akan kerja berat seperti biasanya. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 Wib saatnya istirahat para karyawan.
"Eve, makan yuk!" ajak Ratih yang sudah siap-siap melangkah menuju kantin karyawan yang terletak di lantai tiga, dimana terdapat food hall.
"Ok sebentar Tih, aku bawa bekal soalnya!" jawab Everly sambil menjinjing kantong plastik yang berisi bekal makan siang yang dibuat Linda.
"Wah, tumben kamu bawa bekal?" Timpal Ratih heran.
__ADS_1
"Iya, Linda membuatkannya untukku, aku juga heran, Tih. Biasanya kan dia cuek banget dan boro-boro perhatian kaya gini ke aku!" sahut Everly sambil membulatkan matanya senang dan ada bulir air mata keharuan.
"Ya, syukurlah ternyata ibu tirimu punya hati juga, yuk ke kantin, makan disana aja!" ajak Ratih sambil menarik tangan Everly cepat, takut jam istirahat berakhir. Diliriknya jam istirahat tinggal 30 menit lagi.
Tak jauh dari meja makan Ratih dan Everly, tanpa disadari sepasang mata menatap sinis ke arah mereka.
"Sialan, kamu Everly. Berani-beraninya kamu menantangku, lihat akan kubuat kamu keluar segera dari pekerjaan!" maki Dhea kesal.
Sudah lama, ia membenci Everly yang selalu disukai semua orang. Bahkan oleh supervisor mereka yang diincar sejak lama oleh Dhea, yaitu Jeremy.
"Eh, sudah selesai jam istirahatnya, yuk balik ke kerjaan kita lagi!" ajak Ratih buru-buru. Everly berlari kecil menyusul Ratih yang seakan-akan takut bakal ditegur Jeremy, supervisor galak mereka.
Everly tertawa melihatnya, mengingat Jeremy hanya galak kepada mereka tapi ramah kepada dirinya. Ya, Jeremy sudah lama menyatakan perasaannya kepada Everly, namun Everly masih belum memiliki feeling yang sama. Everly meminta waktu agar hubungan mereka berjalan seperti apa adanya sampai tumbuh perasaan yang sama di hati Everly kepada Jeremy. Untungnya Jeremy mau mengerti.
"Ciyeeee, yang kesayangan Pak Jeremy mah nyantai atuh jalannya!" goda Ratih melihat Everly berjalan santai dibelakangnya. Everly melotot ke Ratih sambil memanyunkan bibirnya.
"Ada apa sebut-sebut nama saya?" tiba-tiba muncul Jeremy dihadapan Ratih sambil menatap Ratih tajam. Ratih terkejut sambil termangu saat tahu Jeremy mendengar perkataannya barusan.
"Ha. ha. ha. tenang aja Pak, bukan yang jelek-jelek kok. Biasalah Pak, jangan kepo gitu!" balas Ratih sambil menyunggingkan senyum terpaksanya.
Jeremy mengalihkan pandangannya kepada Everly yang juga ikut tertawa melihat Ratih berusaha menyelamatkan dirinya dari pertanyaan Jeremy tadi.
"Ya sudah sana kembali kerja, jangan banyak ngobrol kalian, ingat kalau kalian itu digaji buat kerja bukan buat gosip!" ucap Jeremy tajam sambil melangkah ke arah ruangan kerjanya.
Everly menatap dari jauh Jeremy yang berjalan ke ruangannya. Hari ini ia semakin tampan saja, apalagi dengan kemeja birunya yang slimfit, pas dengan postur tubuhnya yang tinggi dan tegap. Wajar banyak gadis-gadis yang menginginkannya, namun entah kenapa Everly tidak tertarik kepada Jeremy.
__ADS_1
"Nah lho, ngeliatin aja terus,,, sebenarnya kamu suka apa gak sih sama Pak Jeremy, Eve?" tanya Ratih yang sedari tadi memperhatikan mata Everly yang mengikuti sosok Pak Jeremy berjalan sampai masuk ke ruang kerjanya.
Everly terkaget dari lamunannya saat Ratih bertanya sambil menepuk bahunya.