Darah Iblis

Darah Iblis
Chapter 8 ( Sebuah kematian)


__ADS_3

Arwah yang menangis itu pertanda bahwa ajal seseorang telah dekat dan para Banshee,  mereka akan keluar dari tempat persembunyiannya. Mereka akan menyanyikan lagu kesedihan, seakan yang mendengarkannya bisa merasakan kepedihan yang mendalam. Seolah-olah kau akan meninggalkan semua yang engkau cintai dan tidak akan bisa melihat matahari terbit kembali.


Jika kau di temui oleh Arwah Banshee maka tutuplah telinga atau matamu karena kau tidak akan tahu mereka akan mendatangimu dengan cara apa, karena mereka hanya akan menyampaikan pesan kematian kepada orang yang ia temui.


.


.


.


"Aahh!!!"


Ellen menjerit sekeras-kerasnya ketika ia melihat peri Banshee dengan wajah yang sangat mengerikan menyerupai nenek-nenek tua dengan iris matanya penuh kebencian.


Ia ingin berlari menjauh dari makhluk seram itu, tapi ia tidak bisa bergerak seperti ada yang menahan tubuhnya agar tetap berada di tempatnya.


"Sial! Apa yang terjadi? Kenapa aku tidak bisa menggerakkan kakiku!" gumam Ellen. Ia masih tidak bisa melepaskan pandangannya dari makhluk Banshee itu. Dia takut makhluk seram itu akan mendekatinya.


Sekeras apapun Ellen mencoba menggerakkan tubuhnya, semua itu hanya sia-sia. Makhluk itu semakin mendekatinya.


Makhluk Banshee itu semakin dan semakin dekat, hingga Ellen bisa melihat dengan jelas wajah Banshee. Ellen langsung menutup kedua matanya untuk menghindari kontak langsung dari peri Banshee, sang pembawa pesan kematian.


"Kau adalah calon pengantin iblis . Aku bernyanyi untuk kesedihanmu wahai peri yang malang, aroma darah akan selalu ada di sekitarmu. "  Banshee itu berbisik di telinga Ellen, suaranya terdengar halus tetapi terasa menusuk. Kalimat itu sama sekali tidak bisa di mengerti oleh Ellen. Tapi entah kenapa ia bisa merasakan setiap kata yang diucapkan oleh makhluk itu mengandung sebuah peringatan.


Zriiinggggg....


Tiba-tiba sebuah cahaya dengan kecepatan tinggi meluncur dan menghantam peri Banshee hingga menjauh dari tubuh Ellen.


Seorang laki-laki yang tidak tahu darimana arah datangnya tiba-tiba muncul dihadapan perempuan berzodiak Capricorn itu. Laki-laki itu langsung meraih tangan Ellen dan mengajaknya pergi.


"Kita harus pergi dari tempat ini! " ajak Nathan, laki-laki  yang ada dihadapan Ellen.


"Kau, bukankah laki-laki yang bersama Seam itu 'kan?" tanya Ellen memastikan.


"Tidak ada waktu untuk menjawab pertanyaanmu, kita harus segera pergi! Dunia ini bukan duniamu. " Dengan kekuatan portal waktu yang dimilikinya, Nathan melintasi waktu dan tempat. Sampai akhirnya mereka kembali ke dunia peri.


.


.


.

__ADS_1


.


"Ellen, ayo bangun! Kau bisa mendengar suaraku 'kan?" Emma menggoncang-goncangkan tubuh Ellen yang masih pingsan. Sesekali ia mengelap darah yang masih keluar dari pelipis mata perempuan berzodiac Capricorn itu.


Beberapa detik kemudian Emma bisa melihat bahwa Ellen tengah menggerakkan jari-jarinya dan mulai membuka matanya secara perlahan.


Masih samar-samar, perempuan berzodiak Capricorn itu sudah bisa membuka matanya dengan sempurna hingga bisa melihat keberadaan Emma di sampingnya. Sedangkan Nathan dan Daniel sedang memandanginya dengan raut wajah cemas.


Entahlah saat ini kepala Ellen terasa pusing dan merasa tulang-tulangnya seperti patah.


"Kalian kenapa ada disini? dan Augh kakiku?" Ellen merasakan sensasi aneh di kakinya. Dengan menahan sakit di bagian lututnya, Ellen masih menunggu penjelasan dari mereka bertiga.


"Aku tidak tahu kenapa kau bisa begini, tadi aku menemukanmu di ruang bawah tanah dengan keadaan sudah berlumuran darah" jelas Nathan menunggu reaksi dari Ellen.


Perempuan itu kemudian mencoba mengingat setiap kejadian sebelum kecelakaan itu terjadi.


"Oh jadi ruangan itu ruangan bawah tanah ya" jawab Ellen kemudian, setelah ia bisa mengingat setiap kejadian yang dialaminya.


"Apa yang kau lakukan di ruang bawah tanah sendirian, hah? Kau membuatku khawatir!" celetuk Emma kemudian.


"Maaf membuatmu khawatir" balas Ellen.


"Lalu kenapa kakimu bisa terluka begini?" tanya Daniel yang juga ikut khawatir dengan keadaan Ellen.


Ellen memberikan jeda dalam percakapannya. Tidak butuh lama, Ellen kemudian kembali melanjutkan ucapannya. "Sebelum aku mengalami kecelakaan itu, sebenarnya aku tersesat di ruangan yang kalian sebut dengan ruangan bawah tanah. Di sana aku juga mendengar suara rintihan. " Ellen menceritakan apa saja yang telah menimpahnya.


"Suara rintihan yang kau maksud itu berasal dari makhluk Banshee, dan tempat yang kau sebut penuh dengan kabut hitam itu adalah tempat para Banshee " Nathan melanjutkan kalimat Ellen.


"Bagaimana kau bisa berada di tempat terlarang itu Ellen!" seru Daniel yang nampak terkejut dengan penjelasan dari Nathan.


"Aku tidak tahu, tiba-tiba saja aku berada di tempat itu" jawab Ellen sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kurasa makhluk itu telah menarik roh Ellen masuk ke dunia Banshee" ucap Nathan mencoba menyimpulkan.


"Tapi mengapa makhluk itu menarik Ellen? Bukankah peri Banshee hanya akan menampakkan dirinya kepada orang yang akan menemui ajalnya?" Emma mulai berfikir keras atas apa yang dialami Ellen saat ini.


"Tunggu, bisakah kalian menjelaskan tentang makhluk yang bernama Banshee itu? Aku benar-benar ingin tahu " paksa Ellen. Meskipun ia masih merasakan sakit di bagian kakinya, tapi rasa sakit itu ia tepis demi mengetahui makhluk seperti apa Banshee itu.


"Banshee itu termasuk golongan peri dari dunia lain, dunia mereka terpisah dari dunia kami" jelas Daniel dengan nada datarnya.


"Apakah mereka jahat?" Ellen kembali bertanya.

__ADS_1


"Itu semua tergantung pada setiap pandangan masing-masing orang" Daniel menyelipkan sedikit senyuman dibibirnya.


"Maksudmu, setiap pandangan orang tentang peri Banshee itu berbeda-beda? Lalu menurut pandanganmu bagaimana?" balas Ellen.


"Iya, sebagian ada yang menganggap peri Banshee itu jahat ada juga menganggapnya baik. Kalau menurut pandanganku.... Aku tidak tahu" Daniel kini maju selangkah mendekati Ellen.


"Kenapa begitu?" Ellen semakin penasaran.


"Peri Banshee juga disebut peri pembawa pesan kematian, mereka akan muncul dan menampakkan diri pada orang atau peri yang akan meninggal. Selain itu mereka akan muncul dengan raut wajah yang berbeda-beda pula" lanjut Daniel.


"Teruskan, aku ingin dengar lebih lanjut. " Ellen tidak sabar mendengar kelanjutannya dan Daniel pun kembali bercerita.


"Peri Banshee akan muncul dengan ekpresi marah, sedih, ataupun bahagia itu semua tergantung siapa orang yang akan mereka temui. Jika peri atau orang yang mereka temui mempunyai sifat jahat, peri Bashee akan menampakkan diri dengan ekpresi marah seakan ingin menelannya hidup-hidup. Sebaliknya, jika peri atau orang yang ia temui adalah orang baik maka peri Banshee akan menampakkan diri dengan senyuman bahagia bagaikan malaikat" jelas Daniel dengan panjang lebar.


"Tadi aku melihat ekpresi sedih  yang terpancar dari aura peri Banshee, itu tandanya apa ya?" Ellen mengingat wajah Banshee yang dia temui di sungai itu.


"Aku pernah dengar, peri Banshee akan menampakkan ekpresi sedih ketika ada seorang pahlawan atau peri terhormat yang meninggal. " Emma menggantikan Daniel untuk menjelaskan apa yang ia ketahui tentang peri pembawa pesan kematian.


"Jika seperti itu berarti sebentar lagi aku akan mati!" sambung Ellen dengan perasaan takut.


"Aku rasa tidak begitu, nyatanya kau masih hidup dan memangnya kau berasal dari peri terhormat?" Nathan menepuk pundak Ellen dengan lembut dan sedikit menampakkan senyum manisnya. Hampir saja jantung Ellen meledak olehnya, pria di depannya ini pintar sekali mengambil alih dunianya. Tapi sebentar lagi ia akan mati, apakah Ellen harus mengabaikan perasaannya itu.


"Walaupun begitu aku tidak yakin, mungkin aku akan mati karena patah tulang" lanjut Ellen.  Ia mengamati kakinya yang terluka, dengan perlahan ia menggerakan sendi-sendinya.


Kretek,


Kretek,


Kretek.


Suara gesekan terdengar diantara sendi-sendinya, ada sesuatu aneh yang terjadi pada tubuh Ellen. Rasa sakit yang ia rasakan sudah hilang, selain itu tulang-tulangnya yang hampir patah sudah tersambung kembali.


Nathan mengamati perubahan yang terjadi pada Ellen, semua luka yang ada di tubuh Ellen secara mendadak langsung hilang tanpa bekas.


"Ellen, apa kau mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan diri? Semua luka di tubuhmu sembuh dengan sendirinya!" Iris mata Nathan langsung membulat, seakan ia tidak percaya akan kekuatan yang dimiliki Ellen.


"Aku... Aku juga tidak tahu, ini terjadi secara tiba-tiba" balas Ellen tidak kalah terkejutnya.


Semua orang yang ada di kamar Ellen memperlihatkan ekpresi bingung, kecuali Daniel.  Sepertinya ia sudah tahu kelebihan yang dimiliki Ellen,  perempuan berdarah setengah manusia dan setengah peri itu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2