
Di sepanjang perjalanan pulang, mata Everly memandang ke arah jendela mobil dengan pikiran yang kalut. Sedangkan Roland nampak terdiam dan tidak melihat ke arah Everly sedikitpun. Hanya kesunyian yang kini menyertai perjalanan pulang mereka.
Roland tidak mampu memandang Everly, putri kesayangannya itu. Ia merasa bersalah telah membawa Everly kedalam persoalan utang-utangnya kepada Bank yang akhirnya jatuh tempo.
"Tuan, kita sudah tiba dirumah anda!" ucap sopir orang suruhan Gerald yang ditugaskan menjemput Roland tadi dan juga mengantar Roland dan Everly pulang.
Roland mengangguk lalu membuka pintu keluar diikuti Everly. Sopir pun akhirnya melaju kembali ke Mansion.
Everly melangkah kedalam rumah dengan tidak semangat. Roland yang melihat putrinya seperti itu, turut merasakan kesedihan. Ia merasa gagal menjadi ayah yang baik bagi Everly. Dilihatnya Everly langsung masuk ke kamarnya tanpa mengucapkan apapun kepada Roland.
Linda yang sudah sedari tadi menunggu kedatangan Roland dan Everly, nampak kebingungan melihat Everly yang nyelonong masuk tanpa mengucapkan salam seperti biasa kepadanya. Dilihatnya, Roland juga dengan muka masam kini terduduk lesu di sofa ruang tamu.
"Ada apa Mas, apa yang terjadi?" ujar Linda dengan mimik heran dan ingin tahu. Roland menatap Linda, dia yakin sekali kalau Linda malah akan bahagia dengan keputusan yang diambilnya. Karena Linda lah yang justru memaksa Roland untuk mau menandatangani surat perjanjian itu kemarin malam.
"Aku sudah menandatanganinya, Lin!" jawab Roland lesu.
"Oh baguslah Mas, akhirnya kita tidak perlu keluar dari rumah ini dan toko kita masih bisa buka!" ucap Linda lega dan puas.
"Tapi, aku seperti ayah yang jahat dan egois kepada putrinya sendiri!" sahut Roland, ia merasakan sakit didadanya. Dipegangnya dadanya sambil meringis.
"Everly justru beruntung Mas, dia akan menikah dengan Presdir Gerald Vicario, konglomerat terkaya dinegeri ini, dan dia telah mengangkat harkat martabat keluarganya sendiri!" ujar Linda dengan berbinar-binar. Dia sudah membayangkan akan bergelimang harta dan ingin segera bebas dari kemiskinan yang dialaminya.
"Kamu harus bersikap baik kepada Everly, berterimakasihlah kepadanya, karena dia mau berkorban banyak untuk keluarga kita!" timpal Roland sambil menatap tajam ke manik mata Linda.
__ADS_1
Linda terdiam, ia merasa tertempelak dengan perkataan Roland. Ya, ia memang telah banyak menyakiti hati Everly anak kandung Roland, putri tirinya itu.
"Hmmm...iya mas, aku akan bersikap lebih baik lagi kepadanya, maafkan aku Mas!" balas Linda dengan tersenyum sambil memeluk Roland. Roland tidak bereaksi, ia malah bangkit berdiri dan masuk kedalam kamar. Linda pun menyusulnya, tapi ia melirik sebentar ke kamar Everly yang sudah tertutup dari dalam. Tak ada suara sedikitpun, nampaknya Everly sudah tertidur, gumam Linda.
"Ibu,,,apa Ayah dan kak Eve sudah pulang?" tiba-tiba Valerie keluar dari kamarnya.
Linda mengangguk sambil tersenyum dan mengurungkan niatnya menyusul Roland untuk masuk kedalam kamar tidur mereka.
Linda memberi isyarat kepada Valerie untuk mengikutinya ke teras rumah mereka. Valerie mengangguk dan melangkah keluar mengikuti ibunya.
Linda pun duduk dikursi teras dengan menyandarkan tubuhnya. Valerie ikut duduk disampingnya.
"Akhirnya, ayahmu mau menandatangani Surat Perjanjian itu, nak!" ucap Linda mengulum senyum senang. Mendengar hal itu, Valerie ikut tersenyum. Ia tak dapat menyembunyikan kegirangannya.
"Iya nak, kamu juga akan bisa masuk kedalam kehidupan keluarga konglomerat nanti, pasti ada peluang untuk mencari suami di kalangan mereka, jangan mau kalah dari kakak tirimu itu!" timpal Linda sinis.
"Oh,,, sudah pasti itu bu, lagipula aku jauh lebih cantik dan lebih berpendidikan dari kak Eve!" balas Valerie dengan muka mengejek.
Linda ikut tertawa walaupun dia tahu bahwa Everly tidak melanjutkan kuliahnya demi Valerie bisa kuliah. Bahkan Everly bekerja keras untuk membiayai kuliahnya.Ya, anak tirinya itu telah berkorban banyak untuk keluarganya.
Tapi hati Linda tetap membenci Everly, karena Roland lebih menyayangi Everly dan menikahi Linda juga bukan karena cinta tapi Linda yang memaksanya. Linda menjadikan bayi Everly sebagai alat untuk mendekati Roland dan menikah dengannya. Padahal ia tahu, hati Roland hanya untuk Emmely.
"Bu, kok melamun sih?" sahut Valeria yang mengagetkan Linda dari lamunannya. Valerie menatap ibunya dan coba menebak apa yang sedang ada didalam pikiran ibunya.
__ADS_1
"Ibu, sudah tak usah dipikirkan. Yang penting kita bisa segera keluar dari keadaan sial kita selama ini. Lagipula Everly harus nurut kata ayah dan ibu, kalau dia mau membalas budi ayah dan ibu selama ini.!" ujar Valerie mengusir rasa tak enak dihati ibunya kepada Everly.
Linda memikirkan kira-kira apa yang dirasakan Everly saat ini. Gadis itu pasti tambah terluka karena Everly sudah terlalu banyak berkorban untuk ayah, ibu dan adik tirinya. Bahkan masa depan Everly juga harus digadaikan demi kebahagiaan mereka.
"Bu,,,ayo tidur sudah larut malam, besok pagi-pagi bangunkan aku dan jangan lupa, buatkan aku bekal ya bu seperti biasa!" pinta Valeria manja lalu mencium pipi Linda dan bergegas masuk ke kamarnya yang bersebelahan dengan Everly.
Linda pun ikut masuk kedalam dan mematikan lampu diruang tamu. Matanya kembali melirik ke arah kamar Everly yang nampaknya sudah tidur.
Dikamar Everly
"Ibu,,,kenapa aku harus menghadapi ini semua, aku gak kuat ibu!" isak Everly pelan sambil berbaring dan memegang foto Emmely, ibunya yang sudah meninggal saat melahirkannya.
Everly, tidak memiliki kenangan sedikitpun tentang ibunya. Ia hanya tahu kisah Emmely dari Roland ayahnya dan juga neneknya. Everly selalu memimpikan ibunya bahkan sering berkhayal kalau ibunya ada disampingnya.
"Ibu, bulan depan aku akan menikah, doakan agar aku bahagia ya ibu walaupun hanya satu tahun, tapi entah kenapa semua membuat aku takut ibu, tolong aku bu, hiks .hiks?" ujar Every lirih sambil memeluk foto Emmely.
Tak lama mata Everly terpejam, ia merasakan kantuk yang luar biasa. Everly pun menguap dan tertidur.
Everly ingin memimpikan yang indah-indah malam ini berharap terbangun esok pagi dengan kekuatan yang baru dan bila perlu ada keajaiban yang akan mengubah jalan hidupnya saat ini.
Gerald Vicario, aku harap kau batalkan pernikahan itu, dan aku akan terbebas dari tuntutan tak masuk akal itu, batin Everly sambil memeluk foto Emmely.
Di Mansion
__ADS_1
Gerald tak dapat memejamkan matanya. Ia masih membayangkan wajah cantik Everly yang tadi berhadap-hadapan dengan wajahnya saat mereka terjatuh bersamaan lalu Everly tepat berada di atas tubuhnya. Gerald tersenyum sambil menggigit bibirnya.