
Kejadian demi kejadian terlewatkan begitu saja tanpa adanya suasana yang bisa menghitamkan putih nya kertas. Tanpa adanya kesan yg meninggal kan kenangan. Bagai alur yg tak terkendali. Maju mundur tanpa henti nya. Berjalan dengan skenario rumit tanpa bisa diperkirakan. Halus serta tipis nya benang bagai tabir takdir yang tak tertembus. Walau tipis tapi tak tembus pandang. Hanya ada rahasia yg terselubung dalam setiap langkah. Jika saja dapat terbaca maka semua akan menyiapkan dengan sebaik mungkin. Tak ada manusia yg menginginkan kegagalan. Namun nyatanya setipis apa pun kabut itu tetap lah tertutup.
Cahaya keemasan mulai tampak terpancar dari ufuk timur. Aktivitas yg tadinya sunyi bagai kota mati kini kembali ramai dengan kegiatan masing-masing. Tiada yang bersantai ria semua sibuk dengan pekerjaan yg telah di geluti nya. Terpancar wajah semangat dengan mengawali terang nya suasana hati.
Dirta kembali beraktivitas lagi dengan semangat baru tak ada yg bisa mengalahkan perjalanan nya semua terasa mudah jika berusaha dan tetap optimis berjalan. Namun semuanya akan sulit jika terhenti karena caci. Semua usaha Dirta telah diupayakan sebaiknya dengan sungguh-sungguh demi membuktikan bahwa diri nya bukan anak mami yg manja. Apalagi waktu itu penampilan culun bagai anak rumahan yg kudet tanpa tahu menahu kejadian luar. Nyatanya dirinya merupakan anak update dengan segala kondisi yg ada.
Dengan perjalanan waktu kini mulai tumbuh rasa cinta di antara keduanya. Kadang kala ada kecemburuan jika melihat orang yg di sayang nya dekat dengn yg lain.
Dirta bersama Ali sahabat sohib nya berjalan masuk keruang Presdir. Sementara waktu Dirta mengambil alih tugas papa nya. Berusaha Dirta dengan kemampuan yg dimiliki nya mencoba menjalankan amanah yg diemban nya saat ini.
Dilain tempat Nur sedang menyiapkan makan siang untuk Dirta. Nur telah lupa dengan kejadian yang membuat mereka berdebat. Bagaimana pun juga Nur istri Dirta dirinya harus berbakti walau hatinya belum ada rasa tapi setidaknya harus menunjukkan bahwa dirinya bukan istri yang durhaka.
Setelah selesai membuat makanan Nur menata dengan rapih di dalam kotak makanan. Nur berjalan memasuki ruangan Dirta setelah melakukan perjalanan yg lumayan jauh. Dirta tengah duduk di kursi sibuk di depan layar monitor. Nur yg melihat nya jalan perlahan mendekati Dirta karena tak ingin mengagetkan serta mengganggu. Dirta tak sadar bahwa Nur telah berdiri di depan nya. Mungkin karena terlalu fokus, Nur yg merasa tak diperhatikan keberadaan nya mengambil inisiatif. Nyatanya Dirta telah tau bahwa Nur di dekat nya namun berpura-pura tak mengindahkan nya. Nur kemudian mencium pipi Dirta dengan malu-malu. Dirta menoleh didapati nya Nur dengan rona wajah yg memerah bagai kepiting rebus atas tindakan yg dilakukan nya tadi.
" cie mulai berani ya main cium "
" lah kamu ini, gitu ya dari tadi gak merhatiin atau pura-pura cuek dasar kecebong nakal"
" hidih apa tuh kecebong. Diri ini tampan bagai pangeran bisa nya disamakan dengan kecebong air. "
" tampan dari mana sih pangeran kodok yaps baru bener"
" dasar istri durhaka "
__ADS_1
" terus dirimu suami tak ada akhlak"
" kebiasaan ya gak pernah ada baik nya ama suami sendiri"
" mau di baikin ya jgn suka mancing emosi orang dong sayang ku cintaku manis ku muah muah muah "
" ouh meleleh aku hahaha "
" apa lilin kali meleleh "
"baru di puji udah buat masalah lagi"
" hahaha rasanya asik loh jahilin kamu tuh"
" waduh roman ngeri muncul disertai tawa nih"
" kenapa takut kah"
" gak sih mana ada aku takut dirimu"
" udah ah males jadi nya mau pulang aja deh"
" eh ya jangan gitu dong masa udah jauh kesini pulang gitu aja sih gak seru dong"
__ADS_1
" oh jadi mau berantem gitu biar seru. kebiasaan emang gak ada akhlak deh"
" payah deh punya istri temperamen gini"
" au lah bodo amat dah "
" jangan ngambek lagi dong, plisss"
" yaudah makan geh udah masakin nih banyak dan khusus buat suami ku"
" nanti ya bentar lagi nih masih banyak kerjaan nya."
" sekarang lah gak mau tau aku nya"
" bawel nya dirimu ini"
" makan gak 🙄😒"
" ya tapi bentar lah kan tau nih lagi ngapa"
Terlalu lama Nur menunggu tak dimakan nya maka Nur pun mengambil nya lalu berjalan kearah Dirta dan duduk di pangkuan Dirta. Sedangkan Dirta kaget dengan perilaku Nur yg bertindak tak seperti biasanya. Nur tampak gugup namun sudah terlanjur maka dikuatkan hatinya untuk menutupi malu nya toh sudah muhrim.
Suapan demi suapan yg Nur berikan ke Dirta tanpa terasa waktu seakan berjalan lambat jam dinding seakan tiap detik nya seperti siput yg merambat perlahan. Hingga rona pipi Nur semakin terlihat memerah. Telinga seakan panas ingin meledak. Dengan jantung yg begitu berdebar sangat hebatnya. Antara gugup bercampur grogi jadi satu bagai paduan musik perang siap bertempur. Pertama kali nya Nur merasa sedekat ini dengan pria apalagi yg ada di depan nya adalah suami nya sendiri yg tak pernah akur selalu saja ada hal yg didebatkan sehingga hubungan itu renggang bagai terpisah jurang yg menganga lebar siap menjatuhkan siapapun yg menyebranginya.
__ADS_1