
Bab 4
"..."
Itu wajar. Tuan rumah pesta mengatakan bahwa dia tertarik pada putra mahkota,tetapi seorang wanita gila segera menyela dan mengatakan hal yang sama sesudah nya. Entah bagaimana,Dorothea berhasil tetap merasa tidak nyaman di pusat perhatian. Tetap percaya diri terlepas dari kecanggungan adalah bakat.
Aku menghela nafas dalam dalam. Maristella kita yang baik hati dengan ramah membela Dorothea setiap kali me buat pernyataan yang konyol seperti ini. Itu lah peran yang diingin kan penulis untuk di miliki maristella - untuk tetap berada di sisi pemeran utama wanita untuk menutupi kesalahan dan membantunya mencapai keinginan nya.
Tapi aku adalah Oh Mari bukan maristella.
Aku tidak memiliki keinginan sedikitpun untuk membela Dorothea.
"Oh..." suara bingung muncul dari bibir odeletta,lalu dia menjawab dengan senyum sopan. "Begitu."
"Ya. Nona Odeletta," kata Dorothea dengan bangga, tampa niat untuk mundur "Saya juga jatuh cinta pada nya pada pandangan pertama... tetapi ternyata Nona Odeletta juga. Anda memiliki selera yang bagus juga"
Dorothea tertawa kecil. Tapi tidak ada orang lain selain dia yang tertawa. Tak pernah terpikir bahwa mereka bahkan ada di pesta. Namun, Dorothea nampa nya tidak terlalu keberatan.
"Ya, Nona Dorothea." Kata lady Odeletta. "Yang mulia pangeran mahkota adalah pria yang berpengetahuan luas dan tampan. Jadi bagaimana saja menjadi satu satunya yang suka pada nya? apa yang anda kata kan itu masuk akal."
Odeletta tidak terlihat tersinggung,tetapi dia hanya mengenakan topeng sebenarnya,kemudia tertulis dalam novel bahwa dia tidak senang dengan dorothea. Odeletta sudah tahu bahwa dorothea tidak memandangnya dengan baik; begitu pula dia juga tidak menyukai dorothea. Namun,peran Odeletta sebagai penjahat membuatnya lebih benci wanita lain seorang penjahat diperlukan dalam cerita, jadi itu tak terhindarkan.
"Seperti yang anda tahu,putra mahkota berada pada usia di mana dia tidak bisa menunda pernikahan. Dia semakin tua." Odeletta mengakhiri pembicara dengan senyum elegan." Saya harap dia menikah dengan pasangan yang baik,siapa pun itu"
"Saya juga,Nona Odeletta. Bukankah ini harapan semua bangsawan ?" Dorothea berkata dengan tawa gemerincing, dan aku ingin perteriak pada nya 'apa kamu gila Roth? Tolong hentikan!' Tetapi jika aku melakukan itu,dia mungkin akan berkata, "mengapa marie?ini menghibur."
Tidak ada kesepakatan dengan nya.
Odeletta membungkuk ringan dan dengan sepon undur diri "saya harus pergi kemeja lain. Saya harap anda akan terus menikmati perta nya,semua nya"
Dia mempertahan kan keanggunannya yang tenang sampai akhir, lalu, setelah dia pergi, obrolan di meja berlanjut. Aku memandang dorothea, yang secara aktif berpartisipasi dalam percakapan. Namun, aku perhatikan dia memelototi Odeletta dengan cemberut,yang sedang berbicara di meja dengan kelompok lain.
Aku menghela nafas sekali lagi. Meskipun peristiwa tidak berjalan seperti di jelaskan dalam novel, penulis telah menulis konflik antara Dorothea dan Odeletta sebagai kemenangan bagi pemeran utama wanita. Penulis nampak nya menyukainya ketika dorothea mengakui cintanya kepada putra mahkota dan mempermalukan Odeletta.
*
*
*
"Kenapa kau melakukan itu"Dorothea bertanya ketika kami kembali di kereta.
"Apa?" Aku merespon.
"Situasi tadi," Dorothea mengeluh ketika dia menggosok bibirnya. "Mengapa kamu tidak memihakku?"
"Maksudmu ketika kamu menyebutkan Putra Mahkota"
"Iya, itu!"
"Rothe,menurutmu apa yang harus kukatakan ?" Aku bener bener ingin tahu tentang jawabannya,yang tidak dijelaskan dalam buku.
Dia menjawab tanpa ragu ragu. "Ada banyak hal. Misalnya, 'Yang mulia tampak sangat tertarik pada nona dorothea' atau 'Sebenarnya,rambut nona dorothea terlihat lebih baik daripada milik anda' atau 'Yang mulia bekata dia menyukai wanita kata.' Hal hal semacam itu."
__ADS_1
"..."
Apa yang orang bodoh ini bicarakan?
"Apa kamu serius, rothe?" Tanyaku dengan heran.
Dorothea mengangguk. Wow, gila.
"Jika kita mengatakan itu, kita berdua akan di kubur. Apa kamu tidak waras?" Bentakku.
"Apa yang kamu bicarakan? Itu tidak salah."
"Lalu jika itu tidak salah, mengapa kamu tidak bicara?"
"Apa?" Katanya dengan tercengang.
"Aku mungkin tidik perpikir seperti itu dalam situasi itu. Mengapa kamu tidak mengatakan nya sendiri?"
"Itu peranmu,bukan peran ku,marie?"
"...apa?" Kata kata seperti pukulan ke wajahku.
"Aku butuh seseorang untuk membantuku," jelasnya "jika aku mengatakannya maka citraku akan tidak baik"
"..."
Bagaimana mungkin orang ini ada? Aku diam diam mengerjapkan mataku padanya. Bahkan jika Maristella tidak dieksekusi, dia akan mati lebih awal karena stres. Aku yakin akan hal itu. Tidak apa Maristella akan sadar situasi ini sebagai hal yang membuat sters?
Aku menempel kan senyum palsu di wajah ku. "Jika kamu mengatakan sesuatu dengan percaya diri, maka aku yakin reputasimu akan bertahan, Rothe!"
Pertama dia memintaku untuk mengikat pita, dan sekarang ini .
"Aku pikir kamu bertingkah agak aneh hari ini,marie," celoteh nya.
"..."
Orang yang tidak normal adalah orang yang melihat orang normal sebagai tidak normal.
Tetapi masih terlalu dini bagiku untuk mengatakan itu, jadi aku memutuskan untuk menyimpan bantahan ku untuk nanti. Sebalik nya, aku mengatakan ini. "Aku, selalu seperti ini, Rothe."
"Tidak, marie." Dorothea dengan kuat menggeleng kan kepala nya. "Kamu tidak seperti ini sebelum nya."
"Bagaimana aku sebelum nya?." Aku bertanya dengan rasa ingin tahu yang tulus. Tepat nya aku ingin mendengar apa yang di pikirkan dorothea tentang maristella, meskipun aku tidak mengharapkan sesuatu yang kurang dari ke angkuhan dan ketidakberdayaan.
"Dulu kamu tidak seperti ini. Hingga terakhir kali kita bertemu, kamu hanya peduli padaku. Kamu tidak pernah sedingin ini."
"Aku maris hanya memikirkan mu, rothe," aku berbohong tetapi, Dorothea tampak nya tidak mempercayainya. "Aku memperhatikanmu dengan menggunakan penilaianku yang paling masuk akal."
"Jika kamu bener bener memperhartikan ku,lalu mengapa kamu hanya duduk disana seperti itu?"
"Pandangan mu tentang 'memperhatikan mu'berbeda dari pandanganku tentang 'memperhatikan mu' aku melakukan nya dengan caraku. Kamu melakukan nya dengan baik?"
"Mengapa kamu tidak bisa melakukan nya dengan cara ku?" Dia bersikeras.
__ADS_1
Aku melakukan yang terbaik untuk bersabar dengan nya. "Aku bukan kamu, dan aku punya pikiran sendiri. Sangat wajar bagiku untuk berdasarkan penilaianku sendiri, Rothe. Aku bukan boneka mu tetapi orang yang hidup. Kamu bisa mengerti, ini kan?"
"..."
Dorothea tutup mulut seolah olah dia tidak bisa menemukan kata kata untuk membentahku. Tetapi di dalam hati kenyataan nya, saya pikir dia mungkin berpikir. 'Tidak bisa kah kamu hidup sebagai bonekaku ?'
Dia mungkin berpikir bahwa jumlah minimum rasa hormat sudah cukup.
"Nona Dorothea, kita sudah sampai,"pengemudi kereta mengumumkan.
Rumah bellafleur relatif dengan rumah Trakos. Aku tersenyum santai dan mengucapkan selamat tinggal pada Dorothea.
"Selamat tinggal ,Rothe"
"...selamat tinggal."
Sungguh menakjubkan bahwa dia masih memiliki sedikit sopan santun. Mengingat kepribadiannya,kupikir aku akan di suruh tutup mulut dan pergi.
Tak lama setelah itu karena yang membawa Dorothea berangkat kerumah nya, dan ketika aku melihat kereta itu menghilang, aku tersenyum. Aku tahu bahwa dia akan tetap setia kepadaku bahkan setelah perpisahan ini.
Karena dorothea tidak bisa melakukan apapun tanpa maristella.
***
"Ah,anda sudah tiba, Nona?"
Segera setelah aku memasuki rumah,aku mendengar Florinda yang tinggi dan melihatnya berlari ke arah ku.
"Mengapa kamu menyapaku dengan gembira Florinda?" Tanyaku dengan senyum canggung.
"Saya selalu menyapa mu seperti ini," jawabannya dengan mengangkat bahu,dan aku memutuskan untuk bertindak sealami mungkin. Sebenar nya tentangan terbesar bagiku bukanlah pesta teh konyol yang kulakukan sebelumnya, atau kanker yang menyebut saya sahabatnya.
Itu adalah rumah ini sendiri, hampir tidak ada deskripsi tentang lingkungan Maristella di dalam buku. Sejauh yang ku inggat, nama florinda disebutkan hanya beberapa kali. Aku harusdiberi pujian tanpa batas untuk mengingat tanggal yang sepele itu.
Bagaimana pun, hanya itu lah yang aku tahu tentang situasi nya, dan aku tidak tahu keadaan tempat maristella tumbuh dewasa, seperti apa suasananya dalam keluarga Bellafleur, atau bahkan jika dia memiliki saudara kandung. Penulis tidak pernah repot menyebutkannya. Jika hanya ada satu hal yang aku tahu, dia tidak kehilangan orang tuanya sejak dini.
"Kakak!"
Sebuah suara aneh menembus telingaku. Dengan ekspresi bingung, aku menoleh ke arah suara. Seorang gadis berambut pirang berlari kearah ku. Saya mundul beberapa langkah,kaget tetapi dia tidak melambat. Siapa dia?
Florinda, yang berdiri di sampingku ,menghentikan gadis itu. "Ya ampun, nona martina. Anda akan terluka"
"Tapi, aku sangat senang melihat nya!" Gadis bernama martina berbalik kearahku dengan cerah. "Kakak sudah pulang!"
"Hah- ya?"
"Apakah kakak dengan nona Cornohen lagi?" Kata nya, suara nya waspada.
Aku ingin berbohong,tetapi aku memutus kan untuk jujur. "Iya."
"Ugh, kakak bertemu dengannya lagi!" Ekspresi Martina berkerut seolah dia membenci gagasan aku bertemu Dorothea. Aku mempelajari gadis seperti boneka ini saat dia mengerutkan wajahnya. Menilai dari pangilan yang dia gunakan untuk memanggilku, ini pasti adik perempuan Maristella. Mengingat dia sangat membenci Maristella bertemu Dorothea, dia pasti memahami kemunafikan Dorothea sejak awal.
Sayang sekali Maristella tidak menyadarinya sampai semua nya terlambat.
__ADS_1
*Bersambung*