
Love bangun menjelang pagi. Ia memicingkan mata dan semuanya terlihat masih gelap gulita. Gadis itu berguling dan menyalakan lampu di samping tempat tidur.
Untuk sesaat Love tampak bingung melihat suasana asing, sebelum mengingat yang terjadi semalam. Seketika matanya terbelalak.
Dengan kaki telanjang, Love turun dari tempat tidur dan keluar kamar. Di luar juga masih remang-remang. Tapi Love bisa melihat ada seseorang sedang tertidur di sofa.
Ah dia... Manusia tampan tapi pemarah itu. Mr. Angry Man.
Pria itu tidur masih mengenakan baju yang kemarin Love lihat terakhir sebelum dia pergi. Kemarin kemeja itu tertutup jas. Sekarang, sudah kusut tak karuan. Bahkan dua kancingnya telah terbuka. Sebuah Ipad bertelungkup di atas dadanya. Sementara selimutnya terjatuh di bawah sofa.
Mungkin semalam ia tertidur saat sedang membaca Ipad.
Love tersenyum sebelum mendekat dan mengambil Ipad itu, memperbaiki selimut Mike sebelum ke dapur mengambil segelas air putih dan membawanya ke kamar.
Sayup-sayup terdengar adzan Subuh dan Love ingin menunaikan sholat dulu sebelum membangunkan Mike nanti.
Saat ia menutup kembali kamar, mata Mike terbuka pelan. Memperhatikan pintu kamar cukup lama, sebelum ia duduk. Kepalanya sedikit pusing, membuatnya terpaksa duduk sambil memijat dahi sebentar dan kembali menyandarkan kepala di sofa.
Kurang tidur, banyak pikiran, dan hatinya yang sedang bimbang, benar-benar melelahkan. Terlalu banyak masalah terjadi bersamaan. Tak disangka hanya dalam hitungan hari ia mulai menyesali keputusannya kembali ke Indonesia.
Mike mengetuk pintu kamar setengah jam kemudian, saat Love sudah selesai mandi dan sholat.
Tak banyak bicara, Love membukakan pintu dan ia sendiri keluar dari kamar. Membiarkan Mike menggunakan kamar mandi.
Untuk beberapa waktu, Love sibuk menghubungi Riri dan membicarakan masalah konser kecil yang diundur. Sementara Mike sendiri sibuk bersiap, menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
Saat Mike keluar dari dapur, gadis itu masih sibuk berbicara, ia tampak berbeda. Mike merasakan aura Love yang memancarkan keanggunan. Tapi begitu ia selesai menelpon dan menoleh...
"Yuhuuu, Mas Ganteng! Sarapan apa kita hari ini?" pekik Love sambil melompat turun ke dapur.
Seketika itu juga Mike tahu ia hanya melihat fatamorgana. Tanpa berkata apapun, ia meletakkan nasi goreng yang ia buat untuk mereka berdua di meja dapur. Tanpa disuruh, Love membawanya ke ruang makan.
Tak berapa lama, mereka berdua sudah duduk di meja makan. Love masih saja sibuk dengan ponselnya. Bukan lagi karena urusan pekerjaannya, tapi karena ia sibuk memeriksa IGnya.
Sambil menyantap nasi goreng, Love tetap memandangi layar ponsel. Sesekali suara cekikikan terdengar, membuat Mike berkali-kali mendongak dan menghela napas panjang. Tapi Love tak urung menyadari kekesalan di wajah pria itu.
"Love, sarapan jangan sambil lihat hape!"
"Mmmm... " Love tak mengindahkannya. Tetap saja ia tersenyum-senyum sendiri.
"Love... "
Love mendongak. "Ah? Ah iya ya... sebentar. Ini lucu. Hihihihihi! Lihat nih! Lihat nih!"
Gadis itu mengangkat ponselnya, berniat untuk memperlihatkan pada Mike, tapi dengan wajah datar, tangan Mike meraih ponsel Love, melihat sebentar lalu meletakkannya persis di sampingnya.
Iiisssh... Jahatnya!!!
Bibir Love langsung cemberut. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa.
"Kamu di sini saja, nonton televisi atau main laptop. Nanti ada orang nganterin baju ganti dan perlengkapan buatmu. Ganti bajumu! Jangan ke mana-mana!"
"Loh, Mas sendiri mau ke mana?"
Mike hanya menarik napas. "Aku ke sini karena urusan pekerjaan, Lov! Tentu saja ... be.ker.ja."
Nenek-nenek juga tahu dia mau kerja, tapi kerja di mana dan sedang apa? Itu inti pertanyaan Love. Tapi akhirnya dia malah bertanya, "Boleh ikut gak?"
"Enggak!" jawab Mike cepat.
"Isssh!" desis Love sebal.
"Kamu itu sudah utang banyak sama saya, Ve. Udah jangan macam-macam! Ngerti?" kata Mike tenang.
__ADS_1
"Utang? Utang apaan?" tanya Love bingung.
Kapan gue pinjam uang? Atau karena dia membelikan beberapa baju. Memangnya seberapa mahal sih baju doang??
Mata Mike menyipit saat mendongakkan wajahnya. "Semalam kamu buang anggur dan bir berapa botol? Kamu tahu gak itu berapa harganya?"
Sesaat Love mengingat, sebelum momen 'Aha!' dan berkata cepat, "Eh, Mas Mike... Minuman keras itu dilarang loh. Haram! Love kan cuma nyelamatin Mas dari pintu neraka!"
Mike menghela napas panjang, ia meletakkan sendok dan garpu lalu menatap Love lekat-lekat. "Lovely, anggur dan bir itu buat tamu-tamu bisnisku. Mereka itu non Islam dan itu bagian dari strategi bisnis. Malam ini aku harus menjamu mereka agar kontrak proyek perusahaan tidak dibatalkan dan sekarang aku harus nyuruh Leni memesan secepat mungkin untuk dikirim ke sini. Kamu tau berapa yang harus kubayar untuk semua itu?"
Bahu Love menyurut. "Tapi kan Love gak buang semuanya. Yang di atas itu masih ada."
Mike menatap sinis. "Kenapa gak kamu sekalian buang aja?" sindirnya.
"Gak nyampe. Love udah pake kursi tapi tetap gak nyampe, hehehe... "jawab Love sambil terkekeh.
Mike kehilangan kata-kata. Akhirnya ia memilih diam sebelum menegaskan sekali lagi. "Pokoknya kamu stay di sini. Awas kalo aku pulang kamu ngelayap lagi!"
Love tak menjawab. Hanya bibirnya makin monyong di balik punggung Mike. Memangnya dia siapa bisa mengatur-atur Love? Ganteng tapi galak. Ganteng tapi cerewet. Pokoknya kalau nanti dia sudah jatuh cinta sama Love, Love akan membuatnya menjadi bucin sejati!!
Belum tahu siapa gue sih... Lihat saja!
Tanpa peduli larangan Mike, tak lama setelah pria itu pergi, Love sudah bersiap-siap. Ponselnya harus terisi penuh dulu sebelum pergi agar orang-orang bisa menghubunginya. Menyesal semalam ia tak bertukar nomor ponsel dengan Leni. Tapi biarlah... Love tak ingin menunggu lebih lama di dalam paviliun ini sendirian.
Ternyata, areal perusahaan ini cukup luas. Letak paviliun berada di atas bukit, dan saat Love berada di halaman, ia bisa melihat di bawah sana terdapat mess para karyawan dengan beberapa fasilitas olahraga.
Ada beberapa gedung lain yang cukup besar, tapi Love tak tahu fungsi gedung-gedung itu.
Namun, Love mendengar sayup-sayup suara-suara orang. Tidak jelas. Tapi cukup berisik. Love menduga ada orang-orang yang sedang berkumpul di suatu tempat. Jadi ia mulai dengan menyusuri asal suara itu.
Asal suara itu terdengar dari arah depan areal perusahaan. Tapi karena ada gedung kantor, Love tak bisa melihatnya. Ia pun berjalan memutar melalui jalan samping gedung.
Dugaan Love benar. Ada sekumpulan orang berseragam sedang berkumpul di depan gedung kantor. Suara itu berasal dari suara mereka yang sedang duduk-duduk mengobrol, berpencar di halaman. Ada yang duduk, ada yang berdiri. Mereka tampak santai. Seperti sedang menunggu sesuatu.
Tanpa takut, Love terus berjalan. Kali ini ia memutuskan untuk mendekati mereka.
"Halo... " sapa Love dengan senyum manis.
Dua pria yang sedang berjongkok, langsung berdiri dan terkesiap melihat ada gadis cantik menyapa mereka. "Ha... halo."
Sementara yang lain juga perlahan menyadari. Semua mata kini tertuju pada Love.
"Ini lagi ngapain ya?" tanya Love ramah pada salah satu pria yang tadi membalas sapaannya.
Pria muda itu tampak bingung, sekaligus jengah disapa Love tapi kemudian ia menjawab malu-malu, "Kita lagi demo, Mbak!"
Love sudah sering melihat demo aneka macam di televisi, tapi baru kali ini ia berada di tengah-tengah massa yang sedang mendemo. Ia tak bisa menyembunyikan antusiasme. "Hah? Demo apaan? Ini semua lagi demo juga?"
Pria muda itu mengangguk lagi. "Iya, Mbak. Kita semua.... Kita lagi demoin kebijakan perusahaan, Mbak."
"Oooh... " Love mengangguk-angguk meski ia tak terlalu mengerti. Lalu mata yang besar itu membulat. "Boleh ikutan gak?" tanyanya penuh semangat.
"Hah?" Gantian pria muda itu yang kebingungan. Juga temannya yang tak bisa menyembunyikan senyum.
"Memangnya Mbak karyawan sini?" tanya pria lain lagi yang mendatangi mereka bertiga. Pria yang baru datang ini jauh lebih tua dari dua pria sebelumnya.
Love tertawa. "Aku masih sekolah sih, hehehe... Tapi kayaknya menyenangkan. Rame. Aku boleh ikut ya, Om?"
Pria itu tertawa. Tapi akhirnya ia mengangguk. "Namanya Mbak siapa? Kenalan dulu... Saya Rahmat, supervisor anak-anak ini!" katanya menjelaskan sambil menunjuk ke arah 'anak-anak' yang ia maksud, para pendemo.
"Oh, aku Lovely, Om. Panggil aja Love!"
Suara-suara siulan dan decak terdengar bersamaan di belakang Pak Rahmat. Jelas saja. Nama unik Love selalu membuat dirinya menjadi bahan senyuman. Ditambah wajah cantik yang rupawan, kombinasi ini jelas menarik perhatian para pria.
__ADS_1
Satu persatu memperkenalkan diri. Rizal, Awal, Deni, Amir, Burhan, dan entah siapa lagi. Dengan penuh semangat, Love menyalami mereka semua.
"Kayaknya pernah lihat Mbak Love ini di mana gitu... Tapi gak tau deh... Aku lupa, ha ha ha... " komentar salah satu dari pendemo itu.
Love hanya tersenyum-senyum. Lalu Pak Rahmat menyodorkan ikat kepala. "Pakai ini, Lov! Biar kamu bisa ikutan."
"Siaaap!" jawab Love makin bersemangat. Akhirnya bisa merasakan ikut demo juga. Tak perlu menunggu harus jadi mahasiswa.
Love memandangi sekelilingnya saat ia sudah duduk di samping Pak Rahmat.
"Eh, tapi kok kita pada duduk-duduk di sini, Pak? Gak teriak-teriak gitu?" selidik Love bingung.
Pak Rahmat tertawa. "Soalnya Boss besarnya lagi gak ada di kantor juga, Lov. Entar kalo dia udah nyampe, baru deh kita mulai lagi."
Love mengangguk-angguk mengerti. Tentu saja. Buat apa buang-buang energi menyuarakan isi hati mereka kalau penentu keputusan tidak ada?
Tapi Love yang pembosan, mulai tak sabar. Ia ingin ikut dalam obrolan para pendemo itu, tapi sejujurnya bahasa mereka sangat berbeda dengan yang biasa ia dengar di Jakarta. Ada kata-kata dalam bahasa khas daerah ini yang tak bisa ia pahami maksudnya. Mata bening besarnya itupun mulai mengedarkan tatapan ke sekelilingnya, tak sengaja tertumbuk pada gitar yang sedang dipegang seorang pendemo. Ia mendekatinya bagai kilat.
"Kak, aku mau pinjem boleh ga?" tanya Love sembari menunjuk gitar.
Pria muda itu segera bangkit dan menyerahkannya tanpa banyak bicara.
Dengan senang, Love kembali duduk di dekat Pak Rahmat. "Om, aku nyanyiin lagu aja deh ya. Bosen gak ada kerjaan! Gimana?"
"Loh, Love bisa nyanyi?" tanya Pak Rahmat.
Love mengangguk penuh semangat. "Iya dikit-dikit. Dibantuin tapi yak? Siapa tau suaraku fals."
"Ya udah... nyanyi aja! Si Awal sama Deni juga pinter nyanyi tuh. Biasa karaoke-an mereka!" seru Pak Rahmat.
Amir yang berdiri paling dekat menyodorkan tangan. "Sini, Lov! Biar aku aja yang mainin. Kamu yang nyanyi. Gimana?"
Love mengangguk. "Mau dinyanyiin lagu apa nih?"
"Gimana kalo Lagu Dewa 19 aja, Lov?" tanya Amir menawarkan. Love pun mengangguk dan menyebutkan sebuah judul. Amir langsung mencari kunci nada sebelum mulai memainkan gitar.
Tak lama, suara Love sudah mulai terdengar menyanyikan lagu Kangen-nya Dewa 19.
"... Semua kata rindumu semakin membuatku, tak berdaya. Menahan rasa ingin jumpa. Percayalah padaku akupun rindu kamu. Ku akan pulang, melepas semua kerinduan, yang ter... pen... dam... "
Bukannya ikut bernyanyi, semua orang malah memandangi Love dengan kagum. Siapa sangka tubuh kecil mungil dengan wajah cantik itu memiliki suara yang begitu merdu?
Pak Rahmat menatap gadis cantik itu dengan rasa ingin tahu. Ia belum pernah bertemu dengan gadis ini sebelumnya. Ini kawasan perkantoran dan industri. Tak sembarangan orang boleh masuk, apalagi gadis pelajar sepertinya.
Tapi kehadiran gadis itu bisa menghidupkan suasana. Semangat para pekerja yang sedari kemarin merasa tidak dipedulikan pun kembali.
Walau penasaran, Pak Rahmat hanya tersenyum simpul dan diam-diam bersyukur atas kedatangan Love yang tiba-tiba meski misterius.
__ADS_1