Conqueror of World

Conqueror of World
Chapter 6 - Tidak Peduli terhadap apapun yang ada


__ADS_3

Kembali ke masa dimana Alvin masih berumur 13 tahun dimana ia hanyalah seorang siswa SMP yang biasa atau bukan biasa lagi karena dia di sekolahnya sering di bully, di benci, di hina, di rendahkan, atau semua hal yang manusia selalu lakukan kepada manusia sampah. Alvin selalu di rendahkan oleh semua murid di sekolah SMP-nya karena rumor tentang dirinya bahwa dia ini adalah seorang anak haram telah tersebar karena seluruh teman-temannya yang mengetahui rumor tersebut dari nenek Alvin yaitu seorang kepala sekolah di SMP-nya.



Setiap hari Alvin pasti tidak jauh akan bolos dari kelas dan santai di halaman sekolah selagi bermain game di Game Watch-nya yang diberi oleh Kakak-nya. Salah satu anggota keluarganya yang baik bagi dirinya yaitu Kakak-nya, semua anggota keluarga Alvin sudah pasti akan membenci-nya karena dia ini adalah anak haram.



Ibu Alvin yang bernama Yuriko hamil oleh seorang pria yang ia temui di sebuah VRMMORPG, VRMMORPG yang Yuriko pernah mainkan telah di hapus hingga identitas semua player yang bermain game itu sudah benar-benar hilang, pria itu adalah seorang player yang di angkat menjadi Grand Master (GM) karena kemahirannya dalam mempelajari teknologi yang bertingkat tinggi. Suatu hari, mereka secara tidak sengaja melakukan hubungan seks karena terlalu banyak minum-minuman bir, setelah hal itu terjadi Yuriko langsung hamil dan mengandung Alvin di dalam perutnya.



Faktanya Alvin disebut seorang anak yang haram karena Yuriko telah dihamili oleh seseorang yang belum menikah dengannya dan juga... Yuriko itu sudah memiliki suami tetapi ia hamil oleh seseorang melainkan suaminya. Yuriko merasa sangat kesal karena ia membutuhkan tanggung jawab dari orang yang menghamilinya, orang itu langsung menyetujui permintaan Yuriko. Ia bersedia untuk bertanggung jawab sepenuhnya dan menjaga Yuriko juga anak yang sedang ia kandung.



Setelah itulah selama 5 tahun, Yuriko dan pria yang menghamilinya tinggal bersama selagi mengasuh Alvin. Suami Yuriko sudah beberapa kali menghubunginya tetapi Yuriko tidak berani membalasnya hingga suatu saat pria yang menghamilinya mengatakan sesuatu kepada Yuriko bahwa dia akan pergi demi perusahaan yang ia bangun yaitu Advance Technology Corp. (ATC)



Yuriko mencoba untuk menghentikannya tetapi ia terlambat karena pria itu telah hilang tanpa jejak. Sejak itulah Yuriko mulai merasa stress dan kasar kepada Alvin yang berumur 5 tahun itu, ia melampiaskan semua emosi yang ia benci kepada pria itu dengan menyiksa Alvin karena beberapa minggu ini Yuriko melihat pria itu sedang bersama dengan wanita lain dan mereka terlihat seperti sudah menikah.



Yuriko langsung merasa sangat-sangat kesal melihatnya hingga ia sudah tidak memiliki kewajiban untuk menjadi Ibu dari Alvin karena pria yang ia sayangi dulu telah menghilang. Alvin terus di siksa habis-habisan hingga seluruh tubuhnya yang terhalang oleh baju dan celenanya memiliki bekas luka seperti cakaran dan tebasan pisau.



Beruntungnya Alvin masih hidup dan ia merasa sangat tersiksa, ia terus berteriak tetapi ia tidak bisa karena dia hanyalah seorang anak kecil yang berumur 5 tahun. Dan setelah itulah Yuriko berencana untuk bertemu dengan Suami lamanya yang bernama Argusa.



Argusa merasa sangat kesal karena Yuriko pulang membawa seorang anak yang tidak memiliki darah dari dirinya, Yuriko mencoba semua cara untuk meminta maaf kepada Argusa, tetapi Argusa hanya akan memaafkannya jika ia dan dirinya tidak memperdulikan tentang Alvin. "Biarkan anak haram itu diasuh oleh Divra..." Ucap Argusa, Divra adalah anak dari Argusa dan Yuriko.



Dengan Divra yang berumur 35 tahun, ia baru saja selesai kuliah dan melihat Alvin yang berumur 6 tahun dan juga ibunya yang akhirnya pulang setelah sekian lamanya. Ia merasa sangat terkejut dan menanyakan siapa anak itu sebenarnya, Yuriko menjawab bahwa anak itu adalah anak haram yang ibunya hamilkan.



"Ibu tidak boleh mengatakan itu kepadanya, lihatlah anak itu! Wajahnya dan juga kedua matanya terlihat mati!" Ucap Divra dengan wajah yang sangat serius.



"Kau tidak memiliki kewajiban untuk ikut campur terhadap diriku dan Alvin, Divra! Mulai sekarang kaulah yang harus mengasuh anak haram ini!!!" Yuriko menendang punggung Alvin hingga ia terdorong ke depan lalu terjatuh dengan wajah yang kesakitan.



"A-Alvin...!" Divra langsung berlutut dan membantu Alvin berdiri tetapi ia tidak bisa karena kedua kakinya terasa sangat keram. Divra merasa sangat kesal melihat Ibu dan Ayah-nya yang bersikap layaknya seperti manusia yang tidak memiliki hati kepada Alvin yang berumur 6 tahun.



"Jauhkan pandangan anak haram itu dariku. Aku sudah tidak mau menatap wajah sialan-nya itu." Yuriko berjalan pergi.



"O-Oi! Tunggu, Ibu!" Teriak Divra dengan sangat keras.



Sejak itulah Divra hanyalah satu orang yang Alvin sangat percayai karena ia sudah mengasuh dirinya sejak lama sekali. Seluruh biaya sekolah Divra tanggung hingga ia berada di sekolah SMP, walaupun Alvin bisa sekolah tetapi ia tidak memiliki satupun teman dan bahkan ia juga di rendahkan oleh semua murid-murid.



Sejak Alvin berusia 15 tahun dimana ia berada di kelas 3 SMP, masa dimana teknologi mulai berkembang cukup drastis berkat perusahaaan yang bernama Technology High-Transmission (THT). Semua orang di berbagai negara telah mengetahui perusahaan THT karena perusahaan itu berencana untuk membuat sebuah alat teknologi yang mampu membuat manusia bisa bermain game dengan nyata atau bisa disingkat dengan Virtual-Reality game.



Perusahaan itu dipegang oleh Argusa. Suatu hari ia membawa Divra masuk ke dalam perusahaan-nya untuk menjadi bahan percobaan terhadap alat teknologi tinggi yang berbentuk seperti helm, Argusa menakan helm tersebut sebagai Translator-Gear. Divra secara paksa oleh Argusa juga penjaganya menyeret di masuk ke dalam kamar dan memaksanya untuk memakai Translator-Gear itu.



Ketika Argusa mencoba untuk menyalakan Gear itu, ternyata gear tersebut menyala cukup lancar hingga beberapa menit kemudian. Rencana Argusa dan juga alat teknologi yang perusahaan-nya ciptakan telah menjadi kegagalan yang berat dan juga merugikan bagi perusahaan-nya karena Gear itu tiba-tiba menyerang Divra dengan sengatan listrik yang lebih kuar dari halilintar.



Divra sudah pasti tidak akan bisa selamat dari sengatan itu, perusahaan itu langsung jatuh bangkrut ketika Divra telah meninggal dan juga Argusa yang membunuh anaknya sendiri berhasil melarikan diri dari para polisi yang datang ke dalam perusahaan-nya dan juga rumahnya.



Alvin merasa sangat terkejut melihat berita tentang kakak-nya yang mati karena percobaan dalam membuat alat teknologi untuk bermain Virtual-Reality. Ia merasa sangat kesal hingga menghancurkan segalanya yang ada di rumah hingga tidak ada satupun lagi yang tersisa melainkan seluruh tubuhnya yang sudah terluka dengan parah karena telah menghancurkan semua barang dirumah-nya. "KAKAAAAAAAKKK!!!" Alvin menghantam kepalanya tepat di atas lantai hingga dahinya langsung berdarah dan juga kedua penglihatannya mulai buram karena ia merasa sangat pusing di kepalanya sampai-sampai ia terjatuh dan pingsan.



Ketika Alvin berumur 16 tahun, beruntungnya Alvin bisa lulus dalam sekolah SMP-nya tetapi di hari kelulusannya tidak ada yang datang untuk melihatnya. Ia hanya bisa merayakan kelulusannya dengan wajah yang suram karena sudah kesal terhadap kenyataan yang terus menyiksa dirinya habis-habisan.



Seketika Alvin berencana untuk pulang, beberapa kelompok pria menghentikannya dan menghalang jalannya untuk pergi karena mereka semua menyeret Alvin menuju pohon yang sangat besar dan itu terletak di belakang sekolah SMP-nya. "Siksaan terakhirmu sebelum kau melaksanakan siksaan SMA, RASAKAN INI!!!" Satu pria mencoba untuk memukulnya tetapi Alvin secara refleks langsung menahan pukulan itu lalu menyerangnya balik dengan menendang perutnya dengan sangat keras.



Pria itu langsung terdorong dan membuat semua murid yang akan menyiksa Alvin terkejut. "A-Apa yang...?! Bagaimana dia bisa melawan balik?"



"Jadi? Kalian mau melanjutkan siksaan itu? Tidak semudah itu sekarang karena aku sudah berlatih sendiri untuk memberi kalian pelajaran." Alvin langsung menghabisi mereka tanpa henti dan dirinya sendiri ini yang berjumlah satu mampu bertahan melawan 13 pria yang melawannya dengan bersamaan. Alvin mampu bertahan hinggan membuat mereka semua melarikan diri dan merasa sangat ketakutan melihat Alvin yang barus dan juga berani, ia bagaikan seorang petarung yang telah bangkit.



Alvin duduk di atas rumput-rumput yang halus lalu ia menyenderkan punggung-nya dengan sebuah pohon besar di belakangnya. "Sakit..." Alvin bukanlah manusia sempurna karena ia juga mampu terluka cukup parah karena bertarung melawan 14 orang tadi.



Ia mengusap mulut kirinya yang terhadap sebuah darah. Tiba-tiba seorang gadis berambut piring berjalan menghampirinya dengan wajah yang khawatir, ia menatap Alvin dan Alvin menatapnya kembali dengan wajahnya yang tidak bereksperesi. "Ohh, ternyata kau ya...? Korrina Comi." Ucap Alvin dengan ia langsung mengalihkan pandangannya ke tempat lain.



"Setidaknya kau melawan mereka, tetapi kau seharusnya berhenti bersikap murung seperti ini, Alvin." Ucap Korrina dengan wajah yang serius.


__ADS_1


"Jangan ikut campur dan jangan mengurus diriku ini yang haram, kau memiliki nekat untuk mendekatiku. Bisa-bisa semua temanmu akan hilang dalam sekejap jika kau terus mendekatiku."



"Justru aku tidak peduli jika mereka menghilang di hadapanku, manusia yang merendahkanmu itu adalah manusia rendahan yang asli. Walaupun kau anak haram... Kau ini masih tetap manusia, kita semua ini sama dan untuk apa kita saling merendahi?!" Tanya Korrina.



"Aku bukanlah manusia... Aku hanyalah sosok yang tidak memiliki siapapun yang dapat mempercayaiku..."



"Apakah kau terbentur atau sesuatu?! Aku mempercayaimu!" Ucap Korrina yang mencoba untuk menyemangati Alvin dalam hidup, ia tidak mau melihatnya terus seperti ini bisa-bisa Alvin akan berencana untuk membunuh dirinya sendiri.



Korrina tiba-tiba memegang kerah baju Alvin lalu ia mulai membuatnya bangkit. Alvin menatap kedua mata Korrina yang terlihat sangat tegas dan juga eksperesinya yang menunjukkan sebuah kemarahan. "Kenapa kau harus terus depresi setiap saat, Alvin?!" Tanya Korrina.



"Karena... Karena aku adalah anak haram, manusia rendahan yang selalu direndahkan oleh orang lain. Aku tau ini rasanya sakit tapi kau lebih baik memilih untuk diam!" Jawab Alvin.



"Kenapa kau harus menerima kenyataan itu?!"



"Lepaskan..."



"Apakah kau tidak mau menunjukkan kepada dunia dan kenyataan bahwa kau ini bisa menjadi sosok manusia yang berubah?! Mereka bisa sadar jika kau mencoba untuk menyadari mereka, Alvin!"



"Lepaskan...!"



"Tidak! Aku tidak mengerti terhadap pemikiranmu ini...! Kenapa kau harus saja bersikap seperti pasrah terhadap dunia ini---"



Alvin merasa sangat kesal hingga ia menghantam kedua tangan Korrina yang sedang memegang kerah bajunya dengan sangat erat, kedua lengan Korrina langsung terjatuh dan berhenti memegangnya karena hantaman tersebut. Korrina mundur satu langkah lalu menatap wajah Alvin yang terlihat kesal dengan wajah kesalnya juga.



"Hadapilah dunia kejam ini! Hadapilah kenyataan pedih ini! Juga takdir menyakitkan yang pasti akan terjadi...!" Bentak Alvin dengan sangat kesal.



"Apa yang harus kulakukan?! Aku hanyalah manusia yang tidak bisa merubah dunia kejam ini, kenyataan pedih ini, dan juga takdir menyakitkan ini menjadi sesuatu yang lebih baik!!!"



Korrina menghampiri Alvin lalu ia mendorongnya hingga punggungnya mengenai batang pohon besar yang terletak di belakangnya. "Tunjukan kepada dunua! Tunjukan semua kemampuan dan apa kegunaanmu sebenarnya untuk menjadi manusia!"




"Jika aku menunjukkan mereka maka mereka hanya akan terus mengejekku dan terus merendahkanku tanpa henti, semua ini sudah terlambat karena aku sudah benar-benar menjadi manusia yang akan selamanya di rendahkan!!!"



Mendengar hal itu membuat Korrina merasa sangat kesal mendengar teman-nya mengatakan sesuatu yang sangat bodoh. "JANGAN BERPIKIRAN SEPERTI ORANG TOLOL!!!" Teriak Korrina dengan ia langsung menjenggut rambut Alvin dengan sangat keras, Alvin langsung memegang kedua tangannya dan mencoba untuk menjauhkan kedua tangan itu dari rambutnya.



"Aku tidak bisa menerima ini! Selama ini temanku yang aku percayai seharusnya bisa melakukan sesuatu untuk membuat semua orang yang merendahinya percaya bahwa kau bukanlah manusia yang seharusnya di rendahkan!!!"



"KORRINA, SEBENARNYA KAU INI MAUNYA APA UNTUK TERLALU MEMPERDULIKAN DIRIKU INI SEJAK KITA KELAS 1 SMP!?" Tanya Alvin dengan wajah yang kesal. Ia mendorong Korrina pelan sampai ia terdorong mundur untuk beberapa langkah.



"Sudahlah... Jangan habiskan waktumu dengan manusia rendahan sepertiku." Ucap Alvin dengan nada yang lelah, ia tidak mau terus berdebat dengan Korrina.



"Aku menyukaimu, Alvin." Ucap Korrina dengan wajahnya yang memerah sedikit, ia memiliki perasaan cinta terhadapnya karena ia ingin sekali berpacaran dengan orang yang kuat dalam perasaan contohnya seperti Alvin. Hal itu membuat Alvim cukup terkejut hingga kedua matanya langsung membulat. "Heh...?"



"Mungkin cukup aneh dalam situasi ini karena aku telah mengungkapkan perasaanku kepadamu... Aku tidak berbohong, Alvin. Aku menyukaimu!" Ucap Korrina dengan wajah yang sangat serius.



Setelah di hari itulah Alvin dan Korrina telah resmi berpacaran, karena mereka telah lulus dari SMP jadi sudah jelas mereka akan masuk SMA untuk belajar lebih lanjut. Korrina sudah mengetahui semuanya tentang Alvin hingga ia berencana untuk menemukan Alvin dengan keluarganya yang sangat kaya.



Seketika Korrina memperkenalkan Alvin kepada orang tua-nya, Ayahnya merasa terharu karena melihat putri kecilnya bisa memiliki seorang pacar yang memiliki tubuh fit seperti terus-menerus melakukan gym dan juga tampangnya juga terlihat sangat tampang bagi Ibunya Korrina.



"Permisi... Namaku adalah Alvin Ghifari. Senang bertemu dengan kalian, tante, om..." Ucap Alvin dengan ia menundukkan kepalanya kepada Ayah Korrina yang bernama Futsu dan Ibu Korrina yang bernama Koura. Wajah Alvin terlihat masih cukup dingin dan mulai susah untuk memperlihatkan eksperesi senang.



"Kau tidak perlu bersikap terlalu formal, Alvin. Anggap saja rumah ini adalah rumahmu." Koura tersenyum.



"Korrina menceritakan banyak hal tentangmu. Mulai sekarang dari hari ini juga kau harus tinggal bersama kami... Kalau bisa jadilah suami bagi putri kecil kami." Ucap Futsu dengan ia menggaruk-garuk puncak kepalanya selagi tertawa.



"P-Papa, hentikan...!" Ucap Korrina dengan wajahnya yang mulai memerah karena mendengar Ayahnya yang telah merestui Alvin untuk menikah dengan Korrina.

__ADS_1



"Dengan senang hati." Ucap Alvin dengan ia tersenyum HANYA sedikit. Mereka sudah 10 bulan berpacaran dan sekarang Alvin merasa sangat nyaman juga mempercayai dirinya. Korrina hanyalah sosok manusia yang bisa Alvin percayai.



"Whoaaa! Pacarmu cukup kalem dan keren gitu lhooo, Korrina!!! Ayo, kalian! Bikin anak secepatnya!!!" Teriak Koura dengan penuh semangat karena ia ingin sekali secepatnya memiliki seorang cucu.



Mendengar hal itu membuat Korrina cukup canggung hingga wajahnya langsung memerah dan memanas seperti air mendidih, sedangkan Alvin ia hanya menunjukkan eksperesi yang terkejut sedikit seperti mengerutkan dahi-nya. "Apa...?" Tanya Alvin.



"MAMAAAA!!!" Teriak Korrina dengan sangat keras.



Kehidupan Alvin mulai membaik seketika ia tinggal bersama keluarga Korrina, Alvin bisa masuk SMA karena Koura yang telah membiayai-nya dalam sekolah. Setiap hari Alvin melawan semua murid yang melawannya hingga ia terua masuk ke dalam ruangan BK, tetapi keluarga Korrina tidak marah terhadap dirinya karena ia melukai mereka demi melawan mereka yang terus membully-nya bahkan jika ada satupun murid yang mendekati Korrina maka wajahnya akan hancur oleh pukulan Alvin.



Kepala sekolah dari SMA Alvin tidak bisa mengeluarkan Alvin karena ia memiliki kepintaran yang sangat besar hingga sering masuk peringkat satu di kelasnya. 3 tahun telah terlewati dan Alvin juga Korrina berhasil lulus dari SMA, keluarga Korrina merencanakan untuk memberi hadiah kelulusan mereka sebuah alat teknologi untuk bermain game VRMMORPG yang sedang trending di zaman mereka. Game VRMMORPG pertama mereka ialah Clash of Gods



Di dalam game itu mereka berdua hidup sebagai player yang hanya ber-party berduaan saja karena mereka memiliki skill, perlengkapan, dan juga senjata yang lengkap untuk melawan siapapun contohnya seperti boss di dalam dungeon. Sikap Alvin perlahan mulai berubah dan membaik ketika ia dan Korrina telah mencapai tingkat yang paling atas yaitu seorang player yang sangat terkenal.



Berkat game itu Alvin sekarang mampu menunjukkan wajah senang dan juga senyuman senangnya. Tetapi suatu hari, seluruh akun yang pernah ia buat telah terkena hack oleh hacker yang sangat mahir dalam teknologi dan juga para hacker menyebarkan tentang identitas Alvin yang sebenarnya hingga semua player yang memainkan Clash of Gods lalu meremehkannya dan juga merendahkannya tanpa henti.



Alvin masih memiliki satu akun yang ia simpan dengan aman, para hacker tidak bisa meng-hack akun itu karena akun tersebut adalah akun berkarakter lemah yang Alvin miliki. Sikap Alvin yang dulunya suka membantu dan telah berhasil menemukan kesenangannya telah hilang untuk selamanya dan menjadi seseorang yang sudah tidak akan mempercayai siapapun kecuali Korrina dan mertua-nya.



Sekarang ini, seorang GM memanggil SEMUA player yang sedang bermain Clash of Gods di tempat seperti Colosseum. Semua player sedang duduk di atas tempat duduk mereka selagi menatap Alvin yang sedang berada di lapangan dengan wajah yang kesal dan dingin lebih kesal dari sebelum ia bermain VRMMORPG ini.



"DASAR ANAK HARAM!!! APA-APAAN KAU MENTANG-MENTANG TOP PLAYER TAPI SELALU MEMBANTU YANG LAIN WALAUPUN KAU INI HANYALAH MANUSIA RENDAHAN...!!!" Teriak para players kepada Alvin yang terlihat hanya diam selagi menggepalkan kedua tinjunya. Korrina hanya bisa melihat Alvin yang sedang di ejek habis-habisan oleh semua player.



"RASAIN TUH TAI!!! SEMUA AKUN CLASH OF GODS-MU TELAH DI HACK DAN SEKARANG KAU BUKANLAH SEORANG TOP PLAYER LAGI MELAINKAN PLAYER RENDAHAN...!!! KAU SAMA SEPERTI GOBLIN!!!"



"INI SEMUA KARENA AKU INI SEORANG ANAK HARAM YA!?" Teriak Alvin dengan sangat keras hingga membuat semua player terdiam.



"KALIAN MEMILIKI KEWAJIBAN APA UNTUK MENGATAKAN DIRIKU INI ANAK HARAM WALAUPUN KALIAN INI TIDAK MENGENALIKU...!!! INI HANYALAH GAME BUKANLAH DUNIA ASLI TETAPI KALIAN TERUS MENGOLOK-NGOLOK DIRIKU INI...!!!"



"BODO AMAT, ANAK HARAM!!! DI ZAMAN MODERN SEKARANG, DUNIA GAME ADALAH PENGGANTI DUNIA ASLIII!!!" Teriak semua player hingga membuat kedua mata Alvin terbuka dengan sangat lebar dan berubah menjadi warna merah. Jendela pesan muncul tepat di depan Alvin yang mengatakan, 'Crimson's Hatred got Unlocked for the rest of the game. Feel your destiny'



Alvin berlutut lalu ia menatap ke arah GM dengan wajah yang sangat terkejut, kedua matanya bisa terbuka lebar. GM itu tiba-tiba mulai menertawai Alvin dengan terbahak-bahak hal itu membuat Alvin sangat kesal melihat tawaan GM tersebut.  "Jadi begitu ya... Ternyata GrandMaster itu mengenal diriku di dunia asli ya...?"



"S-SIALAN...!!!" Teriak Alvin dengan sangat kesal, ia mencoba untuk bergerak menuju GM itu tetapi ia tidak bisa karena seluruh tubuhnya tiba-tiba tidak bisa bergerak. GM itu ternyata memberikan efek stun kepada Alvin untuk beberapa menit.



"Semua ini masuk akal... GM itu pasti telah meng-hack seluruh akunku karena dia iri terhadap diriku...! Apakah dia sekejam ini hingga mampu membuatku sengsara di dunia asli dan dunia game!?"



"Semua manusia memang tidak bisa aku harapkan lebih banyak lagi, mereka memanglah sampah dan egois yang hanya percaya terhadap sesuatu yang bisa mereka lihat... Aku sudah kesal melihat manusia-manusia ini... Memangnya aku memiliki salah apa kepada mereka?!"



"Sudahlah...!!! AKU SUDAH MUAK UNTUK TERUS SENGSARA SEPERTI INI...!!!"



"TERSERAH KALIAN!!!!" Teriak Alvin dengan sangat keras hingga kedua matanya kembali menjadi warna hitam.



"MULAI SEKARANG JUGA INGATLAH BAHWA SEMUA PLAYER YANG BERMAIN GAME VRMMORPG... AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN SEMUA TANPA MEMBERIKAN AMPUNAN APAPUN...!!!"



"AKU RENDAHAN YA!? SAMPAH YA...!? TERSERAHLAH KALIAN... AKU ADALAH MUSUH KALIAN MULAI SAAT INI... LIHATLAH SAJA BAHWA KALIAN AKAN LEBIH SENGSARA DARI DIRIKU INI..." Alvin berjalan pergi selagi menatap Korrina, mereka dua langsung log-out dan berencana untuk tidak bermain game Clash of Gods lagi.



"Aku akan menjadi antagonis dari dunia game itu saja... Aku akan membunuh mereka semua agar mereka sadar bahwa kita tidak melihat dari luar..." Ucap Alvin dengan ia mengepalkan kedua tinjunya dengan sangat keras.



°°°



BERIKUT INI ADALAH SKETSA DARI ILLUSTRASI COVER NOVEL CONQUEROR OF WORLD... MASIH DI DALAM PROSES YA~~~





__ADS_1


__ADS_2