
"Raj! ... Cepat turun ke bawah sayang! sarapan dulu sini, nanti bisa telat berangkat ke sekolah!".
Terdengar teriakan dari mama yang ada di lantai bawah, aku pun bergegas untuk turun ke bawah.
"Iya! Raj turun sekarang".
Aku berjalan menuruni tangga dan menuju ke ruang makan sambil mengancingkan seragam bajuku yang masih terbuka.
Di ruang makan sudah ada mama dan papa. mama terlihat sedang merapikan makanan di atas meja sedangkan papa sedang duduk sambil menatap mama.
Saat aku datang mereka berdua menoleh ke arahku, aku pun mendekat.
"Ayo cepat makan! Mamah sudah siapkan makanan favoritmu. Lihatlah! Ada nasi goreng dengan telur setengah matang di taburi daun bawang, dan sedikit potongan ikan salmon di sampingnya".
Suara mama terdengar lembut di telinga, aku pun duduk di bangku tempatku. terlihat hidangan masakan buatan mamah di atas meja yang begitu menggoda selera makan.
"Uwah!! ... mamah selalu tau apa yang aku mau, aku sayang mamah!".
Aku mengatakannya dengan perasaan gembira lalu memberikan senyuman kepada mama, ia membalasnya dan terlihat senang.
Di samping itu, papa terlihat iri.
"Apa kamu hanya menyayangi mama saja? Bagaimana dengan papa?!".
Papa melihatku sambil menaikan alisnya, ia menunggu jawaban dariku.
"Aku juga sayang papa kok!".
Aku tersenyum dan papa membalas senyumku, pipinya sedikit memerah, seperti papa tersipu malu. Mama yang melihat itu ikut tersenyum tipis.
"Sudah-sudah, ayo makan! nanti bisa telat!".
Mama baru saja duduk di bangkunya.
aku memimpin bacaan doa dan setelah itu aku mencoba suapan pertama.
"Eumm! ... enak sekali!! Makanan masakan mama adalah makanan terenak sedunia dari semua makanan yang pernah aku makan!".
__ADS_1
Aku memuji masakan mama yang sesuai dengan faktanya, mama tersenyum senang mendengarnya. Tidak ada yang bisa menandingi masakan seorang ibu yang penuh kasih sayang di setiap rasa sekalipun dia seorang chef!
"Kamu selalu membuat mama senang di pagi hari sayang".
"Tapi masakan mama benar-benar sangat enak dan nikmat! Benar kan papa?".
"Ya! Tentu saja!".
Papa makan dengan sangat lahap yang membuktikan bahwa masakan mama benar-benar masakan terbaik.
Mama tersenyum tipis, "Ya sudah, kalau begitu habiskan makanannya agar kamu semakin kuat, cerdas, dan cita-citamu bisa terwujud!".
Mama terlihat bersemangat mengatakannya sampai mengangkat tangan ke atas.
"Contohnya kuat seperti papah!"
Papa yang tadinya sedang makan dengan lahap berhenti sejenak untuk mengatakan hal itu sambil menunjukkan ototnya yang besar, kami bertiga pun tertawa sejenak lalu lanjut makan.
Beberapa menit berlalu dan sarapan pagi pun selesai. Aku membantu mama membereskan piring kotor, aku ingin membantu mencuci piring juga tapi mama menyuruhku untuk siap-siap berangkat ke sekolah.
Setelah semuanya selesai, aku kembali turun dan memakai sepatu di teras depan. Mama yang tadinya mencuci menghampiri aku bersama papa.
Mereka berdua sudah berdiri di sampingku saat aku memakai sepatu menunggu aku berangkat.
Aku kemudian berdiri dan menghadap ke arah mama dan papa untuk berpamitan.
"Ma! Pa! Raj berangkat dulu ya".
Aku mencium kedua tangan orang tuaku dengan penuh ketulusan. Mama mengelus kepalaku saat aku bersalaman dengannya.
"Hati-hati ya, sayang!".
Terasa sangat nyaman saat mama melakukan hal itu kepada aku.
"Belajarlah yang giat dan bersungguh-sungguh agar menjadi orang sukses! Kamu harus membuktikan kalau kamu juga bisa!"
Papa mengatakannya sambil memegang sebelah pundak aku dengan tangan kanannya.
__ADS_1
"Iya, Raj mengerti! Assalamu'alaikum".
Kedua orang tuaku menjawab salam dariku barusan. Lalu aku pun pergi keluar untuk berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki.
...***...
Saat ini masih pukul 06.16 WIB dan jam masuk sekolah pukul 08.00 WIB. Seperti biasa udara pagi sangatlah sejuk dan membuat suasana hati tenang. kicauan-kicauan burung pun terdengar merdu di telinga.
Saat aku sedang berjalan sambil melihat sekeliling, aku melihat ada tetangga yang sedang menyapu, kami saling menyapa satu sama lain.
Aku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki menuju tempat pangkalan angkot karna motorku sedang di perbaiki di bengkel. Oleh karena itu, aku harus berangkat lebih awal karena jarak sekolah dengan rumahku terbilang jauh.
Halo, Namaku Aryan Yudhistira, Aku anak tunggal. Aku dan kedua orang tuaku tinggal di sebuah kota yang bernama Bogor, lebih tepatnya di Desa Rancabungur. Umurku masih 16 tahun dan masih menginjak di kelas 11, Aku seorang pelajar di SMK favorit yang bernama Golden Budiman, Jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL).
Walaupun aku masih kelas 11, tapi jika aku boleh jujur aku sudah mendapatkan banyak prestasi. Aku bisa mengetik 10 jari, mengerti dan paham semua jenis bahasa Computer, bahkan menghack suatu keamanan sudah menjadi hal biasa yang aku lakukan di usiaku saat ini. tapi aku tidak melakukannya hanya demi memenuhi kemauanku saja atau sampai menyalahgunakannya untuk hal yang buruk karena itu tidak baik.
aku menyukai hal-hal yang menantang diriku untuk mencapai sesuatu yang mustahil menjadi mungkin.
Karena cita-citaku adalah untuk menjadi seorang ilmuwan terkemuka di seluruh dunia dan membahagiakan ke-dua orang tuaku, Maka aku harus berusaha lebih keras untuk belajar dengan sungguh-sungguh agar cita-citaku dapat terwujud dan tidak menjadi angan-angan saja.
Semua hal yang sekarang aku bisa lakukan dan aku dapatkan mungkin tidak akan terjadi jika masa laluku yang dulu bukan seorang budak cinta yang menurutku pribadi alay sekaligus lebay, terlebih lagi aku termakan oleh omonganku sendiri.
Mengapa aku berpikir demikian? Aku sempat menangis dan depresi hanya karena cinta monyet waktu SMP.
Bagaimana bisa aku tidak menganggap diriku yang dulu alay dan lebay meskipun memang cukup menyakitkan. ... tidak, aku berbohong, dulu memang terasa sangat menyakitkan.
Mengingatnya saja sudah membuatku malu dan senyum-senyum sendiri dengan kenaifan diriku yang dulu.
Ingin rasanya kembali ke masa lalu, namun itu mustahil karena melanggar aturan kausalitas kecuali anime Stein Gate, itu beda lagi.
Akan aku ceritakan kepada kalian awal dari kisah cinta ini di mulai hingga merubah kehidupanku saat ini.
...***...
__ADS_1