
Wajah Nur yang sedang di masker sehingga tampak putih tebal hanya kelihatan kelopak mata dan bibirnya saja dan pakaian yang di kenakan Nur daster putih sampai lutut seakan menambah kesan bagai kunti yang berayun di kursi dengan kaki menjuntai tidak nampak di lantai. Jangan lupakan musik yang selow namun terasa mencekam saat di dengar membuat merinding seluruh tubuh. Dirta yang ingin melihat keadaan Nur berdiri mematung di depan pintu, tanpa komando langsung jatuh tersungkur tertidur bukan tidur tepat nya Dirta pingsan. Nur yang belum saat akan kehadiran Dirta pun tetap duduk santai sambil mengayunkan kaki dan mendengarkan musik agar dapat merefreshkan pikiran yang sedang kalut. Saking asik nya dengan dunianya sendiri Nur tidak mendengar suara pintu terbanting dengan kuat serta bunyi jatuh yang berdebum lumayan keras pula.
Saat Nur membuka mata, ia bingung sebab pintu tadi tertutup tapi tiba-tiba terbuka lebar. Mata Nur menelisik ruangan tiba saat matanya melirik lantai. Sungguh kejutan Dirta tiduran di lantai dengan pose yang tidak ada elit nya sama sekali. Nur pun berjalan perlahan dan menepuk pipi Dirta.
Dirta yang sedang pingsan pun merasa ada yang menepuk pipinya hingga ia membuka matanya. Alangkah terkejutnya Dirta.....
" Setan.......Allahulaillaha....." Dirta komat kamit membaca ayat kursi.
" Siapa setan heh sembarangan bicara, lihat baik-baik ini aku Nur." Nur sewot di katai setan oleh Dirta. Nur memasang wajah cemberut dengan pipi yang di gembungkan dan bibir yang di monyongin.
__ADS_1
" I-i-in ini beneran Nur bukan setan kah?"
" Jangan mengada-ada hari masih terang mana ada setan berkeliaran sembarangan."
" Habisnya pakai masker putih banget terus daster aja warna putih pula. Kenapa tidak malam hari saja sih maskeran nya."
" Aish kalo bukan istri sudah ku ....?"
" Apa tadi bilang kalo bukan istri mau di apain hah." Belum selesai Dirta bicara sudah di potong Nur.
__ADS_1
" Ah eh tidak kok tidak. Aduh kok jadi menyeramkan ya sekarang Nur ini bikin aku senam jantung aja." Dirta bicara dengan pelan agar Nur tidak dengar.
" Ngomong apa itu..!"
" Tidak ada kok tidak ada."
Dirta merasa sial dan juga malu. Gaya nya yang cool dan keren tidak ada bandingnya runtuh sudah karena ketakutan pada setan. Serta tadi pingsan sebab mengira ada hantu di siang hari yang nyatanya malah Nur yang sedang maskeran. Ditambah lagi amukan Nur haduh Dirta merasa jadi suami takut istri. Entahlah sejak kapan Dirta merasa ketakutan jika Nur pergi darinya atau marah kepadanya. Perasaan tidak ada yang dapat menebak dengan pasti. Semua adalah rahasia tabir Illahi. Manusia hanya dapat menjalani skenario Tuhan semata tanpa ada yang tahu apa yang terjadi kedepannya. Hanya dapat menjalani apa yang sedang di alaminya saat ini. Dirta merasa cinta nya pada Nur tumbuh dengan sendirinya. Yang awalnya menolak perjodohan siapa sangka akan ada perasaan di dalam nya ketika sudah di jalani secara perlahan.
Nur yang melihat Dirta melamun hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah absrud suaminya. Nur memandang Dirta secara lekat-lekat tampak oleh nya pahatan wajah yang sempurna alis tebal, hidung mancung, bibir tipis dengan warna merah alami, wajah yang proporsional. Tubuh yang macho dan dada yang bidang jangan lupakan otot perut yang kotak-kotak sungguh mahakarya Tuhan yang paling sempurna, menurut Nur. Dirta yang dipandang Nur seperti itu tersipu malu dengan rona wajah yang merah seperti tomat. Dirta berdehem dan salah tingkah. Padahal dirinya seorang pria yang seharusnya tebar pesona segala keindahan agar kaum hawa tersipu malu tapi siapa sangka malah dirinya yang harus salah tingkah dibuatnya. Dirta merasa seakan-akan di telanjangi oleh tatapan Nur, padahal sah-sah saja sebab istri nya sendiri. Dirta seakan ingin menggali tanah untuk mengubur diri nya sendiri saking malunya. Apalagi bertambah dengan perilaku nya tadi, sungguh mencoreng nama ke machoan dirinya.
__ADS_1