
Asep kemudian lebih mendekati ku dan memegang kedua bahuku. Ia memojokkan diriku ke dinding dan setelah itu kami pun saling bertatapan. Posisi itu terbilang cukup berbahaya jika sampai ada orang lain yang melihat kami dengan salah paham.
Aku diam sambil kebingungan, Asep menghela nafasnya sebelum mulai berbicara dengan serius.
"Gua kira cinta itu hanya membutakan, tapi ternyata cinta bisa membuat seseorang pikun dan ling-lung. Yaudah gini aja, Cari enaknya! nanti setelah pulang sekolah lu coba chat dia aja, terus lu tanyain dan pastiin ke dia apa bener kita satu sekolah dan temen sekelasnya gua? Lu tanya sendiri aja kalau misalkan lu masih ragu sama omongan gua. Sebenarnya biar lebih enak bisa ketemuan langsung sekarang juga tapi, ... kayaknya waktunya gak cocok, mending lu tanya dulu aja lewat WA. Kalau udah lu pastiin semuanya, lu ajak dia ketemuan dan ungkapin perasaan lu ke dia! nanti gua temenin, gua yang atur selebihnya kalau soal itu. lu paham kan apa yang gua omongin!?"
Tidak aku sangka Asep akan berbicara panjang lebar seperti itu. Aku diam sejenak sambil berpikir, tak lama aku pun mengangguk.
"Iya, gua paham".
"Bagus deh kalau gitu, gua bakal bantuin lu sepenuhnya kok, santai aja!".
"Iya Sep, makasih banyak" Aku tersenyum tipis.
"Halah, gak usah terima kasih, bantuin aja belum kan?".
"Semua ini kan terjadi karena lu yang ngasih nomor Dinda ke gua, lu udah bantuin gua sejak awal!".
Asep tiba-tiba memelukku sambil menepuk bahu belakang diriku, ia seperti mencoba membuatku untuk tidak terlalu rendah hati padanya.
"Santai aja Raj, semua yang gua lakukan merupakan cerminan dari apa yang dulu udah pernah lu lakukan sama gua! Gua juga berterima kasih dan berhutang budi sama lu! Gua bersyukur punya sahabat kayak lu Raj!".
Itu adalah kata-kata yang tulus dari hatinya sendiri, aku bisa tahu dari caranya berbicara. Kami berdua tersenyum kecil seperti sama-sama senang.
Disaat yang bersamaan tanpa di duga, datanglah seorang laki-laki yang baru saja masuk ke kamar mandi. Dia melihat kami berdua dengan posisi seperti itu. Kami berdua begitu dekat, ya tentu saja dekat, kami saja berpelukan. ia sampai menganggap kami berdua sebagai seorang pasangan gay.
Lelaki itu kaget melihat kami dari ekspresinya, ia menutup mulutnya yang tadi terbuka. Kami berdua pun kaget, kami menatap lelaki itu dengan posisi kami yang masih sama. Selama beberapa detik kami semua terdiam dengan saling menatap satu sama lain, suasana pun hening saat itu.
"... OMG!! Apa yang telah aku lihat ini!".
Dia mengatakan itu sambil menutup wajahnya dengan tangannya tapi dia masih bisa melihat kami karena dia tidak benar-benar menutupnya mata. Nada bicaranya seperti lelaki kemayu (genit atau seperti wanita pada umumnya).
Aku pun melihat Asep, kami langsung melepaskan pelukan kami satu sama lain. Lalu kami membersihkan pakaian kami seperti orang yang sedang jijik.
__ADS_1
"Eh! ... Maaf yah udah mengganggu kalian berdua. Tapi kalau kalian mau ngegay jangan di kamar mandi sekolah! Nanti bisa ketahuan sama yang lainnya bisa bahaya loh!".
Entah kenapa laki-laki itu menunjuk ke arah kami berdua. Aku dan Asep kaget mendengar kata-kata itu dari mulutnya. Kami saling menatap satu sama lain dengan wajah panik.
"Kalau begitu aku pergi dulu ya? Aku minta maaf karena sudah mengganggu waktu bermesraan kalian berdua. Sampai jumpa!".
Lelaki itu melambaikan tangan kanannya, ia berusaha melarikan diri dari kenyataan yang telah ia lihat. Dia membalikkan badannya dan hendak pergi meninggalkan kami berdua.
Aku tidak ingin dia salah paham terlalu jauh, tidak ... Dia sudah sangat salah paham, ini bahaya!
"Eh! tunggu dulu!!".
Aku berteriak memanggilnya, ia berbalik badan lagi ke arah kami.
"Tenang saja, aku paham kok. aku tidak akan memberi tahu soal ini kepada siapapun! Ini akan menjadi rahasia kecil antara kita bertiga! sampai jumpa!".
Lelaki itu sempat tersenyum tipis, senyumnya bukan seperti senyuman seorang laki-laki tapi seperti perempuan. Ia melambaikan tangannya lagi dan berbalik badan lalu tanpa pikir panjang lagi, ia langsung pergi berlari meninggalkan kami berdua.
"Oy!! tunggu dulu! kami belum selesai bicara!!".
Asep memegang kepalanya, "Hadehhh!! gimana nih Raj!? Dia pasti mengira kita gay! Asulah! ".
Asep mengacak-acak rambutnya lalu menoleh kepadaku.
"Lu sih, segala pakai acara memojokkan gua ke dinding terus meluk gua tiba-tiba. Sekarang kita berdua jadi pusing kan?"
"Ya maaf, tangan gua bergerak dengan sendirinya! Terus sekarang gimana?! Saat ini image gua benar-benar di pertaruhkan!".
"Yaudah biarin ajalah, lagipula dia udah bilang gak akan ngasih tau ke siapa-siapa".
Aku berusaha berpikir positif dan tidak terlalu panik, aku juga mencoba untuk menenangkan Asep tapi dia masih cukup panik.
"Biarin gimana!! Lu yakin begitu aja sama orang tadi? Nanti kalau dia ngasih rumor buruk bahwa kita pasangan gay di kamar mandi sekolah gimana?! Kan enggak lucu, harga diri dan image gua bisa jatuh!".
__ADS_1
Wajar saja Asep berkata seperti itu secara Asep cukup terkenal sebagai anak orang terkaya di sekolah, imagenya bisa saja hancur jika terjadi rumor seperti itu.
Tapi aku mencoba menenangkannya dengan beberapa fakta yang bisa membuatnya percaya dengan ucapan ku.
"Enggak akan! gua yakin orang tadi gak akan kayak gitu. Gua bisa menilai dari penampilannya! tapi bukan berarti gua menghina dia! Lagipula dia enggak tau nama sama kelas kita kan?".
Asep menggosok bagian bawah hidungnya dengan jarinya secara pelan sambil menjawabnya.
"Iya juga sih, tapi kan ...."
"Udah, lupain aja! mending sekarang kita balik lagi ke kelas kita masing-masing!".
Aku berusaha mengalihkan pembicaraan agar Asep tidak lagi panik dan melupakannya.
"Lu duluan aja deh, gua masih males ke kelas, nunggu pelajaran bu Sri selesai aja".
"Gak bisa gitu dong Sep. ayolah! balik ke kelas kita masing-masing!" Aku memegang tangan Asep dan menariknya agar dia ikut kembali ke kelasnya.
"Udahlah, lu duluan aja sih! Gua nunggu pelajaran bu Sri selesai!".
"Gak bisa gitu, lu sahabat gua! gua gak mau kalau nanti gua naik kelas tapi lu gak ikut naik kelas gara-gara jarang hadir di pelajaran bu Sri! gua gak mau kayak gitu Sep!" Kami saling bertatapan sejenak.
"Ya udah deh, gua ikutin kata-kata lu. Tapi lepasin dulu tangan gua! Nanti ada orang lain lagi yang melihat kita bisa bahaya!".
Aku langsung melihat tangan kami berdua dan melepaskan tangan Asep dari tanganku.
"Oh iya, lupa. yaudah yuk!".
"Iya, bawel!".
Kami berdua pun kembali ke kelas kami masing-masing. Asep sudah sering sekali bolos di pelajaran matematika, aku tidak ingin dirinya tidak naik kelas karena itu. Percayalah, sebodoh-bodoh kalian jika kehadiran kalian bagus dan tidak pernah bolos, kalian akan tetap naik kelas!
Asep mungkin tidak suka pelajaran matematika, padahal jika kita bisa matematika kita bisa terlihat lebih keren, lebih cool dari biasanya. Matematika bukanlah kunci seseorang menjadi sukses tapi dengan bisa matematika kita terlihat lebih keren!
__ADS_1
***