Debaran Dalam Cinta

Debaran Dalam Cinta
Dinda: Pulang sekolah


__ADS_3

Ketika bell pulang sekolah sudah berbunyi, seluruh siswa-siswi merapihkan alat tulis mereka, setelah mengucap salam lalu bersalaman aku langsung bergegas pulang. Aku satu kelas dengan Rizal dan dia sudah pulang duluan, sebelumnya ia menyapa diriku terlebih dahulu.


Baru saja aku menginjakkan kaki keluar pintu kelas, Asep sudah ada di depan pintu sambil menyapaku dengan senyum dan mengajak aku bertos tangan dengan tangan kanan seraya berkata "Yo!". Aku membalasnya, kami kemudian mengobrol sambil berjalan dan ia mengajakku pulang bersama, sepertinya dia sudah tidak peduli dengan kejadian waktu istirahat di kamar mandi.


Asep terkadang di jemput oleh ibunya menggunakan mobil alphard dan juga terkadang kami menaik angkot bersama, untuk kali ini dia di jemput. Aku selalu di ajak pulang bersama saat Asep di jemput, sebenarnya aku tidak ingin ikut karena takut merepotkan tapi Aku juga tidak enak menolak ajakannya, terlebih lagi ibunya pun mengajakku.


Rumahku dan Asep berjarak 5 km jika hanya sampai pertigaan yang menuju rumahku, rumahnya dekat SDN kami dulu. Asep dan Aku duduk di bangku belakang dan ibunya yang mengemudi, kami pun berangkat untuk pulang.



"Bagaimana tadi sekolahnya, lancar?".


Mama Asep memulai pembicaraan, ia melihat kami yang ada di belakang melalui kaca. Aku yang menjawab pertanyaannya.


"Alhamdulillah. Lancar-lancar aja tante".


"Baguslah kalau begitu. ... Kalau mama sama papa kamu kabarnya gimana Raj? Mereka semua sehat?".


"Alhamdulillah, semuanya sehat!"


"Alhamdulillah, syukur deh kalau sehat. Tante udah lama gak ketemu sama mamah kamu dan rencananya sekarang tante mau mampir dulu ke rumah kamu untuk silahturahmi!".


"Yahh! sayang banget tante, mama lagi pulang kampung sama papa, katanya mau ngelayat ke makam. Raj tadinya mau ikut tapi katanya mending sekolah aja sama jagain rumah. Terus Mama bilang pulangnya nanti minggu depan."


"Ohh yasudahlah, gak apa-apa, mungkin lain waktu saja. ... kamu berani sendirian di rumah Raj?".


"Raj berani aja soalnya udah gede juga kan. Yang penting masih ada makanan di kulkas sama uang jajan. Selagi itu semua ada mau di tinggal pulang kampung sendirian juga bagi Raj sih gapapa." Aku tersenyum tipis, Asep dan mamanya tertawa kecil.


"Kamu bisa aja kayak anak tante. Dia juga setiap di tinggal sama orang tuanya cuman minta uang jajan sama makanan, gak pernah yang lain".


Itu sudah jelas, lelaki sudah biasa jika di tinggal sendirian di rumah dan terkadang ada saja lelaki yang justru senang jika sendirian di rumah.


"Itu sudah jelas ma! Seorang lelaki sejati tidak ingin merepotkan kedua orang tuanya, lebih baik meminta uang jajan dan makanan saja dari pada yang lainnya yang bisa membebani!".


Asep mengatakan itu dengan percaya diri, padahal bukankah itu sama saja? Setelah mendengarnya kami semua tertawa bersama.

__ADS_1


"Anak mama bisa saja. Berarti nanti kalau mama sama papa mau ke luar negeri contohnya ke Jepang, Turki, dan Prancis kamu enggak di ajak ya, di rumah aja! Nanti mamah kasih uang jajan sama makanan yang banyak!".


Mama Asep mengatakan itu sambil terus menatap Asep di kaca, ia pun tersenyum.


"Tunggu dulu ma, kalau itu udah beda cerita! Kalau sudah menyangkut ke luar negeri Asep harus ikut!"


"Tadi katanya 'lelaki sejati tidak ingin merepotkan kedua orang tuanya.' benarkan Raj? Tadi dia bilang begitu kan?".


Mama Asep mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum kepadaku.


Aku mengangguk kecil dengan ragu, "I-iya tante, tadi Asep bilang begitu." Aku menoleh kepada Asep sambil berbicara kecil. "Maaf Sep!".


Asep terlihat berpikir keras, ia kehabisan kata-kata, wajahnya terlihat serius.


"Aduh Raj, gimana nih? Enggak ada celah anjir!" Jawabnya dengan suara kecil.


Mama Asep yang melihat kami berbisik-bisik pun tertawa lalu berbicara.


"Mama hanya bercanda sayang. Mama pasti ajak kamu kalau keluar negeri! Mana mungkin mama sama papa menikmati liburan tanpa kamu anak kesayangan kami berdua!".


Asep merasa lega mendengarnya, ia menghela nafas.


Waktu pun terus berjalan, kami menghabisi perjalanan dengan mengobrol sambil bercanda tawa. Mobilnya begitu besar dan juga nyaman, aku jadi ingin memiliki mobil sendiri. Tapi setelah di pikir-pikir lagi, mending beli motor KLX!


Tidak terasa akhirnya kami pun sampai di pertigaan yang menuju ke arah rumahku.


"Sampai sini aja tante!"


Tante mengerem mobilnya di sebrang jalan.


"Eh! Biar tante anterin sampai depan rumah kamu saja Raj!".


"Enggak perlu tante, Raj jalan aja. Lagipula agak jauh dan jalanannya becek, sempit pula. Nanti mobil tante bisa kotor!".


Aku merasa tidak enak jika mama Asep mengantar aku sampai rumah dengan jalanan yang seperti itu. Terkecuali mama sedang ada di rumah, mereka kan bisa mengobrol dahulu bukan hanya mengantar diriku saja.

__ADS_1


"Ehh! gak apa-apa, dari pada jalan kan jauh".


"Tau lu Raj, lu kalau jalan kan jauh".


"Enggak apa-apa, Raj enggak mau terlalu merepotkan. Lebih baik jalan aja, makasih banyak udah nganterin Raj".


Aku sedikit membungkukkan diriku untuk menghormati dan bentuk rasa terima kasih ku.


"Ya sudah, Hati-hati ya! Awas jatuh di jalan!".


"Iya tante. Sekali lagi makasih banyak." Aku bersalaman di dalam mobil.


"Sama-sama, tidak perlu sungkan. Kamu kayak baru kenal aja sama tante." Ia tersenyum, aku ikut tersenyum.


"Iya tante. ... Sep, gua duluan ya".


Aku mengajak dia bertostosan tangan seperti tadi ketika di sekolah, kami pun bertostosan.


"Yoo! Hati-hati!".


Setelah itu aku pun turun dan melambaikan tangan kepada mereka berdua dan di balas oleh mereka. Kemudian aku pun langsung pergi menyebrang karena jalan yang sedang sepi dan meninggalkan mereka.


Mereka melihatku dari belakang di dalam mobil.


"Dari dulu dia tidak pernah berubah, dia anak yang baik dan pengertian. Kamu beruntung memiliki teman dekat seperti Raj".


"Iya ma, Raj memang berbeda dari semua temanku. Dia teman baikku ... tidak, dia sahabat terbaikku!" Asep tersenyum, mamanya pun sama.


"Yoshh! kita bentar beli nasi padang di depan buat makan. Kamu mau sayang?".


"Tentu saja mau, Asep sudah lapar. Asep mau beli yang paket 50 ribu!".


"Kamu mau beli yang paket 100 ribu juga akan mama belikan untuk anak tunggal kesayangan mama!".


Mendengar perkataan tersebut membuat Asep merasa senang dan bangga, ia mengangguk-angguk kecil dengan kedua tangannya yang saling memegang satu sama lain.

__ADS_1


"Hum-hum. Beruntungnya Asep menjadi anak tunggal kesayangan!" Mamanya tertawa mendengar ucapan Asep.


...****************...


__ADS_2