
"Aku akan berbicara dengan putra mahkota hari ini," kata Dorothea ketika kereta membawa kami menuju ketujuan kami.
"Semoga beruntung." Kata ku datar.
"...Hanya itu?"
"Kamu tidak memintaku untuk menjadi pelatih cintamu, kan?" Itu memalukan dengan cara yang berbeda. Bahkan jika aku tidak ingin melihat Dorothea gagal begitu marah, aku belum pernah, aku belum pernah bertemu cukup banyak pria untuk memberinya nasihat.
Ah tunggu. Sekarang dia berlinang air mata. "Tidak seperti itu. Tolong bantu aku , Marie," pinta nya.
"Bagaimana kamu ingin aku membantumu?"
"Kamu tahu bagaimana aku. Aku sangat pemalu. Tidak peduli apapun. Akan tidak nyaman bagi saya untuk berbicara dengan putra mahkota sendiri. Tidak bisakah kamu berbicara dengannya lebih dulu?"
Hei, lihat. Apa yang tidak nyaman disini adalah Dorothea membuat Maristella melakukan semua pekerjaan dan kemudian duduk dan mengisap madu. Aku tertawa berbahak bahak di kepalaku. Oh, tentu saja tidak akan sulit bagiku untuk berbicara dengan putra mahkota. Bahkan jika dia benar benar teman sejati ku, aku akan dengan senang hati melakukan nya. Namun, kami bukan saudara sejiwa, jadi dia tidak tahu dia akan berakhir menjadi target masalah.
"Sepertinya itu agak sulit, Rothe. Kamu tahu aku tidak bisa berbicara dengan baik kepada seseorang yang tidak kukenal."
"Jadi kamu tidak bisa melakukannya?"
"Yah," aku memulai.
Pada awal nya ekspresi Dorothea menjadi cerah, tetapi ekspresinya runtuh sedetik kemudian.
"Tidak. Aku tidak akan melakukannya," kataku akhirnya.
"Marie!" Dia merengek.
"Telinga ku sakit Rothea," keluh ku.
"Kamu sangat jahat. Tidak bisakah kamu melakukan nya untuk teman?"
"Apakah kamu ingin aku pergi kebulan madumu ketika kamu menikah?"
Alis Dorothea mengerut mendengar ucapan yang tidak terduga itu. "Apa yang kamu bicarakan?"
"Yah, kamu bilang kamu pemalu. Apa kamu malu pergi kebulan madu tanpa suami? Aku pikir aku harus tetap berada di sisimu untuk membelamu."
"Marie!" Dorothea berteriak dengan suara bernada tinggi.
"Aku bisa mendengarmu bahkan jika kamu tidak berteriak, Rothea."
"Bagaimana mungkin itu hal yang sama? Hanya pengantin baru yang seharus nya bulan madu! Tampa kecangungan di antara mereka."
"Tapi malam pertama orang yang baru menikah bersama sama perlu dipersiapkan, kan? Bagaimana aku bisa melakukan sesuatu yang melakukan sesuatu yang memalukan seperti itu?"
"Marie, itu sesuatu yang harus kamu lakukan, bukan kamu. Kenapa kamu ikut campur? Apa kamu tidak dapat membedakan apa urusan mu atau bukan."
"Betul sekali"
"Apa?"
__ADS_1
Aku menjawab kembali dengan ekspresi tenang. "Kamu benar, Rothea. Demikian juga, aku pikir itu lancang bagiku untuk terlibat dalam urusan cintamu."
"..."
"Aku senang kamu setuju, jadi lakukan lah sendiri."
Dorothea menatapku seolah aku menampar wajahnya. Aku mengabaikan pandangannya dan melihat keluar jendela. Aku kira dia akan mengatakan jawaban yang lain, tetapi untungnya atau tidak, dia tidak lagi membuka mulut. Aku tertawa di kepalaku dan memandang keluar jendela tanpa suara sampai kami tiba di istana kekaisaran.
***
Aula perjamuan didekorasi dengan mewah untuk acara tersebut. Meskipun novel itu menggambarkan nya luar biasa dan indah, melihat nya sendiru membuatku kagum.
Aku melangkah keluar dari gerbong dan berjalan menuju pintu masuk ruangan perjamuan, lalu menunjukkan undanganku kepada penjaga pintu, yang mengonfirmasikannya dan menyambutku dengan membukuk. Aku juga menundukan kepala dengan ringan sebagai tanggapan lalu, melangkah ke area yang luas. Sekelompok bangsawan berseliweran. Jauh lebih orang disini daripada di pesta teh di rumah Trakos, dan aku sekali lagi terkesan oleh pemandangan itu. Aku mengira mungkin bisa tersesat disini.
'Apakah keluarga ku masih datang?'
Countess Bellafleur dan martina akan pergi lebih lambat dariku, jadi belum tiba. Mungkin aku akan bertemu dengan keluarga ku nanti. Lebih penting lagi, ada hal lain yang harus saya lakukan di persta ini.
'Aku tidak bisa membiarkan Dorothea dan putra mahkota saling jatuh cinta.'
Itu akan menjadi langkah pertama menuju akhir tragis Maristella.
Alasan dia meninggal dalam novel adalah karena Dorothea menjebak nya untuk semua skema yang telah dia lakukan sebagai selir putra mahkota. Tentu saja, karena aku adalah Maristella sekarang, aku tidak akan pernah mati untuk Dorothea, tetapi aku ingin mencegah masa depan yang buruk untuk berjaga jaga.
"Marie!"
Suara dorothea menggangguku dari pikiranku. Aku berbalik kearahnya. "Ada apa?"
"Jika kamu tidak ingin berbicara dengan putra mahkota, bisakah kamu tetap disisi ku?"
"wow benarkah?" Kata Dorothea.
"Mm-hmm"
"Aku khawatir karena kau bersikap kasar kepadaku! Jangan tinggalkan aku, oke?"
Aku tidak benar benar merasa kasihan padanya, tetapi aku tertawa dalam hati tanpa mengatakan apa apa. Kemudian, aku mendengar seseorang memanggilku.
"... Nona Maristella?"
Ah, itu suara yang akrab. Ketika aku membalik, aku melihat seorang wanita muda yang hanya pernah kulihat sekali. Aku tersenyum canggung dan menyembut nama nya.
"Nona Odeletta."
Tunggu, aku tidak perpikir ini cerita...? Aku memiliki ekspresi bingung di wajah saya. Odeletta dan Maristella jarang berinteraksi dalam novel asli; mungkin paling banyak sekali atau dua kali. Bahkan, kemudian itu hanya setelah Dorothea menjadi selir putra mahkota.
Aka memberi Odeletta senyum lembut.
"Halo nona Trakos, ini adalah pertamakali nya kita bertemu sejak pesta teh bukan?"
"Iya, anda menjadi lebih cantik dari terakhir kali saya melihat anda," jawab Odeletta.
__ADS_1
'Anda menjadi lebih cantik dari terakhir saya melihat anda' sepertinya menjadi salam standar di dunia ini. Aku tersenyum canggung dan menawarkan sentimen yang sama.
"Terima kasih, Nona Odeletta. Hal yang sama berlaku untuk anda."
"Saya tersanjung, saya sangat senang melihat anda lagi. Sebenarnya saya ingin berbicara dengan anda di pesta teh terakhir, tetapi sayangnya saya tidak bisa. Saya sangat senang bisa melihat anda di awal jamuan hariini!"
Uh...tunggu, sejak kapan Odeletta memiliki kepribadian seperti ini? Saya panik. Citra Odeletta yang tersimpan dikepalaku dari novel adalah seorang wanita dengan kepala cerdas dan kecantikan dingin. Sementara dia sopan dan ramah di pesta teh terakhir, dan dia berada di tempat yang ceria dan energik ini. Entah bagaimana ... dia agak mengingatkan ku pada seekor anjing besar yang menyapa seseorang setelah lama berpisah. Tentu saja itu cara yang agak kasar untuk menggambarkan seseorang.
"Terima kasih telah menyambutku seperti ini, Nona Odeletta."
"Tidak perlu, lady Maristella. Saya memiliki perasaan yang baik bahwa saya akan beruntung hari ini," katanya dengan senyum lembut, lalu melanjutkan dengan suara bersemangat. "Jika anda tidak keberatan, saya ingin berbicara dengan anda."
Ah, ini bahkan lebih tak terduga. Aku memandang dengan bingung. Rencana awal hari ini adalah tetap menempel pada Dorothea, orang yang sangat aku benci, untuk menghentikan nya agar tidak jatuh cinta pada putra mahkota. Aku ragu ragu dan berdebat apakah aku harus mengubah rencana ku atau tidak, ketika suara yang tajam datang dari sisiku.
"Apakah yang anda lakukan, Noda Odeletta?" Dorothea mengkerut. "Tidak bisakah kau melihatku berdiri disini?"
"Ah."
Odeletta tentu saja tidak buta, tetapi dia berkedip terkejut seolah olah dia baru saja memperhatikan kehadiran Dorothea di sisiku. Lucu nya kupikir Odeletta lucu dan imut, bukan palsu atau munafik. Mungkin jika tempatku di ganti, aku akan pikir sebaliknya. Kalau di pikir pikir, aku adalah orang yang berwajah ganda, bukan?
"Maafkan saya karena telah menyinggung anda, Nona Dorothea," kata Odeletta dengan suara yang sama sekali tidak terdengar meminta maaf dan aku hampir tertawa.
"Tolong mengerti, Nona," Odeletta Melanjutkan, "Saya memiliki penglihatan mata yang buruk."
Itu adalah jawaban yang konyol, tetapi mulut Dorothea terbuka tampa kata. Sesaat kemudian dia memincingkan matanya.
"Maaf, anda tidak memiliki penglihatan yang baik. Ayah anda tampak nya memiliki mata yang bagus," kata Dorothea.
"...Hahaha" Odeletta tertawa, tetapi mata nya seperti baja. Jelas bahwa dia tidak bahagia. "Kurasa saya mirip ibu saya. Ngomong ngomong, Nona Maristella, mengapa kita tidak pergi ke sana dan berbicara berdua?"
"Hei, Nona Odeletta. Merie sudah bersamaku dari tadi," potong Dorothea. "Lalu dia bisa bersamaku mulai sekarang. Benarkan, Nona Maristella?"
"Nona Odeletta, ada apa dengan mu? Anda tampaknya tidak mempelajari sopan santu wanita dengan benar."
"Nona Dorothea saya telah dididik dengan baik sebagai seorang wanita, dan karena saya meminta izin kepada Nona Maristella. Sejauh yang saya tahu, pendengaran anda baik baik saja, jadi saya yakin anda mendengarnya dengan benar?"
"Anda tidak meminta izin saya."
"..."
Odeletta tidak mengatakan apa apa, Dorothea tersenyum penuh kemenangan seolah dia telah memenangkan pertengkaran, tetapi aku melihat nya dengan sangat berbeda, Odeletta terdiam karena terkejut, bukan karena dia telah kehilangan pertengkaran.
"Saya pikir anda tidak mempunyai sesuatu untuk di katakan lagi, bisakah anda pergi? " kata dorothea
"Tidak tidak, tunggu sebentar Nona Dorothea," kata Odeletta, kebingungan terlihat jelas di wajah nya. "Apakah kamu berdua adalah saudara? Saya mendengar bahwa Nona Maristella adik perempuan..."
Kata kata itu mengerikan Odeletta! Bagaimana bisa kamu membandingkan martina dengan dorothea?
*
*
__ADS_1
*
Bersambung