Daijobu

Daijobu
Eps 4


__ADS_3

--- Mengertilah ---



"Mah, yuk makan gethuk pisang dari Akang. Ini udah Oca potong-potong." Kataku sambil menyuguhkan piring berisi gethuk pisang pemberian Akang.


"Makasih Ca. Enak nih kayanyaaa." Jawab Mama sambil memasukkan gethuk ke mulutnya. "Enak banget Ca!"


"Iya dong, kan Akangnya Oca yang beliin. Calon mantunya Mamah sama Papah."


Sudah ku duga, Mama hanya tersenyum. Tidak mengucapkan sepatah kata pun.



'Ya Rabbi, kumohon bukakanlah pintu hati Mamah Papah untuk Akang.'



~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~



Ku ceritakan pada Akang tentang kejadian saat makan gethuk bersama Mama, karena hal itu sedikit menggangguku. Akang sedikit marah, sepertinya karena dia lelah karena hingga saat ini belum mendapat restu dari Mama Papa. Aku pun begitu, namun harus ku tahan. Hanya ku luapkan lewat doa bersama tetesan air mata, biarkan Sang Maha Cinta yang menumbuhkan cinta Mama Papa pada Akang.



Mengetahui respon Akang seperti itu aku pun semakin sedih. Karena sempat kita cekcok waktu itu.



"Yaudahlah kalo gitu De, terserah. Akang cape. Udah gaperlu dibahas lagi soal restu Mamah Papah kamu."



Aku terkejut dengan jawabannya.



"Mamah kan senyum waktu ade bilang kek gitu, siapa tau itu salah satu tanda lampu hijau Kang."

__ADS_1


"Senyum bukan berarti IYA. Bisa aja TIDAK tapi dibikin manis sama Mamah. Biar kamunya ga sedih."



Aku hanya diam. Air mataku tak terbendung lagi. Sedih karena keadaan seperti itu, ditambah lagi volume suara Akang yang semakin meninggi.



"Maaf telfon ku tutup Kang. Assalamualaikum." Akhir kataku pada Akang dengan suara terisak menahan tangis. Tanpa menunggu jawaban Akang, langsung ku tekan 'end call' di HPku.



'Kenapa mereka gabisa ngertiin Oca? Duhai Rabbku. Kuatkanlah aku.'



Ku pasang headset pemberian Bang Rey, ku putar sholawat agar lebih bisa menenangkan hatiku.



~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~




"Semangat untuk hari ini Oca! Daijobu, simpan sedihmu! Hadapi semuanya dengan senyuman! Harus bisa! Allahumma shalli 'alaa sayyidina muhammad." Ucapku untuk menyemangati diriku sendiri. Wajarlah, karena tidak ada yang menyemangatiku. T_T



'Allah maha baik. Insyaallah ada jalan.'



Pukul 5 sore adalah jam pulang kantor, namun aku masih belum bersiap sedikitpun. Aku masih saja sibuk berduaan dengan komputer di meja.



"Yuk pulang Ca. Udah jam 5 lebih loh." Kak Ila menghapiriku untuk mengajakku pulang. Namun aku menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Nanti aja Kak. Oca mau ngerampungin ini dulu."


"Kan bisa dikerjain besok Ca."


"Gapapa Kak, sekarang aja. Lagian Oca lagi males pulang."


"Are you okay Ca?"


"Daijobu desu. Gausah khawatir Kak. Oca gapapa kok."



Beberapa menit setelah Kak Ila pergi, tiba-tiba badanku lemas, kepalaku tiba-tiba pusing. Ku pijit-pijit kepalaku semampuku, berharap agar hilang pusingnya. Pusingnya berkurang, namun badanku menggigil.



Tak lama, HPku berbunyi. Ternyata telefon dari Bang Rey. Dia menanyakan aku sudah pulang atau belum, karena dia mau mampir ke rumah.



"Dah di rumah kah Aii?"


"Masih di kantor Aii."


"Loh Aii suaramu beda gitu kenapa? Kayak kedinginan gitu? Kamu gapapa?"


"I'm okay."


"Aii, kamu diem disitu aja jangan pergi kemanapun."


"...." Aku hanya terdiam.



Setelah telefon mati aku sudah tidak sadar lagi. Entah apa yang terjadi saat itu. Aku terbangun karena suara adzan, ku tengok jam di tanganku ternyata sudah pukul 7 malam. Dan saat itu aku baru tersadar, aku bukan berada di dalam rumah orang tuaku.



'Aku dimana?'

__ADS_1



~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~


__ADS_2