
Untuk masyarakat didesa mereka sangat menginginkan putra putri mereka berpendidikan tinggi, walau banyak dari mereka yang harus menjual harta benda mereka.
Mayoritas masyarakat yang bekerja sebagai petani membuat mereka beranggapan menguliahkan anak mereka menjadi suatu kebanggaan.
Cerita ini berlatar belakang disalah satu daerah di Kalimantan Barat. Dengan bahasa khas melayu.
"Mar...mar...cobe lah kau pertimbangkan betul betul keputusan kau. Bapak nih, jual tanah biar kau bise jadi sarjana. Buat Bapak Mamak kau nih jadi bangge. Bapak kau nih petani Mar. Lalu kau mau kuliah petani juga??", keluh seorang pria paruh baya pada anak lelakinya.
"Bukan kuliah petani Pak, Abang tuh kuliah di jurusan Pertanian Bapak, biar bise majukan pertanian, biar ndak gitu gitu jak.", bela Ningsih adik Damar, sambil meletakkan segelas kopi favorit sang ayah. Pembelaan dari sang adik mebuatnya sedikit tersenyum.
"Nak maju kemane??", sahut ayahnya sambil menyeruput kopi hitamnya.
__ADS_1
"Selama ini Bapak tuh nanam padi kn mundur mundur Pak, entah entah Abang bise nemukan care nanam padi sambil maju", sambung gadis belia, dengan rambut dikuncir itu.
"Kire mbele, rupe ngine", bisik Damar agak kesal dengan celetukan adiknya itu.
Damar hanya terdiam tidak berani menjawab, lelah sudah ia menanggapi protes dari sang ayah yang tak terima putra sulungnya memilih jurusan pertanian untuk melanjutkan pendidikannya.
Dalam hatinya kata menyerah dan putus asa mulai menumbuhkan tunasnya. Kalau kedua orang tuanya masih saja tidak setuju, sama saj ia harus mengubur mimpi yang selama ini ia pupuk.
Seorang wanita yang tak lagi muda muncul dari arah dapur, sambil menyibakkan tirai pintu dan sedikit merunduk.
"Nak", tegur ibu Damar seraya mengusap punggung putranya. "Kalau ini memang dah jadi keputusan kau, kau hrus benar - benar njalankannye. Jangan kau sie sie kan perjungan Mak Bapak kau.", lanjutnya menaseheti putranya dengan nada tenang, menyejukkan.
__ADS_1
"Damar janji Mak, Pak. Damar pasti berusahe buat kejar mimpi Damar. Damar pasti buat Mak same Bapak bangge.", ucap Damar sambil mencium punggung tangan ibu dan ayahnya.
Perdebatan soal jurusan kuliah yang diambil oleh Damar telah berlangsung kurang lebih seminggu. Setiap hari Damar berusaha meyakinkan ayah dan ibunya atas keputusan yang ia ambil. Dan ia serius serta bersungguh sungguh akan menggapai cita citanya.
Siang itu akhirnya perdebatan dimenangkan oleh Damar, yang akhirnya mendapatkan restu ibunya dan secara otomatis sang ayah yang sangat tidak setuju atas pilihan putranya itu mau tidak mau juga harus meng iyakan.
Mendapat lampu hijau, membuat Damar bergegas mencari kunci motornya. Mengambil semua berkas yang dibutuhkan, memasukkannya perlahan ke dalam ranselnya, mengambil jaket kulit serta helm retro kebanggannya.
"Bismillah", bisiknya perlahan,sambil menyalakan kunci kontak motornya. Ditungganginya cb100 pemberian sang ayah saat kelulusan SMA. Motor yang ayahnya dapatkan dari salah satu gudang warga, saat kerja bakti membersihkn lingkungan. Ia pun menyusuri jalan desa yang tak begitu mulus. Sampai lah ia di sebuah tikungan, ditekannya klakson yang mengelurkan suara khas motor tua. Ada sebuah rumah asri dengan halaman yang lumayan luas, seorang gadis muda tengah sibuk menyapu di teras rumah itu. Merespon suara klakson Damar dengan lambaian tangan.
"Lampu hijau Di!!!!" teriak Damar sambil melambai lambaikan tangannya.
__ADS_1