
Ketika mobil memasuki area perusahaan, Love mengamati sekelilingnya. Begitu masuk pagar besar yang melingkari area itu, Love baru sadar kalau luasnya bahkan melebihi luas lapangan bola.
Mike sibuk menelepon, dan sama sekali tak memberikan penjelasan apapun tentang semua yang dilihat Love. Love ingin bertanya pada Pak Supir, tapi pria itu juga hanya mendapat instruksi singkat untuk memarkir mobil. Jadi Love hanya bisa diam memperhatikan sekelilingnya.
Saat Love melirik jam di dasbor mobil, sudah hampir tengah malam. Berarti sejak tiba tadi sekitar 10 jam baru mereka tiba di kota tujuan.
Astaga, pantas saja Mike semarah itu. Love benar-benar baru sadar kalau ia salah asal naik bis sembarangan.
"Ayo!" ajak Mike saat mobil berhenti di depan sebuah paviliun yang sepertinya dimodifikasi dari kontainer bekas. Meski agak bingung, Love mengikuti dengan patuh.
Mike membuka kunci pintu dan langsung masuk dengan mengenakan sepatunya. Love juga mengikutinya.
Mereka memasuki ruangan transisi dengan lantai batu. Ada dua pintu yang menyambut mereka. Satu pintu di depan mereka dengan tangga, satu pintu lain di sisi samping dengan jendela kecil. Dari jendela terlihat, kalau ruang tertutup itu adalah dapur.
Mike bergerak ke arah pintu dengan tangga, dan membukanya.
Begitu pintu terbuka, Mike mengambil sepasang sandal dan mencopot sepatunya. Meletakkannya dengan rapi di rak, tempat ia mengambil sandal tadi. Pria itu hanya diam dan berjalan masuk membawa tas serta koper kecilnya. Love juga mengikuti gerakan Mike. Kebetulan masih ada dua pasang sandal lain di rak.
Hawa sejuk pendingin ruangan menyambut mereka. Lantai batu yang dibeton sebelumnya terlihat berganti dengan lantai kayu hangat yang difurnish.
Senyum Love seketika merekah. Menikmati hawa sejuk dengan senang. Hawa di Kalimantan Timur ini memang jauh lebih panas dibandingkan di Jakarta. Hanya beberapa menit keluar dari dalam mobil, ia sudah mulai berkeringat.
Begitu melihat ada sofa besar di ruang tamu, Love langsung melompat di atasnya dan melemparkan tas ranselnya ke lantai begitu saja.
"Wuaaah! Adeeem!"
Mike melirik sedikit tapi tak berhenti di ruang tamu, ia bergerak membuka dua pintu lain.
"Kita menginap di sini dulu. Kamu tidur di dalam sana!" katanya sambil membuka salah satu pintu dan menunjuknya. Love pun buru-buru berdiri.
Sebuah kamar dengan tempat tidur berukuran king yang didominasi warna abu-abu, coklat dan putih terlihat. Dibandingkan kamar tamu yang menjadi satu dengan ruang makan, kamar itu jauh lebih luas. Ada jendela besar di dinding kamar yang juga terbuat dari kontainer itu.
Love bergerak masuk dan mengintip melalui tirai lebar yang mendominasi salah satu dinding. Pemandangan di luar tak terlihat apapun selain lampu taman yang tepat berada di depan kamar, jadi Love menutupnya kembali.
Hanya sebentar, tapi ia sudah tak melihat sosok Mike lagi. Love berlari keluar, mencarinya.
Pria yang ia cari sudah membuka pintu lain yang tadi tertutup. Ternyata itu dapur yang juga mengarah ke pintu yang tadi ada di pintu masuk rumah.
Mike sedang memasak air dan tampak memeriksa lemari juga kulkas yang ada di dapur. Love berdiri di pintu, di tangga bersiap turun ke dapur. Tapi baru saja ia hendak melihat apa yang sedang dimasak Mike. Pria itu sudah menoleh padanya.
"Sudah sana masuk! Mandi! Ganti baju!" kata Mike keras.
Seumur-umur Love, tak pernah sekalipun Ayah berani membentaknya. Memang ada guru yang hobi membentaknya, Pak Darman, dan pria itu selalu menjadi bahan keisengan Love. Sekarang bertambah satu orang lagi. Dalam beberapa jam ini, sudah berkali-kali Love mendapat bentakannya.
Mata Love menatap sengit tanpa bisa menjawab. Ya beginilah namanya orang menumpang. Kalau saja Love tak berada di tengah tempat yang tidak ia tahu, mungkin Mike sudah akan mendapat balasannya. Selain hanya bisa membalas dengan tatapan, Love tak bisa berkata apa-apa selain mematuhinya.
Tapi di depan pintu, langkahnya tertahan.
"Eh, Mas... Mas... "
Mike menoleh dengan kesal. "Apa lagi sekarang?"
"Koper Love itu di hotel. Dibawa sama Mbak Riri. Love hanya bawa ransel aja," jawab Love malu-malu.
Suara helaan napas pria di depannya membuat tubuh Love mengkeret mundur. Takut dibentak lagi. Tapi Mike tidak melakukannya. Pria itu hanya mematikan kompor dan berjalan keluar dapur, masuk ke kamar. Love mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
Di dalam kamar, Mike membuka lemari dan mengambil salah satu kaos yang terlipat rapi. Juga celana olahraga yang terletak di bagian bawah. Ia meletakkan pakaian itu di atas tempat tidur. "Pakai itu!" lalu ia keluar sambil menutup pintu.
Love ingin menanyakan soal handuk dan perlengkapan mandi, tapi karena takut dimarahi oleh Mike, Love memilih langsung masuk ke kamar mandi saja. Untungnya, ia membawa cadangan pakaian dalam di tas ranselnya.
Ternyata di kamar mandi, semuanya telah tersedia. Handuk tersusun rapi dalam lemari, set perlengkapan mandi yang baru juga tinggal ambil. Bahkan dari laci di kamar mandi besar itu ada beberapa kaos dalam dan celana dalam baru. Tapi... semua untuk pria.
Akhirnya Love mencuci pakaian dalam yang ia pakai tadi dan menjemur di kamar mandi. Sementara pakaian kotornya ia simpan di ransel.
Setelah mandi dan memutuskan mengenakan seadanya saja, Love keluar kamar mandi dengan rambut basah. Ia tak berhasil menemukan pengering rambut. Biarlah. Nanti juga kering sendiri.
Saat ia keluar kamar, Mike juga baru keluar dari dapur lagi. Pria itu membawa segelas air susu.
"Minumlah! Setelah itu tidurlah!" kata Mike dengan nada khas memerintahnya.
Sekali lagi Love tak ingin mendapat bentakan dari pria otoriter ini, jadi ia menurutinya.
Love melirik Mike sambil menyeruput susu hangatnya. "Mas tidur di mana?"
Mike yang sedang sibuk mencari sesuatu dalam tas hitam yang ada di ruang tamu menunjuk sofa, "Kamu tidur saja! Ini sudah malam. Aku ada meeting sekarang. Ini kunci pintunya. Aku bawa kunci sendiri. Jangan lupa kunci pintu kamarmu. Mengerti?"
Tunggu! Kalau dia tahu ini sudah malam, kenapa ada meeting? Ini kan... Love melirik jam dinding.
Astaga, ini hampir pukul 1 tengah malam!
Tapi Love tak bisa bertanya karena Mike sudah bergegas keluar rumah. Namun, baru saja Love berbalik hendak ke kamarnya lagi, Mike masuk lagi.
Mike melihat ke arah Love sebentar, sebelum berjalan melewatinya, menuju kamar dan keluar lagi dengan sesuatu di tangannya. Pengering rambut.
"Keringkan rambutmu sebelum tidur!" perintahnya lagi sambil meletakkan pengering rambut ke tangan Love.
Lalu Mike juga menunjuk ke kamar mandi tanpa memalingkan wajahnya. "Juga... itu semua celana... jemur di samping. Di dekat dapur. Ruang jemur. Kamar mandi di sini hanya satu."
O... M... G!
Dari tadi yang ada hanya perintah, perintah, perintah dan perintah. Orang satu itu kelihatannya saja pendiam dan tak banyak tingkah. Aslinya, dia cerewet luar biasa. Semuanya terbungkus dengan perintah yang tak bisa dibantah.
Love nyaris sulit mengambil napas saking takutnya kena bentakan. Benar-benar melelahkan!
Apa laki-laki itu tak tahu kalau jam segini itu adalah jam Love baru mulai beraktifitas?
Dasar orang tua! Jadul! Besok juga kan libur... jadwalnya sudah dimundurkan hingga Minggu sore. Itu artinya gue bebas bangun siang. Tentu saja... Begadang dooong!
Setelah memindahkan pakaian dalamnya di ruang jemur yang dikatakan Mike, Love mulai merasa bosan dan ingin melakukan sesuatu.
Hal pertama yang ingin dilakukan Love adalah... mengeksplorasi paviliun tamu ini.
Sesuatu yang dari tadi menarik perhatian tapi belum sempat dijamah oleh Love adalah bar kecil di sudut ruang tamu itu. Gelas-gelas berkaki bersusun cantik dan rapi bergantung di rak, lalu ada botol-botol anggur berjajar membentuk barisan dan kulkas yang ketika dibuka memperlihatkan deretan botol dan kaleng minuman beraneka rasa di dalamnya.
Dengan riang, Love meletakkan gelas susunya yang masih setengah dan melompat girang menuju bar. Ia mulai membuka-buka lemari yang tertutup, dan menemukan beberapa snack, kacang goreng beraneka jenis siap makan, dan beragam jenis kue kering dalam toples-toples kecil.
Love mengambil satu sachet kacang dan dua toples kue kering. Setelah itu tatapannya beralih pada kulkas pendingin minuman. Membuka dan memperhatikan isinya satu persatu.
Ternyata banyak sekali softdrink beraneka jenis di dalamnya. Tidak hanya softdrink, ia bahkan menemukan... bir dan aneka minuman beralkohol.
Saat ia mendongak dan membuka salah satu lemari yang ternyata juga terasa dingin, ada juga beberapa jenis wine dalam botol-botol yang dibaringkan dengan rapi.
__ADS_1
Wah ini kan? Ini kan minuman haram!?
Sebuah ide terlintas di benak Love dan ia melakukannya tanpa pikir panjang.
Setelah selesai, Love mengambil salah satu softdrink rasa jeruk dan membawanya ke depan televisi bersama snack yang sudah dipilihnya. Love menonton sambil makan sampai ia tertidur.
Menjelang pagi, Mike masuk ke paviliun kembali dalam keadaan lelah. Setelah beberapa jam mengatur situasi agar semua tetap sesuai rencana, ia hanya ingin mandi dan tidur sebentar.
Pagi nanti ia harus ke Sangatta untuk mengecek proyek di sana bersama para direktur dan manajer lapangan.
Sebenarnya ada beberapa kamar paviliun yang lain, tapi semua sedang direnovasi dan tentu saja karena kehadiran Love di luar rencana, sehingga petugas housekeeper perusahaan tak sempat menyiapkan paviliun yang lain.
Mereka bahkan tidak menyiapkan tempat tidur tambahan di paviliun yang sekarang. Sudahlah, Mike tak lagi peduli soal itu. Ia mungkin bisa tidur sambil duduk saat ini saking lelahnya.
Saat membuka pintu pertama, Mike mengernyitkan keningnya. Lampu ruang tamu terlihat masih menyala dan terdengar suara-suara berisik pertanda ada orang yang belum tidur. Padahal ini sudah hampir pukul tiga pagi.
Dengan penuh tanda tanya, Mike membuka pintu dan ia terkesiap. Pemandangan di depannya membuat tubuhnya membeku di depan pintu.
Gadis itu tidur bergelung di sofa. Kakinya memanjang hingga ke atas meja, dan sepertinya ia baru saja menendang... sebotol air soda berwarna kuning yang kini membanjiri lantai kayu.
Tak hanya itu, kulit kacang berhamburan di atas meja dan sebagian di lantai, mengapung di atas air soda itu.
Mike menarik dan menghela napasnya, berusaha menenangkan diri.
Ingat Mike! Dia masih anak-anak. Dia masih anak-anak.
Setelah itu, Mike bergerak pelan mendekat dan menggendong gadis mungil itu menuju kamar. Ingin sekali rasanya Mike melemparkan gadis itu begitu saja ke atas tempat tidur, tapi kemudian ia urung. Ayah gadis ini bisa meninjunya kalau itu sampai terjadi.
Kamu jaga baik-baik si Love ya Mike, itu putri satu-satunya Pak Hadid. Kamu tahu kan Pak Hadid itu bukan lagi teman Papa, beliau itu sudah seperti saudara yang paling Papa hormati.
Andai saja Papa tak mengirim pesan berulangkali soal itu, mungkin Mike sudah melakukannya. Padahal seumur hidupnya, Mike belum pernah menggendong anak gadis orang seperti ini. Hingga dua kali hanya dalam beberapa jam pula!
Jarak usia Mike dengan Ricky saja sudah cukup jauh. Adik satu-satunya itu juga seorang anak laki-laki. Sekalinya bermain, tentu permainan yang mengasah otak dan otot. Ricky juga sebandel dirinya. Jarang menangis bahkan termasuk berani menyerang balik. Masa-masa kenakalan itu juga sudah lewat.
Sekarang di usianya yang nyaris 28 tahun, ia harus berperan sebagai seorang kakak. Bukan untuk anak kecil biasa. Tapi gadis manja, malas, teledor, badungnya setengah mati dan hobinya benar-benar bikin sesak napas. Sungguh ini ujian luar biasa.
Mike ingin sekali memencet hidung gadis yang tertidur itu kuat-kuat untuk menumpahkan semua kekesalan yang sepanjang hari ini ia tahan dengan susah payah. Tapi...
Saat tertidur, wajah gadis itu terlihat bagai malaikat mungil. Bulu matanya yang lentik membentuk setengah lingkaran yang manis di wajahnya yang mungil. Seuntai anak rambut jatuh menutupi sebagian hidung dan mulut Love, membuat jari Mike otomatis menyapu perlahan dan menyelipkannya di balik telinga Love.
Tak sadar Mike menghela napas. Astaga, apa yang sedang ia pikirkan? Sejak kapan ia tertarik melihat wajah orang berlama-lama? Ini wajah anak-anak pula.
Buru-buru Mike berdiri. Lalu ia mengambil selimut dan bantal cadangan dari dalam lemari. Menutup pintu kamar lagi setelah mematikan lampu.
Setelah berhasil membersihkan ruang tamu yang berantakan, Mike bermaksud meletakkan sampah yang ia kumpulkan di dapur, saat melihat plastik hitam besar lain teronggok di dekat wastafel dapur. Tadi saat ia pergi, plastik itu belum ada.
Dengan ragu-ragu, Mike memeriksanya dan napasnya seakan tertahan melihat aneka kaleng dan botol. Ini kan...
Mike melangkah cepat menuju bar dan memeriksanya. Semua minuman beralkohol itu sudah tak lagi terpajang di dalam kulkas. Juga botol-botol wine yang terpajang. Semua sudah kosong melompong. Hanya tersisa jejeran botol berisi wine di bagian atas lemari.
Mendadak kepala Mike terasa berdenyut-denyut. Ia hanya bisa memijat dahinya dan sekali lagi menghela napas panjang.
Papa, anak kesayangan temanmu ini benar-benar membuat kepalaku sakit!
*****
__ADS_1