
**Ellen Pov**
Terkadang aku merasa dunia ini sangatlah kejam! Mengapa Tuhan membiarkan perempuan remaja sepertiku berkeliaran di pinggiran toko roti sendirian. Mungkin orang melihatku seperti orang gila, tapi sungguh aku ini orang yang masih waras. Hanya saja aku kurang beruntung. Sekilas bola mataku yang cokelat ini memandang iri kepada anak-anak remaja yang seumuran denganku. Dengan bahagianya mereka bisa tersenyum tanpa beban. Anak-anak itu bisa berangkat sekolah setiap hari tanpa masalah. Lalu bagaimana denganku? Hmm, untuk mengisi perutku saja aku tidak mampu.
Ah sial!
Aroma roti yang keluar dari toko ini membuat perutku berbunyi .
Kriuk... Kriuk... Krius.
Setidaknya itu yang aku dengar dari perutku!
Mungkin cacing-cacing di perutku ini sedang menggerogoti ususku yang kosong.Tidak ada yang bisa aku lakukan selain berdiri di depan toko roti tersebut. Menghirup aromanya saja sudah membuatku kenyang untuk sesaat.
Ya, hanya sesaat.
Cam, 'kan itu!
Kemudian kutempelkan wajahku ke sebuah kaca pembatas. Menatap makanan-makanan manis itu membuat air liurku ingin keluar.
"Ya ampun aku benar-benar lapar! Andai saja ada manusia yang berhati malaikat yang mau memberiku sepotong roti gandum itu, aku pasti sangat berterimakasih padanya" gumamku.
Tidak henti-hentinya aku mengelus- elus perutku.
"Nona, sepertinya Kau lapar. Ini untukmu!" Seseorang kemudian menepuk bahuku dan menyodorkan sebungkus roti gandum.
"Ah iya, bagaimana Tuan tahu kalau aku ini memang sedang lapar?" tanyaku sambil meraih bungkus roti gandum yang ia tawarkan.
"Ha... ha... ha, aku dari tadi mengamatimu, Nona. Aku lihat Kau berdiri di depan kaca terlalu lama, dan lihatlah air liurmu hampir saja jatuh. " Laki-laki asing itu menunjuk ke arah sudut bibirku dengan telunjuk jarinya. Sesekali aku mendengar tawa kecilnya yang sengaja ia tahan.
Huh, aku ini memalukan!
"Ah kau terlalu jujur Tuan" ucapku berpura-pura masa bodo. Yang penting hari ini aku bisa makan.Tanpa pikir panjang, dengan tergesa aku melahap roti itu. Aku lihat ia kembali tersenyum melihat tingkahku.
__ADS_1
"Kalau boleh tahu, nama Tuan siapa? He he he, mungkin suatu saat kita bisa bertemu kembali dan aku bisa membalas budi baikmu ini" ucapku untuk menghilangkan rasa canggung.
"Namaku Daniel dan suatu saat kita akan bertemu lagi di suatu tempat, Nona Ellen."
"Kenapa kau bisa yakin bahwa kita akan bertemu lagi? Tung... tunggu, bagaimana bisa Kau tahu namaku?" Aku hampir saja tersendat roti yang baru saja aku telan ke dalam tenggorokkan.
"Jika waktu itu datang, aku akan menjelaskannya kepadamu, Nona. Sekarang aku tidak ada banyak waktu karena adikku sedang menungguku." Laki-laki yang bernama Daniel itu melambaikan tangannya dan menghilang bagaikan percikan api.
"Dia... dia menghilang? Bagaimana mungkin Apa aku ini sedang berhalusinasi?"
Aku tercengang melihat kepergian Daniel yang tidak biasa itu.
Dia itu sebenarnya siapa?
Setelah kepergian Laki-laki misterius itu, tiba-tiba aku mendengar suara burung gagak tepat di atas kepalaku, terbang mengudara di atas awan. Tapi suara gagak itu dapat aku dengan jelas.
"Ternyata se-ekor burung gagak. Kenapa ia berputar-putar di atas kepalaku. Apa jangan-jangan.... " Ya, aku memandang sisa roti yang masih aku pegang sangat erat.
Terlihat burung itu semakin merendahkan sayapnya, berniat untuk menghampirku yang duduk di rerumputan taman kota.
Aku berlari dan terus berlari kecil untuk menghindari burung gagak itu.
"Uh, ini sungguh menyebalkan! Kenapa burung itu masih mengejarku. Matanya yang merah seakan-akan ingin menelanku bulat-bulat" Aku menggerutu kesal sambil mempercepat langkah kakiku.
Suara Gagak hitam itu semakin melengking
Bruk!
Akupun terjatuh dan tersandung batang besi yang berada di tengah jalanan.Roti gandum yang aku pegang terpental dan berserakan menjadi remah-remah kecil.
"Auh! Dasar gagak sialan!" umpatku sambil berusaha bangun.
Kaki kananku ternyata terpelintir dan terlihat darah segar mengalir di bagian lutut. Aku mengibas-ngibaskan telapak tangan kananku ke bagian yang sakit dan mencoba mengurut kaki kanan yang tadi terpelintir. Terlihat ada sebagian tulang yang menyembul dari balik kulit mulusku. Oh, itu mengetikan.
Aku masih tidak bisa berdiri karena bisa kurasakan rasa perih dibagian luka tersebut. Namun aku tidak boleh menangis, sebisa mungkin aku mencoba menahan rasa perih yang mendera di kaki kananku. Menangis pun itu percuma saja, karena di dunia ini tidak ada yang peduli padaku.
__ADS_1
kretek... Kretek... Kretek.
Terdengar suara tulang-tulangku bergeser. Pelan-pelan luka di lututku mulai sembuh sendirinya dan tidak ada lagi bekas darah yang tertinggal di lutut kananku. Selain itu, tulang yang tadinya bergeser dari tempatnya kini telah menyatu kembali.
Menakjubkan!
"Ini, bagaimana aku bisa melakukan ini semua! Tulang-tulangku bisa kembali. Lalu... lalu, luka di lututku ini kenapa bisa langsung sembuh tanpa bekas. Kenapa hari ini penuh dengan kejadian aneh!"
Aku mengernyitkan kedua alisku. Ya, aku bingung dengan apa yang telah aku alami hari ini.
Gkkk... gkkk... gkkk.
Aku melupakan keberadaan burung gagak pembawa sial itu.
Ya, burung gagak hitam itu kini turun ke pundakku dengan membawa gulungan kertas.
Tentu aku terkejut.
"Hai gagak sialan! Sebenarnya apa maumu, hah? Kenapa kau mengikutiku!" Sekali lagi aku menggerutu kesal.
Lalu pandanganku terpaku pada gulungan kertas yang di bawa burung gagak sialan itu.
"Kertas apa ini?" Aku penasaran dan mengambil gulungan kertas tersebut. Dengan hati-hati Aku membuka gulungan tersebut, hanya satu kalimat yang aku temukan di lembar gulungan itu.
"Isle Of Skye." Aku mengucap kalimat yang ada di gulungan itu yang ternyata adalah sebuah mantra.
Zring....
Aku menghilang! Mantra yang ku ucapkan telah membawaku ke dunia lain. Di depanku kini terhampar ribuan bunga Lonceng Biru. Bunga itu bagaikan sebuah karpet biru yang membentang luas seakan menyambut kedatanganku.
Ssttt....
Lagi-lagi aku dikejutkan oleh sesuatu. Aku seperti mendengar bisikan-bisikan kecil dari balik bunga Lonceng. Aku menyibak sebagian bunga Lonceng dan nampaklah segerombolan para Pixie tengah bersembunyi dibalik kelopak bunga. Menyadari keberadaan mereka diketahui, para Pixie pun berteriak dan berhamburan terbang mengitariku.
.......
__ADS_1