
Waktu bergulir semestinya berjalan tanpa berhenti walau sedetik. Kehidupan berjalan bagai roda yg berputar kadang di atas kadang dibawah. Begitu pun kehidupan Dirta dan Nur kini mereka harus menanggung segala konsekwensinya ketika menjadi seorang yg terpandang. Tidak bisa ditolak lagi karena begitu lah kehidupan para pembisnis tidak akan mulus layak nya jalan tol pasti ada saja batu kerikil yang menghambat tiap langkah.
Jangan dikira harta banyak hidup seseorang akan bahagia karena terjamin. Nyata nya pahit dengan harta manusia banyak dibutakan jabatan sehingga menjadi tamak lagi serakah. Dirta berusaha menjalankan usaha papa nya yang mengambil alih sementara waktu hingga papa nya sehat kembali. Dirta dalam menjalankan tugas nya dibantu Ali sobat sekaligus keluarga yg mampu Dirta percaya.
Kehidupan Dirta berubah drastis awal nya cupu banyak dihina dan di bully kini menjadi seorang primadona kampus. Banyak wanita yang mencoba menarik perhatian nya. Wajar selain keren Dirta merupakan seorang pembisnis muda yang tampan dan kaya. Membuat Nur tak nyaman dibuat nya. Mereka semua tau bahwa Dirta sudah menikah tapi seolah buta akan fakta yg ada. Mereka di tulikan dengan bisikan setan sehingga tak memperdulikan dan tak mengindahkan lagi kebenaran.
Semakin keren Dirta berpenampilan maka semakin banyak yg mengejarnya. Membuat Nur ingin sekali menendang bahkan mencakar para muka tembok itu yang tidak tau malu. Tapi jika melakukan nya satu lawan beribu banyak orang pasti kalah. Dirta tidak menyadari bahwa Nur mulai memiliki rasa cemburu.
__ADS_1
Ditambah lagi si centil Sifa yang mulai terang-terangan menggoda Dirta tak peduli didepan umum serasa urat malu nya sudah putus tak menghiraukan lagi harga dirinya. Membuat Nur jijik di buatnya. Sifa bertekad mendapatkan Dirta kembali walau harus menjadi pelakor tak masalah. Bahkan nanti setelah mendapatkan Dirta secara perlahan dan pasti menguasai harta Dirta lalu setelah itu akan menendang Dirta. Memang tujuan awal dari Sifa mendekati Dirta ingin membalas dendam kepada Dirta. Sifa ingat betul perlakuan Dirta kepada dirinya waktu lalu.
Sifa tetap berusaha merayu Dirta bagaimanapun caranya, Sifa telah bertekad. Tak heran jika Sifa memiliki sifat pendendam sama hal nya dengan mama Sifa bagai buah tak bakal jatuh dari pohon nya. Semua sifat buruk mama nya menurun pada Sifa. Entah lah masih adakah sifat baik nya lagi atau sudah terkubur dan terkalahkan sifat buruk.
Sifa telah berias diri secantik mungkin dan kini ia tengah bercermin memandang dirinya. "Perfect " begitu lah Sifa bergumam lalu tersenyum.
Sebelum nya resepsionis telah meminta Sifa menunggu sebentar karena menemui Dirta harus memiliki janji terlebih dahulu. Tapi Sifa dengan angkuhnya mengaku bahwa ia adalah kekasih Dirta sekaligus tunangan nya sehingga tidak perlu membuat janji. Tapi resepsionis tersebut tersenyum dan mengatakan bahwa siapapun harus mematuhi protokol peraturan perusahaan tersebut. Hal ini membuat Sifa marah dan dengan paksa menemui Dirta. Sifa berlari menuju lift lalu menekan tombol angka yg menunjukkan ruangan Dirta. Resepsionis berusaha mencegah nya namun tak berhasil. Mereka hanya pasrah dan siap menanggung resiko nya akibat kelalaian dalam menjalankan tugas.
__ADS_1
Sifa telah berada di depan ruangan Dirta bertepatan ia akan membuka pintu Ali keluar dari ruangan tersebut. Karena sedang terburu-buru tak dihiraukan nya Sifa. Sifa tersenyum merasa lega karena Ali tak mengenali dirinya jika tau pasti nya sudah di tendang dan akan gagal menemui Dirta. Sifa membuka pintu dan melihat Dirta tengah berdiri di dekat jendela memandang keluar. Sifa berjalan perlahan lalu memeluk Dirta dari belakang. Dirta yg dipeluk nya secara tiba-tiba terkejut apalagi Sifa yg melakukan nya. Dirta emosi di buatnya berusaha melepaskan pelukan itu. Namun semakin Dirta meronta semakin kuat pula Sifa memeluk. Di lain tempat Nur telah berada di meja resepsionis menanyakan dimana ruangan Dirta karena mereka tau Nur adalah istri Dirta mau tidak mau resepsionis menunjukkan ruangan Dirta. " Akan terjadi perang besar ini " gumam resepsionis setelah Nur berlalu.
Nur telah berada di depan ruangan Dirta dan membuka pintu. Apa yg dilihat nya sangat membuat Nur terluka. Tanpa dihiraukan nya lagi Nur berlari pulang tanpa mau mendengarkan penjelasan Dirta. Dirta yg sadar akan kehadiran Nur cepat melepaskan pelukan dari Sifa. Sebelum pergi Dirta memaki Sifa dan memperingatkan agar tak lagi menampakkan wajahnya. Lalu tak disangka Dirta menampar Sifa hingga meninggalkan bekas merah di pipi Sifa. Sifa menangis lalu berlari pulang dijalan terus menerus menyumpahi Dirta dan tak henti nya mengatakan" tunggu dan lihatlah apa yg telah kau lakukan hari ini akan kau bayar dengan setimpal nanti"
Sifa terus menerus menangis karena perlakuan kasar Dirta namun dihapus nya air mata itu dan bertekad mendapatkan Dirta lalu terdengar Sifa tertawa terbahak-bahak dengan nyaring nya membuat siapa saja yg mendengar merinding sendiri.
Sedangkan Dirta tengah merayu Nur agar mau bicara dengan dirinya dan menjelaskan semua yg terjadi. Tapi Nur hanya diam dan tak bergeming sedikitpun. Nur masa bodo dengan hal itu. Dirta terus menerus menyakinkan bahwa itu hanya salah paham belaka. Nur yang mendengar nya merasa muak dan hendak pergi namun Dirta menahan tangan Nur karena posisi tak stabil Nur jatuh kedalam pelukan Dirta. Tanpa sadar Dirta mencium kening Nur dan membuat Nur bergegas berdiri lalu berjalan meninggalkan Dirta seorang diri. Kini jantung mereka tengah dag dig dug. Mereka berusaha menstabilkan kembali degup jantung masing-masing. Nur masuk kamar dan mengunci diri lalu tidur namun tak bisa di pejamkan matanya. Dengan susah payah Nur berusaha tidur jika sebelum tidur ia melihat cermin terlebih dahulu maka akan dilihat nya pipi yang berwarna merah bagai kepiting rebus. Hal ini membuat Nur tak bisa melupakan kejadian barusan. Diselimuti nya seluruh tubuh dan berusaha kembali untuk tidur. Lain hal nya dengan Dirta ia tersenyum dengan kejadian tadi.
__ADS_1