
Sekali lagi Mike hanya bisa menghela napas lega. Kepalanya masih sakit sejak bangun tadi pagi. Walaupun sudah minum obat tapi karena ia memilih tetap mengunjungi semua proyek, kepalanya makin berdenyut tak karuan.
Dengan tubuh lelah, Mike menghempaskan tubuhnya ke kursi putar, menyandarkan kepala dan memejamkan matanya. Ia ingin beristirahat sebentar sebelum keluar menemui para pendemo.
Tiba-tiba, ada jari-jari dingin menempel di dahinya. Mata Mike terbuka seketika tanpa mengangkat kepala. Wajah Love tampak di atasnya, tersenyum manis.
"Mas capek ya? Semalam kan Mas tidurnya gak enak. Sofa kecil gitu... Sini Love pijitin palanya, yaaa!"
Suara Love yang manja itu membuat sudut bibir Mike terangkat sedikit. Gadis ini... apa dia tak sadar kalau dia salah satu penyebab sakit kepalanya?
Tangan Love bergerak pelan di dahi dan bahu Mike. "Kalo Ayah lagi sakit kepala, Ayah selalu minta dipijitin Love loh, Mas. Pijitan Love itu ampuh."
"Oh ya?" tanya Mike sembari menutup mata, menikmati pijatan ringan itu.
"Gak semua orang bisa ngerasain loh. Selain Ayah, baru Mas nih yang ngerasain." Kembali suara gadis itu terdengar.
"Hmmm... Baiklah, kamu memang tukang pijat yang hebat!"
"Tapi Love gak terima pujian sih, Mas. Buat bayarannya... "
Mike tersenyum tipis. "Hmmm... Apa lagi sekarang? Inget utang kamu sama aku itu banyak banget kali, Ve. Sebotol wine aja udah sejuta lebih. Nah kamu inget semalam berapa botol yang kamu hambur-hamburkan di wastafel?"
Jari-jari Love berhenti bergerak. "Ya udah deh... gak jadi deh."
Mike mengangkat kepala, dan memutar kursi menghadap Love. "Kamu mau ngomong apa sih? Mau minta apa? Dari tadi muter-muter?"
"Mas, sebenarnya Pak Rahmat... mmm... yang demo itu mintanya apa sih?" tanya Love ragu.
Dari sorot mata Love, Mike bisa melihat sekelebat rasa ingin tahu yang besar, sekaligus keinginan untuk membantunya. Mike memandangi gadis itu sebelum akhirnya membuka suara.
"Mereka ingin kenaikan gaji 100%. Alasannya karna memang situasi ekonomi yang sedang memburuk, hanya saja situasi begini itu juga mempengaruhi perusahaan." Mike menarik napas panjang.
Mike tak mengerti mengapa ia harus membicarakan ini pada Love. Tapi semuanya meluncur begitu saja.
"Waktu aku dan Papa periksa laporan keuangan, terjadi pembengkakan biaya di mana-mana. Jangankan naik gaji sebesar itu, menutupi kerugian tahun ini saja aku tak yakin kantor cabang ini bisa. Bahkan entah kantor cabang ini bisa bertahan sampai tahun, aku juga gak berani berharap," tutur Mike jujur melanjutkan.
Love mungkin tak mengerti. Tapi Mike berharap sebagian bebannya berkurang setelah bicara. Ia tak bisa lagi menahan diri setelah Love terus bertanya.
Love memang terbiasa bercanda. Ia juga selalu menganggap segalanya remeh.
Tapi sejak kecil, Love bagian dari keluarga pengusaha dan ayahnya juga sering membicarakan soal perusahaan mereka karena kelak Love akan menjadi penerus usahanya. Walaupun perusahaan desain arsitektur Ayah tak sebesar perusahaan milik grup Mahkota, Love mengerti banyak soal manajemen dan keuangan.
"Love boleh kasih saran?" tanya Love dengan senyum dikulum.
Satu alis Mike terangkat, tapi ia mengangguk.
"Kenapa keadaan perusahaan gak coba dijelasin sama karyawan, Mas? Biar transparan dan mereka bisa mengerti... "
Mike mulai mendengarkan dengan serius. Raut wajah Love tak sedang bercanda. Ia seperti Love yang berbicara dengan manajernya di telepon tentang pekerjaannya. Begitu dewasa. Dan tentu saja... terlihat profesional.
Love mulai menjelaskan ide-idenya. "Kenapa gak Mas ceritain aja semuanya secara jujur sama mereka? Iya sih menyakitkan dan mungkin mereka marah. Tapi Mas ngomong jujur aja soal resiko ini biar nanti gak kaget kalo tahun depan nanti kantor ini mungkin saja kolaps. Kalo perlu kasih perkiraan laporan keuangan tahun depan jika mengikuti keinginan mereka."
Mike menggelengkan kepalanya. "Tapi aku kuatir mereka bakal gak bisa nerima kenyataan, Ve. Gak masalah aku diserang atau diapain saja. Hanya saja semua proyek saat ini benar-benar kacau sejak mereka demo. Ini baru hari ke-3 dan sejujurnya akibatnya jauh lebih buruk dari yang dilaporkan kepala cabang. Aku bisa datangkan 50 orang dari Jakarta tapi sampai kapan tim bantuan itu di sini?"
Love menjentikkan jarinya. "Nah, itu makanya Mas mikirlah kira-kira solusi apa yang terbaik buat nutupin situasi begini. Aku ingat dulu Ayah pernah bilang, perusahaan kalo mikirin benefit karyawan maka karyawan juga pasti mikirin benefit perusahaan. Jadi sebelum karyawan mikir sesuatu yang negatif gitu, udah seharusnya Mas juga punya solusi buat ngatasin ini kan?"
Mike terdiam. Tentu saja ia punya solusi. Mau tak mau mereka harus meningkatkan keuntungan 200% untuk menutupi dan bisa memperbaiki kesejahteraan karyawan. Tapi apa hal itu mungkin di saat seperti ini?
Itu artinya para karyawan harus bekerja ekstra keras. Semua bagian, dari yang paling bawah sampai paling atas. Walaupun ekonomi memburuk, tapi banyak pembangunan sedang dilakukan di daerah ini karena berbagai kebijakan pemerintah daerahnya. Ini jelas kesempatan dalam kesempitan yang tak bisa dilewatkan begitu saja. Hanya butuh kerja sama yang baik dengan para karyawan. Sayangnya, Mike berkecil hati untuk itu.
"... Love rasa kalau Mas menganggap mereka seperti tadi Love bersama mereka, sebagai teman, maka apapun yang akan mereka putuskan pasti pertimbangannya untuk kepentingan bersama. Love mungkin tadi cuma main sebentar sama mereka, mereka juga kalo ngomong emang rada kasar, tapi... hati mereka sangat baik. Mas lihat aja tadi gimana mereka kompak melindungi Love. Ya kan?" ujar Love panjang lebar.
Mike terdiam mendengar kata-kata Love. Usia Love bahkan belum 20 tahun, tapi strategi bisnis dalam pikiran gadis itu begitu luas, detail dan sistematis.
__ADS_1
Hanya dengan duduk bersama mereka, Love sudah bisa menilai karakter mereka dengan cepat. Gadis ini tidak mungkin gadis biasa yang hanya tahu menyanyi dan bermain piano seperti yang ia sangka.
"Mas... Mas... " Love melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Mike yang tampak melamun.
Mike menatap Love lagi, lalu mengangguk kecil. "Baiklah! Terima kasih untuk ide itu, Ve. Tapi sebaiknya kamu sekarang balik ke kamar ya... Cepat hubungi papamu dan Ricky! Aku bosan sepanjang hari ini dia ngirim WA melulu. Kamu gak balas pesannya?"
Love tertawa malu. "Biarin ah! Love males nelepon Ricky, diledekin mulu. Ya deh... Love pergi dulu ya, Mas! Jangan marah-marah lagi! Entar ilang cakepnya."
Gadis itu pun berjalan keluar, tak lupa ia menyapa Dina dan Leni, bahkan staf-staf yang belum sempat berkenalan dengannya.
Semua mata tampak kagum pada sosok gadis mungil yang cantik itu. Setengah jam lalu Mike masuk dengan emosi nyaris mencapai atap gedung, tapi saat gadis itu keluar, wajah Presdir mereka itu sudah terlihat lebih baik.
Sebagian dari mereka pun berpikir, pantas saja Tuhan itu menciptakan manusia berpasang-pasangan. Mike yang pemarah memang cocok memiliki calon istri yang periang dan baik hati itu.
Setelah berpikir sebentar, alih-alih memanggil Pak Rahmat dan para perwakilan demonstran masuk, Mike memilih berjalan keluar. Para staf dan direktur yang ingin mengiringinya, untuk memastikan keamanan dirinya, ditampik Mike dengan santai.
"Tak apa! Kalian tunggu saja di sini. Biar saya yang bicara dengan mereka dulu. Anda semua jaga-jaga saja di sini. Atau... Len, bisa minta orang sediakan makan siang? Anda semua belum makan siang kan?"
Setelah itu, Mike melepas jas seragam biru tuanya, menggulung kedua lengan kemeja, melepaskan kancing kemeja teratas dan sedikit mengacak rambutnya. Ia tak ingin terlihat berbeda dari para karyawan yang sedang berdemo itu.
Awalnya, terlihat sorot mata bingung para pendemo saat melihat Mike muncul dengan raut wajah berbeda dari dalam kantor. Jangankan mereka, para direktur dan manajer lapangan yang beberapa hari mendampingi sang Presdir saja kebingungan melihat senyum hangatnya. Sejak Mike diperkenalkan Pak Wibowo, yang kini resmi menjadi komisaris, pria muda itu tak pernah memasang senyum apalagi bersikap seramah itu.
Demi memancing suasana yang hangat, Mike duduk di tengah-tengah para pendemo. Duduk di atas undakan taman di halaman parkir, sama seperti mereka.
"Apa Lo... pacar saya tadi merepotkan kalian semua?" tanyanya. Ia memutuskan menggunakan Love sebagai penyambung komunikasi di antara mereka.
Pertanyaan itu memancing senyum dan tawa spontan dari para pendemo, bahkan ada yang mulai berani berkomentar.
"Enggak, Pak!"
"Malah senang."
"Mbak Love keren, Pak!"
"Pacar Bapak cantik, Pak!"
Tampak wajah tegang para pendemo mulai berubah santai. Satu persatu mereka duduk dan berjongkok di sekitar Mike.
"Gak papa, Pak. Mbak Love malah tadi baik banget. Dia malah mau bantuin kita ikutan demo. Trus tadi beliin kita makanan, tadi juga nyanyi bareng kita," ujar salah satu pemuda berkulit gelap yang berjongkok di dekat Mike. Pemuda itu tadi bermain gitar mengiringi nyanyian Love.
Ada perasaan tak enak menyelinap di hati Mike. Ia merasa bersalah. Love sudah melakukan hal-hal yang seharusnya menjadi tugasnya.
"Kita malah gak enak. Masak ngajakin pacar Boss untuk demoin pacarnya sendiri. Hahaha... " Beberapa pendemo juga tertawa mendengarnya. Benar juga. Aneh tapi lucu.
"Maafkan saya tadi tidak langsung menemui kalian semua. Ada beberapa proyek yang harus segera ditangani di Sangatta, dan saya harus bertemu para user dulu. Jadi... "
Kali ini Pak Rahmat yang bersuara. "Kami yang minta maaf, Pak Presdir. Sudah bikin Bapak tadi bertengkar sama Love. Kami juga bersalah bikin Bapak harus datang jauh-jauh ke sini. Proyek juga kacau. Kami... "
Mike mengangkat kedua tangannya sambil tersenyum. "Sudah... sudah... Ini bukan Lebaran. Tidak perlu minta maaf. Kita hanya sama-sama salah paham."
Tawa pecah lagi di antara mereka. Lalu obrolan terus berlangsung dengan santai sampai Mike bisa menyampaikan semua yang memang harus ia sampaikan.
"Saya bisa saja menjanjikan akan menaikkan gaji 100 bahkan 200%. Tapi itu sama saja membunuh cabang ini. Tahun depan... mungkin tutup."
Semua hening. Mereka bukannya tak menyadari hal itu.
"Seperti yang saya sampaikan tadi. Saya baru mengambil alih Mahkota. Saya belum sepenuhnya mengerti situasi di sini, dan jujur saya benar-benar memerlukan Anda semua untuk membantu saya. Saya masih ingin menyelamatkan cabang ini, juga sebisa mungkin memenuhi harapan semua orang karena itulah amanah Papa saya saat menyerahkan Mahkota ke saya. Tapi... "
Mike menatap ke sekelilingnya. Wajah-wajah yang tampak muram. "... Satu-satunya cara adalah kita bekerja sama. Perusahaan akan selalu menghargai dan mendukung setiap karyawan, selama kita semua sama-sama berusaha meningkatkan laba cabang ini."
Ada persetujuan di raut wajah semua karyawan di depannya, maka Mike tersenyum saat melanjutkan. "Keinginan Anda semua bukannya tidak mungkin. Itu bisa tercapai kalau cabang yang ini bisa meningkatkan penjualan workshop, maintenance dan tentu saja... proyek konstruksi baru. Tanpa diminta pun, sebenarnya saya sudah punya rencana sendiri."
"Rencana?" tanya Pak Rahmat penuh minat.
__ADS_1
Mike mengangguk. "Saya tidak bisa menjanjikan gaji naik saat ini mengingat finance Cabang ini belum stabil. Tapi jika setiap bulan target per divisi bisa tercapai, saya ingin memberikan... insentif."
"Bisa dijelaskan lebih lanjut, Pak Mike? Sejujurnya... kami tidak terlalu mengerti," kata Pak Rahmat yang diikuti oleh anggukan para karyawan lapangan itu.
"Selama ini kalian mungkin sudah tidak lagi mendapat bonus, bukan? Insentif ini kurang lebih sama, tapi dihitung per tiga bulan. Jika target penjualan atau proyek dari divisi tertentu melebihi target, sekitar... ya mungkin 10% atau 20% lebih besar, maka senilai itu akan menjadi insentif setiap karyawan di divisi itu. Tentu ada perhitungan sendiri sesuai kontribusinya. Kalau itu terlaksana dengan baik, itu bahkan jauh lebih menguntungkan dari permintaan Anda semua."
"Apa itu juga berlaku untuk proyek maintenance dan konstruksi, Pak?" sela salah satu karyawan penuh semangat.
"Tentu saja. Tapi sesuai porsinya. Nanti akan dijelaskan lebih lanjut oleh Direktur Keuangan dan Personalia."
"Saya setuju! Saya setuju!"
"Tunggu dulu... " Mike tertawa kecil, ia menggeleng. "Saya belum selesai menjelaskan."
"Si...silakan, Pak!"
"Karena situasi saat ini sangat buruk. Mau gak mau, kita semua harus mulai dari awal. Jadi... saya akan mendatangkan beberapa trainer yang ahli di bidangnya sehingga Anda semua bisa meningkatkan kualitas hasil kerja. Hanya ini satu-satunya cara agar bisa membedakan perusahaan ini dengan yang lain."
"Tapi nanti kalau sudah berlatih dan lalu pindah kerja bagaimana, Pak?"
Mike tersenyum simpul. "Makanya kita harus punya kesepakatan dulu nih. Tentu dalam bentuk tertulis. Sistem kontrak kerja yang baru. Bagaimana?"
Tak ada jawaban, para karyawan hanya saling memandang sebelum tertuju pada satu orang. Pak Rahmat, pimpinan mereka di lapangan.
"Apakah kontrak itu akan berisi berapa lama kami bekerja dan setelah itu kami harus berhenti setelah waktunya, Pak?"
Hanya tawa Mike yang terdengar. "Kenapa? Anda kuatir dipecat setelah selesai kontrak?" Ia tak perlu jawaban, sorot mata semua orang sudah menjawabnya.
"Biaya pelatihan itu tidak murah. Saya hanya memastikan selama periode tertentu, seorang karyawan membayar hasil pelatihan itu dengan hasil kerjanya. Jika terpenuhi, maka selanjutnya tak perlu ada kontrak lagi. Tapi jika tidak terpenuhi, saya akan mengembalikan pada keputusan bersama manajemen di sini, termasuk pada manajer lapangan. Bukankah kegagalan satu orang akan sangat berpengaruh pada kegagalan satu tim?"
Semua mengangguk serempak.
"Latihan rajin, kualitas yang baik, target tercapai, insentif pun bisa didapatkan. Bukankah ini kesepakatan sederhana yang bagus?"
Saat semua orang tersenyum puas, Mike tahu ia telah memenangkan negosiasinya. .
Mike bahkan tak menyangka kalau negosiasi dengan karyawan yang berdemo itu berujung dengan kesepakatan yang diakhiri dengan pelukan persahabatan yang akrab.
Semua karena Love.
Idenya menggunakan prinsip 'the power of ownership feeling' tiba-tiba muncul begitu saja. Membuat para karyawan merasa memiliki perusahaan dan peduli dengan situasi seakan-akan sebagai penentu keputusan. Mike juga akan memastikan semua yang ia janjikan akan ia berikan.
Gadis yang baru dua hari ini sudah membuatnya merasa kesal sepanjang waktu. Tapi sekarang semua masalahnya justru diselesaikan oleh gadis itu.
Dengan wajah berseri, Mike bergegas menuju paviliun. Hari sudah sore, tapi ia ingin mengajak Lovely menikmati kota Bontang sebentar. Ia tahu, Love pasti ingin sekali jalan-jalan.
Tapi saat ia masuk ke dalam paviliun... saat kakinya menginjak sesuatu tanpa sengaja dan itu adalah... potongan keripik kentang yang berserakan... emosi Mike mengumpul kembali. Meledak.
"Astaga! Love ini apa-apaan!!! Kenapa kamu numpahin sampah di sini?!!" tanya Mike dengan suara keras.
Gubrak! Gabruk! Awww!
Suara orang terjatuh, dan langkah orang berlari terdengar dari dalam kamar.
Gadis yang ia teriaki muncul dengan rambut bergelung tak karuan, mulut penuh keripik dan tangan memegang lipstik.
Di belakangnya, ada Dina yang menyusul dengan tangan masih memegang alat penggulung. Masih mengenakan blus dan celana setelan kerjanya. Tapi ia nyaris tak berbeda dengan Love. Rambut Dina juga sama-sama digelung tak karuan dan wajah keduanya...
Penuh dengan coreng moreng lipstik tak karuan!!
Mike menatap keduanya.
Apa yang mereka lakukan sampai paviliun ini berubah menjadi proyek kapal pecah lengkap dengan dua gadis seperti monyet besar bodoh yang pernah ia lihat?!
__ADS_1
****