Damar Dian

Damar Dian
2# Dian


__ADS_3

"Nduk, jadi si Damar masuk kuliah??", tanya seorang ibu dengn kacamata hampir diujung hidungnya, gaya khas Ibu Aminah, seorang guru yang namanya sangat harum sepenjuru desa.


"Gak tau Buk, kemarin dia cuma nganterin aku aja." sahut sang putri semata wayang, "Aku nyapu depan dulu Buk." pamitnya.


Tak lama ia menyapu terdengar suara klakson dari kejauhan "treeet treeeet", suara parau klakson tua. Reflek Dian menoleh dan melambaikn tanganya. Dilihatnya Damar diatas tunggangan kebanggaannya juga melambai lambaikan tangannya.


"Lampu hijau Di!!!!" teriak Damar sambil melambai lambaikan tangannya seraya berlalu.


"Apaan sih tuh bocah? ngomong apa ya tadi? kok kayak girang amat?" batinnya sambil melanjutkan kesibukannya.


"Mbak Di...Mbak...", panggil Ningsih sambil ngos ngosan. Sambil berlari dari rumahnya yang tidak seberapa jauh menuju ke arah seorang gadis berambut ikal, yg sedang sibuk menyapu itu.


"Kenapa Ning?", sahut Dian sambil berlari kearah Ningsih.


"Bang Damar dibolekan kuliah pertanian Mbak!", seru Ningsih menyampikan kabar.

__ADS_1


"Oh ya? Alhamdulillah...pantesan girang amat. Tadi dia lewat, teriak teriak. Tapi aku gak mudeng dia ngomongin apa. Hahahahahaha", sahut Dian sambil tertawa.


Usai berbincang bincang dengan Ningsih, Dian masuk kerumahnya. Didapati sang ibu sedang sibuk mengkoreksi. Melihat anaknya lewat sang Ibu pun menegurnya, "Seneng amat nduk?"


"Iya Buk, si damar akhirnya dibolehin masuk pertanian.", sahutnya sambil berlalu ke arah dapur, meletakkan sapu lalu mengambil segelas air untuk ibunya. "Minum buk", ucapnya sambil meletakkan gelas di meja.


"Padahal Damar itu cerdas, dia milih jurusan yg ntar lulusnya bisa balik lagi kesini, bisa turut andil memajukan desanya", Bu Aminah membuka percakapan. "Gak kayak anak Ibuk, milihnya kuliah teknik, mau jadi tukang bangunan katanya.", sindir Bu Aminah kepada Dian.


"Buk...jangan mulai deh, dimata Ibuk sih Damar memang paling top ya?", sahut Dian dengan raut bete.


"Bukan jadi tukang Ibuk, mau jadi konsultan pembangunan. Ya, kalau bisa terwujud kan siapa tau bisa buat gedung di desa kita.", jawab Dian membela diri.


"Eeeh, gak gak usah kalo kamu mau bangun gedung bangun sana diluar desa. Jangan jadikan desa kita seperti kota.", timpal ibu.


"Ini nih, gmna bisa maju.", sungut Dian.

__ADS_1


"Nduk, ibumu ini milih tinggal disini supaya tenang. Kalo sampe mau di buat gedung megah gimana??", sahut ibunya dengan nada sedikit lirih.


Dian lalu memeluk ibunya, "Ya gak gitu juga lah Buk, Ibuk kok drama banget sih??" goda dian sambil mengusap usap pundak ibunya.


"Ibuk ini sudah tinggal sendirian, kalo kamu pergi ya gimana?", sahut ibunya semakin lirih.


"Jadi Ibuk gak mau aku kuliah?", tanya Dian.


Ibunya hanya diam sambil menatap wajah anak semata wayangnya itu.


"Tau gini Ibuk buat anak banyak banyak sama bapak mu nduk nduk", jawab ibunya membuat Dian tertawa terbahak bahak.


"Sana pacaran lagi, biar aku bisa punya adek yg banyak trus Ibuk ak kesepian kalo aku pergi", goda Dian.


"Hush, Ibumu ini sudah cocok nimang cucu. Mana wajar kalo nikah bahkan sampai melahirkan lagi." tanggap ibunya sambil memukul pelan tangan Dian. "Udah, pokoknya kamu kuliah yang bener, yang rajin. Gapai nilai tertinggi. Kejar cita citamu, Ibuk doakan semua usahamu untuk meraih mimpi besarmu itu di permudah sama Gusti Allah." sambung Bu Aminah seraya mengecup kening putrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2