
Go To West
Suasana di Komplek Yayasan Pendidikan Islam Sofwatul Qolbi (SMKIT Nurul Qolbi) mulai dipadati para orang tua murid, deretan kursi yang telah disiapkan sekolahpun hampir seluruhnya telah terisi rapih.
Hari ini tak terasa pengambilan raport kembali digelar, ini kali kedua para orang tua murid mengambil raport hasil belajar anak- anaknya selama setahun tak terkecuali orang tua zaki dan dhani.
“ Apa kabar pak Haji..?” Tanya siti yang
baru tiba dan duduk di samping orang tua dhani.
“ Alhamdulilah baik, bu siti gimana?” ujar h. Imron balik tanya
“ Alhamdulilah sehat, udah lama pak haji ?”
“ Nggak kok, baru juga 10 menitan”
“ Bu indah gak ikut ambil rapot neh?”
“ Diwakilkan aja lagi repot dirumah bu”
Keduanya terlibat percakapan inten yang
tidak lain membicarakan perkembangan anak-anak mereka disekolah. Satu demi satu
para orang tua murid dipanggil oleh masing- masing wali kelas untuk mendengarkan perkembangan anaknya. Beberapa orang tua murid terlihat lesu melihat Raport anaknya yang kebakaran (banyak merahnya), dan ada juga orang tua yang terlihat ceria karna melihat hasil raort anaknya yang belajar
dengan tekun selama setahun ini.
“ Za, mama mau ngombrol sebentar neh” panggil siti sambil membuka-buka rapot zaki dimuka kelas.
“ Ada apa mah, serius amat kayaknya..?”
“ Kamu mau nggak liburan ini di tempat om
bilal ?” ujar siti memandangi zaki.
“ Om bilal ?!, Pesantren gitu..?!” zaki
terlihat bingung.
“ Iya, nanti kamu disana sambil belajaragama. Soalnya nilai agama kamu anjok banget neh, kebetulan om bilal juga semalem telpon mama suruh silahturahmi kesana tapi mama nggak bisa, gimana zaki mau?”
“ Waduh…. Pesantren ya ..!!”
“ Iya za, kamu juga bisa nambah pengalaman, nambah pengetahuan, nambah temen dan masih banyak lagi hal-hal baru yang akan kamu dapatkan disana. Inget za kata bang ali ada rahasia dibalik rahasia loh iya kan,..?”
Zaki mengangguk kecil ia sama sekali tidak
ingin mengecewakan mamanya dalam hal apapun. Apa yang dibilang orang tua pasti
ada hikmah yang tersembunyi didalamnya.
---------
Keesokan harinya pagi menjelang siang.
“ Zaki berangkat ya mam, mama baik-baik
dirumah, jaga kesehatan jangan berhenti doain zaki disana ya. Assalamualaikum..” zaki menggamit tangan mamanya meminta izin sebelum jalan.
“ Waalaikum salam.., kamu juga hati-hati
disana, salam juga buat om bilal. Oiya nanti di
pertigaan Cimanying hati-hati tukang ojeknya ngeyel-ngeyel”
__ADS_1
“ Iya ma, Insya Allah minta do`anya aja yama..”
“ Pasti donk..” ujar
siti melepas anak semata wayangnya pergi.
Sehabis sholat djuhur zaki pun berangkat dengan rute yang telah ditunjukan mamanya, Perjalanan ini selain menantang danmemacu Adrenalin pasalnya dhani yang diharapkan ikut tapi malah nggak bisa karena ia harus bantuin bapaknya memanen padi. Zaki berangkat dengan bekal naluri petualang yang diturunkan oleh ayahnya.
Dalam perjalanan zaki tak henti-hentinya
memikirkan keyla. Walaupun ia sudah memberi kabar tapi tetap saja ia sedih
karena tak bisa melihat keyla sebelum ia pergi.
“ Maafin aa ya de..”
Lamunan zaki terhenyak mendengar suara
abang kondektur yang meminta ongkos bus.
“ Oiya, neh bang”zaki menyodorkan selembar uang 20 ribuan dengan jurusan Terminal Pakupatan. Serang – Banten.
Zaki menghela napas panjang disela-sela
penantiannya menuju kota Serang Baneten. Ia memperhatikan orang-orang disekelilingnya yang beraneka ragam dengan kesibukan dan propesinya masing-masing. Ada yang berpakaian rapi dengan tas laptopnya terkesan orang kantoran banget, ada juga pengamen yang sedang asyik bernyani seperti tak ada seseorangpun yang dapat menghentikanya walau halangan rintangan membentang tak jadi masalah dan tak jadi beban pikiran, ada juga pedagang keliling yang menjajakan dagangannya dari satu kursi kekursi yang lain.
Rupanya sedikit demi sedikit zaki mulai memahami arti kehidupan yang
sesungguhnya, bahwa hidup nggak mudah yang dibayangkan dan butuh kerja keras karena Live isn`t a Movie.
“ Mau kemana dek ?” Tanya seorang
kakek-kakek yang duduk disebelahnya.
“ Mau ke Menes kek” jawab zaki ramah.
“ Saya mau kepesantren, kakek mau kemana?”
“ Saya mau ke Ciceri serang mau nengok
cucu. Kamu santri ya ?”
“ Bukan kek, saya disuruh liburan
dipesantren sambil menambah ilmu pengetahuan sama mama saya” ujarnya santai.
Obrolan merekapun mulai menemukan ritme
yang selaras hingga terlihat begitu akrab. setelah hampir 2 jam lebih perjalanan akhirnya zaki tiba di Terminal Pakupatan. Terminal yang selalu ramai dengan hiruk pikuk masyarakat kota serang yang sebagian penduduknya mengais rezeki di terminal dan sekitarnya tapi sayang pengelolaan sarana diterminal ini kurang maksimal.
“ Kau lelaki junior kelak sendiri..!!”
ujar si kakek menepuk pundak zaki sebelum akhirnya hilang ditelan kerumunan
para penumpang yang turun.
Zaki termenung sejenak memikirkan
kata-kata si kakek yang sepertinya tidak asing lagi. Zaki terlihat binggung dan beberapa saat memejamkan mata tuk mengingat-ingat
kemudian iapun menyadari halaman terakhir diari ayahnya berpesan “kau lelaki junior kelak sendiri” tetapi yang membuat zaki bingung ucapan sikakek sama persis dengan apa yang ditulis dibuku ayahnya.
“ Labuan A…!!”
tegor salah satu kondektur bus yang mencari penumpang
__ADS_1
“ Oiya mas…” zaki langsung menaiki bus yang bertujuan ke Labuan Menes sesuai dengan rute yang dituturkan mamanya.
----------
Sejauh mata memandang perjalanan menuju
Menes terasa begitu damai, deretan pohon besar dan area perwawahan menjadi pemandangan yang menghiasi perjalanan zaki. Pandeglang yang berada diatas ketinggian rata-rata 776 meter dari permukaan laut ini agak miring ke timur, ditambah dengan keberadaan Gunung Karang yang tingginya mencapai 1773 meter semakin menambah asri pemandangan di kota yang bermoto Pandeglang Berkah ini.
Nama Pandeglang sendiri konon berasal dari
kisah Ki Amuk meriam Belanda yang suka mengobrak-abrik kampung. Alkisah, untuk menyelamatkan penduduk kampung, dibuatlah anting-anting gelang oleh seorang pande besi yang berasal dari kampung kadu pandek untuk mengangkut meriam Ki Amuk ke Banten Lama. Setelah itu orang-orangpun memanggilanya dengan sebutan “ Pandeglang..”
“ Cimanying, Cimanying…, hayu siap-siap..!!” seru kondektur bus lantang.
“ Cimanying bang ?” Tanya zaki yang sudah
bersiap-siap turun.
“ Semuhun A..” (iya A..)
Bus mulai melambat dan berhenti di
pertigaan Cimanying, gerombolan tukang ojek menyerbu para penumpang yang turun
dan langusung menyambar barang bawaan penumpang tanpa tau tujuan mereka mau kemana. Kata orang-orang tukang ojek Cimanying Menessadis-sadis dan rumor itu terbukti didepan mata zaki sendiri.
“ Kemana A..?” Tanya tukang ojek dengan
senyum kemenangan diwajahnya setelah mengalahkan kontestan lainnya (sesama tukang ojek)
“ Pesantren, depan Alun-alun Menes bang” balas zaki singkat.
“ Siap…!!” ujar tukang ojek memberi
aba-aba sebelum ngebut.
Tak kurang dari 10 menit tukang ojek telah
berhasil mengantarkan zaki sampai ditujuan
dengan keahliannya ia meliuk-liuk bebas di jalanan dan melewati berbagai jenis
kendaraan didepannya mulai dari truk, angkot, mobil pick up, motor, sepeda, becak, ambulan juga lewatnya.
“ Hatur Nuhun Bang..” ujar zaki setelah menyodor kan uang 10.000an dengan sedikit rasa mual dan pening.
Zaki menempelkan bokongnya di taman kecil
Alun-alun sambil menghirup segarnya
udara sore kota Menes. Alun-alun Menes memiliki 4 sudut yang sengaja di buatkan
taman kecil di setiap sudutnya tampak begitu indah ditambah dengan kuadanan[2]yang berhadapan langsung dengan Alun-alun.
“ Selamat datang di kota Menes..”
Suara yang terdengar tidak asing lagi
menyapa zaki dalam kesendiriannya.
“ Om Bilal…!!” sapa zaki sumringah
Akhirnya ada juga seseorang yang zaki kenal di kota ini. kegembiraan terlihat jelas diwajah zaki yang tak perlu repot-repot lagi mencari pamannya itu. Merekapun asyik ngobrol- ngalor ngidul ditemani dengan beberapa molen hangat (pisang goreng campur mentega), yang dibelinya dari pedagang disekitar trotoar alun-alun menes hingga
senja menutupi langit sore.
__ADS_1
----------