Debaran Dalam Cinta

Debaran Dalam Cinta
D: Bimbang antara teman dan women


__ADS_3

Waktu itu, setelah aku mengatakan hal tersebut. semuanya yang di sana terkejut termasuk aku sendiri. Mereka menganggap aku bertingkah aneh dan akupun merasakan hal tersebut. tiba-tiba saja ada aku berkata begitu, gak ada angin gak ada badai, yang ada hanyalah pertanyaan.


"Kayaknya lu kesambet deh Yan." Tegas Aswal.


"Apa maksud bilang begitu. lu kenapa?" Asep menaikan alis sambil memandangku dengan serius.


Zimam sendiri sedang minum karena tadi sempat keselek.


"Ga tau gua juga." aku menggelengkan kepala.


"Sialan lu, gua hampir mati karena gituan doang." Ucap Zimam sambil mengelap bibirnya.


"Tapi gua sendiri aja ga tau kenapa bisa bilang gitu tiba-tiba."


Aku menjawabnya dengan jujur, dan mereka masih bertanya-tanya.


"Dari SD sampe sekarang, ucapan mengejutkan yang paling jauh sejauh ini, ya ini! yang tadi. Lu mulai tertarik sama dunia percintaan?"


Aku bertatapan dengannya lalu menundukkan dan diam tidak menjawab apapun, aku sendiri pun bingung.


"Sebenarnya wajar aja sih menurut gua juga, tapi tetep aja bikin kaget orang kayak lu bilang gitu."


Aswal berkata begitu, aku menatapnya dan bertanya.


"Emangnya diri gua di pandangan lu semua gimana?"


Sesaat mereka semua bertatapan satu sama lain lalu mengangguk pelan dan menjawabnya.


"Lu itu paling anti sama cinta." ucap Aswal.


"Maniak pelajaran!" Tegas Zimam.


"Biasanya bahas atau manya hal absurd dan bikin teori kayak waktu itu lu nanya, 'kuburan Hitler beneran di jogja kah?'. itu pernyataan apaan coba, dan kita jadi berteori panjang yang nanti bercabang jadi mistis, sains, sampe bahas black hole luar angkasa." Asep memainkan tangannya saat mengatakan hal itu.


"Nah bener. biasanya lu tuh gitu." ucap Aswal.


"Iya juga ya." aku menggaruk rambut belakangku.


"Masih banyak lagi sih tapi, gua mau lu jawab pertanyaan gua tadi. lu mulai tertarik sama dunia percintaan?"


Aku kembali menunduk dan diam sejenak sambil berpikir. mereka memperhatikanku dan menunggu jawaban dariku. tak lama aku pun menjawab.


"Terus terang ya...bisa di bilang, iya. tapi gua masih bimbang."

__ADS_1


"Bimbang kenapa?" tanya Asep lagi.


"Kalau gua tertarik hal begituan otomatis bisa aja waktu kumpul bareng lu semua jadi berkurang. gua ga mau begitu, jadinya gua masih bimbang."


Suasana menjadi sedikit canggung, aku hanya bisa diam sambil kembali berpikir. mereka pun terlihat sedang berpikir sambil menatap satu sama lain.


Asep tiba-tiba menepuk bahuku, "Yaelahh. ngapain mikirin gituan, santai aja kali. yang penting kita bisa kumpul bareng udah bagus." Ia sepertinya sedang berusaha menyemangatiku.


Aswal menyikut perutku, "Kita cuman mastiin aja. kalau emang bener ya kita bantu sebisanya."


"Lu nyikut perut gua banget Wal."


"Sorry, ga ada niatan kok."


"Ga apa-apa, gua bercanda."


Zimam tiba-tiba mendekat dan menyentil dahiku.


"A! ...." aku dan dia bertatapan mata.


"Jangan terlalu mikirin orang lain, lu juga berhak ikutin keinginan sendiri. dan kalau lu memang pengen pacaran, target ceweknya udah ada belum?" Zimam terlihat lebih kalem dari biasanya dan malah dewasa.


"Sejauh ini sih belum, baru juga ada niatan kecil."


Zimam lalu menoleh kepada Asep, ia menunjukkan jarinya.


"Ga perlu repot-repot gitu. gua bisa sendiri kok, nanti juga ada." Aku berusaha menolak karena tidak enak.


Zimam kembali menyentil dahiku.


"A!"


"Kalau temen lu lagi berusaha bantuin lu maka jangan di tolak! ga semua masalah bisa lu selesaikan sendiri, gunanya temen apa kalau bukan saling bantu?"


Aku terdiam karena perkataannya, Zimam benar-benar berbeda ketika sedang serius.


"Gila Mam, keren banget lu. bisa bersikap gitu juga ya di saat-saat tertentu." Aswal memujinya.


Hal itu membuat Zimam kembali ke sifat sebelumnya, ia mulai membanggakan diri.


"Segini doang mah udah biasa buat gua. cuman gua ga mau terlalu mencolok aja." Sambil membuang wajah dan jual mahal.


"Tidak, justru sifat lu yang begitu malah lebih mencolok." Jawab kami bertiga dalam hati sambil melihat Zimam.

__ADS_1


"Gua jadi dapet panggilan alam kan (bab). pinjem kamar mandinya ya Sep, sama sisanya gua serahin ke lu perihal tadi." Ia berdiri.


"Okee siap."


"Hati-hati salah ruangan lu." Canda Aswal.


"Gua udah inget sekarang mah."


Zimam pun pergi ke kamar mandi dan jadi hanya tersisa kami bertiga. Rizal masih sibuk dengan telponnya bersama pacarnya. Asep terlihat sedang mencari kontak di wa.


"Sumpah deh, lu semua baik banget sama gua."


"Udah biasalah, emang sewajarnya begitu kan." jawab Asep.


"Kayak baru kenal aja."


Kami pun tertawa kecil. aku dan Aswal kembali memakan cemilan yang masih banyak di hadapan kami.


Kebiasaan Asep ketika sedang kumpul di rumahnya, ia ataupun orang tuanya akan mengeluarkan makanan yang banyak dan juga minuman bagaikan mau hajatan, dia sangat royal kepada kami terlebih lagi kepadaku.


Waktu terus berjalan sambil aku memikirkan bagaimana kedepannya aku mendekati cewek yang akan Asep sarankan.


Tak lama, Asep mulai bicara. "Ketemu juga nih. Ini saran cewek yang mungkin cocok sama lu. dia temen gua dan masih jomblo. coba aja lu chat sendiri nanti, orangnya sih care dan kadang ikut nimbrung pembicaraan cowok juga. kalau buat strategi deketin dia ... lu ada saran Wal?"


Aswal menghabiskan makanan yang masih ada di mulutnya sambil menggelengkan kepalanya lalu menjawabnya.


"Enggak ada. gua aja dulu waktu sama mantan gua yang deketin itu dia bukan gua, jadi gua gak tau caranya. ... Minta saran ke si Rizal aja gimana? Dia kan udah pro player dalam hal percintaan." Aswal menaikan alisnya.


Rizal mungkin bisa banyak membantuku tapi, akan lebih memanjang jika aku menceritakan hal ini kepadanya, aku ingin menyembunyikan hal ini dulu dari dirinya.


"Yaudah, gampang! gua gak mau ganggu Rizal yang lagi telponan, gak enak."


"Yaudah kalau lu bisa sendiri mah. nih nomornya."


Asep baru menunjukan nomor WhatsApp cewek itu padaku (tertulis nama Dinda), saat itu poto profil WA Dinda kosong dan bio-nya 'sibuk'.


"Oke, makasih banyak loh." Aku pun menyimpan nomor Dinda.


"Sama-sama. semangat lu ya, awas aja nyerah ditengah jalan."


"Pokoknya All in aja." ucap Aswal.


Aku hanya menjawab dengan senyuman dan mengangguk pelan.

__ADS_1


Setelah itu obrolan pun berakhir, kami menunggu Zimam kembali dari kamar mandi. Saat sudah kembali kami membahas obrolan tadi sebentar dan mengganti ke yang lain tentang update-an ML. Kemudian Rizal akhirnya selesai telponan lalu ikut nimbrung obrolan kami, dan kami merahasiakan hal tadi. Kami semua membahas obrolan seputar ML sampai pulang pukul 16:38 WIB.


...***...


__ADS_2