
Di dalam mobil, Love membuka matanya, menggeliat perlahan. Otaknya sibuk mencerna, saat ia mengedarkan pandangan.
Ini di mana? Mobilnya lebih kecil. Supirnya juga beda. Semuanya berbeda.
"Sudah puas tidurnya?"
Pertanyaan itu membuat Love menoleh ke sebelahnya. Eh... Dia!
Sambil melirik pria yang bertanya di sampingnya itu, Love bisa merasakan sudut bibirnya yang sedikit basah.
Astaga! Ini... ini iler!
Buru-buru Love menoleh ke arah lain, mengusap jejak-jejak air liur dan mengucek matanya berulangkali. Tapi dari pantulan kaca mobil, ia bisa melihat rambutnya yang berantakan bak singa.
Aduuh!
"Kenapa Love di sini?" tanya Love saat menoleh kembali. Memandangi Mike yang tampak sibuk membaca lembaran dokumen tebal.
Mike mengangkat kepalanya sedikit. "Harusnya aku yang nanya gitu sama kamu. Kamu ngapain ikut-ikutan rombongan perusahaanku tadi?"
Love menggaruk kepalanya.
Iya ya kenapa gue mengikuti rombongan ini? Bukannya gue juga tadi... Astaga! Gue belum memberitahu Mbak Riri!!!
Love terkesiap. Tubuhnya berputar ke kanan dan ke kiri.
Ransel gue di mana? Ponsel gue di mana?
Tahu apa yang dicari Love, Mike mengambil tas ransel yang tadi ia letakkan di belakang. Love menerimanya dengan terburu-buru, merogoh kantong mencari ponsel. Tapi layar ponselnya gelap gulita.
Ah iya, tadi ponselnya kehabisan baterai.
"Semua sudah tahu kamu di sini. Acaramu diundur sampai hari Minggu. Kita sudah terlanjur ke Bontang, sebentar lagi sampai. Kamu gak usah kuatir. Nanti supir yang akan antar ke Balikpapan," kata Mike menjelaskan tanpa menoleh dan tetap membaca dokumen di tangannya.
Love berusaha memahami penjelasan Mike. "Bontang? Balikpapan? Maksudnya kita ini lagi jalan ke kota lain?"
Kali ini Mike berpaling dan menatap Love dengan matanya yang menggelap. "Kamu gak tahu kalau tadi bis yang kamu naiki itu langsung ke Bontang?"
Love menggeleng. Mata beningnya tampak bingung.
"Kamu gak tahu kalau seharusnya malam ini kamu ada pekerjaan di Balikpapan dan seharusnya kamu gak ikut bis orang sembarangan?" tanya Mike perlahan namun jelas menahan amukan emosi.
Love menggeleng lagi, tapi kemudian mengangguk-angguk cepat. "Itu... itu... Love kira tadi rombongan Mas Mike di Balikpapan aja. Love cuma mau nyapa Mas Mike, habis itu maksudnya Love... Love mau balik ke hotel. Jadi... aduh, ini di mana sih? Bontang itu jauh ya dari Balikpapan?" Lalu gadis itu melirik keluar jendela. Hanya ada pohon-pohon dan kegelapan malam di sepanjang jalan. Ia mulai ketakutan.
"Kamu belajar geografi gak? Kamu gak tau berapa jarak Balikpapan ke Bontang?" tanya Mike dengan nada tajam.
Love meneguk liur. Mata Mike yang biasanya mengagumkan sekarang tampak menyeramkan, jadi ia menunduk dalam-dalam. Seperti anak kecil yang ketahuan berbuat salah. Tangannya saling mencengkeram di depan perutnya. Mulutnya mulai mencebik, menahan tangis.
"Nangis?! Mau nangis kamu setelah bikin semua orang panik? Kamu tahu kayak apa bingungnya manajer kamu, Ricky, Papa dan Ayah kamu nyariin kayak orang gila?" omel Mike. Emosi yang susah payah ia sembunyikan sekarang mulai keluar.
Bibir Love makin maju. Bergetar pelan. Matanya mulai berkaca-kaca, ia makin tak berani mengangkat kepalanya.
Tapi Mike tak mau berhenti. "Kamu tahu mau berangkat sendirian begitu. Hape gak dicharge full. Naik mobil sembarangan, tidur seenaknya! Kamu pikir seluruh dunia ini aman untuk cewek model kamu gitu!?"
Bahu Love bergetar. Ia tak lagi bisa menahan tangisnya. Satu dua titik-titik air mata mulai berjatuhan.
"Sudah! Jangan nangis! Buat apa kamu nangis, hah!?!" bentak Mike keras. Bahkan supir di depan juga tersentak.
"Huaaa.... Huaaa... Huaaa.... Ayaaah! Ayaaah! Huaaa!!!" teriak Love menangis keras.
Supir yang mengemudikan mobil mereka melirik ke belakang melalui kaca spion, kuatir. Ia tak tega melihat gadis secantik Love dibentak-bentak bosnya.
Kontan Mike terdiam. Terkejut melihat gadis itu menangis seperti anak kecil.
"Diam!" kata Mike pelan. Ia sedikit merasa bersalah telah membentaknya.
"Huaaa... Huaaa... Huaaa..."
"DIAM! Atau kuturunkan kamu di hutan sini!" bentak Mike keras. Kesabarannya lenyap sudah.
Mulut Love kontan terkatup meski airmata masih mengalir dan bahunya masih naik turun.
Sementara Mike menarik napas panjang lagi sebelum kembali membaca dokumennya. Love sendiri menunduk. Masih sesegukan. Tapi tak lagi berteriak seperti tadi.
Tapi seluruh konsentrasi Mike sudah buyar. Ia membaca, tapi tak bisa memahami apapun lagi. Seluruh isi kepalanya dikuasai oleh Love.
Gadis cengeng ini benar-benar merepotkan. Manja dan kekanak-kanakkan. Bisa-bisanya dia menangis sekeras itu setelah membuat masalah besar.
__ADS_1
Kepala Mike mau pecah rasanya memikirkan semua masalah perusahaan ditambah kehadiran gadis menjengkelkan yang tak disangka-sangka ini.
Mike tahu, ia akan menghadapi masalah makin besar. Apapun itu, indra keenamnya mulai berbisik memperingatkan dirinya untuk bersiap-siap.
Beberapa menit setelah mobil melaju dan suasana hening melingkupi kabin mobil.
Tuk! Tuk! Tuk!
Satu jari telunjuk mengetuk bahu Mike pelan-pelan. Mike menoleh pada Love yang menatapnya dengan takut-takut.
"Apa lagi?" tanya Mike sambil melempar tatapan jengkel.
"Haaaus..." bisik gadis itu nyaris tak terdengar.
Love belum makan apapun sejak turun dari pesawat.
Suara Leni yang tadi memberitahunya terngiang kembali. Mike melirik jam di tangan kirinya. Sudah hampir delapan jam sejak turun dari pesawat. Pasti gadis ini sudah kelaparan.
Mike menunjuk ke kursi penumpang depan. "Itu ada makanan tadi disiapkan Leni untukmu. Makanlah! Ada minumnya juga."
Suara Mike tak lagi sekeras sebelumnya. Lebih normal meski masih sedingin biasanya.
Senyum Love merekah walaupun airmata masih membasahi matanya. Dengan penuh semangat ia setengah berdiri mengambil kantong plastik yang ada di depan.
"Kok ada dua? Mas juga belom makan?" tanya Love heran saat melihat ke dalam plastik.
Mike tak menjawab. Maka Love mengangkat bahu dan mulai membuka kotak makan. Tak lupa ia menyodorkan sebotol air mineral pada Mike.
Mike menatap botol air itu sebelum berkata, "Saya gak haus. Kamu aja."
"Siapa yang ngasih? Love kan lagi minta bukain!" kata gadis itu polos.
"......" Mike menatap sebal tanpa bisa berkata apa-apa.
"Emangnya kamu gak bisa buka botol air sendiri?" tanya Mike setengah melotot.
Love menggeleng. Mike tak bisa berkata apa-apa.
Benar-benar anak manja!
Meskipun jengkel, Mike memutar tutup botol air mineral itu hingga terbuka sebelum menyerahkan kembali pada Love.
"Ih ini apaan sih? Heh, sayur? Sayur apa ini?"
"Wuaaah, enak juga ikan bakarnya!"
"Beeuh, sambalnya nendang euy!"
"Uwaah, uwaah pedas banget! Minum dulu! Minum dulu!"
Mike melemparkan tatapan jengkel pada Love. "Makan gak pake ngoceh bisa gak sih?"
Love hanya mengangkat tangannya yang memegang botol air mineral sambil mengangguk mengerti. Kali ini tak ada suara lagi selain suara seseorang makan.
Setelah selesai makan, Love mengambil tisu basah dari ransel kecilnya. Gadis itu membersihkan tangannya, lalu memisahkan plastik dan menjadikan satu sisa makanannya di satu tempat dengan rapi. Ia bahkan melipat rapi semuanya, sampai ke kotak makanan yang terbuat dari karton itu. Lalu memasukkan semuanya ke dalam plastik kecil yang ia ambil dari ransel. Plastik itu kemudian ia letakkan dengan rapi di lantai mobil.
"Kamu ngapain?" selidik Mike tak bisa menahan rasa ingin tahunya.
"Ah? Oh itu... Itu tadi memisahkan sampah, Mas. Sampah organik dan non organik. Entar kalo sampe, Love tinggal buang di tempatnya masing-masing," ujar gadis itu santai.
Mike menatap Love tanpa ekspresi. Di London, ia juga melakukannya. Di sana sudah kewajiban bagi penghuni apartemen, tapi di Indonesia, baru Love yang ia lihat melakukannya. Sudut bibirnya terangkat sedikit sebelum kembali ke dokumennya.
Setelah selesai makan, Love menyandarkan punggungnya. Ia melirik pemuda di sampingnya, yang masih saja berkutat dengan dokumen entah-apa. Ia menghela napas. Mulai merasa bosan ia mendekati Pak Supir.
"Gak ada musik, Pak Supir?" tanya Love iseng.
Pak Supir di depan tersenyum kecil. "Radio aja, Mbak. Mau?"
Love menoleh pada Mike. "Boleh nyetel musik gak, Mas?" tanya Love.
"Hmmm," jawab Mike tak peduli.
Love tersenyum dan kembali mengambil ranselnya. Mencopot flashdisk yang tadi bergantung di salah satu hiasan gantungan kunci di tasnya. "Ini, Pak! Setel ini aja!"
Suara musik mulai mengalun dalam mobil itu. Kepala Love mulai mengangguk-angguk.
Lagu apa ini? pikir Mike dalam hati.
__ADS_1
"Wo Eureureong, Eureureong, Eureureong ni... Wo Eureureong, Eureureong, Eureureong ni... Wo Eureureong, Eureureong, Eureureong ni... " gumam Love mengikuti syair yang tak dipahami Mike itu.
Walaupun terganggu, Mike membiarkannya. Percuma juga ia menyuruh gadis cengeng ini berhenti. Daripada dia menangis dan mengoceh tak jelas, setidaknya suara gadis itu memang bagus. Mike tak mengerti syairnya, tapi ia menikmatinya.
Love masih ikut bernyanyi, walaupun hanya di bagian tertentu. Lalu tiba-tiba Love menatap Mike seperti menahan senyum saat sebuah lagu selanjutnya mengalun.
"Just love me right! Just love me right! Just love me right!"
Nyanyian Love berganti dan hanya musik terdengar. Mike berusaha tidak melirik gadis di sebelahnya yang ia tahu pasti sedang menatap ke arahnya. ia bisa merasakan jok mobil yang bergerak karena tubuh Love yang bergoyang mengikuti irama.
"I can do this all night long baby nega eomneun nan eodil gado banjjokjjarinikka ou!"
Mike menarik napas, berusaha menahan diri.
*Perhatikan isi dokumennya, Mike!*Come on, you can do it!
Tapi lagu berikutnya benar-benar membuatnya tak tahan.
"It's the love shot! Na nanana nananana, Na nanana nanana, Na nanana nananana. Oh oh oh oh oh. It's the love shot! Na nanana nananana, Na nanana nanana, Na nanana nananana. Oh oh oh oh oh," nyanyi Love sambil menggoyangkan badan dan tangannya menunjuk ke arah Mike berulangkali.
Mike menoleh lalu berdesis, "Matikan, Pak! Berisik!"
Buru-buru Pak Supir mematikan musik. Padahal kepala si Pak Supir sudah mulai mengangguk-angguk mengikuti irama. Flashdisk Love pun dilepaskan dan ia serahkan kembali pada Love.
"Iissh! Pelitnya!" gumam Love kesal.
"Masih lama gak ini nyampenya, Pak?" tanya Love lagi dengan mulut merengut.
Pak Supir tersenyum ramah. "Sebentar lagi, Mbak."
"Syukurlah! Bokong Love udah panas tau, Pak. Hati Love juga makiiin panas duduk di sebelah gunung api gini... Bontang itu jauh juga ya!" sindir Love sambil melirik pria di sebelahnya. Mike tetap tak peduli.
Pak Supir mengangguk. "Iya Mbak. Kalo gak biasa emang begitu. Badan bisa meretek."
"Udah lama jadi supir, Pak?" tanya Love ramah, memecahkan keheningan.
"Udah separo hidup saya, Mbak. Udah 20 tahun."
Love berdecak. "Lamanya!! Umur Love aja baru 17. Eh enggak, 16 tahun kurang 10 hari."
Mendengar informasi itu, Mike yang sedari tadi ikut menguping, sedikit melirik Love.
Gadis ini bahkan belum 17 tahun?
Pak Supir terkekeh. "Waah, kurang lebih anak gadis saya, Mbak. Anak saya 18 tahun. Udah kuliah."
"Kalo gitu panggil Love aja, Pak. Love kan hampir seumur anak Bapak."
"Oke, oke!" jawab Pak Supir dengan gembira.
Ia beruntung malam ini punya penumpang cewek yang tidak hanya cantik tapi juga ramah dan baik. Kelelahannya sedikit berkurang. Bagaimana bisa gadis sebaik ini dibentak-bentak oleh Mike tanpa terlihat sedih sama sekali? Mungkin inilah yang disebut cinta.
Kehabisan bahan mengobrol, Love mulai berpikir dan kemudian berkata. "Pak, Love pengen nanya deh!"
"Ya apaan, Lov?" tanya Pak Supir dengan nada akrab..
"Pak, kenapa eek kucing selalu dikubur?" tanya Love sambil melirik Mike sedikit. Ia ingin membalas cowok pendiam, sombong, dingin dan pemarah itu.
Lagi-lagi Pak Supir terkekeh. "Udah dari sononya kali, Lov. Dari zaman batu juga kucing itu binatang paling sopan."
"Salaaah... " Senyum Love merekah lebar.
"Terus apa?" tanya Pak Supir heran.
"Takut diambil sama orang galak yang namanya Mike!"
Tawa Pak Supir itu meledak seketika. "Ha ha ha! Ha ha ha! Love... Love... "
Sementara yang disindir seketika berpaling dan menatap kesal pada Love. Tapi saat Mike hendak membuka mulut, di depan mereka terlihat cahaya terang kota mulai tampak. Mobil sudah memasuki kota Bontang.
"Waah kita mau nyampe ya, Pak?" tanya Love penuh semangat
"Diam bisa gak sih? Berisik banget dari tadi!" seru Mike memotong obrolan. Love langsung mingkem, demikian juga Pak Supir yang masih tersenyum-senyum mengingat candaan Love.
Dalam hati Pak Supir. Sungguh beruntung pria tampan itu, punya pacar yang tak hanya cantik dan ramah, tapi juga lucu.
*****
__ADS_1