Conqueror of World

Conqueror of World
Chapter 8 - Tantangan Player vs Player


__ADS_3

Alvin yang sedang duduk bersantai di atas kursi teras-nya selagi meminum kopi-nya yang sangat hangat tiba-tiba di datangi oleh seseorang yang sangat ia kenal yaitu Rina dengan baju seragam sekolah yang ia pakai. "Papa!!! Selamat siang~!" Ucap Rina dengan ia bergerak menuju Alvin lalu memeluknya dengan sangat erat.



"Ahh, Rina... Selamat datang, kenapa kau datang ke tempat ini di hari senin?" Tanya Alvin dengan wajah yang datar. Seharusnya Rina akan berkunjung setiap minggu tetapi sekarang tidak biasanya ia datang di hari senin, hari yang paling menyebalkan bagi kaum murid yang masih bersekolah.



"Tehehe~ Mama memberitahuku bahwa kita akan makan-makan bersama di restauran yang penuh dengan daging!!!" Ucap Rina dengan ia menunjukkan wajahnya yang sangat bersemangat. Mendengar hal itu membuat Alvin sedikit terkejut karena jauh-jauh Rina datang SENDIRIAN ke rumahnya tanpa seseorang yang mengatarnya pulang.



"Rina, apa yang Papa katakan kepadamu tentang pulang sendirian?" Tanya Alvin dengan wajah kesalnya tetapi wajah kesal itu bisa di lihat sebagai wajah yang marah bagi Rina dan Rina merasa tidak terlalu takut melihat wajah Alvin yang selalu saja menunjukkan eksperesi kesal, marah, kalem, dan datar.



"M-Maaf, Papa. Aku terburu-buru." Rina terkekeh lalu ia menggaruk-garuk rambutnya yang tidak terasa gatal karena ia tidak mau selalu di marahi oleh Alvin terus-terusan karena Rina ini memiliki sikap kenakalannya dari Alvin dan juga Korrina.



Korrina membuka pintu teras lalu ia menatap Rina yang telah datang menggunakan baju seragamnya, Korrina langsung mengangkat dan memeluknya dengan sangat erat karena Rina benar-benar datang untuk makan bersama-sama seperti keluarga. "Rinaaaa~ Selamat datang!!!"



Korrina dan Rina mulai saling memeluk satu sama lain juga tertawa terbahak-bahak bersama layaknya seperti seorang Ibu dan seorang putri yang mencoba untuk mempererat hubungan mereka. Alvin hanya bisa menatap mereka berdua. "Yang benar saja... Papa tidak ikut dalam pesta mendadak ini---"



***



"... ..." Alvin menatap jendela di sebelah kirinya selagi menatap pemandangan yang dipenuhi dengan gedung yang memiliki teknologi tinggi. Alvin terpaksa untuk ikut karena Korrina dan Rina menggusurnya masuk ke dalam mobil-nya yang canggih, di masa-masa ini semua kendaraan tidak memiliki ban melainkan ban tersebut telah di ganti oleh sebuah ban yang lebih canggih, ban tersebut bisa terbang dan juga mobil di zaman modern seperti ini mampu bergerak seperti pesawat jet jiga menancap gas terlalu dalam.



Korrina mengendarai mobil Alvin selagi tersenyum melihat wajah Alvin yang terlihat sedang marah karena ia dipaksa untuk ikut dalam makan bersama, Korrina sudah merencanakan ini sejak kemarin berdua bersama Rina untuk beristirahat sebentar dari dunia game juga untuk bersenang-senang bersama Rina yaitu putri mereka yang sudah berumur 5 tahun.



"Daging~ Daging~ Rina bisa makan daging bersama Papa dan Mama~" Rina mulai menyanyi lagu buatannya tentang daging karena ia merasa sangat bersemangat bahwa ia bersama kedua orang tua-nya akan memakan daging yang sangat banyak.



Rina mulai berdiri dari tempat duduk-nya lalu mulai memeluk Alvin dengan sangat erat. "Papa~ Bersenang-senanglah~" Rina mulai menggerakan kedua jarinya menuju mulut Alvin dan ia langsung membuat bibir Alvin tersenyum hingga membuat Korrina terkekeh.



"Pfft... Ahahaha...! Alvin, seharusnya kamu merasa senang bahwa Rina bisa bersama dengan kita." Ucap Korrina selagi menatap jalanan dan tujuan mereka itu berada tepat di depan mereka yaitu restauran yang bertema daging. Restauran itu memiliki semua daging yang ada di dunia.



Beberapa menit kemudian, mereka memesan meja untuk tiga orang dan Korrina juga memesan banyak sekali daging hanya untuk dirinya, Alvin, dan juga Rina agar mereka bisa makan banyak hari ini. Rina dengan cepat langsung memanggang daging yang sangat ia sukai yaitu daging sapi.



Korrina juga mulai menyantap daging panggangnya, Alvin yang berada di sebelah Korrina sedang menatap layar hologram yang berada di depannya, hologram itu sedang menunjukkan website guild tentang INFO dari senjata belati yang Alvin gunakan karena senjata itu adalah senjata andalan yang hanya ia miliki. Korrina membiarkan Alvin membaca info tersebut selagi memakan daging-nya, Korrina langsung berbicara dengan Rina selagi menyuapinya karena Korrina ingin sekali menyuapi putrinya sendiri karena sudah lama sekali ia menyuapi Rina.



"Rina, bagaimana sekolah?" Tanya Korrina dengan senyuman lebar.



"Hebat~ Teman-temanku semua selalu memperbicarakan game CoW itu loh, Mama! Sebentar lagi 'kan pembagian rapot." Rina terkekeh karena sekolahnya berjalan lancar dan dirinya ini sama sekali tidak pernah di bully atau di rendahi oleh murid lain, beda seperti Alvin.



Walaupun Rina adalah anak dari Alvin dan Korrina, ia mendapatkan kehidupan yang cukup bahagia. Mendengar hal itu membuat Alvin cukup lega dan senang karena Rina adalah penerus dirinya di masa depan tetapi ia memiliki masa yang berbeda dengannya, Rina yang memiliki masa-masa yang senang sudah membuat Alvin senang karena ia berjanji kepada Korrina dan mertuanya bahwa Rina diwajibkan untuk memiliki kehidupan yang senang beda dari dirinya sendiri.



Rina sudah mengetahui semua hal tentang Alvin hingga ia setiap minggu selalu saja menghibur Alvin sampai-sampai ia hanya bisa menunjukkan eksperesi senangnya kepada keluarganya saja seperti Korrina, Rina, Koura, dan Futsu.



"Sebentar lagi bagi rapot?! K-Kapan!? Ja-Jangan kamu sebentar lagi libur!?" Tanya Korrina dengan wajah yang terkejut karena sebentar lagi Rina akan mengalami libur yang panjang dan itu artinya bahwa dirinya akan menghabiskan waktu bersama dirinya juga Alvin.



"Iya! Mama, Papa, bolehkah aku tinggal bersama kalian sampai libur selesai?" Tanya Rina.



"Tentu saja!" Ucap Alvin dan Korrina bersama, Korrina mengucapkannya dengan nada semangat sedangkan Alvin biasa saja seperti lemas. Hal itu membuat Rina sangat senang hingga ia langsung memeluk Korrina dengan sangat erat.



Hari ini adalah hari dimana keluarga Ghifari merayakan keliburan Rina yang panjang di restauran yang sangat amat mewah, bahkan restauran ini hanya pantas atau layak bagi seseorang yang memiliki uang untuk membeli sebuah kota di zaman 2019



"Rapot-ku akan dibagikan besok, Mama! Bisakah kita datang bersama besok?!" Tanya Rina dengan ia menatap wajah Alvin dan Korrina dengan kedua matanya yang bersinar seperti matahari yang terbit bagi Korrina dan Alvin. Alvin mulai mengusap rambutnya lalu ia menunjukkan senyuman kecil-nya kepada Rina.



"Kita lihat saja besok..."



"Aku pasti akan datang kok, Rina. Kita pergi bersama ya~? Kamu harus menginap sekarang ya." Ucap Korrina dengan ia mengelus rambut Rina juga karena sebagai ibu-nya, ia memiliki tugas yang sangat berat untuk selalu membuat anak Rina senang karena di suatu hari Rina pernah menangis karena jatuh hingga membuat Korrina terkejut setengah mati dan melampiaskan emosi kesal melihat Rina menangis di dunia game dengan membunuh semua player tanpa ampun.



Mereka menikmati makanan mereka dengan sangat damai hingga tiba-tiba seorang pria yang memakai kacamata mulai menghampiri meja Alvin lalu menghalang teknologi hologram yang sedang Alvin baca, hal itu membuat Alvin menatap wajah pria berkacamata tersebut. Pria itu memiliki tubuh yang terlihat seperti seorang mahasiswa yang cukup kaya.



"Cukup beruntung juga bagiku untuk bertemu denganmu, Alvin Ghifari." Pria itu tersenyum kesal kepadanya dan tiba-tiba seorang gadis mulai menghampirinya lalu menatap wajah Alvin dan Korrina, sepertinya mereka mengenali jelas tentang Alvin.



Alvin bangkit dari atas kursi lalu ia mulai menghalang Korrina dan Rina, ia menatap wajah pria itu dengan wajah yang sangat kesal karena ia bertemu dengan mereka di waktu yang sangat tidak tepat. "Apa yang kalian mau...? Yuzaru dan Mikanuka?" Tanya Alvin dengan rautan wajah yang kesal hingga membuat Korrina langsung memeluk erat Rina.



Rina menatap mereka dengan eksperesi yang khawatir, Rina jarang sekali menunjukkan eksperesi ketakutan ketika melihat Alvin yang selalu berurusan dengan orang yang selalu membencinya melainkan ia mencoba untuk menenangkan Alvin dan mencoba untuk mengajaknya pulang. "Papa...?"



"Alvin, kau mengenal mereka?" Tanya Korrina, Alvin menjawab pertanyaan tersebut dengan sebuah anggukan.



"Yuzaru dan Mikanuka, mereka termasuk player yang berada di guild The Black Sun... Hazuro dan Mikal." Ucap Alvin dengan wajah yang kesal.



Korrina langsung terkejut mendengar itu hingga ia mencoba untuk menghindari situasi saat ini karena dia sedang bersama Rina. "Ahhh... Kalian akhirnya menunjukkan kepadaku tentang anakmu itu." Yuzaru mulai menunjuk Rina hingga Alvin langsung menghantam telunjuknya dengan wajah yang sangat kesal.



Alvin dan Yuzaru pernah bertemu sebelumnya, mereka bertemu di tempat kuliahan Alvin. Sejak itu Yuzaru selalu saja membuat Alvin kesal dan memanas dengan perkataannya yang sangat tidak enak untuk di dengar bagi Alvin hingga sejak itulah Alvin menghajarnya hingga Yuzaru di bawa ke rumah sakit. Korrina tidak mau Rina untuk melihat Alvin mengamuk lagi karena perkataan yang Yuzaru katakan kepadanya.



"Anak haram sepertimu ternyata telah membuat sesuatu yang cukup menarik seperti gadis yang di peluk oleh pacarmu itu." Yuzaru mulai tersenyum.



"Di game yang sangat tenar ini... Conqueror of World, kalian berdua masih saja player yang suka membunuh ya? Memang manusia sampah."



"Lidahmu sepertinya harus masuk ke rumah sakit lagi, Yuzaru. Dunia game dan dunia asli itu berbeda jadi kau seharusnya menjauhkan urusan kemanusian dengan game...!" Alvin mulai mengepalkan kedua tinjunya dengan sangat keras.



"Yuzaru, hentikan. Apakah kau tidak pernah sadar bahwa Alvin bisa saja membawamu ke rumah sakit lagi, aku ulangi... Jangan pernah mencoba untuk membangunkan kemarahan terdalam Alvin." Ucap Korrina dengan ia bangkit dari atas kursi selagi menggendong Rina yang sedang menatap Alvin dengan wajah yang khawatir.



"Sadarlah situasi, jika kau ingin membuat masalah maka lakukanlah di tempat yang lain karena tempat ini bukanlah pilihan yang baik untuk dijadikan sebagai keributan. Bersikaplah seperti orang dewasa karena banyak sekali orang sedang menikmati makanan mereka dengan damai dan juga kita sedang membawa anak kita berlibur, jadi... Bukan waktu yang tepat." Ucap Korrina.



"Itu benar. Kau mau memiliki masalah denganku maka bagaimana kalau kita selesaikan di CoW? Mari kita melakukan duel, kau dan aku..." Alvin mulai menyilangkan kedua lengannya selagi menatap wajah Yuzaru.


__ADS_1


"HAHAHAHAHAHA!!!" Yuzaru mulai tertawa terbahak-bahak karena Rina adalah anak dari Alvin dan Korrina membuat dirinya tertawa terbahak-bahak karena sepertinya Rina juga adalah anak haram yang lahir di luar nikah, Alvin dan Korrina belum menikah sama sekali hingga sekarang tetapi Alvin sudah merencanakannya.



Semua orang yang sedang menikmati makanan mereka tiba-tiba menatap Yuzaru dengan wajah yang terganggu. "ANAK ITU ADALAH ANAK KALIAN...!? MEMANGNYA KALIAN SUDAH MENIKAH APA?! HAHAHAHAHAHA!!!" Yuzaru mulai tertawa terbahak-bahak dan Mikanuka juga mulai ikut tertawa terbahak-bahak bahwa seorang anak haram akan memiliki seorang anak yang haram juga.



Alvin mulai menunjukkan eksperesi yang sangat kesal hingga Korrina mulai mendekatinya lalu ia menyentuh bahu kanan Alvin dan Rina mulai memegang erat baju Alvin.  "Alvin, lebih baik kita pergi saja... Kita tidak boleh membuat keributan besar disini." Ajak Korrina, ia mencoba untuk menenangkan Alvin sebelum Yuzaru membangunkan kemarahan Alvin yang sangat dalam.



"ANAK HARAM JUGA TERNYATA MEMILIKI ANAK YANG HARAM JUGA... TERNYATA GADIS ITU JUGA TERMASUK ANAK HARAM YAAAA...!?" Teriak Yuzaru dengan sangat keras hingga membuat Korrina terkejut, Rina tidak merasa tersinggung sama sekali melainkan ia hanya menatap Alvin yang tiba-tiba mulai melebarkan kedua matanya lalu ia menunjukkan eksperesi yang sangat amat kesal hingga puncak batas dari kemarahannya telah hancur karena telah mengatakan Rina sebagai anak haram.



"Alvin, hentika---!" Korrina mencoba untuk menghentikannya tetapi semua itu terlambat karena Alvin langsung bergerak maju menuju Yuzaru dan menghantam wajahnya menggunakan tinju kanannya yang dipenuhi dengan tenaganya, pukulan tersebut mampu membuat Yuzaru jatuh di atas lantai dan membuat kacamatanya retak hingga mulut dan hidungnya mulai mengeluarkan darah.



Hal itu membuat semua orang langsung memperhatikan mereka dengan wajah yang kebingungan karena Alvin saat ini sedang berada di pusat perhatian mereka semua. Korrina langsung terkejut melihat itu karena ia terlambat untuk menghentikan Alvin dan juga menghalang kedua mata Rina untuk membuatnya tidak melihat Alvin yang memukul Yazura.



"Y-Yazura!?" Mikanuka langsung membantu Yazura berdiri karena saat ini Yazura merasa kesakitan yang dahsyat di wajahnya. Alvin mencoba untuk bergerak maju menuju Yazura dan menyiksa dirinya tanpa ampun, tetapi Rina melompat lalu ia menghampiri Alvin dan memeluk kedua kakinya dengan sangat erat hingga membuat Alvin terdiam dan tenang bahwa Rina putrinya sedang berada di tempat yang sama dengannya, itu artinya bahwa Rina telah melihat Alvin memukul wajah Yazura. "... ..."



Yazura bangkit dari atas lantai lalu ia menatap wajah Alvin dengan sangat kesal. "Aku akan menunggumu... Alvin... Di collosseum..." Yazura dan Mikanuka langsung meninggalkan Alvin.



"Papa... Hentikan..." Ucap Rina dengan ia memeluk Alvin dengan sangag erat hingga Alvin hanya bisa terdiam lalu mengangguk. Korrina merasa cukup terkejut melihat Alvin yang tiba-tiba langsung tenang karena Rina yang telah memeluknya. "Alvin... Rina..."



***



Beberapa jam kemudian, mereka telah pulang dengan selamat. Alvin bergegas menuju kamar selagi membaca informasi lebih tentang pedang belati-nya karena hari ini adalah hari dimana ia akan ber-duel bersama seorang player kuat di CoW, ia tidak mau kalah karena jika ia kalah maka semuanya akan berakhir untuk dirinya yang mencoba untuk membalas dendam yang sangat berat untuk mereka. "... ..."



Alvin terus membaca semua informasi tersebut tanpa henti hingga tidak ada tulisan yang terlewati oleh-nya, hari ini juga ia tidak berencana untuk kalah melainkan menang dan membunuh Hazuro secepat mungkin karena rasa kemarahannya masih tersangkut di dalam emosi-nya. "Kau sudah membangunkan kemarahanku... Aku tidak akan memaafkanmu..." Alvin langsung mengepalkan kedua tinjunya dan mulai menyiapkan diri.



Beberapa menit kemudian, Alvin dan Korrina tiba di collosseum yang berada di kota Legenia, banyak sekali player dan juga NPC yang sangat menunggu terhadap pertarungan Alvin melawan Hazuro. Alvin sedang melakukan beberapa setting terhadap ketiga sihirnya karena sebelum ia datang ke collosseum ini, ia tidak lupa untuk membeli beberapa sihir [Scrolls]



Alvin datang cukup bersiap, stats-nya sudah sepenuhnya di atur, skill dagger-nya sudah ia periksa dan hafal karena sepertinya ia akan menggunakan senjata utamanya sebagai serangan yang fatal untuk Hazuro, sihir juga sudah sepenuhnya ia atur, dan ia membawa paku yang sangat tajam berjumlah 20 di seluruh pinggangnya karena ia juga membutuhkan jarum-jarum itu sebagai serangan darurat. Setiap pertarungan pasti Alvin tidak akan melupakan tentang persiapan, perlengkapan dan juga yang paling penting adalah rencana.



"Alvin, jangan melupakan ini." Korrina tiba-tiba memberikan Alvin pedang yang ia gunakan karena Alvin membutuhkan pedang itu untuk bertahan, jika ia terus menggunakan belati-nya selama 10 detik lebih maka kedua matanya sudah pasti tidak akan bisa melihat karena efek blindness.



[Plantinum Skin Sword]


[ATK 14-20]



"Pedang yang lemah... Pedang ini sudah pasti akan hancur dengan cepat jika aku menahan beberapa hantaman dari pedang milik Hazuro..." Ucap Alvin dengan wajah yang sangat serius, ia langsung mengeluarkan dagger-nya dan melihat stats dagger tersebut.



[Alvin's Acid Phython Level 6]


Weapon - Dagger - Special


Wielder: Killer of Entity (KOE)


ATK ~ 90-110


'Pedang belati yang hanya bisa di gunakan oleh player yang memiliki Job KOE'




"Ini...? Flash Potions?" Tanya Alvin dengan ia langsung mengambil semua botol itu lalu ia memasukkan semua botol itu ke dalam inventory-nya, Korrina mengangguk lalu ia tersenyum layaknya seperti memberi semangat terhadap suaminya. "Ya... Gunakanlah dengan cara yang paling aku suka dari cara bermainmu, sayang."



"Hmph... Dunia game CoW ini bebas, tidak ada yang melarang karena di duel ini tidak ada yang namanya pertarung melainkan bertarung hingga darah kita menempuh 5%... Jika itu terjadi maka kita sudah tidak bisa menyerang lagi." Alvin menatap ke depan dimana beberapa detik Player VS Player antara Alvin dan Hazuro akan di mulai.



"Semoga beruntung..." Korrina mulai menepuk bahu kiri Alvin hingga Alvin lalu menatap wajahnya dan mencium bibirnya sebentar lalu ia menatap ke depan kembali dengan wajah yang sangat serius.



"Sekarang juga...! Kita akan memulai pertarungan terhadap player yang bernama Alvin dan juga player yang bernama Hazuro akan bertarung di arena yang besar ini...!!!" Ucap seorang GM, semua player dan NPC langsung berteriak penuh semangat hingga mereka semua langsung mendukung Hazuro karena dia adalah player yang berada di guild TBS.



"Mari kita langsung mulai saja pertarungan di antara kedua player ini... Di sisi barat terdapat seorang player yang memiliki job KOE, job pelarian dari semua job yang ada dari game CoW ini... Alvin!!!" Pintu gerbang yang menghalangi Alvin langsung terbuka dan ia langsung berjalan masuk ke dalam arena pertempuran itu dengan wajah yang sangat serius, tidak ada satupun yang bersorak atau mendukung Alvin melainkan Korrina sendiri yang sedang berada di tempat tunggu-nya.



"Apa-apaan ini...? Kenapa harus menantang si Alvin itu...?"



"Bukannya dia cukup mengerikan dalam pertarungan satu lawan satu...? Mengapa seorang Smasher seperti-nya memiliki keberanian yang mampu menantangnya dalam pertarungan PVP ini."



"Kau tidak boleh meremahkan Hazuro si penghancur tulang dari guild The Black Sun, dengan menggunakan senjata andalannya yaitu <>, senjata drop dari monster Minotaur yang sangat langka dan juga mematikan jika seseorang mampu menggunakan senjata itu."



"Di sisi timur, terdapat seorang player yang memiliki job sebagai Smasher dan dia juga berasal dari guild The Black Sun...! Hazuro!" Pintu gerbang yang menghalangi Hazuro langsung terbuka dan ia langsung berjalan masuk ke dalam arena pertempuran selagi menggusur senjata-nya yang sudah menghancurkan beberapa tanah.



Alvin mulai menatapnya dengan wajah yang sangat serius sedangkan Hazuro membalas tatapan tersebut dengan tatapan yang sangat tajam, ia mulai memperlihatkan senyumannya hingga Alvin bisa melihat gigi-nya yang putih.



"Kau ternyata benar-benar datang, Alvin... Aku kira kau hanya akan bersembunyi seperti seorang player yang sangat pengecut." Hazuro memulai pembicaraan hingga Alvin langsung mengeluarkan pedang yang berada di belakangnya, ia juga mengambil sarung dari pedangnya karena ia akan menggunakannya sebagai senjata tambahannya.



"Untuk apa aku menyia-nyiakan kesempatanku dalam mengalahkan wajah sialan-mu itu? Kau mengatakan kata-kata yang seharusnya kau tidak ucapkan kepada Rina... Kau benar-benar sudah membangkitkan kemarahan terdalam diriku ini..." Alvin mulai melakukan kuda-kuda berpedangnya hingga ia langsung menunjukkan wajah yang sangat kesal dan kedua matanya terlihat sangat suram juga mati seperti ingin sekali membunuh seseorang yang ia tatap.



"Mari kita lihat kemarahan yang kau selalu katakan itu, Alvin... Pertarungan PVP ini berjalan dengan bebas 'kan? Tidak ada pertarungan yang tersedia melainkan jangan saling membunuh." Hazuro mulai bersiap juga.



"Tidak ada peraturan? Aku adalah player pelarian jadi aku tidak akam mengikutinya karena peraturan bagiku itu sangat pantas untuk di langgar... Peraturan dibuat hanya untuk di langgar."



GM itu langsung menunjukkan stats-stats dari mereka berdua hingga semua player dan NPC langsung melirik ke atas dimana terdapat jendela besar yang menunjukkan stats mereka berdua. Di sisi barat terdapat jendela yang menunjukkan milik Alvin.



[Alvin] [Level 11]


×Status× °SP - 0°


•HP [ 2 ]


•MP [ 2 ]


•STR [ 85 ]


•DEF [ 2 ]


•AGI [ 15 ]


•INT [ 2 ]

__ADS_1


•LUCK [ 2 ]



Semua orang langsung tertawa terbahak-bahak melihat status yang dimilik Alvin karena status-nya terlihat sangat tidak seimbang, ini pertama kalinya bagi mereka melihat player yang selalu di perbicarakan karena kemahirannya dalam membunuh untuk melihat status yang Alvin miliki di dunia CoW ini. "Apa-apaan dia...? Apakah dia sedang bercanda sekarang?"



"Pffft... Ahahaha!!! Apakah kau memiliki permasalah di otakmu itu, Alvin?! Stats-mu benar-benar seperti kotoran goblin...! Lebih rendah melainkan STR, kau pikir STR adalah status yang kau pikir itu penting apa?" Tanya Hazuro.



"Aku tidak membutuhkan semua pembicaraan kalian karena aku memilih apa yang aku ingin pilih. Kalian tidak mengendalikan tubuhku atau mengatur kehidupanku jadi kalian berhak untuk diam sebelum sesuatu yang aku rencanakan sejak lama akan terjadi." Ucap Alvin dengan wajah yang sangat serius.



[Hazuro] [Level 14]


×Status× °SP - 0°


•HP [ 20 ]


•MP [ 10 ]


•STR [ 39 ]


•DEF [ 31 ]


•STA [ 15 ]


•INT [ 15 ]


•LUCK [ 20 ]



Alvin menatap status milik Hazuro dan ia sepertinya berada di situasi yang sangat jelas bahwa ia akan kalah dalam perbandingan status. Ia mulai berpikir sejenak dengan otak-nya yang selalu memberinya jawaban dan rencana dalam memenangkan sebuah pertarungan. "Status-ku sudah jelas berada di bawahnya karena level dan juga diriku dalam menaikan status STR saja... Aku berada di situasi yang cukup sulit saat ini dan aku hanya bisa menang dengan peluang 30%..."



"Hp yang aku miliki sangatlah kecil dibandingkan dengannya karena status HP yang ia miliki berjumlah sebesar 20... Itu artinya dia masih bisa bertahan dengan beberapa serangan sedangkan diriku... Dua hantaman dari palu itu maka aku sudah pasti akan kalah karena aku tidak tahu damage dari palu yang ia gunakan... Minotaur's Hammer..."



"Job smasher ini lemah terhadap kecepatan dan keterlambatan dalam menyerang maka aku bisa menggunakan peluang itu dengan semua serangan yang aku sudah rencanakan... Dan... Dengan skill dari pedang belatiku maka aku bisa menembus seluruh tubuh-nya dengan melakukan beberapa serangan fatal."



"Tapi... Aku tidak bisa meremehkan player yang sedang aku lawan ini... Semua player yang berada di guild TBS itu sudah pasti kuat dan berada di bawah level Kizuki saat ini, itu artinya aku harus berhati-hati dalam menyerang." Alvin berhenti berpikir lalu ia mulai menatap dirinya sendiri dimana ia sudah benar-benar siap dalam menyerang Hazuro.



"Di pertarungan ini tidak ada pertarungan penting melainkan peraturan yang berkaitan dengan bertarung sampai darah kalian menginjak angka 0, peraturan itu berlaku karena aku sudah melakukan beberapa pengaturan dalam PVP ini." Biasanya melakukan sistem PVP ini bisa di lakukan dengan player-nya sendiri, tetapi terkadang terdapat beberapa player yang selalu memilih peraturan untuk melakukan sistem PVP hingga akhir atau bisa disebut bertarung hingga mati.



Jadi GM memiliki kewajiban besar dalam mewakili sebuah PVP agar insiden itu terjadi, Alvin dan Hazuro mulai menutup kedua mata mereka hingga suara para penonton mulai menghilang. GM itu langsung tersenyum melihat mereka berdua yang sudah bersiap untuk bertarung. "Aku beri waktu 5 menit untuk kalian bertarung... Jika seorang player memiliki HP di bawah 20% maka dia kalah...! Bersiap!"



Jendela yang menunjukkan hitung mundur mulai muncul di atas collosseum itu hingga Alvin dan Hazuro langsung membuka kedua matanya. Seketika hitungan mundur itu menempuh angka 0, GM itu langsung mengangkat tangan kanannya.



"Pertarungan antata kedua player!!! DI MULAI...!!! SEKARANG!!!" Teriak GM itu dengan ia langsung memulai pertarungan itu.



"MOUNTAIN CREATE!!!" Tiba-tiba Hazuro langsung menggunakan sihir-nya, ia menunjuk tanah yang Alvin injak dengan tangan kirinya lalu ia mengendalikan tanah tersebut dengan mengeluarkan sebuah gunung kecil yang hampir terlihat persis seperti gunung yang besar, sihir itu mampu membuat gunung dari tanah dengan mudah. Alvin langsung lengah terhadap sihir itu hingga gunung itu membawa menuju ke atas.



Alvin menatap ke bawah dimana ia sudah berada jauh dari daratan berkat sihir itu. "Menggunakan sihir ini... Berkaitan dengan batu atau tanah ya...? Apakah dia berencanakan sesuatu?" Alvin langsung melompat ke depan menuju Hazuro yang sedang berada di bawah tanah selagi menatap Alvin yang mencoba untuk menyerangnya dari atas.



"Pintar... Pintar sekali...!" Hazuro langsung melakukan gaya menahan ke atas karena ia sudah menebak apa yang akan Alvin lakukan, seketika Alvin berada di depan Hazuro tanpa basa-basi apapun ia langsung mengayunkan pedangnya ke arah palu milik Hazuro dengan tenaga yang besar hingga mampu mengeluarkan suara besi yang teradu.



*CLAAAAANG!!!*



Alvin melompat mundur lalu ia menatap Hazuro yang tiba-tiba bergerak maju menujunya, dengan cepat ia mengayunkan palu-nya menuju arah kepala Alvin karena sasaran yang selalu Hazuro incar ialah kepala. Alvin dengan cepat langsung mundur beberapa langkah dan maju ke depan untuk menebas wajahnya.



Palu yang mencoba untuk menghantam kepalanya tiba-tiba menghantam tanah di bawahnya  hingga mampu membuat tanah-tanah tersebut membentuk seperti kotak panjang yang mendorong Alvin mundur, tanah-tanah yang terbentuk itu mengenai dada Alvin hingga mampu membuatnya terdorong mundur. "Sihir dan senjata yang berkaitan dengan tanah maupun batu... Sepertinya dia juga cukup mahir dalam pertahanan---"



Alvin langsung membulatkan matanya melihat palu Hazuro yang terlempar menuju arah dirinya, dengan cepat Alvin langsung menghindari palu tersebut dengan melompat ke atas lalu ia mendarat di atas tanah dengan melihat ke belakang. "T-Tidak mungkin...!?"



Sesuatu yang ia lihat membuatnya terkejut karena palu itu tiba-tiba terbang dan berputar kembali menuju dirinya, Alvin tidak memiliki kesempatan dalam menghindar jadi ia tidak memiliki pilihan lain selain menahan palu itu menggunakan pedang dan sarung dari pedang tersebut. "... ...!!!"



*CLAAAAANG!!!*



Pedang dan sarung pedang yang Alvin pegang dengan sangat erat langsung teradu dengan palu yang sedang berputar itu, *CRACK* suara retakan dari kedua senjata yang Alvin pegang mulai terdengar dan sepertinya ia secepatnya harus menghindar serangan itu sebelum palu tersebut mampu menghantam perut atau dadanya.



Alvin tiba-tiba menunjukkan sebuah senyuman licik di wajahnya hingga kedua senjatanya langsung hancur dan ia langsung terhantam dengan palu yang berputar itu hingga terpental ke belakang dan mengenai tembok yang berada di belakangnya.



*BAMMMM!*



Palu itu berhenti berputar hingga Hazuro langsung menunjuk palu besarnya dan palu tersebut langsung terbang kembali menuju Hazuro, ia langsung mengambil palunya dengan sebuah senyuman di wajahnya karena Alvin mendapatkan serangan yang cukup fatal di bagian perutnya. "Hmph, ini saja? Atau kau merencanakan sesuatu dari senyuman tadi?"



"Hati-hati, Hazuro. Kau tidak boleh lengah terhadap Alvin karena semua rencananya itu sangat mematikan..." Ucap Kizuki dengan ia berkomunikasi dengannya melalui Guild Call.



Tiba-tiba detak jantung Hazuro langsung berdetak dengan sangat cepat karena merasakan perasaan yang aneh seketika ia melihat Alvin yang mulai tersenyum seperti penjahat. "Hmph-haha..." Alvin mulai perlahan bangkit dengan luka darah di perutnya karena hantaman palu tadi.



"Cih! Tidak akan aku biarkan---" Seketika Hazuro bergerak ke depan tiba-tiba ia menginjak sesuatu yang bersinar dan seketika ia menginjaknya sinar kecil tersebut langsung meledak dan mengeluarkan beberapa asap yang besar hingga membuat semua player dan NPC terkejut melihat hal itu.



*BAMMMM!!!*



"A-Apa itu...?!" Tanya semua player dengan melihat ledakan tadi.



"Hmph-hahahahaha!!! Apakah kau suka dengan salah satu dari sihirku? Sihir yang sangat cocok bagi diriku sang pembunuh player ini...! Sihir ini itu sama seperti bom injak melainkan kau tidak bisa melihatnya tetapi aku bisa melihatnya dengan jelas... <>" Ternyata Alvin diam-diam menggunakan sihir-nya.



"Seketika aku mencoba untuk menahan serangan Hazuro... Aku secara diam-diam menggunakan sihir Energymines melalui jari-jariku hingga sihir tersebut mampu tergeletak di beberapa tanah, sihir ini memiliki batas dalam penggunaan yaitu 20 kali letakan, sekarang... Hanya tersisa satu lagi sebelum 18 dari sihir itu kau injak!!!" Alvin langsung mengeluarkan belatinya lalu ia bergerak maju dengan sangat cepat menuju arah Hazuro lalu menusuk perutnya dengan sangat dalam hingga tangan kanan-nya langsung tembus keluar dari punggung Hazuro.



"Aghhh...!!!" Hazuro memuntahkan banyak darah dari mulitnya, semua player dan NPC langsung kebingungan melihat Alvin yang tiba-tiba memiliki kecepatan yang meningkat cukup drastis. "Sepertinya aku cukup beruntung---"



"HYAAGGHHH!!!" Teriak Hazuro dengan ia langsung mengayunkan palu-nya ke arah leher milik Alvin, kedua mata Alvin melihat palu itu bergerak menuju arah lehernya. Melihat itu membuat bibir Alvin tiba-tiba tersenyum dengan sangat jahat seperti memiliki rencana yang sangat amat licik seperti tadi.



"Hmph..."


__ADS_1



__ADS_2