CLBK (Cinta Love Bikin Kesal) 2020

CLBK (Cinta Love Bikin Kesal) 2020
Episode 5 - Finding Love


__ADS_3

Setelah melalui jalan yang naik turun berkelok di antara hutan, bis berhenti di sebuah areal datar di atas gunung. Ada jajaran restoran-restoran model terbuka. Di parkiran luas sepanjang daerah itu, sudah ada beberapa mobil dan bis.


Leni melirik Love yang masih tertidur. Ia tersenyum melihat mulut gadis itu yang sedikit terbuka. Lelap sekali tidurnya sampai tak lagi peduli apapun.


Begitu bis berhenti dan asisten supir membuka pintu, bahkan sebelum ada yang turun, Mike sudah menunggu dan langsung naik. Wajahnya terlihat kusut.


Semua orang di dalam bis terdiam melihat boss besar perusahaan mereka yang baru muncul tiba-tibat. Mereka yang tadinya sudah berdiri, bersiap keluar, langsung duduk lagi. Menunggu.


Tapi Mike tak peduli pada mereka. Matanya mencari Love yang tertidur dengan mulut terbuka tepat di belakang supir, di samping Leni yang wajahnya memucat melihat Mike.


"Pa... Pak Mike!" sapanya dengan suara bergetar.


Mike menghela napas, mengangguk pada Leni lalu berkata pelan pada semuanya, "Kalian semua turun, jangan berisik!"


Perlahan semua penumpang bis berdiri serempak, berusaha keras menahan langkah mereka agar tak terdengar, lalu kompak turun dari pintu belakang. Tak ada seorangpun yang berani menoleh ke depan. Supir bis sendiri sampai tersenyum. Baru kali ini ia punya penumpang yang penuh tapi nyaris tak ada suara.


Leni juga mengangguk dan perlahan mengangkat kepala Love yang masih tertumpu padanya. Tapi tangan Love malah memeluk makin kencang.


Mike memberi kode sebelum memegangi kepala Love, menahannya sampai Leni bisa melepaskan diri. Setelah itu dibantu Leni, Mike menggendong Love di punggungnya untuk turun dari bis.


Mata Love terbuka sedikit. "Mmm... Mas Mike?" bisiknya setengah mengantuk.


"Tidurlah!" bisik Mike. Patuh, Love memejamkan mata lagi dan kali ini mengalungkan kedua tangannya ke leher Mike.


Di bawah tatapan ingin tahu banyak mata karyawan dan manajer Mahkota grup, Mike menggendong Love menuju mobil Landcruiser yang sudah ia siapkan. Setelah membaringkan Love di dalamnya, Mike menghubungi papanya.


"Gimana? Love sudah ketemu?" tanya Pak Wibowo cepat begitu telepon tersambung.


"Lagi tidur, Pa!" lapor Mike.


Terdengar helaan napas lega. "Aduh, anak satu itu! Kamu udah hubungi manajernya?"


"Belum, Pa! Nanti setelah telepon ini," ucap Mike singkat.


Pak Wibowo terdengar pasrah. "Kalau begitu telepon dia. Papa akan info ke Pak Hadid. Jaga Love baik-baik ya Mike! Sabar-sabar ngadepin dia ya."


"Baik Pa!" jawab Mike masih singkat.


Selesai menelepon Papa, Mike kembali mengusap layar ponselnya, menghubungi Riri.


Baru sekali berdering, suara perempuan yang sedang panik terdengar, "Ya halo. Gi.. gimana Pak?"


Bibir Mike membentuk garis tipis sebelum menjawab, "Sudah dengan saya. Anaknya lagi tidur."


"Ya Tuhan, Love... maafkan Pak! Maaf banget! Maafkan... Love. Maaf! Maaf!"


Mike menatap ke arah mobil yang tertutup itu. Gadis itu benar-benar pembawa masalah. Manajernya sampai harus berulangkali meminta maaf begini. Mungkin bukan pertama kalinya ia bertingkah seperti ini.

__ADS_1


"Tapi kami sudah ada di tengah jalan menuju Bontang. Paling tidak perlu waktu sekitar 4-5 jam sebelum sampai di sana. Kalian mau jemput anak ini di mana?" tanya Mike.


Ia bisa saja mengatur seseorang mengantar Love, tapi itu juga membuatnya kuatir. Bagaimana kalau gadis ini berulah lagi?


"Itu... acaranya... " Riri kehabisan kata-kata.


Seluruh anggota timnya hanya tahu kota Balikpapan. Tak ada yang tahu jalan menuju Bontang, jadi bagaimana ia bisa mengirim orang untuk menjemput Love? Acaranya juga sudah terlanjur diundur karena artis utamanya menghilang.


"Kapan acaranya?" tanya Mike lagi.


"Tadi saya berhasil nego. Acaranya diundur sampai hari Minggu malam, Pak. Diganti dengan penampilan konser kecil," jawab Riri lemah.


Riri sudah kehabisan ide keluar dari masalah ini dan hanya bisa berharap bantuan Mike. Diundang di satu acara yang dihadiri segelintir orang sebenarnya berbeda tarif dengan tampil di konser kecil. Tapi karena Love, akhirnya ia hanya bisa menerima negosiasi itu.


Mike berpikir sejenak sebelum akhirnya berkata, "Kalau begitu, saya yang akan antar Love langsung ke sana. Kami pulang hari Minggu pagi, kembali ke Balikpapan. Kamu siapkan saja semua. Kirim alamat hotel kalian! Nanti saya info lagi sebelum berangkat."


"Ba... baik! Terimakasih, Pak. Terima kasih banyak. Maaf merepotkan, maaf.... "


Tut!


Telepon sudah diputus begitu saja. Riri hanya bisa meringis. Benar-benar seperti yang digambarkan oleh Ricky tadi siang.


Kakaknya adalah pria paling dingin, angkuh dan kaku sedunia. Riri penasaran ingin melihat tampangnya. Apa yang alasan Love hingga mau mengejar pria seperti itu?


Ia tak tahu kalau saat Mike memejamkan mata, mengatur napas agar bisa mengendalikan emosinya. Terlalu banyak variabel dari semua hal yang ia kerjakan.


Kehadiran gadis ini salah satu yang mengacaukannya. Salah satu variabel yang seharusnya tidak muncul dalam hidupnya.


Susah payah Mike mengumpulkan staf dan karyawan dari cabang lain dan menerbangkan mereka ke Kalimantan Timur ini untuk menggantikan para karyawan yang mogok sementara, tiba-tiba Ricky dan Papa menghubunginya secara mendadak.


"Aa, tolong Aa cari Love! Tadi sore dia sudah tiba di Sepinggan, tapi sampe sekarang belum nyampe hotel. Manajernya nyariin!" kata Ricky setengah berteriak begitu telponnya tersambung.


"Ada urusan apa aku sama Love?" dengus Mike. Ia sedang dalam perjalanan menuju Bontang saat itu, juga sambil mengecek beberapa dokumen bersama direktur keuangan yang ia bawa serta.


Lalu suara lain menyahuti. Suara Papa. "Tadi dia nelepon ketika di Sepinggan, katanya ketemu sama rombongan kamu, Mike."


"Ya mungkin berpapasan, tapi aku gak ketemu. Sudah ya, Pa, Rick! Aku sibuk dan ini sudah di tengah jalan. Rombongan kami juga sudah jauh dari bandara. Hubungi saja manajernya! Gadis itu mungkin sedang main-main di bandara," ucap Mike sebelum menutup telepon tanpa peduli protes Ricky.


Tak lama, masuk lagi telepon lain. Nomor yang tak ia kenal.


Dengan kesal, Mike me-reject-nya dan kembali membahas masalah keuangan bersama Direktur Keuangan yang juga turut serta dalam mobil yang masih melaju.


Nomor itu kembali menghubungi beberapa menit kemudian, tapi Mike tetap tak menjawabnya. Begitu juga ketika Ricky menelponnya sekali lagi, Mike tetap berkonsentrasi penuh pada pekerjaannya. Ia bahkan memilih membalik ponsel tanpa suara itu agar tak melihat siapa yang menelpon lagi.


Baru setelah ia harus memeriksa email masuk, tak sengaja melihat ada notifikasi pesan. Ringan, Mike membacanya.


[Halo, Bapak Mike Yth. Saya manajernya Love, nama saya Riri. Mohon informasi apakah Bapak tahu di mana keberadaan artis saya yang bernama Lovely.]

__ADS_1


[Tadi kami memeriksa cctv dan keterangan beberapa orang, katanya Love ikut rombongan bis dari perusahaan Bapak.]


[Kami juga sudah konfirmasi dengan Pak Wibowo dan Mas Ricky, mereka juga bilang Lovely sempat memberitahu kalau ia bertemu rombongan Bapak.]


[Mohon dibantu, Pak. Sekali lagi saya mohon bantuan Bapak.]


Kening Mike berkerut. Mengapa mereka bertanya padanya? Ia baru kenal gadis itu, untuk apa gadis itu mengikuti rombongannya? Benar-benar tidak penting.


Lalu tak sengaja ia mendengar seruan Direktur HRD yang duduk di depan, samping supir. "Waah, Mbak Leni temenan sama artis cantik ya!" serunya sambil terkekeh menatap ponsel.


Mike terkesiap, dan buru-buru memeriksa akun IG Leni. Jantungnya berdetak cepat saat melihat foto Love yang tertidur di bahu Leni.


Gadis itu benar-benar mengikuti rombongan karyawannya. Untuk apa? Buat apa? Kenapa?


Tiba-tiba kepala Mike terasa sakit. Lalu ia mulai dengan menghubungi Leni, memberinya instruksi singkat. Setelah itu memberitahu supir untuk berhenti di tempat mereka bisa makan dan beristirahat yang paling dekat, menunggu bis yang membawa Love.


Mike juga menghubungi papanya dan manajer Love. Mereka terdengar lega, tapi masih ingin memastikan sampai Mike benar-benar bertemu Love. Itu sebabnya ia harus menelpon lagi usai memindahkan Love ke mobilnya.


Semua kerepotan itu hanya untuk gadis yang enak-enakan tidur tanpa peduli apapun.


Mike memberi kode pada supir yang tengah berdiri di dekat mobil, memutuskan langsung menuju Bontang sesegera mungkin.


Kali ini Landcruiser itu hanya berpenumpang dirinya dan Love. Sementara yang lain akan ikut mobil lain.


Tapi baru saja ia hendak membuka pintu mobil, Leni mendekati dengan kantong plastik berisi dua kotak makan dan dua botol air mineral di tangannya.


"Pak... Maaf ini... Love belum makan apapun sejak ikut kami tadi siang, Pak. Dia tidur terus. Sepertinya kecapekan sekali. Jadi... Ini sudah saya pesankan makanan. Untuk Bapak dan untuk Love. Bisa dimakan nanti," kata sekretaris Mike itu sambil tersenyum.


Leni masih belum terbiasa dengan sikap kaku Mike yang sangat berbeda dengan papanya. Tapi Leni kuatir pada Love. Walaupun baru berkenalan, Leni tahu Love gadis yang baik hati.


Mike tak menjawab, hanya mengambil kantong plastik itu dan membuka pintu. Tapi begitu pintu terbuka, satu kaki muncul secara mendadak dari dalam mobil, menendang tepat ke... wajah Mike.


Leni terperangah. Tubuh Mike membeku.


Di dalam mobil Love menggeliat, memanjangkan kakinya yang kini terbebas, yang tadinya terhalang pintu. Sama sekali tak menyadari kalau karena perbuatannya wajah tampan seseorang berubah kelam menahan amarah.


"Aduuh, Love.... " Buru-buru Leni mendekati mobil, memperbaiki posisi Love yang tadi terbaring untuk duduk lagi. Ia menatap Mike kuatir. "Maaf, Pak. Maklum, anak-anak, Pak. Masih anak-anak... " lanjutnya lagi memohon pengertian Mike, walau jelas ia sendiri sibuk menahan tawa.


Mike menarik napas dalam-dalam sebelum mengangguk pelan. "Ini taruh depan saja," perintahnya sambil menyerahkan kembali kotak makan dan duduk di sisi Love.


Leni menutupkan pintu sambil melakukan perintah Mike. Kantong plastik itu pun 'duduk' di kursi penumpang depan.


Saat mobil Landcruiser putih melaju kembali ke jalan raya, Leni melepasnya dengan kuatir. Ia sibuk berdoa agar Tuhan memberikan kesabaran di hati Mike.


Bukannya apa-apa. Ia sebenarnya sangat kuatir Love, gadis kecil itu nanti dimarahi dan diomeli Mike, pria yang tak pernah tersenyum sejak Leni mengenalnya.


*****

__ADS_1


 


 


__ADS_2