
Cinta Yang Hilang
Pagi ini cuaca begitu cerah sinar mentari begitu menyengat secercah semangat menyelimuti hati zaki yang terlihat begitu bersemangat pergi kesekolah, hari ini akan dilaksanakannya Ujian Nasional setaraf SMA serentak di seluruh Indonesia.
Ini adalah Final Destination bagi semua pelajar untuk menentukan pengabdiannya selama tiga tahun bergelut dengan buku disekolah. Hanya ada dua kesimpulan lulus atau tidak, tentunya UN masih menjadi momok yang begitu menakutkan dikalangan pelajar.
“ Perhatikan soalnya dengan teliti ya, jangan lupa isi biodata dengan lengkap” ujar bu Resty Agustina, S.Pd pengawas dari SMKN 1 Tarumajaya membagikan lembaran-lembaran soal ujian pada para siswa “ Kerjain yang
gampang-gampang aja dulu yang rada susah menyusul..” sambungnya sambil menyapu pandangan kekiri dan kanan.
“ Nggak ada yang gampang neh kayaknya bu ,susah semua…!!” ceplos hilal salah satu peserta ujian.
“ Nggak belajar kali ya semalem ?” todong
bu Resty tersenyum.
“ Belajarlah masa mau UN nggak belajar bu ” sangkal hilal membela diri.
“ Yaudah selamat mengerjakan semoga sukses dan mendapat hasil yang baik.. ”
“ Aamiin,..” seru para peserta UNkompak.
Para peserta terlihat begitu tenang mengerjakan soal ujian, tak terlihat ada peserta ujian yang melanggar aturan karena hampir sebulan sebelum UN mereka dipersiapkan secara maksimal untuk
mendapatkan hasil yang terbaik.
UN pertama SMKIT Nurul Qolbi terasa begitu
berwarna, setelah sebelumnya insiden dhani yang meninggal karena kecelakaan sekaligus Over Dosis, dan disusul dengan tertangkapnya firman sebagai pengedar narkoba dari kelas tiga otomotif yang secara tidak langsung berhujung dengan pememecatannya dan irul dari daftar nama siswa SMKIT Nurul Qolbi. Dan berakhirnya kisah asmara zaki dan keyla juga menjadi bumbu dalam perjalanan hidup zaki.
“ Woy.., piye to tadi soalne, gampang- gampang tenan yo..” ujar rijal
menghampiri zaki dan indra yang telah lebih dulu kekantin.
“ Gampang, Sirahmu gundul..,” ledek indra dengan logat jawanya yang medok.
“ Hebat bener dah orang-orang, soal susah begitu dikata gampang..” seru zaki mendukung indra.
“ Pak Haji nasi udukke ono keneh..?” Tanya rijal sumringah
“ Masih adamau ?!” jawab pak H. gamer setengah berteriak.
“ Saya minta satu sama teh manisnya dah
GPL yahc pak..”
“ GPL, apaan tuch tong?” pak H. gamer terlihat binggung sambil menyiapkan nasi uduk pesanan rijal.
“ GPL itu Gak Pake Lama, pak Haji Gimana sih hari gini nggak tau GPL-GPL acan”
“ Owh.., yang gue tau GPU tong..” balas pak H. gemer cuek.
Sekarang gentian rijal yang terlihat bingung “ GPU, opo toh pak ?!”
“ GPU itu, Gosok Pijat Urut tong…, gimana sih hari gini nggak tau GPU-GPU acan..” Tutur pak H. gemer membalas ledekan rijal.
“ Hahay,.sekor seri neh, pak H.gamer satu rijal satu..” Seru zaki sumringah.
Zaki dan indra yang mendengarkan obrolan
mereka terkekeh saat melihat rijal tampak tak berdaya dan mati kutu dibuatnya, tak terkecuali linda dan ines siswi kelas tiga Perbankan Syariah yang juga ikut-ikutan tertawa lepas. Lumayanlah sedikit humor untuk melepas kepenatan Ujian Nasional.
----------
Hari terakhir UN terasa menegangkan
setelah dua hari sebelumnya sukses dilaksanakan tanpa ada kendala yang cukup
berarti. Hari inipun mereka masih tetap semangat karena masa depan tinggal didepan mata.
Terlihat beberapa siswa/i turun dari mobil angkot merah bernomor area 15 A. rute Terminal Bekasi sampai Muara tawar seharusnya tapi kebanyakan para supir lebih memilih ngetem di Pasar Bojong dengan alasan akses jalan ke Muara tawar yangrusak
dan sepi penumpang. Ada juga yang berjalan kaki karena rumahnya dekat dan ada juga yang membawa motor sendiri.
“ Za, lulus dari sini mau nerusin dimana
?” Tanya dinda mensejajarkan langkahnya dengan zaki agar labih akrab.
“ Emm…, belum tau sih. Kalo loe mau kemana
din..?” zaki balik Tanya.
“ Gue.., pengennya sih di UIN Jakarta, tapi gue juga mau di UNISMA, trus kayaknya seru juga di UNJ juga oke sih..” ujar dinda bingung mau pilih yang mana.
“ Waw.., padat dong jadwal loe kedepannya..”
“ Padat gimana ?” dinda terlihat bingung.
“ Iya, senin selasa loe di UIN, terus rabu
kamis di UNISMA, lalu jumat sabtu di UNJ..” jelas zaki coba melucu yang sebenarnya nggak lucu.
“ Ya nggak`lah…, gue cuma bingung aja mau
kuliah dimana, Oya, liburan neh ada tujuan kemana za.. ?” dinda coba mengalihkan pembicaraan kearah yang lebih santai.
“ Emm.., gue pengennya sih ke Menes, daerah Pandeglang sono. Dipesantren om gue din kalo nggak ada halangan..” zaki mendongkak kan kepalanya keatas seraya memejamkan mata dan menghirup bebas udara sekitar. “ Merasakan indahnya terpaan sinar matahari dipagi hari sambil melihat luasnya pegunungan, melapaskan kepenatan dan ketidak pastian hidup, mendekap mesra semilir angin sore kota menes yang bersahaja, menyaksikan tingkah laku para santri yang berpakaian rapih sopan dan beradab. Pokoke T-O-P B-G-T din..” sambung zaki menatap dinda.
“ Nggak segitunya kali ngejelasinnya lebay
sangat sih, tapi .., liburan dipesantren.. ?,” dinda semakin tertarik ingin tau. “ Bukannya pesantren itu nggak enak ya. Banyak peraturan, gak boleh ini gak boleh itu, terus senior-seniornya juga galak-galak, bukan itu
aja anaknya juga rese-rese banget, trus banyak lagi deh..” sambung dinda antusias.
“ Ya hampir semuanya bener , tapi loe melupakan satu hal din..” zaki memandang dinda lekat hingga membuat dinda berpikir extra keras.
“ Apa ?” Tanya dinda singkat.
“ Ada sesuatu yang beda dan gak bisa
diungkapkan dengan kata-kata..” zaki terlihat begitu lebay menjelaskannya. “ Soalnya gue pernah ngerasain jadi santri walaupun cuma dua minggu..” sambungnya lagi
“ Masa sih, kapan tuch.. ?”
“ Waktu liburan tahun lalu, cuma gue doank
yang berangkat dhani gue ajak gak bisa dia lagi sibuk bantu bokapnya panen padi..”
__ADS_1
“ Za, jujur gue kangen sama dhani, ternyata bener kata bang H.Rhoma Irama kalau
sudah tiada baru terasa bahwa kehadirannya sungguh berharga..”
“ Bukan loe doank din, gue juga kangen sosok dhani. Semoga dia tenang disisi alam sana.
Aamiin..
“ Aamiin,.. semoga kita diberikan kemudahan untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagiya za….”
“ Aamiin ya Robb,. Loe udah kayak mama dedeh aja din hahay,..”
“ Bukan mama dedeh tapi mama dinda zahehehe..” seru dinda menggelengkan kepala jengkel dan diikuti gerakan capit
kepiting[1]hingga membuat zaki bekerjaextra keras menghindarinya.
Keduanya tertawa lepas sambil menyusuri
anak tangga bersama dengan diikuti siswa-siswi yang juga baru datang menuju
kelas mereka masing-masing.Zaki kekiri
sedangkan dinda kekanan.
“ Za, selamat ya..” ujar dinda sebelum
masuk kelas.
“ Selamat buat apa din,.. ?” zaki terlihat
bingung.
“ Misi loe buat nangkep firman berhasil, dan itu udah kesebar luas di anak-anak, dan pasti dhani bangga sama loe di alam sana..” tutur dinda tersenyum seraya menekan handle pintu kelas dan menghilang sesaat setelah pintu tertutup.
“ Semua ini gue lakuin cuma buat dhani sahabat gue din..” batin zaki bergumam dan
langsung meneruskan langkahnya menuju kelas.
----------
“ Assalamualaikum..” seru zaki sambil memperhatikan sebuah mobil avanza silver terparkir dihalaman rumahnya.
“ Walaikum salam …,” jawaban dari dalam
rumah terdengar hingga keluar.
“ Ini pasti si Junior iya kan ?” todong Haris teman Mark saat kuliah di Belanda. Ia datang dari pandeglang sengaja menyempatkan diri untuk bersilahturahmi pada keluaraga Mark.
“ Loh, kok om tau..?” ujar zaki heran mendengar seseorang yang tidak ia kenal memenggilnya dengan sebutan junior, dia adalah orang keempat yang memanggilnya junior pertama diari ayahnya, kedua mamanya, ketiga kakek tua di bus dan keempat orang ini .” Hwo is him?” batin zaki bedecak bingung.
“ Om Haris, ayah kamu teman paman dulu waktu kulyah di Belanda, kami juga sering jalan-jalan ketempat baru. terus keliling desa baduy juga bareng paman..” Haris sedikit
membuka kisah masa lalunya kepada zaki. “Kamu sudah besar ya sekarang..?” sambung Haris memperhatikan zaki yang sudah berseragam putih abu-abu.
“ Hehehe…, Iya om..”
“ Oiya za, neh kenalin anaknya omHaris..” ujar siti menunjuk kearah seorang gadis yang baru bergabung diruang tamu.
Tanpa ragu zaki mengarahkan jari telunjuknya pada sigadis berkerudung putih yang tertunduk malu-malu.
Hah…,
memandang satu sama lain untuk meyakinkan bahwa ia adalah orang yang sama, waktu seakan berhenti berdetak tuk sesaat. Suasana hening dan udara seakan berhenti mengalir hingga beberapa saat kemudian berdetak lagi seperti biasa. Nampak didepan matanya seorang gadis yang pernah mengisi hatinya dimasa lalu.
“ Mala..?!” todong zaki yakin 100%
“ Zaki ya “ (dibaca cepat) balas mala sumringah setengah tak percaya,
rentetan gigi-gigi kecil putih yang tersusun rapih sedikit terlihat diantara apitan bibir yang natural tanpa bahan kimiawi modern.
“ Zaki, bukan zakia, begitu bunyinya Hehehe…” ujar zaki seperti waktu pertama kali berkenalan dengan mala di gedung kwadanan
Menes. Zaki membalas senyuman mala yang sudah sangat lama tak dijumpainya.
“ Kalian udah saling kenal..?” Tanya siti dan haris bersamaan seraya saling memandang bingung.
“ Emm…, iya ma kita udah pernah ketemu
waktu liburan dipesantren Om Bilal…” jelas zaki malu-malu dan nggak nyangka cinta yang pernah hilang tau-tau datang kerumah, jika dihitung secara statistic 1 berbanding 1000 kemunkinan hal seperti ini terjadi. Tapi jika Allah SWT sudah berkehendak apapun bisa terjadi, Right..!
“ Zaki pesantren di Menes juga ?” seru Haris sedikit tak percaya.
“ Dulu waktu liburan kelas dua, silahturahmi sama omnya sambil cari ilmu pengalamanan ceritanya..” jelas siti antusias dan bahagia.
“ Bisa kebeneraan begini,. Jodoh kali ya..” haris coba ngebayol.
“ Bisa jadi… hehehe…” zaki meladeni
candaan om Haris dan merekapun tertawa renyah.
Zaki terlihat begitu bahagia ia seakan menemukan secerca harapan untuk bisa menjadi peribadi yang lebih baik lagi. Seorang
yang diharap-harapkan ternyata telah hilang dan yang tidak teringat sedikitpun tiba-tiba muncul dan memberi harapan baru.
“ Mal, jalan-jalannyok ?” ajak zaki disela-sela obrolan mereka.
“ Waduh.. anak om mau diajak kemana itu
junior..?” ledek haris semggoda.
Setelah meminta izin zaki akhirnya
diperkanankan membawa mala jalan-jalan. perasaan seneng, bahagia yang tiada
tara sedang dirasakan zaki. Moment bahagia dihari yang indah.Terlihat expresi kegembiraan di wajah mereka berdua bagai nabi adam yang bertemu siti hawa
setelah sekian lama terpisah hehehe.
“ Emangnya kita mau kemana za..” Tanya
mala penasaran.
“ Emm…, kemana yach, udah ikut aja ntar
juga kamu tau…” jawab zaki terlihat hati-hati
mengendarai motor maklum jalannya masih tanah merah dan habis diguyur hujan jadi agak sedikit licin.
__ADS_1
“ Ini kampung apa za ?”
“ Ini namanya kampung Pomahan,
kecamatannya Tarumajaya, kabupatennya Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Anyting else ?” jawab zaki lengkap “ Yupzt, inilah tempatnya mal..” sambung zaki membentangkan kedua tangannya lepas.
Hamparan tanaman padi yang mulai menguning nan asri dan terlihat sebuah saung kecil yang tidak begitu jauh, beratapkan daun lingi disusun rapi hingga menjadi satuan-satuan atap yang rindang,
sarat akan pesan damai dan kesederhanaan .
“ Ayo mal…” zaki menarik tangan mala yang
sedikit tersentak, mereka setengah berlari diatas pijakan galengan[4]seraya merasakan buaian lembut daun-daun padi yang tersentuh tangan, canda tawa dan senyuman mala yang sempat hilang membuat hari ini jadi begitu berbeda, zaki seperti merasa hidup kembali setelah mati suri dalam kehampaan.
“ Za, kenapa kamu bawa aku kesini ?” Tanya
mala ingin tau sekedar memecah keheningan.
“ Aku suka hal-hal yang beraroma Natural, lebih baik alami dan apa adanya dari pada modern yang dibungkus dengan kepalsuan.”
“ Maksudnya apaan si za aku nggak ngerti..?”
“ Emm…, dari pertama kita ketemu, zaki dah
suka sama mala, etrus waktu kita jadian jujur zaki tambah seneng dan bahagia. Cuma waktu itu keadaannya nggak memungkinkan buat terus bersama makanya zaki balik ke Bekasi. Dan sekarang jujur zaki seneng banget seseorang yang telah lama hilang kini hadirkembali..” zaki coba me review kenangan itu.
Mala hanya tersenyum dan tertunduk malu
mengingat saat-saat dipesantren dulu.
“ Kamu mau nggak kayak dulu lagi mal, zaki
masih sayang banget sama kamu…” ujar zaki ditengah desiran angin sore sepoy-sepoy.
“ Iya za, aku juga masih sayang banget
sama kamu. Kita ulangin lagi kisah kita yang sempat tertunda dulu ya hehehe..,” balas mala tenang. “ tapi kok zaki yang sekarang agak beda yach dengan zaki yang aku kenal dulu…” sambung mala tersenyum menggoda.
“ Maksudnya ?”
“ Lebih berkarakter aja kelihatannya dan….”
“ Dan apa hayo.. ?, “ Potong zaki menatap
mala lekat.
“ Emm… apa yah…”
“ Ayo dong kasih tau, mao tau banget nee
hehehe..”
“ Emmm,.. Dewasa…. “ bisikan mala langsung
meluncur deras masuk kekuping zaki mengalir seiring dengan aliran darahnya,
memenuhi relung hatinya dan membekukan jiwa raga. Zaki tersenyum kecil mendengarnya.
“ Kamu tau nggak, rumah- rumah apa yang
paling bahagia ?” Tanya zaki.
“ Rumah yang paling bahagia..??” mala
terlihat kikuk sambil cengar-cengir “ Rumah waktu kecil..” sambungnya menebak-nebak.
“ Salah…”
“ Rumah-rumahan..”
“ Bukan...”
“ Habis apaan dong..”mala terlihat penasaran.
“ Rumah yang paling bahagia adalah rumah
tangga kita berdua kelak.. hehehe..” balas zaki cengengesan.
“ Bisa… aja…”
“ Walaupun fisik kadang bisa berubah tapi
hatiku akan selalu untuk mu mal…” sambung zaki dan memegang tangan mala erat.
Keduanya saling memandang, dibumbui senyum kecil khas anak muda jaman sekarang. Zakipun coba menyatukan perasaan mereka dengan sedikit menggeser pantatnya mendekati mala. Perlahan tapi pasti keduanya saling mendekatkan wajah mereka dan menempelkan ujung hidungnya.
“ Mal… I love You..” Bisik zaki pelan.
“ I love too zaki…” mala membalas rayuan maut zaki.
“ Mal, kamu tau nggak. Cinta itu di mulai
oleh Adam dan Hawa, kemudian diperkenalkan oleh Rama dan Shinta, terus dibawa mati oleh Romeo dan Juliet, kemudian dihidupkan kembali oleh cinta kita berdua hehehe.”
“ Gombal mulu nih hehehe…”
balas mala singkat sambil menikmati raut wajah zaki yang terlihat begitu eksotis dan berkharisma.
Zaki mendekap tubuh mala erat dan disusul
dengan kecupan dikening mala.Desiran angin sore mendayu-dayu perlahan seakan tak mengusik kemesraan mereka berdua.
Suasana kedamaian membuat keduanya merasa dunia ini milik mereka berdua. “Mungkin, ini yang dimaksud ada rahasia
dibalik rahasia” batin zaki berdecak
setelah apa yang zaki alami selama ini. “
Terimakasih ya Allah, makasih mama, thanks Dhani, makasih teman-teman, makasih om Bilal, terimakasih pondok pesantren mahad Al-Muawanah. Dan makasih ayah udah mewarisi diari yang telah mengantarkan aku kepada seseorang yang tulus mencintaiku, seperti cinta ibu yang tulus mencintaiku dan dirimu selama ini .” Batin zaki berbisik seraya terbenam dalam pelukan mala.
-------------------------- TAMAT ----------------------------
Demikianlah perjalanan kisah cinta Zaki yang begitu terjal dan berliku hingga pada akhirnya ia menemukan kembali cinta yang hilang.
Saya sebagai author meminta maaf kepada para reader jika selama kalian membaca novel ini masih ada kesalahan dalam penulisan mohon dimaafkan ya teman-teman.
Terimakasih kami ucapkan untuk Noveltoon, keluarga kami, teman-teman kami, guru-guru kami, Keluarga Besar Nurul Qolbi, Keluarga Besar Ma'had Al- Muawanah Menes Pandeglang Banten. semoga Silaturahmi yang baik ini akan selalu terjalin dengan baik.
__ADS_1
Salam dari kami Dihya Haris 🙏