
"Di, aku mau kerja" ucap Damar tanpa berani menatap Dian.
"Ndak salah denger aku Mar?"sahut Dian, emosinya mulai terpancing.
"Serius aku Di." Lanjut Damar sambil menunduk.
"Ya, udah full harimu itu buat kegiatan kampus, BEM, HMJ, belum organisasi teatermu itu, apa apa lg organisasi yang kamu ikutin sampe aku ndak hafal. Terus sekarang mau kerja?" Omel Dian dengan nada mulai meninggi.
"Gimana lagi, aku butuh duit Di."jawab Damar pasrah
"Duit? Buat apa?" Tanya Dian penasaran.
Damar menatap Dian lalu menarik nafas.
"Kosan, makan, tugas, terus iuran." Jawabnya.
"Iuran?" Tanya Dian minta penjelasan.
__ADS_1
"Iya...iuran organisasi." Sahut Damar ragu.
"Astaga Mar, kamu udah susah gini masih mikirin organisasi? Trus mau kerja buat bayar iuran organisasi? Kamu ini loyal apa ****?" Jawab Dian semakin emosi.
"Sekarang kamu pikir deh Mar, kita udah smester 3 ini smester terberat, dijurusanku udah banyak yang gugur. Kamu mau jadi salah satu dari mereka? Kemana mimpi kamu Mar? Kalo masalah makan aku bisa bantuin kamu, beasiswa aku msh banyak sisanya. Ibuk juga masih ngirimin. Kita tinggal mikirin tempat tinggal. Kalo tugas kamu bisa numpang ngeprin di asrama aku." Omel Dian panjang kali lebar.
"Ya ampun Di kok jadi macam mak aku sih ngomelnya? Aku pusing ini malah kau omel omel". Sahut Damar semakin meningkatkan level emosi Dian.
"Eh ****! Aku ya ngomel gini juga ngasi saran sama jalan keluar. Kamunya aja yang terlalu keras kepala mentingin organisasi yang seabreg itu. Kamu ini kuliah tujuannya apa? Kalo cuma mau jadi aktivis gak usah kuliah! Buang duit bapakmu aja yang sampe rela jualan sawah buat kuliahin anak kayak kamu! Udah terserah kalo ndak perlu saran aku ndak usah cerita sama aku." Sahut Dian yang sudah tersulut obor emosinya. Ia pun berlalu meninggalkan Damar. Langkahnya cepat sampai tak menghiraukan Abi yang tertabrak olehnya. Damar terdiam, tidak pernah ia melihat Dian semarah itu. Betul kata pepatah, marahnya orang sabar itu lebih berbahaya.
"Dian kenapa?" Tanya Abi sambil menunjuk kearah Dian yang sudah mulai menghilng dikerumunan.
"Kenapa kamu baru sadar?" Jawab Abi sambil mengeluarkan bukunya.
"Ini gara gara kau Nyu, sering benar kau pukul kepala aku nih." Jawabnya sambil menumduk dan mengusap kepalanya.
"Sepertinya masalah kamu berat Mar, ada apa? Siapa tau saya bisa bantu." Sahut Abi tenang.
__ADS_1
Damar pun menyeritakan masalahnya, sampai sebab mengapa Dian marah dan pergi.
"Kenapa baru cerita sekarang? Kalau kamu bermasalah sama tempat tinggal saya bisa bantu, masalah makan juga tidak perlu difikirkan. Fasilitas buat tugas tugas kita juga aman. Tapi dengan satu syarat. Kalau kamu mau tetap kerja untuk uang tambahan, kurangi kegiatan organisasi kamu di kampus." Jawab Abi memberi jalan keluar.
"Mana sanggup aku ninggalin organisasi Nyu." Jawab Damar memelas.
"Ya sudah terserah. Jalan keluar dari saya dan Dian saya rasa cukup. Tapi kamu yang terlalu keras kepala. Betul kata Dian. Pikirkan lah dulu." Sahut Abi dan berlalu meninggalkan Damar.
Tak lama kepergian Abi muncul Ella dengan nafas tersengl sengal. Dari jauh sudah terlihat ekspresi marahnya. Rambut ikalnya yang tergerai berkibar kibar. Wajahnya merah entah karena panas atau karna emosi.
Dalam hati Damar "Kampret mati aku, apa lagi ini".
"Woi!!! Laki **** lu apain Dian ha?!" Bentak Ella sambil hendak melepas sepatunya untuk melempar Damar.
"Weits, selo mbak bro." Jawab Damar mencoba menenangkan.
"Gila lu ya, Dian masuk kelas nangis gitu. Sampe dikeluarin ama dosen kerena dia gak konsen. Kalo lu mau mblangsak sendirian aja jangan ngajakin Dian!!" Omel Ella
__ADS_1
"Dian dimana?" Sahut Damar sambil bergegas mencari Dian.
"Diperpus. Awas lu ya kalo sampe Dian kenapa kenapa. Abis lu."