
Malam itu aku memintanya datang ke rumah. H-7 dari hari ulang tahunnya. Sengaja, untuk memberi sedikit kejutan padanya. 'ciiieeee'
"yappp. Kado buat abang dah siap! Tinggal nunggu dia dateng aja nihh."
Tak lama kemudian, dia datang dengan suara berisik sepeda tuanya.
'tiinn tiiiinnn'
Aku langsung bersiap di belakang pintu, kado ku simpan di balik tirai. Dia mendekat ke arah pintu.
"Hei. Apa kabar aii? Sehat kan ya?"
"Eh iya nih alhamdulillah sehat. Abang sehat juga?"
"Iya alhamdulillah sehat. Tadi kenapa nyuruh abang kesini? Kangen ya?"
"Hiah jangan kegeeran napa." Sambil ku tonjok perutnya.
"Aih sakit lah aii."
Aku hanya tersenyum meihatnya kesakitan. Sekian menit berlalu, kami habiskan dengan menghitung kendaraan yang lalu lalang.
"Aii sebentar yaa, mau masuk ke dalem bentar"
Dia hanya mengangguk sambil mengunyah gorengan di mulutnya.
__ADS_1
"Aii sini bentar."
"Ada apa? Wait wait."
"Cepetan sini Abaaang !"
"Wait aii, sepatuku hilang sebelah ini."
Dia mendekat ke arahku tanpa alas kaki dengan sedikit berlari. Ketika sampai di depanku, ku tarik tangannya dan ku peluk tubuh berjaket tebal itu. Dia terkejut. Sekian menit dia hanya terdiam kaku. Sebelumnya kita tak pernah memeluk satu sama lain, untuk bergandengan tangan pun tidak pernah. Aku pun merasa membeku dalam pelukan hangat itu.
Setelah lama dia membeku, lalu dia balas mendekapku. Dekapan erat nan hangat. Namun ku masih membeku. Ya, malam itu aku merasa ada hal aneh dalam tubuhku. Ku paksa bibirku untuk berbicara.
"Aii, Abangku sayang, 7 hari lagi kamu ulang tahun kan. Selamat ulang tahun kuucapkan hari ini ya bang. Semoga kamu cepet ketemu sama pendamping hidup kamu. Semoga sehat terus. Dilancarkan segala urusannya. Doa yang baik-baik buat Abang semua."
"Kenapa?"
"Aku sayang kamu Aii."
"..." Aku hanya bungkam.
Bagaimana bisa hal ini terjadi? Aku tak tau harus berbuat apa. Tak tau harus berbicara apa.
'Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi?'
__ADS_1
Dia pun ikut terdiam, memandangku dengan tubuh yang masih bergetar.
"Abang kenapa tadi gemeteran?"
"First kiss Aii." Dia menatapku polos, sambil menyentuh letak jantung yang berdegup keras itu. Ya, dia berhasil membuatku Speechles mendengar jawaban itu. Bagaimana mungkin?
Ahh, ku alihkan saja pembicaraan saat itu.
"Ini kado buat abang."
"Wah. Seriusan ini buat Abang?"
"Iya dong! Dari adekmu yang paling manis."
"Iya, makasih Aii." Sambil dia cubit pipi tembemku.
"Sama-sama abangkuu. Semoga bermanfaat yaa Aii."
"Aamiin. Ku trima kado dari kamu. Isinya apa nih Aii?"
"Nanti di rumah aja bukanya Aii!" Dia tak memperdulikan. Dia tetap membuka kadonya.
"Wah topi. Makasih Aii" Dia tersenyum bahagia. Mungkin kalau tidak ku cegah, hadiah topi itu pasti langsung dipakai olehnya.
"Jangan dipake sekarang lah!"
"Iya iya sayang, oke"
Dia tersenyum memandangku gemas. Dia kembali membawa tubuhku dalam dekapannya. Dan melanjutkan kecupan hangatnya.
"I love you Aii" Dia berbisik padaku di sela kecupan hangatnya. Aku tak berkutik. Kenapa rasanya seperti first kiss? Oh tuhan... Aku hanya terdiam merasakan kecupan demi kecupan. Kenapa aku hanya diam. Kenapa aku tak berontak? Kenapa aku menjadi beku?
"Abang stop!" Aku mengelak. Dia tak merespon penolakanku. Aku terbawa, tubuhku merespon dengan sendirinya. Dekapan hangatnya membuatku tak merasakan suasana dingin malam itu. Malam itu...
__ADS_1
Tuhan.. Maafkan aku.