CINTA YANG BEKU

CINTA YANG BEKU
Eps. Keributan di Mansion


__ADS_3

Di Mansion


Everly merasakan dingin menusuk tubuhnya saat ini, giginya gemeletuk karena ruangan ber AC yang sangat dingin. Kedua tangannya bersedekap didadanya menahan hawa dingin itu.


Sontak Everly pun segera bangun dan tiba-tiba rasa pusing dan mual menderanya akibat efek biusan yang dia terima tadi.


Everly berusaha bangkit dan ia cukup terkejut karena berada disebuah kamar yang sangat mewah.


Matanya menelusuri seluruh ruangan itu, dilihatnya tempat tidur ukuran King Size dan perabotan yang benar-benar tampak seperti yang ada di kamar hotel bintang 5. Bibirnya bergumam kagum.


"Well, dimana kah diriku sekarang?" Everly berusaha mengingat-ingat sambil melangkahkan kaki menuju pintu tapi tertutup dari luar.


Everly berusaha mengumpulkan ingatannya, tentang kejadian yang dialaminya terakhir kali tadi. Oh shit, umpat Everly, Ia yakin kalau sekarang mereka menculiknya dan mengurungnya di sebuah hotel, terkanya.


"Hei,,, buka pintunya,,,keluarkan aku!!" teriak Everly sambil menggedor-gedor pintu kamar itu.


Gerald dan Rick yang sedang berada diruang kerja menoleh ke arah kamar tamu dimana Everly berada.


Mata Gerald menatap komputer yang terhubung ke cctv di kamar tamu itu. Dilihatnya Everly tampak sedang menggedor-gedor pintu. Rick ikut menatap komputer itu sambil tersenyum.


"Hmmm gadis itu sudah sadar, setelah ini apalagi Tuan Muda?" tanya Rick menunggu reaksi Gerald.


"Biar saja,,, kita lihat dulu seberapa marah gadis itu saat tahu ia dikurung disana!" jawab Gerald tersenyum, ada rona lucu diwajahnya.


Rick yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala. Tuan muda usil juga rupanya, Rick membatin.


Karena tak dibuka-buka juga pintu itu, Everly semakin keras menggedor. Sialan,,, Everly memaki kesal, matanya menatap kesekeliling kamar itu, berharap ada jendela yang bisa dibuka untuk kabur.


Everly menuju kesebuah jendela kaca dan berharap bukan berada dilantai tertinggi hotel, lalu dibukanya tirai yang menutup jendela kaca itu.

__ADS_1


Everly terpana ketika melihat keluar jendela, ternyata bukan hotel tetapi disebuah rumah, dan hanya di lantai satu.


Everly berusaha membuka jendela itu, tetapi ternyata ada beberapa orang lelaki besar diluar sana. Pastilah bodyguard yang disuruh si big bos sombong itu. Biar ia tak bisa kabur, lagipula Everly menatap ngeri karena selain penjagaan ketat, dinding pagar yang sangat tinggi mengeliliingi rumah itu.


Bingung tak tahu harus bagaimana, Everly mengacak-acak kamar itu dan berusaha membuat keributan. Berharap pemilik rumah itu mendengarnya.


"Wow,,,ck,,,ck,,,ck macan kecil itu mulai menunjukkan taringnya, Rick!" seru Gerald sambil terkekeh. Rick yang sedari tadi duduk sambil menikmati kopi panas pun segera menuju meja kerja Gerald dan melihat ke layar komputer. Rick ikut terkekeh pula.


"Hei,,, lihat Tuan, kamar tamu hancur dibuat gadis itu! sahut Rick sambil menatap Gerald yang sekarang terbahak-bahak.


Semua pelayan yang ada di mansion ikut terkejut karena mendengar suara berisik dan teriakan Everly di kamar tamu. Mereka sendiri bingung kali ini ulah apa lagi yang telah di buat oleh Tuan Muda. Apa maksud Tuan Muda mengurung seorang gadis asing di kamar tamu itu.


"Gadis itu cantik banget ya Nisa!" sahut Erna kepada temannya Nisa. Nisa mengangguk dengan ucapan temannya itu. Mereka adalah dua pelayan wanita yang ikut membantu Pak Darmin membopong tubuh Everly yang pingsan karena biusan, masuk ke kamar tamu.


Gerald segera bangkit dari kursi kerjanya menuju kamar tamu diikuti oleh Rick.


Tiba-tiba Everly mendengar sebuah suara dari handle pintu. Seseorang akan membuka pintu itu. Everly bersiap-siap untuk menerobos keluar saat pintu itu terbuka.


Lalu dengan dorongan pelan pintu itu akhirnya terbuka dan buru-buru Everly mendorong sosok tubuh itu dengan sekuat tenaga.


Gerald yang tak siap dengan Everly yang mendorong tubuhnya untuk kabur keluar dari kamar itu, menangkap tangan Everly tapi sialnya ia hilang keseimbangan. Brakkkk,, keduanya terjatuh di lantai bersamaan.


Wajah Everly tepat berhadapan dengan wajah Gerald yang kini ada dibawah tubuhnya sambil memeluknya.


Kedua bibir mereka hampir bertemu dan manik mata Everly yang hitam beradu dengan mata Gerald yang kebiru-biruan itu.


Gadis itu terkesiap dan segera bangun tapi tak bisa karena tangan Gerald masih mendekap erat pinggangnya. Gerald juga sepertinya enggan melepaskan dekapannya pada gadis itu.


"Sialan,,,lepaskan aku!" maki Everly sambil memukul dada Gerald. Tapi yang dipukul malah tersenyum sambil meringis.

__ADS_1


Rick yang memperhatikan kedua orang itu hanya geleng-geleng kepala.


"Sungguh kamu ingin lepas dari pelukanku?" Gerald mengerling nakal ke arah Everly sambil melonggarkan dekapannya di pinggang Everly.


Everly segera bangun sambil melengos dan memalingkan wajahnya. Dalam hati ia deg-degan karena si bos sombong itu tampan juga rupanya bila mereka bertatap muka dan hembusan nafasnya sungguh membuat tengkuknya berdiri.


"Apa maksudmu mengurung aku di sini hah?" bentak Everly sambil menatap marah ke arah Gerald yang kini sudah berdiri dihadapannya.


Gerald tersenyum tanpa mengucap satu katapun. Ia malah berjalan menuju ke ruang tamu. Mata Gerald melirik ke arah Rick. Rick menangkap kode tersebut.


"Hei, budek ya bos?? ditanya malah tak mau jawab? umpat Everly kesal karena Gerald mengacuhkan pertanyaannya tadi.


"Ikut saya ke ruang tamu, nona!" perintah Rick dingin tanpa ekspresi sambil mempersilahkan Everly berjalan mengikutinya.


Everly pun mengikuti Rick dengan menggerutu kesal sambil melihat ke arah pintu ruang tamu yang terbuka dan ternyata ada dua bodyguard yang menunggu didepan pintu besar itu.


Kedua bodyguard yang membiusnya tadi. Mata mereka mengawasi sekitar seakan tak berkedip seperti tidak membiarkan apapun berlalu dari penglihatan mereka walau sedetik. Everly bergidik ngeri, tak mau berurusan dengan mereka.


Sampailah di ruang tamu, yang ternyata sudah menunggu Gerald yang sedang duduk dengan angkuhnya.


"Duduklah disini nona!" ujar Rick mempersilahkan Everly duduk di sofa yang elegan itu, berhadapan tepat dengan Gerald.


Everly duduk sambil menatap Gerald dengan menantang. Tatapan Everly justru disambut tatapan Gerald yang dingin sambil tersenyum tipis. Keheningan pun tercipta, masing-masing berperang dengan pikirannya, mencoba menerawang apa yang ada dalam hati masing-masing.


Rick sibuk menelpon seseorang. Ia tampak tersenyum dengan suara seseorang di seberang sana.


"Mereka akan segera tiba. Tuan Muda!" lapor Rick kepada Gerald. Gerald merespon datar.


Everly meringis karena perutnya keroncongan, kruk-kruk perutnya mulai bernyanyi. Ia merasa malu karena sepertinya Gerald dan Rick mendengar.

__ADS_1


__ADS_2