Darah Iblis

Darah Iblis
Chapter 6 ( Pengendali waktu)


__ADS_3

Perkenal namaku Nathan, si pengendali waktu. Aku termasuk golongan peri Udara yang bersifat fleksibel dan tenang.


Zodiak: Aquarius.


Aku salah satu peri zodiak yang tidak mempunyai couple binatang, tapi aku mempunyai Air Suci yang selalu bersemayam di tubuhku sebagai penghubung portal waktu.



..........


Ellen menggerutu kesal karena ia merasa bahwa kehadirannya telah diabaikan oleh sosok dua pemuda tampan yang berada di depannya itu.


"Uh, Laki-laki ini memang menyebalkan! Dia kira aku ini patung? Tapi pria yang ada di sampingnya itu siapa?" gumam Ellen dalam hati. Dia terus memperhatikan punggung Nathan dari belakang.


Nathan menyadari bahwa perempuan yang berada di belakangnya sedari tadi tengah mengamatinya.


Nathan memalingkan wajahnya ke arah Ellen dan tersenyum renyah. "Hai" Nathan melambaikan tangannya.


Ellen merasa gugup karena mendengar sapaan dari Nathan yang terdengar lembut sehingga membuat hatinya meleleh.


"Sumpah! Ternyata Laki-laki itu Benar-benar tampan, eh baru saja dia menyapaku? " batin Ellen.


Nathan menghampiri Ellen dan menyapanya kembali dengan melambaikan salah satu tangannya tepat di depan wajah perempuan itu.


"Hallo, kau tidak Apa-apa 'kan Nona?" Nathan mencoba menyapa Ellen kembali.


"Ah iya, aku... aku tidak Apa-apa" sahut Ellen ketika tersadar dari lamunannya.


"Oh, aku kira kau kenapa. Dari tadi aku menyapamu, tapi Nona hanya diam saja" balas Nathan tersenyum.


Seam yang sedari tadi berdiri mematung Tiba-tiba menghampiri mereka berdua.

__ADS_1


"Nathan,  kau berhutang banyak cerita padaku! Jadi ayo ikut aku.  Aku tidak sabar mendengar semua kisahmu selama aku pergi" ajak Seam.


"Oke, tapi bagaimana dengan Nona ini? Apa kita juga akan mengajaknya juga. Aku lihat kau tadi bersama perempuan ini. "


"Sudahlah Nathan, jangan pedulikan dia. Dia hanyalah penguntit" jawab Seam.


Mendengar jawaban dari Seam barusan, Ellen tidak terima. Enak saja mengatainya penguntit, ingin rasanya ia menjitak kepala pria sombong itu. Namun keinginannya ia urungkan ketika Nathan kembali menyapanya.


"Nona, namamu siapa?" tanya Nathan kepada Ellen.


"Namaku Ellen" jawabnya sangat bersemangat.


"Nathan cepatlah! Kenapa kau masih menghiraukan perempuan asing ini sih!" Seam terlihat kesal.


"Kau ini sungguh Laki-laki dingin  ya! Jangan bicara seenakmu ya" Ellen mengacungkan jari telunjukkannya tepat ke arah Seam.


"Kenapa? Memangnya ada yang salah? Kau itu orang asing, tempatmu bukan disini! Kau itu berasal dari dunia manusia, seharusnya kau sadar diri!" celetuk Seam.


"Baguslah, pergi saja sana" ucap Seam.


"Seam, apa tidak apa jika kau membiarkan perempuan itu berjalan sendirian di castle ini?" Nathan nampak sedikit cemas.


"Hem, sudah. Lupakan saja perempuan asing itu " Seam merangkul pundak Nathan dan mengajaknya pergi dari tempat itu.


.


.


.


.

__ADS_1


Ellen pov


"Apa-apaan dia, Laki-laki sombong! Angkuh! Dingin tidak punya perasaan!" Aku menggerutu sambil terus melangkahkan kakiku yang mulai pegal karena terlalu lama  mengenakan sepatu ber-hak tinggi ini.


Aku Benar-benar tidak suka dengan Laki-laki itu, sikapnya yang dingin membuatku mual dan rasanya ingin sekali mengupatnya. Tapi Seam adalah adik dari Daniel, seseorang yang telah menolongku.


Aish, apa yang harus aku lakukan? Ruangan ini terlalu luas dan aku lupa dimana letak  ruangan Aula itu berada.


Kini aku tersesat di ruangan yang sangat sepi, kulihat tempat ini Remang-remang hingga aku tidak bisa melihat jelas tempat apa ini sebenarnya.


Tempat ini membuatku tidak nyaman. Aku bisa merasakan aura negatif disekelilingku, dan akhirnya aku memutuskan untuk beranjak dari tempat ini untuk mencari jalan lain.


Tiba-tiba suara jeritan terdengar begitu menakutkan ditelingaku  ketika aku mencoba membalikkan badan.


Arrghhhh!!! terdengar suara jeritan.


"Jeritan itu" desisku kemudian.


Lalu ku urungkan niatku untuk beranjak dari tempat ini dan mencari sumber suara. Namun Tiba-tiba,


Gubraaakkkkk,


Braakkkk,


Braaaakkkk,


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2