Daijobu

Daijobu
Eps 5


__ADS_3

--- Tetesan Air Matamu ---



Aku beranjak pergi dari ranjang rapuh itu, mencoba berjalan keluar bilik berharap ada orang yang ku temui.



Ku cari ke sekeliling rumah, namun tak ku temukan seorang pun. Hanya ada seekor kucing manis yang mendekat ke kakiku.



Ku ikuti kemana kucing manis berkalung itu berjalan. Ternyata dia menuju teras depan rumah, duduk di kursi panjang yang ada di bawah pohon mangga. Ku temani dia duduk disitu, sambil ku belai lembut bulu putihnya.



"Liontin ini. Kayak punyaku yang kukasihkan Abang waktu itu. Kamu kucingnya Bang Rey kah pus?"


"Meow meow" Jawabnya sambil mengusap-usapkan badannya ke pangkuanku. Aku bercanda dengan si kucing manis itu, masih terus mengajaknya bicara walau dia hanya menjawab 'meow'.



Tak lama kemudian, aku mendengar suara kaki melangkah dari arah belakangku. Aku tak berani menoleh.



' Srek. Srek. Srek. ' Suara itu semakin mendekat. Aku hanya berdoa dalam hati berharap itu bukan suara dari sesuatu yang menakutkan.



Dan tiba-tiba,



"Eh Nak Oca sudah bangun? Sudah enakan badannya?" Suara seorang paruh baya dari belakangku.



'Fiuhhh. Alhamdulillah, bukan momok. Emm, gimana bisa Ibu ini tau namaku?' Ucapku dalam batin.


__ADS_1


"Alhamdulillah sudah Bu. Maaf Ibu siapa ya? Kok Ibu tau nama Oca? Apa ini rumah Ibu juga?" Jiwa kekepoanpku melanda. Si kucing di pangkuanku tiba-tiba berlari ke arah si Ibu. Aku melihat si Ibu hanya tersenyum mendengar pertanyaanku, kemudian ia duduk di sampingku.



"Pasti banyak pertanyaan di pikiranmu sekarang ya? Nanti kamu pasti nemuin jawaban dari semua pertanyaanmu kok. Sabar ya Nak manis." Jawabnya sambil mengusap kepalaku.



"Hehe iya Bu, maaf kalo Oca merepotkan. Tapi Oca belum sholat maghrib Bu, bisa Oca numpang sholat di rumah Ibu?"



"Boleh dong. Yuk masuk. Habis sholat kita langsung makan malam yaa."



~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~



"Assalamu'alaikum. Bu, Rey pulang."


"Wa'alaikumsalam. Sudah sholat belum?"




'Hah? Rey? Bang Rey kah??? Apa benar ini rumah Bang Rey? Kok bisa? Apa dia yang udah bawa aku kesini? Kenapa?'



'Sreeettt!' Suara tirai terbuka. Yap, bilik ini tak berpintu. Hanya tertutup sehelai tirai sederhana dengan jahitan tangan.



"Loh? Bang Rey? Kok Abang dis...." Tiba-tiba Bang Rey mendekapku. Pertanyaanku terputus, dan tak terjawab. Dia mendekapku erat, seakan tak ingin dia melepasku.



"Abang! Oca gabisa napaasss!" Lalu dia melepaskanku agar aku bisa bernafas, dan kemudian mendekapku lagi. Kali ini aku masih bisa bernafas dalam dekapannya, dekapan hangatnya.

__ADS_1



"Dikau ngapain disini Aii? Ini rumahmu kah? Tadi dikau yang bawa Oca kesini kah? Kenapa?"


"Sst diem bawel."



Dia melepaskan dekapannya, memandangiku dengan tatapan kesal namun dengan air mata yang hampir tumpah.



"Kalo lagi sakit libur dulu lah kerjanya Aii. Jangan dipaksain gitu." Air matanya menetes.



"Oca gapapa kok abangku sayang. Santuy dungggg. Udah jangan nangis gitu lahh. Senyuuuumm." Jawabku sambil mengusap air matanya.



"Gimana bisa santuy? Kamu sampe pingsan di kantor kek gitu Abang disuruh santuy? Gabisa lah Aii." Dia berjalan menjauh dariku, mendekati jendela dengan berusaha mengeringkan air matanya.



Aku menghampirinya, ku peluk dia dari belakang. Ku sandarkan kepalaku di punggung berbalut jaket tebal itu, dengan melingarkan tanganku di pinggang rampingnya.



"Maafin Oca. Oca dah bikin khawatir. Dah ngerepotin juga. Maaf Aii."


Dia tak menjawab. Aku pun merasa bersalah padanya.



Aku mencoba berjalan meninggalkan dia, berharap semoga sedihnya segera pergi. Namun ternyata dia mengejarku kemudian membawaku dalam dekapannya lagi, dekapan hangat yang menghanyutkan. Jantungku berdegup tak karuan. Kemudian dia membiskkan sesuatu di telingaku.



"Jangan pergi Aii. Disini aja sama Abang."


__ADS_1


~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~


__ADS_2