Daijobu

Daijobu
Eps 2


__ADS_3

--- Sedari Dulu ---



"Aku mo ngegim dulu bentar Aii. Diajak mabar sama Dika."


"Silahkan." Dalam hati geregetan karna ditinggal main game AOV. Sebel, iya sebel. Entah sebel kenapa. Padahal dia cuma Abang, yapp Abang ketemu gede.



"Sebel ya?"


"Gak. Be aja tuh. Lanjutin aja mainnya sana!"


"Bentaran aja kok Aii. Jangan sebel yak?"


"Ye." Langsung ku matikan data ponselku. Tak lama, HPku bergetar karena ada panggilan masuk. Ternyata dari Bang Rey.



"Gajadi deh ngegimnya. Mending ngobrol sama Oca manis."


"Ohh"


"Eh Aii, tau ga?"


"Gak"


"Tunggu dulu dong Aii, belum selesai ngomongnya."


"Ohh."


"Tau ga sejak kapan Abang sayang sama kamu?"


"Dari Oca bayi kah?"


"Salah Aii, dari pertama kita kenal waktu SMK. Awalnya cuma suka. Entah kenapa lama-lama jadi sayang. Padahal kita ga pernah ketemu sekalipun waktu itu kan?"


"Iya. Kok bisa jadi sayang?"


"Ya karna Tuhan Sang Maha Cinta telah munumbuhkan rasa yang lebih dalam hati Abang buat kamu Aii."



Dag dig dug derr suara jantungku waktu itu, berdebar tak karuan karena Bang Rey mengungkapkan kejujuran yang mungkin sudah lama ia pendam.


__ADS_1


"Oca kan adeknya Abang. Sejak kapan sayangnya Abang jadi berlebihan kek gitu?"


"Dari dulu. Udah lama Aii."


"Ku tutup telefonnya bang, maaf. Assalamualaikum."



Perasaan campur aduk hinggap di hatiku. Sedih, dia sudah ku anggap abang sendiri kenapa harus menyimpan perasaan lebih padaku.



Ternyata ini jawaban dari pertanyaanku semalam. Aku sudah mendapatkan jawabannya. 'Semoga perasaanmu ga makin mengembang Bang.'



~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~



Pukul 7 malam aku keluar kantor. Berjalan menuju sepeda motor kesayangan di tempat parkir bersama teman sekantorku, Kak Ila namanya.


Sunyi, hanya terdengar suara sepatu fantovel kami malam itu. Kak Ila fokus memainkan HPnya, sedangkan aku hanya berjalan dengan fikiran melayang ke Bang Rey.


'Gimana mungkin?'



"Hah? Kamu ngomong apa Ca?" Sahut Kak Ila sambil menoleh ke arahku.


"Ha? Apa kak?"


"Kamu barusan ngomong apa? Kak Ila ga terlalu jelas dengernya tadi."


"Oh, enggak kak. Gak apa-apa. Lagi pengen ngomong sama diri sendiri aja hehe" Jawabku sambil garuk-garuk kepala karena malu.


"Haihhh kirain ngomong sama Kak Ila." Jawabnya sambil mencubit pipi tembemku. Yap, pipiku selalu jadi bahan cubitan oleh Kak Ila. 'Sekilas jadi inget Bang Rey yang juga suka cubit pipi Oca.'



~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~



"De, Akang besok mau ke Kota Kediri ada saudara yang meninggal dunia di sana. Insyaallah lusa dah balik ke rumah lagi."


"Innalillahi wa innailaihi raji'un. Siapanya Akang yang meninggal dunia?"

__ADS_1


"Bibinya Akang, yang dulu pernah main kesini. Pernah ketemu sama Ade juga waktu itu."


"Ohh Bibi Lusi Kang?"


"Iya De, maafkan Bibi Lusi kalau ada salah yaa. Besok insyaallah Akang berangkat agak pagian De. Kamu baik-baik ya, jaga kesehatan."


"Iya Akang. Bibi gaada salah sama sekali sama Ade kok. Hati-hati di jalan ya Kang. Kabarin Ade kalo dah sampe rumah Bibi." Telefon ku matikan, ku rebahkan tubuhku di kasur.



"Telefon si Akang cuma berjalan 20 menit, tapi ninggalin rindu yang susah banget ilangnya. Huaaa sabar Ocaaaa, sabaarrr!"



Benar nyatanya, pesan suara hanya menambah kerinduan. Sakit rindu yang obatnya gak dijual di apotek. Rindu kecupan lembutnya, pelukan hangatnya, dekapan mesranya. Rindu saat aku menjadi makmum di belakangnya. Rindu segalanya tentang dia.



"Kang, Ade rindu Akang."



~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~



"Aii. Abang mau mampir ke kedai deket rumah kamu. Kamu mau dibawain apa Aii?"


"Kebab aja Aii. Pedesnya standart yaa."


"Siap manis."



Tak lama dia datang, ku persilahkan dia masuk. Suasana membeku. Kita saling canggung karena pembicaraan terakhir kita di telefon malam itu.



"Tehnya Bang, silahkan diminum. Mumpung masih manis."


"Emang manisnya bisa ilang?"


"Bisa. Kalo Abang diem mulu manisnya nanti kabur karena takut sama Abang."


"Gapapa kalo tehnya jadi pait mah ga masalah Aii. Asal kamu tetep disini nemenin abang. Semuanya berasa manis jadinya."


__ADS_1


Dag dig dug derrr!


'Lebay lu Ca!'


__ADS_2