
--- Rumah Hangat ---
Aku masih dalam dekapannya. Entah sudah berapa lama kami berdiri mematung dalam bilik sempit tak berpintu ini.
"Dah ah. Makan yuk. Laper nih."
"Jangan tinggalin Abang." Ucapnya dengan manja.
"Iya bawel!"
Dia mengikutiku menuju ruang tengah, sekaligus ruang makan. Yapp, hanya terdapat meja berukuran kecil untuk menyajikan makanan dengan beberapa kursi. Dan ranjang kecil di depan tv. Sangat sederhana.
Ibu sudah menyiapkan dua piring berisi nasi untukku dan Bang Rey, dua kali lipat porsi makanku di rumah. Aku dimintanya untuk mengambil lauk dan sayur sendiri.
"Bu. Piringnya satu aja yaa." Bang Rey tiba-tiba mengambil piring yang ku pegang. Dia menambahkan lauk dan sayur dan meletakkan dua sendok di atasnya. Ibu terlihat heran saat memperhatikan tingkah Bang Rey.
"Yuk!" Sambil menggandengku masuk ke dalam bilik lagi.
"Ibu makan sendirian? Kesian tauuu!" Aku berjalan pergi meninggalkan dia. Tanganku ditarik olehnya, hingga aku terduduk di pangkuannya. Untung piring yang dia pegang tidak terjatuh.
"Bentar lagi Bapak pulang kok. Ibu makannya nungguin Bapak dulu Aii. Santuy dong. Kamu duduk sini, di kasur sini. Abang suapin. Udah jangan bawel, habisin yaa manis biar cepet sembuh."
"Kamu mah yang bawel Bang. Dasar lah!" Dia tertawa melihatku mengomel. Dia menyuapiku sambil ku wawancarai tentang kejadian tadi sore. Dengan sabar dia menjawab semua pertanyaanku.
"Ooo jadi gitu ceritanya. Emm, jadi terharu aing Bang. Makasih yaa, maaf banget udah ngerepotin Abang."
"Lain kali jangan diulangi. Janji?"
"Iya Insyaallah Oca ga gitu lagi."
__ADS_1
~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~
"Assalamu'alaikum." Ku dengar suara pria mengucapkan salam. Dijawablah salam tersebut oleh Ibu.
'Ooo ternyata Bapaknya si Abang dah pulang. Salim ahh.' Aku keluar untuk memberi salam pada Bapak.
"Kamu yang namanya Oca, Nak?" Tanya Bapak padaku.
"Iya betul Pak, kok Bapak sama Ibu bisa tau nama Oca?"
"Itu si Rey sering banget cerita soal kamu." Jawab Bapak sambil tersenyum. Aku pun hanya membalasnya dengan senyuman. Aku pamit untuk masuk ke dalam bilik lagi.
Bapak dan Ibu berbincang-bincang sejenak, kemudian makan malam bersama. Candaan demi candaan masih bisa terucap dari mulut mereka. Masih seperti pengantin baru. Tak seperti kedua orang tuaku.
"Uuuu sosiwtnya Ibu Bapakmu Aii"
"Kamu pingin? Sini Abang peluk siniii." Tanyanya sambil mendekat ke arahku dengan merentangkan tangannya.
"Yaudah. Cium pipi aja kalo gitu. Yes yes yes???"
"No way!"
Kami beradu kata hingga tak terasa sudah larut malam. Sebelumnya, aku sudah meminta izin Ibu untuk menginap malam ini. Ibu mengizinkanku menginap, dengan syarat aku harus meminta izin pada orang tuaku terlebih dahulu.
Alhamdulillah, orang tuaku mengizinkanku menginap disini. Ibu memintaku untuk tidur di kamar Bang Rey. Sedangkan Bang Rey tidur di ranjang kecil depan tv.
~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~
Pukul 12 malam aku masih terjaga. Ku lihat tv masih menyala, ku fikir Bang Rey masih belum tidur juga. Aku pun menghampirinya.
"Yahh si Abang, ini mah tv yang nonton Abang yang lagi tidur." Ucapku sambil mematikan tv. Kemudian aku duduk di tepi ranjang itu.
__ADS_1
"Kesian dikau Bang. Maaf Oca udah ngerepotin Abang." Ku usap rambut hitamnya. Iba aku melihatnya tidur di atas ranjang tanpa kasur. Beberapa nyamuk mulai mendekatinya. Aku berinisiatif mengambilkan dia selimut dari dalam kamarnya. Namun dia terbangun.
"Aii kamu ga bobo?"
"Em iya ini mau tidur Aii"
"Gabisa bobo ya? Maaf kamar abang gabisa bikin kamu nyaman."
Aku terdiam. 'Ya ga juga sih, tapi emang lebih nyaman pelukanmu Bang'
"Kok diem kenapa?"
"Gapapa. Oca tadi tuh keluar cuma mau matiin tv, soalnya Oca liat Abang ketiduran. Dah ah, pamit tidur dulu yaa, daahh." Aku meninggalkanya.
Aku tidur menghadap tembok, membelakangi pintu alias tirai. Sengaja tak ku tutup karena lampu kamar ku matikan. Sedangkan lampu di ruang tengah masih menyala.
'Sreett'
"Abang tidur sini Aii, di luar dingin."
Tiba-tiba dia tidur di belakangku, tak peduli aku menjawab ya atau tidak. Aku hanya diam. Tak berani merespon. Aku pura-pura sudah terlelap. Suara detik jam dinding menggangguku, aku semakin tak bisa tidur. Namun aku tak berani bergerak sedikitpun.
"Udah Aii, bobo lahh. Jangan melek muluuu. Udah jam 1 pagi loh Aii." Ucapnya sambil merangkulkan tangannya di perutku.
"Emm iya iya." Jawabku.
Tak makan waktu lama, aku pun akhirnya tertidur. Tidur dalam pelukannya. Pelukan pria bertampang manis yang sudah lama ku kenal, dia yang ku anggap sebagai Abangku sendiri.
~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~
__ADS_1