CINTA YANG BEKU

CINTA YANG BEKU
Eps. Calon istri Tuan Muda


__ADS_3

Everly memandang kesal Dhea dan sambil melengos ditariknya Ratih ke ruangan lain, menjauh dari Dhea. "Udah jangan ladenin dia,,,rugi tahu ngomong sama mahluk macam dia.! bisik Everly ke telinga Ratih. Ratih mengangguk tertawa lalu bibirnya mencibir ke arah Dhea.


Dhea terlihat jengkel karena mereka berdua ternyata tidak terpancing lagi. Dia mengepalkan kedua tangan sambil memaki dalam hati. Baginya Everly musuh abadi yang harus dia singkirkan segera bagaimanapun caranya. Dhea tahu berat bersaing dengan Everly untuk mendapatkan Jeremy.


Menjelang sore jam pergantian shift kerja berakhir, Everly bersiap-siap pulang. Tiba-tiba hp nya berdering, Everly tidak tahu siapa yang menelponnya, diliriknya nomor itu adalah nomor baru, ragu-ragu ia menjawab: "Ya, halo maaf dengan siapa ini!?" Everly membuka percakapan.


"Keluar sekarang dan temui saya segera, saya tunggu anda di pintu masuk utama Mall, Nona!". Jawab orang itu dengan suara seperti memerintah. Deg, jantung Everly berdegup kencang. "Untuk apa, maaf anda salah sambung!" jawab Everly kesal karena si penelepon tidak menjelaskan dahulu siapa dirinya, tahu-tahu sudah perintah dirinya seenaknya. Ditutupnya percakapan dan mematikan hp nya segera.


"Wah, wah,,,berani sekali anda Nona..hmmm!" Batin Rick sambil menggeleng-geleng dan tersenyum getir. Rick menelpon tuan muda Gerald. Memberitahukan kelakuan Everly kepada Gerald.


"Temui dia dan paksa saja, kau tahu kan apa yang harus kau buat Rick!" sahut Gerald tegas dan tersirat ancaman yang membuat Rick menjadi kalut. Rick mengiyakan, lalu dengan langkah panjang Ia berjalan menuju galeri pakaian di mana Everly bekerja.


Rick pun menelpon Ibu Sinta, agar segera menyuruh Everly menemuinya diruangan kerja Manager Mall.


Everly bersiap melangkah keluar mall, dan dilihatnya bu Sinta menunggunya di pintu keluar lalu memberi isyarat untuk mengikuti bu Sinta masuk keruangan kerjanya. "Ada apa lagi ini, Oh Tuhan jangan masalah si Tuan sombong itu lagi.!" racau Everly saat masuk ke ruangan bu Sinta.


Everly melangkah dengan jantung berdebar-debar, dan saat ia masuk dilihatnya sudah duduk di sofa seorang pria yang tak lain supir si tuan sombong itu, Rick. Bu Sinta juga duduk di dekatnya dengan tersenyum.

__ADS_1


"Silahkan duduk Nona Everly,!" ujar bu Sinta mempersilahkan Everly duduk sambil menepuk-nepuk sofa disampingnya. Ada nada yang berbeda, ya kali ini Bu Sinta begitu hormat dan halus tutur katanya kepada Everly, padahal Ibu Sinta atasannya. Everly mengangguk dan mendudukkan tubuhnya dengan ragu-ragu di sofa tepat dihadapan Rick.


"Baiklah kita langsung saja, silahkan anda jelaskan ke Everly tentang posisinya sekarang.!" Ucap Rick membuka percakapan sambil menatap Bu Sinta. Bu Sinta membalas dengan menganggukkan kepalanya.


"Nona, karena anda sekarang akan menjadi calon istri Tuan Muda Gerald Vicario, maka dengan penuh hormat saya sebagai atasan anda sekarang adalah bawahan anda dan anda sudah bukan lagi menjadi karyawan saya, melainkan pimpinan saya. Untuk itu, pekerjaan anda sebagai SPG sudah tidak berlaku mulai hari ini. Kiranya penjelasan saya dapat diterima.!' Ujar bu Sinta dengan berdiri sambil mengangguk hormat kepada Everly dan tersenyum hangat.


Everly membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang didengarnya. Everly berdiri dan menatap Rick dengan bingung. yang ditatap malah tetap datar ekspresinya.


"Jadi saya sudah tidak bekerja lagi disini begitu kah bu Sinta?" tanya Everly. "Ya, anda adalah atasan saya sekarang, dengan kata lain anda adalah juga pemilik Mall ini !" jawab bu Sinta tegas dan tersenyum.


"Kalau begitu, kami permisi dulu, terima kasih atas kerjasamanya!" sahut Rick tanpa basa basi dan memberi isyarat kepada Everly untuk berjalan mengikutinya. Everly tetap diam di sofa, sekarang ia mengerti bahwa Rick lah yang tadi menelponnya.


Everly meronta-ronta dan berusaha melepaskan pegangan tangan Rick. Tapi bukannya terlepas malah Rick semakin mengeraskan pegangan tangannya. Everly pun terpaksa mengikuti langkah Rick yang panjang dan lebar itu, bisa dikatakan seperti terburu-buru. Membuat Everly seperti berlari-lari.


Suasana Mall masih terlihat ramai, sudah jelas Rick dan Everly menjadi pusat perhatian. pengunjung Mall pasti mengira kalau dia dan Rick adalah pasangan kekasih yang lagi bertengkar karena sorot mata tajam Rick dan mimik kesal Everly yang berjalan mengikutinya dibelakang.


Jeremy yang melihat Rick dan Everly dari kejauhan tampak gusar tapi ia tak bisa berbuat banyak. karena ia mengenal siapa Rick. Ingin ia menyusul Everly dan melepaskan Everly dari pegangan Rick. Tapi apalah dia bila dibandingkan dengan Rick, tangan kanan tuan muda Gerald Vicario.

__ADS_1


Jeremy menatap dengan lesu, ada perasaan hancur yang tak dia mengerti. Ia sudah lama menyukai Everly tapi dipendamnya dalam hati karena Everly tak pernah membuka hati untuknya.


Dan yang menyakitkannya adalah bagaimana kabar pernikahan Gerald Vicario dengan Everly bulan depan, seperti yang disampaikan Bu Sinta kepadanya hari ini tadi sebelum Rick menjemput Everly.


Jeremy pun bertekad akan melupakan Everly. Dilihatnya Everly sudah memasuki Mobil Rick yang sudah terparkir di depan Lobbi Mall. Mobil mewah itupun berlalu.


 


Di Mansion


Rencana hari ini Gerald akan bertemu dengan Everly di kantor Wedding Organizer ternama di negara ini, yang sudah disiapkan oleh Rick.


Gerald terpaku pada beberapa contoh kartu undangan mewah yang tergeletak di atas meja di ruang kerja yang telah dipilih oleh Rick untuk dijadikan model kartu undangan pernikahannya dengan Everly.


Ia mengambil sebuah kartu yang berbingkai emas dipinggirannya dengan latar ungu muda dan ukiran huruf-huruf yang indah serta wangi parfum mahal dikertas yang cukup tebal dan halus, sebuah undangan dengan harga yang fantastis Rp 1.000.000 perbuah, karena tulisan hurufnya memang terbuat dari tinta emas murni. Gerald tersenyum lebar, berharap undangan ini akan menjadi buah bibir dimana-mana. 1000 undangan dan itu semua untuk kalangan atas yaitu kolega bisnisnya baik di luar negeri maupun dalam negeri.


Ini pasti akan menjadi pernikahan termewah abad ini, batin Gerald sambil tersenyum penuh makna yang menyiratkan sesuatu arti yang dalam, yang hanya ia dan Tuhan yang tahu.

__ADS_1


"Everly, semoga kamu bertahan selama yang aku mau, dan pernikahan ini akan membuat aku dapat membalasmu ibu,!" ucap Gerald sambil mengepalkan tangannya, ada kemarahan yang terpendam, sakit yang tertahan karena tak mampu diungkapkannya selama ini.


"Ayah, yakinlah aku pasti bisa membalaskan semua yang ibu telah lakukan padamu, maafkan aku juga Everly, kamu harus masuk dalam permainan ini,,," ucap Gerald getir.


__ADS_2