
Akhirnya, hari itupun tiba. Kegiatan bakti sosial. Berbondong bondong anggota BEM dengan seragam putih hitam dan almamater maroon, dilengan mereka terlilit label BEM. Adapula belasan mahasiswa diluar keanggotaan BEM diantaranya ada Abi, Dian dan Ella. mereka mengenakan almamater hijau khas universitas mereka.
Persiapan sudah lengkap, sebuah bis kampus dan ada beberapa mobil terparkir rapi dengan spanduk judul kegiatan mereka.
Ketua BEM berdiri didepan memberikan sambutan. Dilanjutkan oleh Damar Sebagai ketua Tim panitia. Lalu beberapa petinggi kampus membuka kegiatan dengan mengetuk microphone ala ala putusan sidang. Dilanjutkan dengan beberapa ceremonial lain seperti gunting pita melepas keberangkatan mereka.
Damar yang merupakan ketua panitia sibuk mempersiapkan segala sesuatu, memastikan tak ada satupun kesalahan atau yang terlupakan. Bahkan sampai menghitung ulang setiap paket buku dan alat tulis. Mondar mandir memberi arahan kepada anggota timnya.
"Damar nyiloin mata ya," bisik Ella pada Dian.
"Sibuk dia", tambah Abi.
__ADS_1
"Liat aja kelar kegiatan nanti pasti minta kerokin." sahut Dian.
Mereka senyum senyum sendiri sambil membicarakan Damar. Mereka bersama mahasiswa lain dilibatkan sebagai tamu pengajar. Jadi mereka tidak sesibuk tim panitia.
Kegiatan hari ini dimulai dengan pendirian kelas. Bukan mereka yang membangun tapi beberapa tukang, dibantu oleh warga sekitar.
Kegiatan tersebut mereka lakukan di lingkungan yang lumayan kumuh, rumah rumah berdempetan tumpukan sampah hasil pulungan, jemuran pakaian menjadi satu. Mereka memarkirkan kendaraan mereka agak jauh dari pemukiman mengingat tidak ada ruang untuk mereka bisa membawa kendaraan sampai lokasi sekolah tersebut.
Akhirnya siang itu kelas yang hanya terbuat dari kayu dengan dinding yang dibuat setengah saja, dan jaring kawat di bagian atasnya, atapnya seng gelombang. didepan kelas terdapat papan tulis hitam. Bangku bangku sudah tersusun rapi. Anak anak mulai berebut untuk dapat bangku paling depan. Ada sekitar 30 anak hari itu. Paket alat tulis pun dibagikan. Disambut tawa dari anak anak. Orang tua mereka sibik mengintip dari luar kelas. Pancaran kebahagiaan mereka menghapus rasa lelah.
Kegiatan dilanjutkan dengan memperkenalkan calon guru guru yang kn mengajar mereka Abi, Dian, Ella, dan beberapa mahsiswa lain. Lalu mereka menyanyikan lagu wajib nasional dan dilanjutkan dengan kegiatan lainnya.
__ADS_1
Sampai waktu pun menunnjukan pukul 16:40. Panitia dan pengajar pun berpamitan. Mereka menyelesaikan kegitan hari ini dengan perasaan puas, terutama Abi yang mengidam idamkan mengajar anak anak didepan kelas.
"Di kau liat muka si Nyunyu tuh, berseri seri". bisik Damar pada Dian. Dian menoleh ke samping kanannya sedikit menunduk menghindari tubuh Dimas yang menghalangi pandangannya. Dilihatnya Ella duduk menatap jendela entah apa yang si cerewet itu pikirkan. Lalu Abi yang terpejam, tapi senyum yang jarang menghiasi bibirnya, terlihat jelas kali ini. Sesekali ia membuka kacamatanya dan menyeka kedua matanya ada sedikit air mata kebahagiaan disana.
"Kamu hebat Mar, bisa buat Abi sebahagia itu. Pasti dia makin cinta sama kamu." jawab Dian.
"Bukan kau kah yang makin cinta sama aku?", jawab Damar dengan muka datar.
Dian tersenyum lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela.
Singkat sekali hari ini, kegiatan sederhana. Tapi banyak kebahagiaan didalamnya. Ada rasa bangga dari panitia yang kegiatannya sukses. Ada harapan dari wajah wajah orangtua disana. Ada kebahagiaan dari anak anak yang sudah lama merindukan bangku sekolah. Ada haru di senyum Abi.
__ADS_1
Tak banyak kata tapi mereka semua bahagia.