
Dari sanalah kisah cintaku di mulai dengan seorang gadis bernama Dinda. ketika aku sudah pulang ke rumah, aku mulai mengirim pesan padanya sambil tiduran di atas kasurku.
Sebelumnya aku sempat ragu dan grogi, aku menampar pelan pipiku dengan kedua tanganku untuk menyemangati diri sendiri.
[11/02 17:24] Aku: Hai, kamu Dindakan?
Itu adalah pesan pertama dariku yang terkirim dan ceklis 2 abu. Aku menunggu balasan darinya beberapa menit tapi belum ada balasan. Aku terus menatapi layar HP-ku dan berharap Dinda segera membalasnya. Menunggu balasan WA dari kaum hawa merupakan salah satu ujian kesabaran.
Lalu tiba-tiba kucingku naik ke atas kasur dan mengusap-usap kepalanya sendiri ke tangan kananku, dia ingin di elus-elus, aku sudah mengerti apa yang dia maksud.
Aku memiliki satu kucing ashera berjenis kelamin perempuan. matanya unik, sebelah kirinya berwarna biru dan sebelah kanannya berwarna merah, sangat berbeda dari kucing ashera pada umumnya.
Kucing ini adalah pemberian dari Almarhum nenekku dari keluarga mama, beliau meninggal karena kecelakaan bersama kakek saat aku menginjak di kelas 3 SD. aku sangat sedih dan sampai tidak ingin makan dua hari.
Tapi karena ada kucing ashera pemberian dari Almarhum nenek, aku jadi lebih membaik seiring berjalannya waktu dan mulai bisa mengikhlaskan kepergian nenek dan kakek.
Setiap kali aku bermain dengan kucing ashera yang aku beri nama Bulan, aku terkadang teringat masa-masa dimana aku bermain bersama nenek dan kakek. Sungguh masa-masa yang penuh dengan kenangan indah yang tidak akan pernah aku lupakan.
"Bulumu halus sekali Bulan dan kayak macan tutul" Ucapku pada bulan dan dia mengeong.
Waktu terus berjalan dan Dinda tak kunjung membalas pesanku. Aku pun memutuskan untuk mandi terlebih dahulu karena sudah sangat sore dan mau masuk waktu magrib.
Setelah magrib sudah lewat, aku turun ke bawah ke ruang makan dan membuka kulkas untuk mengambil sekotak susu. Mama dan papa sepertinya sedang di kamar mereka.
Di saat aku mau mengambil sekotak susu itu, ada bunyi notifikasi dari HP-ku. Aku langsung membukanya dan ternyata itu pesan dari Dinda.
[11/02 18:36] Dinda: ini siapa?
Aku tiba-tiba langsung merasa senang saat mendapatkan balasan darinya.
"Akhirnya dia membalas pesanku juga." Ucapku dalam hati, aku kemudian membawa sekotak susu itu ke kamarku dan membalas pesan Dinda.
Saat sudah berada di kamar, aku duduk di atas kasur dan meminum susu itu sedikit. Lalu aku menaruh sekotak susu itu di bawah kasur. Karena ranjang kasurku tidak terlalu tinggi aku lebih mudah mengambil dan menaruhnya.
Aku mengambil guling sebagai penyangga di dada yang membuatku lebih nyaman. Aku pun membalas pesan darinya.
[11/02 18:38] Aku: Aku Raj Aryan, panggil saja Raj!
[11/02 18:38] Dinda: ga kenal!
[11/02 18:38] Aku: Iya makanya aku mau ngajak kamu kenalan, aku sahabatnya Asep.
[11/02 18:46] Dinda: ohh
[11/02 18:46] Dinda: mau di save back gitu?
[11/02 18:46] Aku: Iya, salam kenal Dinda.
[11/02 18:47] Dinda: juga
Dari pesan itu aku mulai mengumpulkan kalau di Dinda tipe gadis yang to the point dari balasan chatnya. Aku mewajarkan hal itu karena imi pertama kalinya kami saling menukar pesan lewat WA, dan namanya juga cewek.
Aku mulai basa-basi agar pesan dariku tidak terlalu singkat dan kesan pertamanya boring, bisa merepotkan nantinya. Aku mencoba membuatnya agar tidak membalas pesanku dengan SPJ.
[11/02 18:48] Aku: Lagi dimana nih?
[11/02 18:50] Dinda: rumah lah dimana lagi
[11/02 18:50] Aku: Ohh, kirain lagi di luar gitu.
[11/02 18:51] Dinda: ga
[11/02 18:51] Dinda: baru pulang kerja kelompok
[11/02 18:51] Aku: Ohh baru pulang ya?
__ADS_1
[11/02 18:51] Aku: Cape dong?
[11/02 18:52] Dinda: yaiyalah pake nanya lagi!!
[11/02 18:52] Dinda: tugas kelompoknya tuh banyak banget kalau mau tau!!
[11/02 18:52] Dinda: di suruh buat kerajinan tangan dari tanah liat sama buat peta negara dari kertas!!
Dinda sepertinya terpancing umpan dariku, aku menjadi lebih bersemangat untuk bisa lebih dekat dengan dirinya dan menumbuhkan sebuah cinta. padahal aku sendiri masih belum mengerti tapi entah kenapa terlihat semacam cahaya penuntun.
[11/02 18:52] Aku: Hehh buat kerajinan, sama dong aku juga disuruh buat tapi udah di kumpulin minggu lalu.
[11/02 18:54] Dinda: aku ga nanya sih sebenernya
[11/02 18:54] Aku: Aduh, dadaku tiba-tiba sesak bacanya
[11/02 18:54] Dinda: masa? lebay amat!
[11/02 18:54] Dinda: emang pesan dari Dinda penting gitu sampai bikin dada kamu sesak?
[11/02 18:54] Aku: Calon-calon yang terpenting di pesan WA-ku nanti!!!
Aku sengaja menambah tanda seru lebih banyak dengan harapan Dinda menanggapinya dengan serius dan ternyata yang terjadi ....
[11/02 18:54] Dinda: ap
[11/02 18:54] Dinda: apaan sih!!
[11/02 18:54] Dinda: pake gombal-gombal segala
[11/02 18:54] Dinda: udah basi tau ga!!
[11/02 18:54] Aku: Bercanda Dinda.
[11/02 18:55] Aku: kayak saling menyematkan pesan satu sama lain aja.
[11/02 18:55] Aku: Hehehehe....
Dinda mungkin salah tingkah tapi aku tidak tahu karena ini hanya ketikan dan aku tidak terlalu memikirkan ke arah situ. Aku hanya menulis apa yang memang aku pikirkan.
Dinda tidak langsung membalasnya dan aku menunggunya.
[11/02 18:56] Dinda: jangan bercanda kayak gitu!!
[11/02 18:56] Dinda: dinda jadi bingung mau bales apa!!
[11/02 18;56] Dinda: kita juga kan belum kenal jauh masa udah saling sematin pesan
Aku tertawa membaca balasan pesan darinya, dia menanggapinya dengan serius padahal ku kira dia akan menghiraukannya, ini kesempatan bagus.
[11/02 18:56] Aku: Hehehe, lucu banget kamu.
[11/02 18:56] Dinda: kok lucu sih?
[11/02 18:56] Dinda: apanya yang lucu coba!!?
[11/02 18:56] Aku: Enggakkk
[11/02 18:56] Aku: Lupain aja!
[11/02 18:56] Dinda: ih apaan sih!!
[11/02 18:57] Dinda: kasih tau dong!!
[11/02 18:57] Aku: Enggak mau ahh
__ADS_1
[11/02 18:57] Dinda: kasih tau ihhh!!
[11/02 18:57] Aku: Gak mauuu dan gak mau kasih tau.
[11/02 18:57] Dinda: tau ah nyebelin
[11/02 18:57] Dinda: (dinda memberikan emote marah dan ngambek)
Pesan kami pun ternyata menjadi memanjang sampai pukul 20:14 WIB. Ia off karena batu baterai HP-nya sekarat, 2% lagi katanya.
...***...
Lama-kelamaan seiring berjalannya waktu dalam seminggu, kami menjadi jauh lebih akrab dan cukup mengenal satu sama lain, typing pesannya pun berubah.
Hari Selasa di jam istirahat, aku sedang duduk di pinggir lapangan sambil melihat siswa-siswi yang bermain bola maupun basket. lebih tepatnya aku melihat Aswal dan Zimam yang sedang bermain bola, sparing kelas dan mereka berdua merupakan tim yang kompak.
Asep sendiri tidak masuk karena ada acara keluarga sedangkan Rizal, ia membolos. alasan di absennya sih sedang tidak enak badan tapi faktanya, ia sedang main kerumah pacarnya yang sebelumnya di telpon waktu di rumah Asep.
Aswal terlihat sedang menggiring bola, ia melakukan tipuan dan melewati 3 orang bahkan yang hendak menyeledingnya, ia melompat dan lanjut mengiring bola. saat sudah di dekat ia ingin shotting, kiper musuh mengira Aswal akan menembak langsung ke gawang tapi justru ia mengoper kepada Zimam di samping lalu shooting dan goal.
Mereka berdua berteriak termasuk aku yang ikut senang. mereka saling bahu membahu dan tersenyum, pertandingan pun selesai. Mereka memenangkan pertandingan, 8-2.
Aku yang fokus memandang mereka tidak sadar ternyata ada bola basket yang mengarah kepadaku dan tepat mengenai kepala hingga aku terjatuh.
"Oy! Yan!!" Teriak Aswal yang melihatku.
"Waduhhh!" Zimam menyeka rambut belakangnya.
Aku hampir tidak sadarkan diri karena itu secara tepat mengenai titik syaraf belakang kepalaku.
"K-ka-kamu baik-baik aja?" Tanya seorang cewek dengan nada gugup.
Pernyataannya sangat-sangat... jelas-jelas sampe jatuh pake nanya lagi baik-baik aja atau ga.
perlahan aku membuka mata dengan penglihatan yang samar-samar.
"Biar aku bantu kamu berdiri." Cewek itu mengulurkan tangannya kepadaku.
Aku pun melihat wajahnya dan kami saling bertatapan satu sama lain dengan posisi aku di bawah dan dia di atas.
Aku melihat tangannya lalu matanya, ia mengangguk. hal itu untuk memastikan bahwa aku boleh memegang uluran tangannya. aku pun berdiri di bantu olehnya, ternyata tinggi kami cukup berbeda jauh, dia di bawah sepundak aku.
Ia langsung menundukkan kepalanya dan memohon maaf kepadaku.
"Aku benar-benar minta maaf! aku tidak sengaja melempar bola basket ke ring dan bola itu memantul kepadamu. maaf!"
.
Dari dana bicaranya ia benar-benar merasa bersalah karena perbuatannya.
"T-Tidak apa-apa, aku memaafkanmu. itu hanya kecelakaan tanpa di sengaja kan."
Ia menatapku dan memasang senyuman manis.
"Terimakasih sudah memaafkan ku. lain kali aku akan lebih hati-hati."
Karena ekspresi wajahnya yang cantik dengan senyuman yang membuat dadaku terkaget sesaat, pipiku pun menjadi sedikit memerah.
Ia mengambil bola basket tersebut, "Aku mau lanjut latihan lagi ya. sekali lagi aku mohon maaf." ia kembali tersenyum, aku pun terdiam dan menjawabnya dengan mengangguk.
Aswal dan Zimam yang sudah berada di belakangku pun memerhatikan diriku dari tadi.
mereka malah menggodaku dan menceng-cengengin aku bersama cewek tadi yang tidak aku kenal siapa dia sebenarnya.
Di sisi lain aku mengingat Dinda dan tidak ingin memainkan perasaannya, sebagai cowok sejati menyakiti hati cewek bagaikan sebuah aib. kenapa? nanti dia bakal terus inget tentang apa yang lu lakuin ke dia, 1000 kebaikan lu akan hancur hanya karena 1 kesalahan saja.
__ADS_1