CLBK (Cinta Love Bikin Kesal) 2020

CLBK (Cinta Love Bikin Kesal) 2020
Episode 3 - Unexpected Meeting


__ADS_3

Sampai pesawat yang mendarat di tanah Balikpapan, tak ada halangan berarti untuk Love. Ia bahkan tak membawa apapun selain ransel di punggungnya karena semua sudah dibawa oleh Riri.


Tapi tadi pagi, Love sempat terkejut saat melihat Ricky sudah menunggunya di depan mobil bersama Anto yang sibuk memanaskan mesin.


Setelah diantar Ricky dan Anto, dan mendengarkan nasihat panjang kali lebar nyaris satu jam tentang bahaya perjalanan sendirian, akhirnya Love hanya ingat satu pesan Ricky. "Kalo lu ngerasa takut atau bingung, telepon gue! Gue pasti nyusul lo. Gue liburnya masih lama."


Kadang Love bingung kenapa Ricky selalu melindunginya seperti anak kecil?


Ayah yang biasanya sangat protektif saja akhirnya melepaskan Love tanpa banyak bicara. Ayah hanya meminta Love menelpon setelah tiba. Memang ada beberapa saran dan nasihat lain, tapi itu juga tak banyak.


Bukannya Love tak pernah berpikir jangan-jangan Ricky suka padanya. Tapi kemudian ia berpikir sederhana. Ia saja bisa menganggap Ricky sebagai abang, maka sudah pasti Ricky pun sama. Sudah bertahun-tahun sejak keluarga Ricky pindah ke rumah sebelah dan tak pernah ada hal aneh yang terjadi.


Bagi Love, mencintai Ricky melebihi perasaan itu akan seperti hubungan inses... mencintai saudara sendiri. No way!


Sekarang Love bisa bernapas lega, ia sampai dengan selamat dan benar-benar menikmati perjalanannya. Pemandangan laut yang luar biasa dari jendela saat pesawat turun tadi membuatnya berpikir untuk memaksa Riri mengajaknya ke pantai berpasir putih yang seakan tak ada ujungnya itu setelah acara selesai. Waaah, Love benar-benar tak sabar.


Dengan santai Love memilih turun paling terakhir. Ia bahkan menyapa riang para pramugara dan pramugari yang mengantar kepergiannya di sepanjang koridor dan pintu pesawat.


Untuk pertama kalinya Love datang ke kota ini sendirian. Sebelumnya, selain bersama Ayah, ia selalu datang bersama Riri dan rombongan timnya.


Jika selama ini ia nyaris tak pernah memperhatikan apapun karena sibuk menyembunyikan dirinya, kini ia bisa bebas berjalan di tengah keramaian hanya bermodal masker, topi dan kacamata. Ia juga sengaja mengenakan celana jins dan sweater biru tua polos agar tak menarik perhatian. Tak ada yang akan mengenalinya.


Siapa yang akan tahu kalau seorang artis ternama berani melakukan perjalanan sendirian tanpa rombongan tim performance-nya?


Karena tak membawa apapun selain ransel kecil di punggungnya, Love langsung keluar dari gedung bandara itu. Ia menarik dan menghela napas dengan lega, sebelum melirik ke kiri dan kanan, mencari orang yang akan menjemputnya.


"Entar ada si Pipit sama Ali yang jemput kamu. Tunggu aja di situ! Jangan ke mana-mana!"


Love teringat pesan Riri yang ia katakan berulangkali sejak semalam. Mungkin dua orang itu belum tiba. Jadi Love bermaksud mengirim pesan dulu ke Riri, memberitahu kedatangannya. Tapi ketika ia baru saja mengambil ponsel, saat itulah tak sengaja ada rombongan melintas di depannya.


Rombongan itu keluar dari pintu lain. Mereka semua memakai baju seragam biru tua dengan celana tempur hitam dan bot hitam. Semua menggendong ransel besar. Logo warna emas kecil di kaus bagian dada kiri mereka segera dikenali oleh Love. Mahkota Grup. Grup perusahaan milik Om Wibowo.


Apa Om Wibowo juga sedang ada di Balikpapan? Kenapa Ricky gak cerita?

__ADS_1


Love mulai memperhatikan satu persatu, tapi ia tak mengenali mereka semua. Tak lama muncul rombongan kedua. Kali ini jumlahnya jauh lebih sedikit dengan pakaian yang berbeda. Sama-sama berwarna biru tua dan berlogo mahkota emas, tapi bentuknya jas resmi. Jelas terlihat kalau rombongan kedua ini adalah kalangan elit perusahaan. Kali ini tanpa perlu mencari-cari, Love menemukan sosok yang ia kenal.


Tapi dia bukan Om Wibowo. Dia adalah Mike. Si tampan tanpa senyum yang kemarin dikenalkan oleh Om Wibowo sebagai putra sulungnya. Ia tak mungkin salah mengenalinya, karena pria itu berjalan mendekatinya.


Baru saja tangan Love hendak terangkat untuk memanggil, kepala Mike sudah menoleh dan matanya tertuju persis ke arah Love, membuat tatapan mereka bertemu.


Love tersenyum manis sebisanya untuk membuat Mike teringat padanya, tapi pria itu malah kembali melihat ke lawan bicaranya dan berjalan melewati tanpa mempedulikan Love sama sekali.


Hellllo!!! Dicuekin itu sangat menyebalkan saudara-saudara!


Love menahan geram. Kakinya bergerak hendak mengejar, tapi kemudian ia sadar saat melihat bayangannya yang memantul di dinding kaca. Pantas saja Mike tak mengenalinya. Ia masih memakai semua perlengkapan samarannya. Tapi tak mungkin ia melepaskan semua itu di tengah keramaian orang berlalu lalang ini. Satu-satunya cara adalah menyusul pria itu, menemuinya di tempat yang lebih sunyi atau setidaknya di tengah lingkungan yang mereka kenal.


Buru-buru Love mengikuti langkah rombongan itu. Tapi kedua kaki mungilnya kesulitan menyamai langkah rombongan pria itu, apalagi sambil menghindari orang-orang yang memenuhi selasar besar bandara yang didominasi cat silver dan putih itu.


Love mulai kehilangan jejak dan nyaris putus asa ketika ia sampai di tempat parkir. Rombongan berseragam biru tua itu sudah tak lagi terlihat. Dengan bahu merosot ia berniat kembali ke tempat sebelumnya, sampai menemukan dua orang berdiri di dekat jajaran bus-bus besar. Salah satunya adalah seorang pria yang mengenakan seragam yang ia cari.


Buru-buru Love mendekati keduanya. Ia nyaris berlari.


"Mbaak! Kakak!" panggilnya.


"Sos... sorry!" kata Love terengah-engah. Buru-buru ia membuka kacamata dan maskernya. "Ini rombongan Mas Mike ya? Michael Ekaputra?" tanya Love cepat begitu napasnya teratur lagi.


Sang wanita mengangguk. "Anda ini... "


"Mas Mike sekarang di mana? Aku Lovely, Love... mmm... pacarnya!" aku Love tanpa ragu. Ia tersenyum meyakinkan. Peduli amat! Urusan Mike marah. Itu urusan nanti. Selama ada Om Bowo yang memback-up, Love tak takut.


Pria berseragam tampak tersenyum kecil. Sedikit geli. Ia tentu kaget, tak menyangka boss baru grup Mahkota ternyata punya selera yang benar-benar berbeda dari bayangan siapapun. Siapa sangka pria muda dengan kharisma pemimpin dan aura penguasa yang luar biasa seperti itu bisa memiliki pacar seorang gadis muda begini?


Tapi kening wanita muda itu justru tampak berkerut. Berbeda dengan respon pria berseragam itu, wanita muda bernama Leni jelas terkejut. Ia sudah menjadi sekretaris Mike sejak pria itu menangani kantor cabang di Inggris tiga tahun lalu.


Setahu Leni, Mike tak pernah berhubungan dengan perempuan manapun selain ia dan keluarga pria itu sendiri. Jelas ia kaget saat Mike yang baru satu hari resmi menjadi Presiden Direktur, tiba-tiba memiliki seorang kekasih. Yang lebih mengejutkan gadis itu sangat muda. Usianya mungkin belum mencapai dua puluh tahun.


Belum lagi mereka sempat bicara, telepon genggam di tangan Love berbunyi. Love tersenyum saat melihat layar ponsel yang menunjukkan identitas si penelpon.

__ADS_1


"Ah, ini Ricky. Adiknya Mas Mike... Sebentar ya, Love jawab dulu!" kata Love sambil menunjukkan layar itu pada Leni.


Ada foto Ricky dan Love di situ. Lalu gadis itu menarik ponselnya dan mengusap tombol speaker.


"Ve, udah sampe?" Suara Ricky bergema.


Love mendekatkan ponsel ke bibirnya. "Udah! Rick, gue ketemu rombongan Mas Mike di sini. Mas Mike lagi ke Balikpapan juga?"


Sesaat tak ada jawaban lalu terdengar Ricky berteriak, "Paaah! Aa Mike ke Balikpapan ya?"


"Iyaaa!" suara dari kejauhan seperti Om Wibowo terdengar menyahut.


Walaupun terdengar jauh, Leni mengenali suara Ricky dan Om Wibowo dengan baik. Senyum tipis muncul di bibirnya. Ia mengangguk pada Love. Keraguannya seketika sirna. Love pun buru-buru mematikan speaker dan mulai berbicara secara pribadi.


"Iya tuh katanya, Ve. Tapi ngapain lu ketemu sama Aa? Udahlah, lu kan udah jadi pacar gue," kata Ricky asal.


"Apaan sih? Sembarangan lu kalo bicara, Rick! Gue kan cuma mastiin doang. Gue juga lagi ada kerjaan. Orang-orang pada gak percaya nih! Lagian kakak lu kok gak cerita-cerita kalo dia mau ke sini sih? Kan bisa barengan."


"Yeee lu siapa, Non? Kenal juga baru kemaren. Eh, jangankan elu yang baru kenal, lah gue yang statusnya adik aja gak tau dia mau ke sana. Udah ah jangan nyeritain kakak gue mulu! Kalo udah nyampe hotel lu telepon ya? Kita ngobrol lagi."


Love hanya menjawab dengan hmm hmmm sebelum tiba-tiba teleponnya mati sendiri. Kehabisan batere. Love menghela napas.


Sekretaris Mike segera mendekat. "Pak Mike sudah pergi duluan tadi naik mobil, Mbak. Kalau Mbak mau ketemu Pak Mike, mau gak mau harus ikut kita naik bis ini. Mau gak?" tawarnya.


Love melirik dua bis besar yang berjajar. Dari balik jendela bis, ia bisa melihat wajah-wajah yang ingin tahu. Ia tersenyum dan mengangguk pada mereka. Seketika suasana riuh terdengar.


Love menoleh pada Leni. "Ya udah, Mbak, Love naik yang mana?"


"Ayo, Mbak! Ikut saya!" kata Leni ramah. Sekilas Leni merasa pernah mengenali wajah gadis ini.


"Mbak... mmm... jangan panggil Mbak, Mbak. Mbak kan lebih tua. Panggil aja Love!" Love tersipu.


"Boleh?" tanya Leni memastikan. Love mengangguk penuh semangat.

__ADS_1


"Oke... Namaku Leni Ollyana. Senang berkenalan denganmu, Lovely. Namamu unik dan semanis orangnya." Leni mengulurkan tangannya dengan tersenyum tulus.


Barisan gigi putih yang rapi terlihat di wajah Love. "Sama-sama, Mbak Leni! Love juga senang kenalan sama Mbak."


__ADS_2