
Alvin dan pria itu saling menatap dengan wajah mereka yang terlihat cukup kalem. "The Black Dual-Swords Man..." Ucap Alvin dengan ia mengenal pria itu karena julukan itu selalu ia dengar di setiap Virtual-Game yang ia selalu mainkan, dia adalah pendekar pedang hitam yang sangat kuat karena dia pernah mengalahkan beberapa dungeon boss dan floor boss solo tanpa bantuan siapapun.
"Bukannya hari kau sudah terlalu banyak membunuh 'kah? Mungkin kau harus berhenti sekarang juga, Alvin." Ucap pendekar pedang hitam itu selagi menunjukkan wajahnya yang serius, tiba-tiba rekannya yang dipenuhi dengan gadis datang menghampirinya, mungkin itu berjumlah tujuh.
"Ohhh...? Emang kau ini apa? Polisi dari dunia ini 'kah? Dan juga sepertinya harem-mu masih tetap ya, Kizuki...? Dasar cewe-cewe lonte." Alvin menyilangkan kedua lengannya selagi menatap pendekar pedang itu yang bernama Kizuki. Semua rekan Kizuki langsung bersembunyi di belakang Kizuki dengan sangat ketakutan.
"Kau bukanlah protagonis dari dunia ini, Alvin. Kau hanyalah seorang antagonis yang selalu melakukan apa yang sebenarnya kau mau...!!! Itu lebih buruk dari sampah karena kau telah menghancurkan mimpi para player yang menginginkan bermain game ini sepuasnya." Ucap Kizuki dengan wajah yang sangat serius.
"Terus...? Diriku ini tidak terlalu memperdulikan tentang player lain yang hanya menghabiskan waktu bermain demi kesenangan sedangkan aku... Aku bermain demi membunuh kau yang sudah mencuri akun-ku sejak itu, Kizuki. Kau pikir kau ini jagoan ya?" Tanya Alvin dengan rautan wajah yang terlihat sangat kesal.
"Lagian juga untuk apa aku menjadi protagonis dari dunia ini...? Aku tidak terlalu peduli karena protagonis itu lemah... Di lindungi dengan kekuatan overpowered, plot-armor, harem, dan lain-lain yang akan membuat si protagonis itu senang. Aku lebih memilih menjadi diriku sendiri yang berjuang dengan pacarku." Alvin tersenyum dengan sangat jahat dan senyuman itu mampu membuat semua orang terkejut hingga merinding. Korrina hanya tersenyum menatap wajah Alvin yang sangat keren baginya.
"Hmph, kau masih ingat aku pernah mencuri akun-mu ya...? Ya, aku ini adalah seorang hacker handal."
"Handal? Bukannya kau ini adalah pengecut, Kizuki? Kau mengandalkan semuanya layaknya seperti protagonis... Jika kau mengaku dirimu sebagai protagonis maka kehidupanmu sebagai protagonis akan aku hancurkan bersama harem-harem itu hingga kalian semua merasakan trauma yang berat...!!!" Alvin mulai tertawa terbahak-bahak hingga membuat Kizuki kesal lalu ia mengeluarkan kedua pedangnya.
"Apakah itu sebuah tantangan? Aku menerimanya."
"Buta, aku tidak punya pedang." Alvin mengeluarkan belati-nya lalu ia menancapkan belatinya ke dalam tanah. "Smog Eject." Belati itu langsung mengeluarkan asap-asap yang besar hingga mampu menghalang semua player dan bahkan Alvin juga Korrina.
Alvin dan Korrina langsung melompat menuju hutan, mereka melarikan diri dari semua player itu karena mereka sekarang tidak bisa bertarung karena tidak memiliki pedang untuk bertarung. Alvin dan Korrina bertujuan untuk pergi menuju kota Legenia kembali. "Kau benar akan mengalahkan si keparat itu?" Tanya Korrina.
"Ya, aku sudah kesal melihat player yang mengaku dirinya itu seorang protagonis." Ucap Alvin dengan wajah yang kesal, dia termasuk player yang sangat Alvin benci.
Tiba-tiba sebuah jendela pesan muncul di depan Korrina. "Huh...?"
"Korrina, aku sudah berada di rumahmu, bisakah kau dengan Alvin log-out dulu?"
"Alvin." Panggil Korrina.
"Apa?"
"Kita harus log-out sekarang juga karena Mama-ku telah datang berkunjung ke rumah kita." Korrina berhenti berjalan lalu Alvin juga berhenti berjalan, ia mengangguk pelan kepada Korrina.
"System Access: Log-out."
***
Seketika Alvin membuka kedua matanya, ia merasakan beban yang lumayan berat di atas tubuhnya seperti tertinggang oleh batu. Alvin perlahan melepas Transmission-Gearnya lalu ia tiba-tiba melihat seorang gadis kecil yang berumur 5 tahun sedang memeluk Alvin. Gadis itu memiliki warna mata yang sama seperti Alvin yaitu hitam sedangkan rambutnya pendek dan berwarna pirang seperti Korrina.
"Papa...!!! Aku pulang...!!!" Gadis itu langsung memeluk Alvin dengan sangat erat dan juga ia memanggil Alvin sebagai sebutan 'Papa' karena Alvin adalah AYAH dari anak yang sedang memeluknya. Alvin dan Korrina merasa cukup terkejut karena bisa melihat anak mereka yang datang berkunjung.
Bagaimana bisa Alvin dan Korrina memiliki anak di usia 20 tahun? Yah... Semua itu terjadi ketika Alvin dan Korrina melakukan hubungan seks tanpa sebuah pelindung dan Alvin secara tidak sengaja menghamilinya, tetapi hidup mereka tidak hancur dan berantakan karena Korrina mampu melahirkan gadis kecil itu dengan selamat dan juga bayi itu lahir sehat.
Keluarga Korrina tidak memberi Alvin pelajaran atau menghukumnya melainkan mereka merasa terharu bahwa mereka memiliki cucu pertama mereka yang sangat imut, keluarga Korrina langsung menerima Alvin dan menyuruh mereka berdua untuk secepatnya menikah.
Anak mereka di jaga oleh keluarga Korrina karena mereka berdua masih belum siap untuk menjaga anak, tetapi Korrina pernah mengatakan kepada keluarganya untuk sering berkunjung di hari minggu karena Korrina sangat-sangat ingin bertemu dengan putri kecil-nya.
"Rina... Selamat datang." Alvin tersenyum sedikit lalu ia mengelus rambutnya dengan sangat lembut. Rina terkekeh dan Korrina menghampiri Rina lalu ia memeluk mereka berdua dengan sangat erat.
"Rina~~~!" Ucap Korrina selagi mengelus pipinya dengan pipi Rina. Ibu Korrina masuk ke dalam kamar mereka lalu ia melihat keluarga kecil yang sedang berpelukan. "Kalian sepertinya sudah mencoba game CoW itu ya?" Tanya Ibu Korrina.
__ADS_1
Korrina melirik kepada ibunya. "Mama..."
"Nyonya Koura... Senang bisa bertemu denganmu lagi." Alvin bangkit dari atas kasur selagi menggendong Rina di pangkuannya lalu ia menghampiri Ibu Korrina yang bernama Koura. Alvin menundukkan kepalanya kepada Koura dan itu membuatnya merasa cukup bersalah melihat Alvin yang selalu menunduk kepada ibu mertuanya.
"Sudahlah, kau tidak usah terus menerus menundukkan kepalamu kepadaku." Ucap Koura selagi menunjukkan senyuman yang manis.
Alvin berhenti menundukkan kepalanya kepada Koura lalu Rina yang terus menerus menatap wajah Alvin langsung memeluknya dengan sangat erat karena merasa sangat rindu kepadanya. "Ibu, aku memiliki sesuatu yang ingin aku perbicarakan padamu."
"Apa itu?"
***
Alvin, Korrina, dan Koura sedang duduk di atas kursi di ruang makan, mereka pasti akan mendiskusikan tentang The Black Dual-Swords Man karena Alvin ingin secepatnya melawan player yang ia pikir itu kuat dan menyebalkan.
"Ini tentang player yang bernama Kizuki, dia ternyata bermain game CoW juga." Ucap Alvin dengan wajah yang sangat serius.
"Sudah sangat jelas bukan? Dia adalah player yang bisa disebut dengan kuat dan juga player yang membawa keadilan dalam game itu. Dia itu sangat popular karena sword skill yang miliki dengan kedua pedangnya yang berwarna hitam." Koura memegang dagunya.
"Jika Kizuki bermain game CoW, maka yang lainnya juga akan memainkan game itu, Alvin. Kau harus bersiap untuk melawan mereka lagi dengan satu nyawa yang tidak bisa di sia-siakan." Ucap Korrina selagi menyuapi Rina.
"Korrina... Aku masih tidak yakin bahwa aku sekarang sedang berada di level yang sama dengan Kizuki, sejak pertarungan terakhir kita di game War of Races Online..."
Flashback
Alvin dan Kizuki lari menghampiri satu sama lain lalu mereka mengayunkan pedang mereka secara bersamaan hingga mampu mengeluarkan suara pedang yang sangat berisik. Kizuki mengayunkan kedua pedangnya ke arah kaki kiri, paha kanan, leher kiri Alvin tanpa henti tetapi Alvin berhasil menahan semua serangan itu dengan hanya pedangnya saja.
Alvin menangkis pedang kirinya ke atas hingga ia terdorong mundur, Alvin langsung mengayunkan pedangnya ke arah perut Kizuki tetapi ia melompat ke atas lalu mendarat di atas. Dengan cepat mereka langsung berhadapan dan menghantam pedang mereka satu sama lain.
Kizuki mulai mengayunkan kedua pedangnya dengan sangat cepat hingga Alvin tidak bisa melihat celah untuk menyerangnya. Ia hanya bisa menahan semua serangannya, jika ia bergerak satu gerakan yang salah maka dia akan tertebas oleh kedua pedangnya. Kizuki mencoba untuk menebas Alvin tetapi ia menahan semua serangan itu selagi mundur beberapa langkah ke belakang.
"Kau pikir kau ini bisa mengalahkanku hanya karena pergerakanmu itu cepat dengan kedua pedang yang sangat kuat?!" Tanya Alvin dengan ia langsung melompat ke belakang. Alvin langsung memutar pedangnya dan ia mulai berpose kuda-kuda berpedangnya.
"Pertahanan pedangmu seperti cukup kuat, aku terkesan. Kau sepertinya telah merawat stats STR-mu dengan baik ya?" Tanya Kizuki dengan ia langsung berpose kuda-kuda berpedangnya.
"Hmph, sepertinya pendekar pedang sepertimu juga bukanlah mangsa yang bisa aku bunuh dengan mudah... Tapi, aku tidak merencanakan untuk kalah dalam pertarung ini..." Ucap Alvin dengan wajah yang sangat serius.
"Sekarang... Aku percaya terhadap kedua pedangku. Dengan menggunakan seluruh kekuatanku yang terkuat maka aku bisa mengalahkanmu...!" Ucap Kizuki dengan wajah yang sangat serius layaknya seperti protagonis yang akan mengalahkan seorang antagonis dengan mudah.
"BURST...!!!" Kedua pedang Kizuki langsung terlindungi oleh kegelapan dan cahaya yang tergabung menjadi satu. Alvin hanya bisa diam selagi menatap Kizuki yang akan mengeluarkan skill terkuatnya.
"Aku akan memotong wajahmu menjadi beberapa bagian kecil..." Kizuki mengejamkan kedua matanya.
"Dia benar-benar mengerahkan semuanya... Aku tidak terlalu mengerti tentang player yang menganggap dirinya sendiri itu pahlawan."
"Jika aku berhasil menghindari serangan itu maka kemenangan bisa saja aku gapai dengan mudah..."
Kizuki menggerakan kaki kanannya dan Alvin mulai bisa melihat pergerakannya yang telah meningkat, Kedua lengan Alvin langsung terlindungi oleh aura Crimson. "Dia datang..."
Alvin dan Kizuki langsung bergerak maju ke depan dengan kecepatan yang sama. Pedang mereka langsung bersinar karena mereka akan mengeluarkan skill terakhir mereka atau bisa disebut dengan skill yang terkuat dari pedang mereka masing-masng. "AKU MENANG!!!" Teriak Kizuki dengan ia langsung menggerakan kedua pedangnya dengan sangat cepat.
Alvin memegang pedangnya dengan sangat erat hingga ia langsung menangkis kedua pedangnya dengan sangat kuat hingga mampu menghancurkan kedua pedang yang Kizuki pegang. Tangkisan pedang Alvin mampu mengeluarkan suara yang keras dan juga dorongan yang sangat besar di sekitar mereka. "T-Tidak mungkin... P-Pedangku..." Ucap Kizuki dengan ia terdorong mundur beberapa langkah.
__ADS_1
"Skill-ku itu bukan main-main..." Alvin dengan cepat langsung berada tepat di depannya. Kizuki tidak bisa melakukan apa-apa karena kedua pedangnya telah hancur dengan skill milik Alvin yang sangat kuat.
"GAHHHHHHHH!!!" Teriak Alvin dengan kedua matanya berubah menjadi Crimson, ia mengayunkan pedangnya ke aras atas kepala Kizuki mencoba untuk menebasnya menjadi dua bagian.
Skill mereka tidak akan saya spoiler di part ini karena skill mereka ini sangat-sangat penting untuk chapter yang akan datang~
Flashback End.
"Pertarungan sejak itu adalah kemenangan pertamaku untuk bisa menang melawan Kizuki. Jadi bisa dihitung bahwa dia pernah menang dan aku pernah menang... Pertarungan selanjutnya adalah taruhan nyawa... Jika aku kalah maka aku tidak akan bisa memainkan game itu lagi." Ucap Alvin dengan ia mengepalkan kedua tinjunya selagi memukul meja.
"Saat ini juga pedang Alvin telah hancur oleh kedua pedang yang dipegang oleh Kizuki, kita membutuhkan pedang yang kami incar secepatnya agar kami bisa melakukan dungeon hunting bersama." Ucap Korrina selagi menatap wajah Koura.
"Kedua pedang itu... Apakah kalian mengingat bentuknya?" Tanya Koura.
"Kedua pedangnya itu pedang yang selalu ia pakai di setiap game, aku sudah bosan melihatnya." Ucap Alvin dengan wajah yang sangat serius.
"Pedang yang bernama <> dan <>, dua pedang yang sangat kuat dulunya... Kedua pedang itu termasuk pedang yang sangat langkah dan hanya satu orang yang akan mendapatkannya. Kedua pedang itu dulunya terlalu overpowered..." Ucap Alvin dengan wajah yang sangat serius. Di beberapa game yang dulu ia mainkan, kedua pedang yang dimiliki oleh Kizuki adalah pedang yang sangat overpowered hingga mampu menembus ATK sekitar <<5300-15800>>
Salah satu pedang legendaris yang hanya bisa digunakan oleh Kizuki karena dia telah resmi menjadi pemilik dari kedua pedang legendaris itu untuk selamanya. Dulunya ketika Alvin dan Kizuki melakukan pertarungan pertama Alvin kalah karena sebuah kombinasi serangan yang salah, tetapu pertarungan kedua ia mampu menang dengan rencana dan stats strength-nya yang sangat amat besar.
Alvin mampu mengalahkan Kizuki berkat pedangnya yang dijuluki sebagai pedang mutlak, pedang yang mampu menyetarai pedang legendaris di setiap VRMMORPG. Tetapi berbeda dari senjata legendaris, senjata mutlak itu mampu memberikan efek yang sangat buruk bagi player contohnya seperti pusing, terkena efek stun, HP berkurang setiap detik, tubuh bergetar penuh dengan kesakitan, atau semua hal yang memiliki efek yang sangat merugikan bagi pengguna.
Di setiap game tidak ada yang berani atau kuat memakai senjata mutlak itu karena mereka tidak mau menanggung resiko. Berbeda dari Alvin dan Korrina karena mereka berdua sudah terbiasa menggunakan senjata mutlak itu walaupun mereka sering terkena efek yang sangat merugikan bagi mereka sendiri, mereka tidak memperdulikannya melainkan ingin sekali meningkat dan berkembang agar bisa menggunakan senjata mutlak dengan baik atau sempurna agar efek sampingnya itu bisa hilang untuk selamanya.
Di CoW telah resmi terdapat 5 senjata mutlak yang disimpan atau disembunyikan oleh beberapa penyihir dari beberapa BlackMarket. Dan BlackMarket itu akan muncul kepada player yang pernah membunuh player atau memiliki hobi dalam membunuh player-player lainnya TANPA segan.
Kelima senjata mutlak itu adalah pedang berwarna Crimson (Merah tua) yang dijuluki sebagai <>, pedang yang berwarna pink kegelapan atau bisa disebut dengan Rose dijuluki sebagai <>, busur yang sangat panjang dan berwarna hitam juga mampu menembak tiga panah langsung yang dijuluki sebagai <>, sebuah senjata sabit yang memiliki warna ungu dan hitam di gabung menjadi satu <>, dan yang terakhir adalah sebuah tombak yang berwarna silver dipenuhi dengan titik hitam yaitu <>.
Alvin dan Korrina mengincar kedua pedang Crimson of Harted dan Scarlet Rose, dua pedang mutlak yang selalu mereka gunakan di beberapa game yang lalu. Kenapa game yang lalu memiliki senjata dari CoW? Karena... CoW adalah gabungan dari game MMORPG yang pernah di buat dari beberapa tahun yang lalu jadi sudah jelas bahwa CoW akan memiliki banyak player yang demen untuk bermain terus menerus karena game VRMMORPG yang dulu telah ditutup karena kebangkitannya game CoW.
"Aku sudah lelah menggunakan pedang yang menyakitiku setiap saat, Korrina. Aku harap CoW melakukan keseimbangan yang adil di pedang yang sering aku gunakan yaitu Crimson of Hatred..." Ucap Alvin dengan wajah yang sangat, ia meminum cangkir yang berisi teh hangat, Korrina hanya bisa menatap wajah Alvin yang terlihat seperti kesusahan dan berada di eksperesi kesal. Ia sudah beberapa kali melihat Alvin kehilangan kendali terhadap dirinya sendiri karena pedang mutlak itu.
"Aku muak dengan diriku yang terus kehilangan kendali hingga pernah melukaimu, Korrina." Ucap Alvin dengan wajah yang mulai tidak bereksperesi. Rina yang duduk di sebelah Korrina tiba-tiba turun dari atas kursi lalu ia menghampiri Alvin dengan senyuman manis-nya.
"Bukannya Papa selalu mengatakan bahwa... Papa ini ingin mencari jalan sendiri dan juga bukannya Papa ingin mencari apa itu sebenarnya kekuatan STR yang ada di game CoW?" Tanya Rina dengan ia naik ke atas Alvin lalu duduk di kedua pahanya.
"Rina...?" Alvin menatap wajah Rina dengan wajah yang terlihat seperti dingin, itulah Alvin. Wajahnya jarang dan bisa disebut tidak pernah menunjukkan wajah senang, sedih, maupun semua eksperesi yang terlihat positif. Ia hanya bisa menunjukkan wajah suram dan dingin-nya.
"Papa ingin berbeda dari semua player yang memainkan game itu. Jadi Papa sejak itu merencanakan untuk memilih sisi yang Papa inginkan..."
"Balas dendam... Bukannya itu adalah aktivitas yang sering Papa lakukan?" Tanya Rina dengan sebuah senyuman.
"Rina..."
"Papa seharusnya bisa menjadi seorang Player yang baru dan berbeda dari semuanya. Seperti di game yang sebelumnya... Bukan 'kah Papa mampu dijuluki sebagai player yang paling menakutkan karena telah membunuh banyak sekali player pro, cheater, dan bahkan hacker?"
"Papa harus menjadi seorang Player yang berada di posisi paling atas...! Harus!" Ucap Rina dengan ia memeluk Alvin dengan sangat erat. Setelah mendengar perkataan Rina membuat Alvin langsung termotivasi untuk menjadi player yang berbeda dari semuanya, demi anaknya, pacarnya, dan dirinya sendiri yang telah hidup penuh dengan kehancuran, kesuraman, dan keputusasaan karena keluarganya sendiri.
"Tentu saja... Papa akan melakukan apa yang kau katakan, Rina. Semua ini demi putriku yang sangat kecil." Alvin memeluk Rina dengan sangat erat.
"Aku bukan anak kecil lagi...!" Rina menggembungkan kedua pipinya seperti bola. Itu membuat Korrina terkekeh dan tersenyum lebar melihat Alvin yang sadis dan berdarah dingin mampu menunjukkan sebuah kasih sayang terhadap putrinya sendiri.
__ADS_1