Damar Dian

Damar Dian
8# Berawal Disini


__ADS_3

Sampai di perpus, Damar mencari keberadaan Dian, lantai satu di selusurinya setiap lorong setiap ruang baca, namun tidak ada tanda tanda keberadaan Dian. Ia pun naik ke lantai dua kembali di susurinya lantai dua, sampai pada sudutan diblik rak buku. Terlihat Dian duduk dilantai memeluk lututnya, kepalanya menghdap ke jendela panjang disampingnya. Tatapannya kosong keluar.


Awalnya Damar ragu untuk mendekat. Namun ia mencoba memberanikan diri.


"Di..." Bisiknya perlahan, ia pun duduk diaamping Dian. Tangannya mencoba menggapai jemari Dian.


"Maaf Di, ini masalahku tapi aku nyakitin kamu Di. Aku ndak maksud Di, sumpah Di aku ndak ada niat buat kamu kayak gini."


"Aku yang salah terlalu mikirin kamu." Sahut Dian tanpa memandang Damar.


"Di maaf Di, aku butuh kamu Di."


"Kalo butuh, kamu tuh dengerin saran aku, bukan bertahan sama ego kamu. Kenapa, berat ngelepasin teater? Ada yang kamu incer disana? Seumur umur kenal kok baru tau aku kamu ada minat di dunia akting gitu." Lanjut Dian.


"Kamu cemburu Di?" Jawab Damar sambil tersenyum entah mengapa perasaannyaenjadi berbunga saat mendenar pernyataan Dian yang satu ini.


"Iya iya, aku keluar BEM sama teater." Lanjutnya. "Aku dapat tempat tinggal, gratis. Yuk ngobrol diluar. Was was aku ngomong disini, kayak kuburan. Rame tapi sunyi bener."


Mereka pun keluar dengan bangganya Damar menggndeng tangan Dian yang raut wajahnya masih terlihat malas. Mereka menuju kantin. Terliht ada Abi dan Ella duduk disana.


"Hei guys..." Sapa Damar riang.


"Tengil sekali wajahmu itu." Sahut Abi sambil menyeruput minumannya.


"Dasar Dian terlalu baik." Kesal Ella.

__ADS_1


"My bro Abimanyu. Aku terima lah penawaranmu." Kata Damar santai.


"Yah baguslah, pulang ini kita kemasi barang barangmu." Sahut Abi.


"Mau kemana Bi?" Tanya Ella penasaran.


"Mindahin dia kerumah saya." Sahut Abi singkat


"Mindahin mindahin kayak mahluk astral aja aku dimata kau Nyu, iklas apa ndak sih bantu sahabatnya yang tampan ini?" Ucap Damar agak kesal.


"Lu bedua mau tinggal bareng?" Tanya Ella.


"Kalau kamu minat juga boleh, rumahnya tidak seberapa besar. Tapi ada beberapa kamar kosong. Cukup untuk kita berempat." Jawab Abi.


"Berempat?" Tanya Dian yang sedari tadi hanya diam.


"Yuk!! Gratis pun." Jawab Ella bersemangat.


Damar senyum senyum menatap Dian.


"Ikut ya sayangku..." Rayunya.


"Jangan mesum isi otakmu Mar." Ucap Abi dibalas tatapan tajam Damar.


"Bisa lah lu awasin nih lutung 24 jam Di." Ucap Ella sambil menunjuk Damar. Damar pun dengan segera seolah ingin menggigit jari Ella. Ella dengan cepat menarik telunjuknya.

__ADS_1


"Hemmm, oke lah kalo begitu." Ucap Dian pelan.


Abi segera mengemasi bukunya dan berdiri.


"Ya udah ayo! Kita kemasi barang Dian dulu."


Ucapnya


"Semangat banget broooo." Goda Ella "Ya udah ayo. Kan udah gak ada kelas" lanjutnya.


Mereka pun bergegas ke asrama kampus tempat Dian selama ini tinggal. Mengemasi barang2 Dian lalu beranjak ke rumah Ella.


Ella masih tinggal dengan orang tuanya, tapi ia ingin belajar mandiri. Setelah itu mereka menyusul ke kosan Damar. Menggunakn mobil Abi. Damar duluan pulang menggunakan sepeda motornya. Barangnya hanya satu koper saja. Jadi tidak seberapa lama mereka disana. Dan akhirnya mereka bersama kerumah Abi. Damar membuntut mobil Abi.


Sudah pukul 9 malam saat mereka sampai.


"Ya elah Bi...ini yang lu bilang gak seberapa gede?" Ucap Ella terkagum kagum.


Rumah bertingkat bergaya minimalis dengan pagar lumayan tinggi. Lampu lampu yang masih belum dihidupkan membuat rumah itu terlihat agak horor. Setelah Damar turun untuk membuka pagar, mereka pun masuk. Melintasi halaman yang tidak seberapa luas, ada car port disana dan ada juga bagian halaman dengan rumput. Tak begitu jelas terlihat karna gelap. Abi turun membuka pintu garasi. Ella dan Dian sudah keluan dan naik ke teras. Setelah Abi dan Damar memarkirkan kendaraan mereka di garasi mereka begegas mengangkut barang2 bawaan ke teras. Abi membuka pintu rumahnya, pintu geser yg terbuat dari kaca. Dilapisi tirai tipis. Sederhana tapi elegan. Hawa sejuk menerpa wajah mereka.


"Aduh, saya lupa matikan AC. Ayo masuk." Ucap Abi sambil mengatur suhu AC dengan remot.


Saat masuk pintu utama di sebelah kiri mereka langsung bertemu dengan dapur da rng makan. Dikanan ada satu set sofa dan Tv ada permadani bulu ditengah ruang. Seedangkan ruangan yg mereka masuki ini kosong hanya ada lemari sepatu dan pot pot tanaman.


"Kamar disini ada enam, kamar saya yang disudut sana." Terang Abi menunjuk kamarnya yang berada tak jauh dari dapur. "Disudut sana ada 1 kamar, diatas ada 4. Yang paling kanan itu kamar khusus alat olah raga dan buku buku saya. Kalian bole pakai juga. Ada printer dan komputer untuk buat tugas. Terus yang kiri ada dua kamar Dian dan Ella diatas saja biar kami lelaki di kamar bawah".

__ADS_1


Mereka pun mengemasi barang mereka masing masing, lalu beristirahat.


__ADS_2