Damar Dian

Damar Dian
4# Abimanyu


__ADS_3

Pukul 10, pagi itu cerah. Dibawah rimbun pepohonan, terdapat bangku bangku di sana. Tapi banyak mahasiswa memilih duduk atau bahkan rebahan diatas rumput. Suasana hangat pagi itu tak merubah dinginnya seorang mahasiswa laki laki yang tengah duduk dibawah pohon, tangan kanannya memegang buku. Sedang tangan kirinya membalikkan halaman demi halaman, disampingnya terdapat tumpukan beberap buku. Tapi suasana berubah ketika terdengr suara lantang memanggilnya.


"Nyu!!!!", seru Damar sambil berlari kecil.


"Abi Mar, Abi", sahutnya sambil memeperbaiki posisi kacamatanya.


"Gayaan, Abi Abi...Umi mana??", goda Damar.


Ya, Abimanyu namanya, lelaki dengan postur jangkung, kurus tapi tak terlihat ringkih. Wajahnya teduh, perawakannya dingin. Rambutnya pendek rapi ala barber shop. Ia adalah teman akrab Damar, mereka satu jurusan dan hampis setiap mata kuliah mereka sekelas. Jadi mereka cukup akrab, Abi bukan pendatang seperti Damar. Orang orang berkata dia masuk jurusan yang salah. Mengingat ayahnya seorang pebisnis di bidang perumahan, ibunya juga pebisnis brang barang branded. Kakaknya seorang petinggi di salah satu Bank swasta. Setidaknya ia lebih cocok kuliah ekonomi atau bisnis, jika dilihat dari latar belakang keluarganya. Tapi tidak, hobinya membaca. Hidupnya ia habiskan dengan buku buku. Kuliah jurusan pertanian memang bukan karena itu pilihannya. Tapi karena ia bingung harus memilih jurusan. Ia sebenarnya tidak ingin melanjutkan study, ia ingin menjadi guru relawan. Tapi orang tuanya tidak setuju ia menjadi guru. Maka ia memilih jurusan secara random. Keputusan itulah yang akhirnya mempertemukannya dengn Damar. Mahasiswa yang semangatnya berkobar kobar. Walau tak begitu pintar dibandingkan dirinya Damar dapat menjadi pelengkapnya.


"Dian mana?", tanya Abi pada Damar.


"Masuk sore dia." sahut Damar sambil sibuk membuka buka lembaran proposal kegiatan.

__ADS_1


"Apa?", tanya Abi singkat sambil matanya melihat kearah proposal tersebut.


"Proposal, kegitan bakti mahasiswa. Kegiatan BEM. Rencananya akhir bulan depan mau dilaksanain. Mau masukin proposal dulu kumpulin dana.", sahut Damar menjelaskan.


"Kegiatannya apa?", lanjut Abi penasaran.


"Makanya, diajakin masuk BEM ndak mau. Sok sibuk, kayak yang serius aja kuliahnya. Ini baksos gitu lah, targetnya anak jalanan atau anak terlantar gitu. Kita kayak bagi bagi buku, alat tulis. Terus kalo memungkinkan kita mau bangun sekolah darurat yang gratis, buat mereka yang putus sekolah. Nih cita cita kau, aku yang buat ide kegiatan. Demi kau nih.", sahut Damar sambil menyenggol pundak temannya itu.


"Saya bisa bantu donasi.", sahut Abi. Membuat ekspresi bahagia di wajah Damar.


"Butuhnya berapa?", timpal Abi sambil mengemas buku bukunya.


"Ndak banyak, 1 M lah.", sahut Damar membuat Abi mengernyitkan dahi. "Buat modal aki nikahin si Dian. Hahaha.", lanjut Damar yang berbuah pukulan buku tebal di kepalanya.

__ADS_1


"Jadi bodoh nanti sohib kau nih baru nyesal." sahutnya sambil mengusap kepalanya.


"Saya serius Mar. Kamu itu terlalu banyak bergurau.", sahut Abi dingin.


"Kau tuh terlalu kaku macam es batu, harus sering berjemur kau tuh biar kena panas biar agak cair.", jawab Damar


"Butuh sekitar 15n lah. Soalnya kita mau bangun sekolah kan. Ndak yg permanen gitu juga sih. Noh proposal kau baca lah dulu." lanjut Damar sambil menyodorkan proposal.


"Saya transfer saja, nanti kamu kirim WA no. rekeningnya ya." sahut Abi seraya berdiri dari duduknya. membersihkan celananya dari rerumputan.


"Eh serius kau nih? oh Nyunyu ku sayang, makin sayang aku sama kawan aku seekok nih". kata Damar bahagia sambil menggandeng sahabatnya itu.


"Jauhan dikit Mar saya jijik sama kamu." jawab Abi singkat.

__ADS_1


Mereka pun berlalu masuk ke kelas untuk mengikuti perkuliahan.


__ADS_2