Daijobu

Daijobu
Eps 1


__ADS_3

--- Terbukalah Duhai Hati ---



Aku berdiri di teras rumah sambil memainkan sapu di tanganku, menanti seseorang bersepeda tua yang biasanya selalu lewat depan rumah. Sesekali ku tengok jam Baby-G kw di tanganku, memastikan kalau aku tak melewatkan dia.



'Tin tin..!'



"Hei aii!"


"Hei bang! Hati-hati di jalan yak!"


"Oke manis, makasih. Daahh" Dia melambaikan tangan dengan melukiskan senyuman hangat di pagi itu. Aku tersipu malu. Aku pun masuk dan melanjutkan pekerjaan rumah yang ku tunda selama 15 menit lamanya. 'Bayangin berdiri di teras 15 menit gais! Cuma nunggin dia lewat. Dihhh.'



Sapu, kemucing, kain pel dan pembersih lantai siap bekerja bersamaku. 'Semangaaaattt!' Tak lama, aku tersadar akan satu hal ganjil.



'Ada apa denganku? Kenapa coba harus nungguin dia lewat? Unfaedah banget lah! Bodo amat dia lewat depan rumah apa enggak kan. Ahh bodo lu Ca!' Ocehku dalam hati.



"Beres-beres rumahnya udah kelar belum Ca?" Teriak Mama dari dalam dapur. Sedangkan aku masih duduk di ruang tamu bertemankan sapu dan lap. 'Mirip inem gak sih?'



Aku terkejut, sontak aku berdiri dan melanjutkan tugas pembelajaran untuk calon ibu rumah tangga ini. Biat jadi hari libur yang produktif.



"Otw mah. 15 menit lagi insyaallah selesai."


"Yang bersih biar suamimu nanti gak berewokan Ca!" Jawab Mama diiringi suara tawanya yang khas.



~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~

__ADS_1



"Assalamualaikum De Oca sayang. Apa kabar?"


"Waalaikumsalam, alhamdulillah baik Kang."


"Mamah sama Papah sehat De?"


"Alhamdulillah kita sehat semua Kang. Tapi, belum ada tanda-tanda Kang." Aku menunduk, pandanganku sedikit memburam karena tertutup air mata yang tiba-tiba keluar dengan sendirinya. Meneteslah mereka, terjatuh oleh gravitasi bumi.


"Sabar De. Insyaallah ada jalan terbaik yang sudah disiapkan oleh-Nya."


"Iya Kang, insyaallah Ade diberikan kesabaran extra. Ku tutup telefonnya ya Kang, Assalamualaikum." Tak ku tunggu jawaban salamnya, langsung ku tekan tombol merah di layar HPku saat itu. Aku tidak kuat lagi. Bibirku tak sanggup berucap lagi.



Air mataku tak lagi terjatuh, karena dia sekarang tertahan oleh bantal yang menutup wajahku. Entah pukul berapa saat itu. Aku tertidur dengan air mata yang masih berlinang.


'Tuhanku, kuatkanlah aku.'




~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~



Tak lama kemudian,



'Kriiiiiinggg!!! Kriiiinggg!!!' Alarm berbunyi. Mama terbaik sepanjang masa, alarm kalah cepet sama suara Mama.



'Kenapa Mamah gak bisa tau apa maunya Oca sih Mah, kenapa gak bisa ngertiin Oca sih Mah.' Gumamku salam hati sambil berdiri, berjalan menuju lemari untuk mengambil handuk dan baju ganti.



"Whuh! Mataku! Aaaaaaaaa!!!!!" Terkejut ku lihat wajahku di cermin, mataku sembab. 'huhuhuhuhu'


"Pasti lah ditanyain temen-temen di tempat kerja! Aaaaaaaa kenapa sembab siiihhh!"

__ADS_1



~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~



"Kemana pula ini sticky note? Masa iya ketinggalan? Ya Allah Ocaaaaaa!" Ku marahi diriku sendiri yang seringkali lalai.



Senja itu aku pergi membeli sesuatu untuk keperluanku di kantor yang lupa tak ku bawa, ya sticky note ku. Aku berjalan di trotoar dekat kantor tempatku bekerja. Dengan gagang payung dalam genggaman, rintik hujan sedikit membasahi celana hitamku. Sendu, aku berfikir entah kapan Mama dan Papa membuka hati untuk Akang.



"Ca! Awas itu ada kubangan air!" Teriak salah satu teman sekantorku. Telat, aku sudah menginjaknya. Sepatuku basah.


"Alhamdulillah, cuma sepatu yang basah." Ucapku pelan, sambil menenteng kantong plastik dan sepatu basahku. Andai diperbolehkan, aku ingin hujan-hujan di senja waktu itu. Hanya saja aku harus lembur hingga petang.



Ku buka whatsapp,


"Aii disitu hujan gak? Jangan hujan-hujanan ya. Jaga kesehatan aii."



"De, kalo di luar lagi hujan jangan maksain pulang ya sayang. Nunggu agak reda dulu, kamu gampang sakit kalo musim hujan gini kan. Jaga kesehatan sayang."



Chat dari Bang Rey dan Akang tak ku balas, karena aku harus mengirim berkas via e-mail sore itu.



Tak terasa dua jam berlalu. Ku lihat dari jendela seberang mejaku, hujan di luar sudah berhenti. Aku bersiap pulang. Ku sempatkan membuka whatsapp sebentar,


"Hati-hati di jalan aii. Sampai rumah kabarin yaa.."



'Si Abang Rey perhatiannya gini amat sih. Kenapa coba?'


__ADS_1




__ADS_2