Daijobu

Daijobu
Eps 3


__ADS_3

--- Bisikan Mengejutkan ---




Minggu siang dia sengaja mampir ke rumah untuk mengantarkan pesanan kertas yang ku butuhkan. Entah sudah berapa ribu detik kita duduk berbincang di ruang tamu, matanya tak berpaling sedikitpun dariku. Beberapa saat aku terdiam karena lelah mengoceh, dia masih terus saja memandangku.



"Kedip Bang! Kedip!" Aku berteriak sengaja untuk mengejutkannya.


"Abang ga kaget aii. Abang lagi mikirin sesuatu. Mau tau ga?"


"Iyah, apaan?"


"Sini Abang bisikin." Ku dekatkan telingaku untuk mendengar bisikannya.


"Abang sayang banget sama kamu aii." Spontan aku langsung menjauhkan telingaku dari dia. Aku terkejut. Aku diam beberapa saat hingga akhirnya dia pamit untuk pulang.



'Cukup Ca. Cukup!'



~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~



Sampai di kantor aku langsung mencari Kak Ila. Aku berlari menuju meja kerjanya. Tapi dia tidak ada, ku cari di sekeliling ruangan. Ternyata dia sedang mengerjakan laporan di komputer Bu Kiki. Entah apa yang terjadi dengan komputer di mejanya.



"Kak ilaaaaa!"


"Ha?" Jawabnya cuek karena dia sedang fokus mengerjakan laporan.


"Gimana iniiii. Itu si dia itu loh Kak. Aaaa gimana iniii gimanaaa? huhuhu"


"Wait! Tunggu 5 menit, baru kamu boleh ceritain semuanya."

__ADS_1


"Sini sini duduk sebelah Ibuk sini Ca." Bu Kiki menawarkan kursi untukku.



Sambil menunggu Kak Ila menyelesaikan laporan, aku berbincang-bincang dengan Bu Kiki. Ternyata dia punya usaha sampingan selain bekerja di kantor ini.



Lima menit berlalu, namun Kak Ila belum menyelesaikan laporannya. Aku bernyanyi di depannya, sengaja agar dia segera merampungkan pekerjaannya.


"Aaaakuuuu menunggumuuu, menunggumuuuuu, menungumuuuu"


"Maaf gaada uang receh!"


"Uang kertas warna pink juga boleh Kak. Silahkan. Ku trima dengan lapang dada."


"Akuu lapang dadaaa walau kau menduaaa ku selalu tabah dan slalu menerima." Kak Ila malah menyanyikan lagi dari potongan kalimatku tadi_-


"Tuhanku berikanlah Kak Ila kepekaan lebihhh dan lebihhh lagi. Agar dia mengerti perasaanku saat ini yang sedang menantinya. Huhuhu." Aku beranjak pergi dari Kak Ila.


"Buk Ki, Oca balik dulu yaa. Kak Ila jahat dari tadi Oca dicuekin." Pamitku pada Bu Kiki sambil berjalan menjauh dari mejanya.




Selang beberapa menit dia menghampiri meja kantorku sambil bernyanyi.


"Ooocaa manis siapa yang punyaaa. Ocaaa manis siapa yang punyaa. Ooocaa manis siapa yang punya. Yang punya abang ituuuu."


"Aaa Kak Ilaaaa!." Jawabku sambil menyandarkan kepalaku di meja kantor.



Kuceritakan semua yang terjadi antara aku, Bang Rey dan si Akang. Kak Ila adalah pendengar yang baik, pemberi solusi yang terbaik pula. Tapi Mama tetaplah yang terrrbaik dari yang lain.



"Kamu sayang sama Rey gak?"


"Emm enggak lah. Dia udah ku anggep abangku sendiri Kak."

__ADS_1


"Matamu gak bilang gitu loh Ca."


"Eh masa iya?"


"Iya Ocaaa. Kamu sayang kan sama Rey? Jujur deh."


"Dikitttt banget Kak. Lebih banyak ke si Akang."



Kak Ila hanya berpesan padaku agar berhati-hati dalam hal hati. Saat ku tanya kenapa dan maksudnya apa, dia hanya menyunggingkan senyuman di wajah ovalnya.



'Oke Ca. Mulai sekarang harus lebih tegas dalam hal hati! Daijobu. Kamu bisa! Kamu bisa!'



~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~



'Si Akang kayaknya udah pulang dari Kediri deh. Ku telfon bisa ga ya? Ku coba vc aja deh.'



"Iya de manis, ada apa?"


"Akang udah balik dari Kediri?"


"Sudah De, tadi malem barusan nyampe. Rencana nanti Akang mau mampir ke rumah, ada sedikit oleh-oleh. Makanan favoritmu De. Apa hayoo, coba tebak!"


"Waaahh. Gethuk pisang yaaa?? Aaahh mauuuu." Jawabku dengan sangat bersemangat. Dia tersenyum melihat tingkahku.



Akang memintaku untuk meminta izin Mama Papa, dan akhirnya, Mama Papa pun mengizinkan Akang mampir ke rumah nanti malam. Untuk sekedar mampir selalu diperbolehkan, hanya saja izin dan restu untuk menjalin hubungan masih saja belum lampu hijau.



~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~

__ADS_1




__ADS_2