
Waktu pun berlalu, kini mereka sudah sah menjadi mahasiswa baru (MABA) di sebuah perguruan tinggi di kota.
Hari ini adalah masa orientasi kampus (MOKA), bisa disebut ospek atau semacamnya.
Seluruh MABA kini sedang berbaris di halaman kampus, berbagai jurusan dan program didikan (PRODI). Mereka diberi arahan oleh para senior mereka. Anak anak muda beralmamater hijau khas BEM, ada yang bertugas menjadi si sok cool, sok garang, sok baik. Padahal terkadang bertolak belakang dengan kepribadian mereka.
Setelah pengarahan khusus jurusan akhirnya mereka dibentuk menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari berbagai jurusan.
Dan dapat dipastikan kekuatan jodoh antara Damar dan Dian mentakdirkan mereka untuk berada dalam satu kelompok. Kelompok kecil itu terdiri dari kurang lebih 20 orang.
Hari itu, Dian terlihat manis dengan setelan khas MABA kemeja putih dengan bawahan hitam. Rambutnya kepang dua, dengan pita warna warni, lengan kemejanya ia gulung sampai setengah lengan, kemejanya rapi masuk kedalam rok sepan selutut miliknya, dengan kaus kaki sebetis yang warnanya berbeda sebelah kanan dan kirinya. Dilehernya tergantung papan nama berwarna pink bertuliskan "DIAN PUTRI AYU". Semua MABA putri berpenampilan kurang lebih sama.
Tampilan manis Dian menarik banyak mata baik senior laki laki maupun MABA lelaki, tak terkecuali Damar yang sangat berbunga hunga melihat Dian yang berbaris tak jauh darinya
Berbeda dengan tampilan Dian yang menuai banyak pujian, Damar malah jadi bulan bulanan karna penampilannya yang membuat orang yang melihatnya ingin menghujat.
__ADS_1
Damar dengan setelan kemeja lengan pendek putih dan celana panjang hitam. Kepalanya sudah dicukurnya cepak 1cm ala MABA putra. Ia menggunakan topi yang terbuat dari bola plastik dibelah menjadi dua bagian. Dilehernya tergantung ppn nama berwarna biru dengan tulisan "DAMAR CANDRA". Ia juga menggunakan kaus kaki bola sebetis yang berbeda warna kanan dan kirinya. Hanya saja yang mengganggu damar memasukakn celana panjangnya ke dalam kaus kakinya, dengan dalih percuma disuru menggunakan kaus kaki berbeda warna kalau hanya syarat dan tak kelihatan. Jawabannya membuat beberapa senior tertawa, ada pula yang menjadikannya contoh untuk diikuti oleh MABA lainnya,ada pula yang marah marah menuduh Damar sedang cari muka. Tapi hal itu hanya dianggap Damar sebagai lucu lucuan.
Banyak kegitan yang mereka lakukan, dari menentukan nama kelompok, mengenal dan menghfal nama nama anggota kelompok, membuat yel yel, dan lain lain.
Hari pun semakin siang pukul menunjukkan waktu untuk istirahat siang. Semua bubar, ada yang ke kantin ada yang beribadah, ada yg ngobrol sambil memakan bekal, ada pula yang seperti Dian yang memilih mencari tempat yang tidak terlalu ramai untuk duduk beristirahat sambil menikmati bekal yang telah ibunya persiapkan tadi subuh.
Tanpa diperintah Damar mendekati Dian. Dian tertawa geli melihat tampilan Damar.
"Kesambet apa kamu Mar?" ejek Dian.
"Totalitas ini namanya Di." sahut Damar santai.
Damar tersenyum "Gapapa aku kelihatan ***** atau konyol, yang penting Dianku tetap cantik jelita", goda Damar.
"Aku yang jijik Mar, hahahahahahaha", sahut Dian sambil terpingkal pingkal.
__ADS_1
"Hei!!!!" seru seorang gadis yang entah muncul dari mana. Seingat Damar gadis itu satu kelompok dengannya.
"Hei juga" sahut Damar sambil mengingat siapa nama gadis itu. Dian hanya tersenyum sambil melambai kecil.
"Ella!" ucap gadis itu bersemangat sambil menyodorkan tangannya, dan disambut oleh Dian.
"Aku Dian, ini Damar" ucap Dian meperkenalkan dirinya sendiri dan Damar.
"Kalian pacaran?" ucap Ella sambil menunnjuk kearah Dian dan Damar.
"Bukan dia istri aku" jawab Damar, disambut dengan pukulan dipundaknya oleh Dian.
"Ngawur" ucap Din kesal. "Cuma tetangga dekat rumah." tegas Dian menjawab pertanyaan Ella.
"Hemmmm...enak ya jadi kalian, udah rumah deketan, satu kampus pula. Seandainya pacar gue mau diajakin kuliah bareng. Coba deh kalian bayangin, gue ngajakin dia kuliah kan demi kebaikan dia juga, terus dia malah bilang, itu pengusaha kaya banyak yang gak kuliah bisa tajir melintir. Dari pada duit dibung buang huat kuliahendingan but midal kerja. Coba bayangin, itu laki laki kok pikirannya sempit gitu. Belum lagi dia milih usaha air kemasan. Kan aneh, capek, tiap hari ngisi aer galon, angkut angkut galon." celoteh Ella bagai kereta api express.
__ADS_1
Damar dan Dian hanya pandang pandangan lalu sama sama tersenyum.
"Kelompok 27, kumpul!!!", terdengar panggilan menggunakan toa oleh senior mereka yang mengharuskan mereka kembali ke kegiatan ospek. Mereka pun bergegas kembali ke kelompok dan membentuk barisan.